jump to navigation

semua praktikum Dasgron April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR AGRONOMI

 

Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Manajemen Agribisnis

Oleh

Nursyam Zulkifli

1209706026

           Jurusan Agroteknologi

 

FAKULTA SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2011

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala. Selawat dan salam kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahualaihiwasallam, karena atas hidayah-Nyalah laporan kunjunagan PD Hikmah Pangalengan ini diselesaikan.

Laporan ini penulis sampaikan kepada pembina mata kuliah Manajemen Agribisnis sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar Pemuliaan Tanaman.Laporan penyusunan hasil kunjungan pangalengan ini merupakan hasil peninjauan mahasiswa setelah melihat langsung atau pengenalan langsung oleh pemilik PD Hikmah dan mendengarkan penjelasan-penjelasan dari pemiliknya tentang sejarah berdirinya PD Hikmah, struktur organisasi maupun pembenihan dan budidayanya tentang tanaman kentang.

Penulis memohon kepada Bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca barang kali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam karya tulis ini, baik dari segi bahasanya mupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan keritik dan saran yang berifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.

Penulis

 

PRAKTIKUM 1

TEKNIK PENENTUAN SIFAT-SIFAT TANAH DI LAPANGAN SECARA PRAKTIS

 

  1. A.      PENDAHULUAN

Kualitas tanah ditentukan oleh sifat-sifat tanah baik itu kimia, fisika, maupun biologi tanah yang saling mempengaruhi satu sama lain. karakteristik fisik tanah, kimia tanah, dan biologi tanah dapat berbeda-beda antara jenis tanah yang satu dengan jenis tanah yang lain, bahkan pada tanah yang sama namun kedalamannya berlainan, seperti antara top soil dan subsoil.

penentuan sifat-sifat tanah dapat dilakukan dengan :

  1. Analilsis di laboratorium yang akan mendapatkan data kualitatif dan akurat dan
  2. Penilaan secara cepat dilapangan yang akan menghasilakan data kualitatif

 

  1. B.       TUJUAN
  2. Untuk menentukan sifat fisika tanah seperti melalui berdasarkan warna dan tekstur tanah untuk mengetahui horizon tanah.
  3. Penentuan sifat kimia tanah dilapangan secara praktis

 

  1. C.      DASAR TEORI

Kualitas tanah ditentukan oleh sifat-sifat kimia, fisika, dan biologi tanah yang saling mempengaruhi satu sama lain. Penentuan sifat-sifat tanah dapat dilakukan dengan 2 analisis di laboratorium yang akan mendapatkan data kuantitatif dan akurat dan 2 penilaian cara di lapangan yang akan menghasilkan data kuantitatif. pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Potassium/kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit. Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Di sisi lain Pospor akan tersedia bagi tanaman pada Ph antara 6,0 hingga 7,0.

Beberapa bakteri membantu tanaman mendapatkan N dengan mengubah N di atmosfer menjadi bentuk N yang dapat digunakan oleh tanaman.Bakteri ini hidup di dalam nodule akar tanaman legume (seperti alfalfa dan kedelai) dan berfungsi secara baik bilamana tanaman dimana bakteri tersebut hidup tumbuh pada tanah dengan kisaran pH yang sesuai.

Sebagai contoh, alfalfa tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 6,2 hingga 7,8; sementara itu kedelai tumbuh dengan baik pada tanah dengan kisaran pH 6,0 hingga 7,0. Kacang tanah tumbh dengan baik pada tanah dengan pH 5,3 hingga 6,6. Banyak tanaman termasuk sayuran, bunga dan semak-semak serta buah-buahan tergantung dengan pH dan ketersediaan tanah yang mengandung nutrisi yang cukup. Jika larutan tanah terlalu masam, tanaman tidak dapat memanfaatkan N, P, K dan zat hara lain yang mereka butuhkan. Pada tanah masam, tanaman mempunyai kemungkinan yang besar untuk teracuni logam berat yang pada akhirnya dapat mati karena keracunan tersebut. Herbisida, pestisida, fungsisida dan bahan kimia lainnya yang digunakan untuk memberantas hama dan penyakit tanaman juga dapat meracuni tanaman itu sendiri. Mengetahui pH tanah, apakah masam atau basa adalah sangat penting karena jika tanah terlalu masam oleh karena penggunaan pestisida, herbbisida, dan fungisida tidak akan terabsorbsi dan justru akan meracuni air tanah serta air-air pada aliran permukaan dimana hal ini akan menyebabkan polusi pada sungai, danau, dan air tanah.

 

  1. D.      ALAT DAN BAHAN
  2. Tanah lapangan UIN
  3. Skop dan cangkul
  4. Meteran dan caliper
  5. pH meter atau pH universal
  6. Munsel Colour Chart

 

  1. E.       CARA KERJA

PENENTUAN SIFAT FISIKA TANAH

Penentuan Horizon Tanah

  1. Bersihkan permukaan tanah dari tanaman dan benda-benda lain yanag ada disekitarnya dengan menggunakan cangkul
  2. Gali tanah dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm
  3. Amati penampang tegak tanah berdasarkan warna dan tekstur tanah untuk mengetaui horizon tanah
  4. Gunakan meteran untuk mengukur lebar atau tinggi horizon top soil

Penentuan Warna Tanah Top Soil dan Sub Soil

  1. Ambil gumpalan tanah kecil dari bagian top soil dan sub soil
  2. Gumpalan tanah harus lembab dan pengamatan harus terlindung dari sinar matahari langsung
  3. Penentuan warna tanah dilakukan dengan cara dibandingkan gumpalan tanah dengan warna baku pada Munsell Soil Colour Chart. warna pada buku ini dinyatakan dalam tiga satuan yaitu kilap (Hue), nilai (Value), dan kroma (Chroma)

PENENTUAN SIFAT KIMIA TANAH DI LAPANGAN SECARA PRAKTIS

Kapasitas Tukar Kation (KTK)

  1. Capurkan 5 gram tanah dan 100 ml akuades lalu masukan kedalam tabung reaksi
  2. Kocok larutan tersebut dan diamkan

Bahan Organik

  1. Basahi 5 gram massa tanah dengan 5 ml H2O2 3 %
  2. Diamkan beberapa saat dan amati

pH

  1. Masukkan 5 gr tanah kering angin dalam tabung reaksi
  2. Tambahkan 15 ml aquades lalu kocok selama 10 menit lalu diamkan
  3. Celupkan lakmus pada cairan bening di atas lumpur tanah
  4. Sesuaikan warna lakmus dengan chart warna di kotak lakmus dan catat nilai pH nya.
  5. Ukur pH tanah menggunakan pH meter
  6. Bandingkan hasilnya

 

 

  1. F.       HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Tanah Bagian Atas (Top Soil)

Tanah Bagian Bawah (Sub Soil)

KTK tinggi

KTK rendah

Larutan lebih jernih

Larutan keruh

 

Pada Bahan Organic

Tanah Bagian Atas (Top Soil)

Tanah Bagian Bawah (Sub Soil)

Banyak buih

(kandungan bahan organic tinggi)

Sedikit buih

(kandungan bahan organic rendah)

 

Pada pH

Tanah Bagian Atas (Top Soil)

Tanah Bagian Bawah (Sub Soil)

-

5

 

Pada kapasitas tukar kation (KTK), tanah bagian atas (top soil) terjadi flokulasi atau tanah mengendap sehingga menyebabkan KTK tinggi menunjukan bahwa tanah tersebut masih banyak mengandung kation-kation Ca++, Mg++, K+ dan sebagainya. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik.

Pada kapasitas tukar kation (KTK), tanah bagian bawah (sub soil) terjadi deptasi atau tanah tidak mengendap sehingga menyebabkan KTK rendah disebabkan kation-kation dalam tanah tersebut telah tertukat atau diganti oleh ion-ion lain dalam larutan tanah.KTK yang rendah dapat ditingkatkan dengan menambah bahan organic seperti kompos atau pupuk kandang.Penambahan mineral zeolit pada tanah juga dapat meningkatkan KTK tanah (Novizan 2002).

Pada bahan organic, tanah bagian atas (top soil) berwarna lebih gelap atau kehitaman, lebih subur/gembur karena kandungan bahan organik yang tinggi disebabkan merupakan tempat pengolahan tanah oleh adanya aktivitas mikroorganisme dalam kegiatan proses pelapukan dan dekomposisi bahan orgaik dimana mikroorganisme aktif mendekomposisi pada daerah topsoil.

Pada bahan organic, tanah bagian bawah (sub soil) lapisan ini lebih tebal dari lapisan tanah atas dan biasanya dibagi lagi kedalam bebrapa lapisan.Kandunwarnanya lebih muda dan lebih terang, lebih padat, sedang kandungan bahan organik yang rendah disebabkan oleh semakin ke dalam bawah tanah, maka aktivitas mikroorganisme akan semakin berkurang sehingga pada daerah subsoil akan memiliki kandungan bahan organic yang lebih rendah dibandingkan di daerah topsoil.

Pada tanah sub soil pH nya 5 artinya tanah tersebut netral, sedangkan pada top soil kelompok kami tidak dapat menyimpulkan pH nya dikarenakan ketika penyaringan tanah tersebut tidak terpisah antara aquadest dengan tanah sehingga larutan tetap menjadi warna cokelat. Pada sub soil dan top soil dibandingkan juga pH nya dengan aquadest. pH aquadest 5,5 dan netral.

 

  1. G.      SIMPULAN
    1. Menentukan sifat fisika tanah yaitu dengan cara membandingkan gumpalan warna tanah dengan warna baku pada Munsel Soil Colour Chart. Warna baku ini dinyatakan dalam tiga satuan yaitu kilap (Hue), nilai (Value), dan kroma (Chroma)
    2. Manentukan sifat kimia tanah secara praktis di lapangan adalah dengan cara:
  • Kapasitas tukar kation (KTK)
  • Bahan organic
  • pH
  • Bobot isi

 

 

 

  1. H.      DAFTAR PUSTAKA

Sarief. Saefuddin. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung

http://meycess.blogspot.com/2010/06/laporan-praktikum-dasar-dasar-agronomi.html. (diakses pada tanggal 27 maret 2011):17.05

http://www.scribd.com/doc/44530115/evlan-mos

http://dspace.ipk.lipi.go.id/dspace/bitstream/123456789/493/1/27.pdf

http://syienaainie.blogspot.com/2010/11/kadar-air-dan-bahan-organik-tanah.html

http://fitri05.wordpress.com/

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM II

BENIH BERMUTU

 

  1. A.      PENDAHULUAN

Keberhasilan pertumbuhan suatu tanaman ditentukan oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam tidak lain adalah faktor genetik dan faktor luar adalah faktor lingkungan berupa tanah dan iklim. Pertumbuhan tanaman akan baik bila diawali dengan memilih tanaman yang memiliki sifat unggul. Sifat unggul ini diatur oleh gen yang terdapat pada pita kromosom yang akan muncul apabila didukung oleh kondisi lingkungan yang menguntungkan.Sifat unggul dari tanaman diperoleh melalui kegiatan pemuliaan tanaman mulai dari yang sederhana sampai yang modern. Tahapan pemuliaan untuk mendapatkan sifat tanaman yang dikehendaki memerlukan proses panjang dan mengikuti prosedur tertentu. Hasil dari aktifitas  pemuliaan ini disebarkan kepada masyarakat setelah melalui proses sertifikasi untuk memberikan jaminan kepada para pengguna.

 

  1. B.       TUJUAN
  1. Menguji daya berkecambah dan pertumbuhan benih
  2. Mengetahui pertumbuhan tanaman di luar zona optimumnya

 

  1. C.      DASAR TEORI

Salah satu faktor penting yang menentukan tingkat hasil tanaman adalah benih. Benih bersama dengan sarana produksi lainnya seperti pupuk, air, cahaya, iklim  menentukan tingkat hasil tanaman. Meskipun tersedia sarana produksi lain yang cukup, tetapi bila digunakan benih bermutu rendah maka hasilnya akan rendah. Benih bermutu mencakup mutu genetis, yaitu penampilan benih murni dari varietas tertentu yang menunjukkan identitas genetis dari tanaman induknya, mutu fisiologis yaitu kemampuan daya hidup (viabilitas) benih yang mencakup daya kecambah dan kekuatan tumbuh benih dan mutu fisik benih yaitu penampilan benih secara prima  dilihat secara fisik seperti ukuran homogen, bernas, bersih dari campuran, bebas hama dan penyakit, dan kemasan  menarik. benih bermutu adalah benih yang mampu berkecambah dalam kondisi yang cukup baik. Benih yang bermutu juga harus mampu menghasilkan bibit yang berkualitas tinggi, yaitu dapat tumbuh dengan baik serta tahan terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Banyak faktor yang mempengaruhi mutu suatu benih, antara lain;

  1. Sumber benih; benih yang diambil dari pohon induk yang mempunyai penampakan dan genetik yang baik, diharapkan akan mempunyai kualitas benih yang baik pula.
  2. Tingkat kemasakan benih pada waktu pemanenan; untuk menghasilkan benih yang bermutu, pemanenan atau pengumpulan benih harus dilakukan setelah benih tersebut masak.
  3. Penanganan pasca panen, antara lain meliputi kegiatan; pengangkutan, harus dilakukan secepatnya setelah benih tersebut dikumpulkan dengan cara yang benar, sesuai dengan jenis yang diekstrasi; sebelum disimpan, benih harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara pengeringan yang benar; disimpan pada tempat yang sesuai, misalnya; suhu dan kelembabannya tidak terlalu tinggi serta bebas dari gangguan maha dan penyakit dan penanganan lainnya. ( DEPHUT 1997)

Syarat benih bermutu :

  1. Murni diketahui nama varietasnya
  2. Daya tumbuhnya tinggi >80% serta vigornya baik
  3. Biji sehat dan bernas
  4. Benih matang
  5. Bersih dari varietas lain
  6. Tidak terinfeksi hama dan penyakit.

( Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara,2008)

  1. D.      ALAT DAN BAHAN
  1. Benih tanaman sayuran sawi dan jagung
  2. Kertas merang
  3. Polibag dan plastik lembar ukuran 1 kg
  4. Sprayer  dan embrat
  5. Penggaris
  6. Bak tabur dan ember
  7. Baki plastik
  8. Tali rapia

 

  1. E.       CARA KERJA 
  • Penentuan Daya Berkecambah secara UKDP (Uji Kertas di atas Plastik)

Uji daya berkecambah benih jagung

  1. Basahi kertas merang dengan handsprayer hingga lembab
  2. Letakkan 2 lapis kertas merang lembab ke atas plastik
  3. Susun benih secara zig zag sebanyak 30 biji
  4. Tutup kembali dengan kertas merang lalu digulung
  5. Ikat gulungan dengan tali rapia agak longgar supaya benih bisa berkecambah
  6. Simpan di ember yang diberi air agar dapat berkecambah
  7. Lakukan pengamatan mulai hari ke-3 setelah perlakuan dengan menghitung jumlah kecambah normal, abnormal dan mati. Buang kecambah yang abnormal dan mati untuk memudahkan perhitungan.

 

  • Pembibitan
  1. Masukkan benih kedalam ember berisi air dan pilih benih yang tenggelam untuk ditanam
  2. Rendam benih 2-3 jam dalam air dan tiriskan
  3. Tabur benih pada bak tabur yang berisi pasir dan siram
  4. Lakukan pemeliharaan dengan menyiram persemaian setiap hari
  5. Lakukan pengamatan mulai hari ke-3 setalah tanaman terhadap kecambah yang tumbuh
  6. Tinggi tanaman dan jumlah daun diukur pada hari ke-7 setelah tanaman, pengukuran dilakukan pada lima sampel bibit secara acak

 

 

 

 

 

  1. F.       HASIL DAN PEMBAHASAN

Penentuan Daya Berkecambah secara UKDP (Uji Kertas di atas Plastik)

Kelompok

Kecambah

Hari ke-

Jml

DK

3

4

5

6

7

1

Normal

26

26

86%

Abnormal

2

2

Mati

2

2

2

Normal

29

29

29

28

26

26

86%

Abnormal

-

-

-

1

3

3

Mati

1

1

1

1

1

1

3

Nomal

20

20

67%

Abnormal

8

8

Mati

2

2

4

Normal

29

29

27

26

25

25

83%

Abnormal

-

-

2

1

4

4

Mati

-

-

-

-

1

1

5

Normal

25

25

83%

Abnormal

4

4

Mati

1

1

6

Normal

24

24

80%

Abnormal

6

6

Mati

0

0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perhitungan Daya Kecambah (DK) dalam %:

DK       =    Jumlah benih yang berkecambah normal     x   100%

Jumlah benih yang diuji

 

 

Pembibitan

Sampel

Hari ke-

Tinggi Tanaman (cm)

Jumlah Daun

7

1

6 cm

2 buah

2

6 cm

2 buah

3

3 cm

2 buah

4

4,8 cm

2 buah

5

7 cm

3 buah

 

 

Pembahasan:

  1. Pada perkecambahan jagung ada yang abnormal dan ada yang mati, ini dicirikan biasanya bijinya busuk dan ciri-ciri abnormal daunnya kering.

Pada benihkemungkinan mengalami kerusakan mekanis,kerusakan mekanis ini berdampak terhadap endosperm dan embrionya.keduanya sangat berpengaruh terhadap mekanisme perkecambahan benih.Hubungan keduanya dengan mekanisme perkecambahan benih adalah dimana endosperm sebagai cadangan makanan bagi embrio apabila mengalami kerusakan akan berdampak pula pada embrio.Apabila endosperm atau cadangan makanan rusak, maka embrio bisa saja tidak tumbuh atau pertumbuhannya akan abnormal (plumula dan radikula tidak tumbuh, busuk, tanpa kotiledon) karena endosperm yang telah rusak akan mengakibatkan benih mudah menyerap air sehingga mudah timbulnya cendawan atau jamur yang dapat merusak atau menghambat pertumbuhan kecambah benih.Kerusakan mekanis yang terjadi pada benih dapat berpengaruh terhadap daya berkecambah benih dan kecepatan berkecambah benih. Dimana benih yang telah rusak maka akan mengakibatkan daya berkecambah dan kecepatan berkecambah benih rendah atau lambat.Seperti halnya pada benih yang pecah maka cadangan makanan yang ada dalam benih akan rusak sehingga daya berkecambahnya rendah, selain itu dengan tekstur benih yang telah rusak atau pecah maka akan mengakibatkan benih mudah menyerap cairan yang menyebabkan kadar airnya tinggi sehingga kelembabannya tinggi dan mudah ditumbuhi cendawan atau jamur, selain itu benih jadi tidak tahan disimpan.Dan bisa juga karena kerusakan benih tersebut maka kadar air dalam benih rendah sehingga benih akan mengering dan rusak.Kerusakan mekanis pada benih dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

1. Daya simpan yang terlalu lama.

2. Kadar air dalam benih yang tinggi.

3. Kadar air dalam benih yang rendah.

4. Benih terinfeksi oleh Hama Penyakit Tumbuhan (HPT).

5. Kelembabannya tinggi pada tempat penyimpanan benih.

  1. Berdasarkan daya kecambah yang didapatkan oleh percobaan kelompok kami       ( kelompok 2) didapatkan hasil sebesar 86%, berdasarkan nilai tersebut benih jagung yang digunakan telah memenuhi salah satu syarat benih bermutu,yaitu benih memiliki daya kecambah >80.namun pada kelompok lain daya kecambah yang didapatkan bervariasi mulai dari 67-83% ini dapat disebabkan oleh kerusakan mekanik benih maupun dari benih yang digunakan kebetulan belum matang. Sehingga kemampuan embrio untuk menyerap air untuk pertumbuhannya berkurang.
  2. Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa pada benih yang ke-5 merupakan hasil kecepatan berkecambah yang paling baik yaitu 7 cm tinggi tanaman dan jumlah daun yang dihasilkan 3 lembar selama 7 hari proses pembibitan

 

 

 

 

 

 

  1. G.      SIMPULAN
    1. Berdasarkan Praktikum yang dilakukan pada benih jagung,didapatkan bahwa benih jagung yang digunakan telah memenuhi salah satu syarat benih bermutu yaitu daya kecambah > 80% yaitu 86%.
    2. Kerusakan mekanis dan benih kurang matang pada kelompok kami mengakibatkan tumbuhan abnormal dan mati.Endosperm dan embrio ini sangat berpengaruh terhadap mekanisme perkecambahan benih.
    3. Pada hasil praktikum pembibitan didapatkan hsil kecepatan berkecambah benih yang cukup baik yaitu 7 cm tinggi dan 3 lembar daun.

 

  1. H.      DAFTAR PUSTAKA

http ://ilmucintadanmakanan.blogspot.com/2009/2008/pengertian-benih-dan analisis-benih.html (diakses tanggal 10 april 2011 jam 20.00)

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara,2008

http://pengertian-definisi.blogspot.com/2010/10/definisi-benih-bermutu.html (diakses tanggal 11 april 2011 jam 07.36)

http://www.umy.ac.id/fakultas-pertanian/pentingnya-penggunaan-benih-bermutu-untuk-peningkatan-produksi-pertanian.html (diakses tanggal 11 april 2011 jam 07.36)

Anonim, 1997.Ensiklopedi Kehutanan Indonesia.Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

  1. I.         LAMPIRAN

 

 

Gambar uji daya kecambah secara UKDP

 

 

 

 

PRAKTIKUM III

TANAH SEBAGAI MEDIA TUMBUH

 

  1. A.      PENDAHULUAN

Tanah merupakan media tumbuh tanaman. Di dalam tanah terdapat unsur-unsur yang berguna untuk mendukung pertumbuhan tanaman, yaitu unsur hara, air, dan udara.  Komposisi ketiga unsur tersebut adalah unsur hara 50 persen yang terbagi menjadi mineral 45 persen dan bahan organic 5 persen, udara dan air masing-masing 25 persen.

Kemampuan tanah didalam mendukung pertumbuhan tanaman diukur dengan kesuburan tanah. Kesuburan tanah terdiri dari 1) kesuburan fisik yang meliputi tekstur, struktur, pori-pori tanah, dsb, 2) kesuburan kima yang meliputi pH, unsur hara, katian dapat tukar (KTK),dsb, dan 3) biologi tanah yang terdiri dari berbagai mahluk hidup dalam tanah yang berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah dan pertumbuhan tanaman.

 

  1. B.       TUJUAN
  1. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan horizon tanah terhadap pertumbuhan tanaman.
  2. Untuk mengetahui pengaruh pemberian bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman.

 

  1. C.      ALAT DAN BAHAN
-        Sekop -        Bibit tanaman sawi
-        cangkul -        Benih jagung
-        Polibag -        Bahan organik (pupuk kandang)
-        Plastik lembar -        Pupuk organik Bongsor 08
-        Sprayer -        Pupuk anorganik (urea, SP-36 dan KCl)
-        Kawat ram -        Tanah
-        Timbangan -        Penggaris dan jangka sorong
-        Caliper -        spidol dan label

 

 

  1. D.      CARA KERJA

BUDIDAYA SAYURAN SAWI

 

  1. Ambil tanah dari horison top soil dan sub soil Praktikum I, kemudian hancurkan bongkahan tanah agar menjadi halus dan saring dengan kawat ram untuk mendapatkan tanah yang homogen. Selanjutnya hamparkan pada plastik terpisah kemudian simpan di tempat teduh selama satu minggu.
  2. Buat media sebagai perlakuan rancangan faktorial sebagai berikut

No

Tanah

Pupuk Organik-Anorganik

Bahan organik

(v/v)

Kode

1

Top soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

1:0

TUB1

2

Top soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

1:1

TUB2

3

Top soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

1:2

TUB3

4

Top soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

2:1

TUB4

5

Top soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

1:0

TBB1

6

Top soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

1:1

TBB2

7

Top soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

1:2

TBB3

8

Top soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

2:1

TBB4

9

Sub soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

1:0

SUB1

10

Sub soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

1:1

SUB2

11

Sub soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

1:2

SUB3

12

Sub soil

Urea (1 MST, 50kg/ha)

2:1

SUB4

13

Sub soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

1:0

SBB1

14

Sub soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

1:1

SBB2

15

Sub soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

1:2

SBB3

16

Sub soil

Bongsor 08 (1,5-2 ml/L)

2:1

SBB4

 

  1. Masukkan campuran media tersebut ke dalam polibag dan cantumkan notasi perlakuannya
  2. Pindahkan bibit sawi yang telah memiliki 2 – 4 helai daun dari Praktikum II ke dalam polibag sebanyak dua bibit per polybag
  3. Lakukan pemeliharaan berupa pemupukan sesuai dengan perlakuan, penyiraman, penyiangan juga pengendalian hama dan penyakit
  4. Lakukan pengamatan berupa pengamatan penunjang dan pengamatan utama

 

Pengamatan Penunjang

  1. Ukur temperatur dan kelembaban harian/mingguan pada waktu yang sama
  2. Amati gulma yang tumbuh pada polybag, dokumentasikan dan cari nama gulma tersebut. Perkirakan persentase serangan
  3. Amati hama dan penyakit yang menyerang, dokumentasikan dan cari nama OPT  tersebut. Perkirakan persentase serangan.

Pengamatan Utama

  1. Pengamatan tinggi tanaman per minggu hingga panen, dengan cara mengukur tinggi tanaman dari pangkal batang hingga ujung tertinggi daun
  2. Ukur diameter pangkal batang per minggu menggunakan jangka sorong
  3. Hitung jumlah daun yang sudah membuka sempurna, dilakukan per minggu hingga panen
  4. Pada akhir pengamatan, deskripsikan penampakan shoot dan root dan timbang hasil panen.

 

  1. E.       HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel Pengamatan Pertumbuhan Tanaman Sawi

 

 

 

 

No

Kode Perlakuan

Tinggi (cm)

Diameter batang (cm)

Jumlah daun

Bobot akhir

(g)

Minggu ke-

Minggu ke-

Minggu ke-

1

2

3

4

4

1

2

3

4

1

TUB1

5,3/ 3,2

8/ 7,1

8,7/ 8,9

15/ 15,3

3/3

5/4

7/6

7/6

2

TUB2

5,5/ 3

5,7/ 10,5

7,6/ 13,2

16,5/ 12,3

3/1

5/4

6/4

6/5

3

TUB3

3,5/ 4,4

6,5/ 7,2

9/ 10,5

13/ 15,5

4/3

4/5

5/6

5/9

4

TUB4

5,5/ 7,5

12/ 8,3

15,6/ 14

20,4/ 23

4/4

5/5

6/5

7/7

5

TBB1

4,8/ 4,9

9,3/ 7,3

12,6/ 10,6

18,5/ 17

3/3

4/4

5/4

5/5

6

TBB2

4,8/ 3,4

6,6/ 8,3

11,9/ 16,2

12/ 22,2

3/4

5/3

6/5

6/6

7

TBB3

7/ 6,7

10,1/9,2

15,7/ 16,7

22,5/ 19,5

4/3

5/5

6/5

6/6

8

TBB4

7,5/ 6,6

12,3/ 10,3

17,8/16,4

22,5/ 23

3/4

5/5

6/6

8/8

9

SUB1

5,3/ 6,2

7,5/ 9,2

15,4/ 14,6

18/ 20,1

3/3

4/4

5/4

7/7

10

SUB2

4/ 5,8

10,5/ 5

13/ 12

18/ 13,7

2/5

2/4

3/5

4/6

11

SUB3

5,1/ 4,9

6,4/ 10,3

11,2/ 16,1

16,5/ 21

3/3

5/5

6/6

8/7

12

SUB4

5,5/ 5,2

10,5/ 10,5

14,6/ 14,6

20/ 20

4/4

4/5

7/6

7/7

13

SBB1

5,1/ 5,5

6,8/ 8,1

13/ 8,2

10,5/ 14

3/3

4/4

6/5

6/5

14

SBB2

5,7/ 5,5

9,5/ 10

17/ 16,7

23,3/ 22

4/4

6/5

9/7

12/7

15

SBB3

6,6/ 6,9

10,5/ 11,3

16,5/ 14,3

20/ 22

4/4

5/5

7/7

9/7

16

SBB4

4,2/ 5,9

10,7/ 8,6

15,2/ 16,5

22/ 22,5

3/3

5/5

7/6

7/7

 

 

 

Tabel Pengamatan Pertumbuhan Tanaman Jagung

 

No

Kode Perlakuan

Organic

Tinggi (cm)

Jumlah Daun

Daya kecambah (%)

Minggu ke-

Minggu ke-

1

2

3

4

1

2

3

 4

97,22 %

1

O1

7,5

8

38

75

2

4

6

7

2

O2

6,3

7

34

65

2

3

5

6

3

O3

9,3

11

28

43

2

4

6

8

4

O4

7

9

37

58

2

4

5

5

5

O5

6,6

11

30

70

2

4

5

7

6

O6

9

9

30

47

2

4

5

6

 

Daya Perkecambahan:

Daya tumbuh   =  x 100 %

=  x 100 %

= 97,22 %

 

 

No

Kode Perlakuan

AnOrganic

Tinggi (cm)

Jumlah Daun

Daya kecambah (%)

Minggu ke-

Minggu ke-

1

2

3

4

1

2

3

4

91,67 %

1

K1

6

8

40

60

2

3

8

9

2

K2

7,5

8

35

60

2

5

7

9

3

K3

5,5

9,6

35

67

2

3

7

8

4

K4

6

7,5

37

56

1

3

6

7

5

K5

4

9

48

75

2

3

7

9

6

K6

4,5

12

40

80

2

3

7

9

 

 

Daya Perkecambahan:

Daya tumbuh   =  x 100 %

=  x 100 %

= 91,67 %

 

Pembahasan Sawi

Pada tanaman sawi dengan media tanah Top soil berbanding dengan Sub soil maka yang kecepatan tumbuhnya adalah dengan tanah Top soil. Dengan horizon tanah top soil dengan perbandingan lebih besar dari pada pupuk atau bahan organik pertumbuhan daun sawi banyak. Sedangkan pada kelompok kami dengan perbandingan sub soil yang sedikit dengan pupuk atau bahan organik banyak pertumbuhan daun yang banyak.

 

 

 

Pembahasan Jagung

Pada tanaman jagung yang ditanam pada lahan terbuka dengan media tanah sub soil yang telah di gemburkan jagung yang diberikan pupuk organik dengan pupuk anorganik dilihat dari pertumbuhannya yang paling cepat adalah dengan pupuk organik dan daya kecambahnya cepat.

 

LAMPIRAN

GAMBAR SAWI

 

 

SBB 1                             SBB 2                           SBB 3                          SBB 4

 

SUB 1                            SUB 2                          SUB 3                          SUB 4

 

TBB 1                           TBB 2                TBB 3                             TBB 4

 

TUB 1                              TUB 2                           TUB 3                          TUB 4

GAMBAR JAGUNG

 

 

 

 

 

 

 

PRAKTIKUM IV

VERTIKULTUR

 

  1. A.      PENDAHULUAN

Vertikultur adalah budidaya tanaman secara vertikal. Wadah untuk berdirinya tanaman  berupa pipa PVC, bambu betung, atau bahan lain  disusun secara bertingkat dengan syarat tanaman tidak saling menghalangi, sehingga jumlah tanaman per satuan luas lebih banyak. Teknologi ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan lahan sempit melalui cara pemanfaatan ruang secara maksimal untuk budidaya tanaman.

 

Vertikultur merupakan teknologi sederhana yang dapat dikembangkan pada skala rumah tangga. Untuk keperluan bisnis rancang bangun dapat dilengkapi dengan sistem pengairan yang diatur dan bersiklus.

 

Banyak jenis tanaman yang dapat dibudidayakan secara vertikultur, tetapi yang cocok dan umum digunakan adalah tanaman semusim baik itu tanaman sayuran daun maupun  tanaman sayuran buah, tanaman hias, dan tanaman obat.  Dalam pemilihan jenis tanaman yang perlu mendapat perhatian adalah sistem perakarannya. Tanaman berakar serabut lebih mudah ditanam dengan cara vertikultur karena tidak memerlukan ruang terlalu luas.

 

Media tanam dapat berupa campuran tanah, pasirhalus, dan pupuk kompos/kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1.

 

  1. B.       TUJUAN
  2. Mendesain sistem Vertikultur
  3. Mengetahui pertumbuhan tanaman pada sistem Verikultur
  4. Pada akhir praktikum ini, mahasiswa dapat membandingkan pertumbuhan tanaman dengan sistem vertikultur dengan sistem konvensional seperti pada praktikum III

 

 

  1. C.      ALAT DAN BAHAN
  1. Pipa PVC atau bambu betung berukuran 4 inci
  2. Gergaji
  3. Bor listrik
  4. Tali ijuk
  5. Benih tanaman
  6. Media (tanah, pasir, dan pupuk kandang)
  7. Benih tanaman (selada, sawi, cabai)
  8. Penggaris dan caliper
  9. Ember, gayung, dan sprayer

 

  1. D.      CARA KERJA
    1. Model sederhana yang hanya terdiri dari satu wadah tempat tumbuh tanaman tegak, dan
    2. Model modifikasi yang terdiri dari beberapa pipa atau bambu yang ditempatkan baik mendatar maupun tegak dan semua pipa atau bambu tersebut terhubung satu dengan yang lain menggunakan tali ijuk sehingga menjadi sistem bertingkat, seperti gambar berikut.
  1. Buat sistem vertikultur dari bahan pipa PVC atau bambu betung

Model Sedehana                                        Model Modifikasi

 

  1. Siapkan media tanam yang terdiri dari campuran tanah, pasir halus, dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Masukan media ini kedalam pipa PVC/bambu.
  2. Semaikan benih dalam bak tabur yang berisi tanah lapisan atas : pasir halus : pupuk kandang/kompos = 1 : 1 : 1.
  3. Pindahkan bibit yang telah memiliki daun 3 – 4 helai ke media tanam pada wadah Vertikultur.
  4. Lakukan pemeliharaan berupa pengairan, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit.
  5. Lakukan pengamatan pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah daun, dan hal-hal lain yang penting berkaitan dengan pertumbuhan.

 

  1. E.       HASIL DAN PEMBAHASAN

No

Kode tanaman

Tinggi (cm)

Jumlah daun

Minggu ke-

Minggu ke-

1

2

3

4

1

2

3

4

1.

Tan. 1

5 cm

15

16

20

3

6

6

7

2.

Tan. 2

6,4 cm

9,5

15,5

23

3

4

6

6

3.

Tan. 3

7,6 cm

9,5

9,5

16

4

4

5

5

4.

Tan. 4

8,1 cm

14,5

19

25

5

5

5

6

5.

Tan. 5

5,5 cm

12,5

17

27

3

7

7

7

 

Pembahasan

Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Suatu teknik atau cara budidaya tanaman semusim (khusunya sayuran) pada lahan terbatas yang diatur secara bersusun menggunakan bangunan/tempat khusus atau model wadah tertentu dengan menerapkan paket teknologi maju, serta komoditas yang diusahakan bernilai ekonomi tinggi. Dalam pelaksanaannya praktikum ini untuk pengairan dan pemberian nutrisi diberikan dalam bentuk pengairan tetes.Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi waktu, dan untuk deras tidak aliran dapat diatur sehingga dapat diperhitungkan kapan waktu untuk mengisinya kembali.

Pada hasil pengamatan vertkultur tanaman sawi. Pada pengamatan sawi kami mengambil sampel sawi secara acak, pada tanaman ke-5 dengan ruang tanam dekat dengan sinar matahari dan lubang yang agak tegak lurus pertumbuhan sawi sangat cepat dan daun banyak, akan tetapi penyinaran yang lama mengakibatkan tanaman yang memerlukan nutrisi air yang sangat banyak pula akibat penguapan. Pada tanaman sawi pertumbuhan juga baik dari hari kehari mengalami pertambahan tinggi dan jumlah daun.Pada sistem vertikulture media tanaman adalah tanah yang di pipa paralon.

 

  1. F.        SIMPULAN

a.Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Suatu teknik atau cara budidaya tanaman semusim (khusunya sayuran) pada lahan terbatas yang diatur secara bersusun menggunakan bangunan/tempat khusus atau model wadah tertentu dengan menerapkan paket teknologi maju, serta komoditas yang diusahakan bernilai ekonomi tinggi
b. Vertikultur merupakan salah satu cara budidaya yang efektif untuk dilaksanakan di daerah yang tidak memiliki lahan luas, seperti di perkotaan.
c. Pada tanaman sawi pertumbuhan juga baik dari hari kehari mengalami pertambahan tinggi dan jumlah daun

d. bila dibandingkan tanaman secara vertikulture dengan tanaman yang konvensional, velticulture lebih cepat pertumbuhannya pada 3 minggu akan tetapi pada minggu ke-4 pada konvensional lebih cepat penambahan daunnya.

  1. G.      DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 20010. OPINI: Solusi Bertanam di Ruang Sempit dan Padat. http://www.studiolanskap.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=22.

 

 

 

 

PRAKTIKUM V

PERBANYAKAN VEGETATIF

 

  1. A.      PENDAHULUAN

Perbanyakan tanaman merupakan salah satu aspek penting dalam budidaya tanaman karena hal tersebut terkait dengan penyediaan bibit tanaman bermutu. Tanaman dapat diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif.

 

Cara generatif dengan memanfaatkan biji yang merupakan hasil dari proses perkawinan induk jantan dan betina, yang memiliki kelemahan kemungkinan kemunduran mutu genetik akibat pencampuran dua induk.  Kelemahan ini dapat ditanggulangi oleh perbanyakan vegetatif yang menghasilkan turunan sama dengan induknya. Keunggulan sifat pada tanaman induk akan diturunkan kepada turunannya.

 

Terdapat beberapa cara perbanyakan vegetatif, yaitu: mencangkok, merunduk, setek, menyambung,  okulasi, dan pemisahan anakan. Masing-masing cara memiliki kelebihan dan kekurangan. Suatu cara perbanyakan vegetatif sesuai untuk satu jenis tanaman dan tidak berhasil ketika diterapkan pada jenis tanaman lain.

 

Keberhasilan perbanyakan vegetatif ditentukan oleh jenis dan karakteristik tanaman, media, kondisi lingkungan, keterampilan manusia, dan lain sebagainya.

 

  1. B.       TUJUAN

Mengetahui cara perbanyakan vegetatif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

 

  1. C.      ALAT  DAN BAHAN
  1. Pisau tajam/Cutter
  2. Plastik lembar
  3. Media tanah dan bahan organik
  4. Bahan tanaman (durian dan alpukat)
  5. Polibag dan bak tabur
  6. Penggaris
  7. Penghapus
  8. Kertas tempel

 

  1. D.       CARA KERJA

OkulasiTanaman Durian

  1. Dilakukan pada bibit umur 3 bulan.
  2. Entres diambil dari klon-klon unggul, misalnya ICS 60, TSH 858, UIT 1, ICS 13 dan GC 7.
  3. Entres berupa cabang-cabang plagiotrop yang sehat , tidak sedang bertunas (flush), warna hijau kecoklatan, diameter ± 1 cm.
  4. Letak tempelan (pertautan ) di bagian hipokotil.
  5. “Jendela” okulasi dibuat dengan cara menoreh kulit vertikal sejajar sepanjang 3 cm, jarak antar torehan 0,8 cm. Di ujung bawah torehan dipotong horisontal sehingga terbentuk lidah kecil.
  6. Pengikatan dari bawah ke atas dengan susunan seperti genteng.
  7. Tali pengikat dibuka dan diamati umur 2 – 3 minggu.
  8. Pada okulasi jadi, batang bawah dilengkungkan untuk memacu pertumbuhan tunas baru.
  9. Pada okulasi yang gagal, diulang pada sisi yang berlawanan.
  10. Batang bawah dipotong 5 cm di atas pertautan setelah tunas baru memiliki 6 lembar daun dewasa.
  11. Pemupukan setiap 2 minggu dengan Urea 2 gram / bibit.
  12. Bibit siap dipindah ke lapangan setelah berumur 8 – 9 bulan dengan ciri-ciri diameter batang 0,7 cm, tinggi ± 50 cm dan jumlah daun ± 12 lembar.

 

Sambung Pucuk Tanaman Alpukat

  1. Dilakukan pada bibit umur 3 bulan.
  2. Entres diambil dari klon-klon unggul,misalnya ICS 60, ICS 13, TSH 858, UIT 1 dan GC 7.
  3. Entres berupa cabang-cabang plagiotrop yang sehat dan tidak sedang bertunas (flush), warna hijau kecoklatan, diameter ± 1 cm.
  4. Batang bawah dipotong datar, disisakan 3 lembar daun.
  5. Untuk satu sambungan diambil 3 mata tunas entres.
  6. Pangkal entres disayat miring pada kedua sisi sehingga runcing seperti baji.
  7. Entres disisipkan pada ujung batang bawah yang dibelah, pertautan diikat tali dan entres ditutup kantong plastik.
  8. Diamati setelah 10 – 15 hari.
  9. Pada sambungan jadi tunas dibiarkan tumbuh sepanjang ± 2 cm. kemudian tutup entres dibuka, tanpa melepas tali ikatan pertautan. Tali ikatan pertautan dibuka setelah tunas baru berumur 3 bulan.
  10. Bibit siap ditanam ke lapangan setelah berumur 7 bulan.
  1. E.       HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Tabel Pengamatan Pada Tanaman Durian Dan Alpukat

No

Minggu Ke-

Tanaman Durian (Okulasi)

Tanaman Alpukat (Sambung Pucuk)

Hasil akhir

1.

4

Batang Kering

Batang Kering dan patah

Mati

2.

 

Pembahasan

  • Pada tanaman yang di sambung pucuk yaitu tanaman alpukat selama empat minggu pengamatan hasilnya gagal. Tanaman menjadi kering dikarenakan ada beberapa faktor.
  1. Ada  kemungkinan pada tanaman ini yaitu jaringan pada tanaman yang belum terbentuk sehingga sayatan tersebut belum dapat menyambung, Jadi walaupun terlihat seperti nyambung padahal sebenarnya belum bersatu dan aliran air juga fotosintesis yang tidak sampai pada bagian yang di sayat tersebut,
  2. Ketidaksterilan tanaman yang akan dijadikan batang atas yang telah disayat, kemungkinan terkena tanah sehingga kotor,
  3. Ketidaksamaan diameter juga berpengaruh sehingga batang yang diikat menjadi patah.

(http://afandypoltek.wordpress.com/2008/05/10/sambung-pucuk-dan-okulasi/)

(http://ardiant181.wordpress.com/2009/01/08/perbanyakan-tanaman-dengan-okulasi-budding/)

 

  • Pada tanaman yang di okulasi kesalahan terjadi dikarenakan
  1. Kurangnya penyiraman sehingga terjadi kekeringan
  2. Pembukaan plastic yang dilakukan pada tanaman yang terlalu cepat.
  3. Kurangnya cahaya matahari yang menyinari tanaman tersebut terutama pada bagian batang

(pendapat sendiri)

 

  1. F.        SIMPULAN
    1. Pada tanaman yang di okulasi hal yang harus diperhatikan adalah penyinaran dari cahaya matahari dan penyiraman yang teratur
    2. Pada tanaman yang di sambung pucuk hal yang harus diperhatikan adalah kesterilan pada batang tanaman dan kesamaan diameter batang baru

 

  1. G.      DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

        

 

 

 

makalah tekben perbanyakan benih kentang April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

Teknologi Terobosan Perbanyakan Cepat Benih Kentang

PAPER

Dipresentasikan di jurusan Agroteknologi semester IV dalam rangka melengkapi perkuliahan mata pelajaran Teknologi Benih yang dibina oleh Dr H Suryaman Birnadi Ir. MP

Oleh

Nursyam Dzulkifli (1209706026)

Yosi Saeful Mikdar (1209706036)

Mastur Imaduddin (1209706025)

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2011/1432

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala. Selawat dan salam kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahualaihiwasallam, karena atas hidayah-Nyalah makalah ini diselesaikan.

Makalah ini penulis sampaikan kepada pembina mata kuliah Teknologi Benih sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar Teknologi Benih

Penulis memohon kepada Bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca barang kali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam karya tulis ini, baik dari segi bahasanya mupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan keritik dan saran yang berifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………………..  i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………………..  ii

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………..  1

1.1.latar belakang ………………………………………………………………………………………..  1

1.2 masalah ………………………………………………………………………………………………..  2

BAB II ISI dan PEMBAHASAN ……………………………………………………………………..  4

A.Teknik Budidaya Kentang …………………………………………………………………..  4

B.  Teknologi Terobosan Perbanyakan Cepat Benih Kentang ………………………  16

C. Teknologi Tingkatkan Produksi Kentang 3-4 kali lipat …………………………..  30

BAB III KESIMPULAN ………………………………………………………………………………….  36

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………………  37

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Kentang merupakan salah satu pangan utama dunia setelah padi, gandum, dan jagung (Wattimena, 2000). Disamping itu, kentang termasuk salah satu komoditas hortikultura yang mempunyai nilai perdagangan domestik dan potensi ekspor yang cukup baik. Produksi kentang di Indonesia pada tahun 1998 mencapai 998 032 ton, meningkat sebanyak 22.7% dari tahun 1997 (813 368 ton) (Anonim, 1999). Namun demikian, kemampuan produksi kentang Indonesia hanya dapat memenuhi 10% konsumsi kentang nasional, yaitu 8.9 juta ton per tahun (Wattimena, 2000). Disamping produksi yang belum cukup, volume dan nilai ekspor kentang tahun 1998 (31 204 ton, 5 887 000 US$) mengalami penurunan dari tahun 1997 (36 758 ton, 8 431 065 US$) (Anonim, 1999).

Kentang (Solanum tuberosum) adalah salah satu komoditas sayuran hortikultura yang menjadi andalan para petani di Indonesia, karena selain bernilai ekonomi tinggi dan stabil, juga sebagai sumber karbohidrat yang cukup tinggi, dan dapat dikonsumsi  sebagai pengganti makanan pokok beras dan jagung, dalam usaha meningkatkan diversifikasi makanan pokok. Namun dalam usaha meningkatkan produktivitasnya yang menjadi kendala utama bagi para petani kentang adalah ketersediaan benih yang berkualitas masih terbatas dipasaran produsen benih (penangkar benih) sehingga sangat mempengaruhi pengembangan dalam budidayanya. Keadaan tersebut sangat  mempengaruhi pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen rumah tangga, hotel dan pabrik makanan yang menggunakan bahan baku kentang.

Salah satu cara untuk mendukung memperlancar ketersediaan benih adalah dengan adanya input Iptek inovatif untuk mempercepat dan memperbanyak produksi benih penjenis (G0) diindustri hulu.

Kendala utama dalam peningkatan produksi kentang adalah pengadaan dan distribusi benih kentang berkualitas yang belum kontinyu dan memadai. Padahal saat ini, penggunaan benih bebas pathogen/berkualitas mutlak diperlukan.

Penanaman bibit kentang bermutu, tepat waktu dan tepat umur fisiologis adalah faktor utama penentu keberhasilan produksi kentang (Wattimena, 2000). Upaya penyediaan benih kentang bermutu perlu dilandasi dengan sistem perbenihan yang mapan. Sentra produksi utama kentang di Indonesia terletak di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara (Wattimena, 2000). Perbanyakan benih kentang bebas penyakit di Jawa Barat telah dimulai sejak tahun anggaran 1991/1992 dalam program kerjasama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Jepang melalui Japan International Corporation Agency (JICA). Tujuan utamanya adalah untuk memperoleh benih kentang bermutu tinggi, bebas dari penyakit dengan harga yang terjangkau oleh petani (Anonim, 2000b).

1.2.Masalah

  • ketersedian benih kentang bermutu di tingkat petani dan stabilitas harga pasar. Dari benih bermutu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan petani (Asandhi, 1989).
  • Kebiasaan petani saat ini menggunakan benih kentang secara terus-menerus dari hasil sortasi panennya sendiri yaitu kentang yang berukuran kecil, sehingga kualitas benih tidak diketahui. Benih yang dihasilkan petani tersebut mempunyai kelemahan, antara lain mudah tertular penyakit, mengalami masa dormansi dan terjadi degradasi hasil setelah generasi ke lima.Peningkatan permintaan kentang menyebabkan peningkatan produksi dan luas tanam, namun belum diikuti peningkatan penyediaan benih yang berkualitas.
  • Pengetahuan petani akan dunia perbenihan di Indonesia perlu mendapat perhatian serius. Banyak petani yang kurang mengenal bagaimana pentingnya mutu benih tanaman serta mengesampingkan berbagai hal yang terkait dengan mutu tersebut. Bahkan hal tersebut diperparah lagi dengan kurangnya pengetahuan akan kultur teknis di lapangan. Sehingga banyak penghambat yang timbul hanya karena kurangnya masalah perbenihan dan kultur teknis tanaman.
  • Kendala utama dalam peningkatan produksi kentang adalah pengadaan dan distribusi benih kentang berkualitas yang belum kontinyu dan memadai.
  • Rendahnya kualitas dan kuantitas bibit kentang, yang merupakan perhatian utama dalam usaha peningkatan produksi kentang di Indonesia,
  • Teknik budidaya yang masih konvensional,
  • Faktor topografi, dimana daerah dengan ketinggian tempat dan temperatur yang sesuai untuk pertanaman kentang di Indonesia sangat terbatas,
  • Daerah tropis Indonesia merupakan tempat yang optimum untuk perkembangbiakan hama dan penyakit tanaman kentang (Kuntjoro, 2000).

 

 

 

 

BAB II

ISI DAN PEMBAHASAN

 

  1. TEKNIK BUDIDAYA KENTANG

 

2.1 PENGERTIAN

Kentang (Solanum tuberosum L) merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting. PT. NATURAL NUSANTARA berupaya meningkatkan produksi kentang nasional secara kuantitas, kualitas dan tetap berdasarkan kelestarian lingkungan (Aspek 3K).

2.2 SYARAT PERTUMBUHAN

2.2.1. Iklim

Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.

2.2.2. Media Tanam

Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.

Ketersediaan benih kentang berkualitas saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan petani, baik penangkar benih maupun produsen kentang. Sedangkan pasokan benih kentang di tingkat penangkar tegantung dari tersedianya benih sumber berupa Benih Penjenis (G0). Benih ini merupakan umbi hasil teknologi kultur meristem dengan kriteria bebas dari penyakit.

Penyediaan Benih Unggul Bermutu kentang yang bersertifikat tidak dapat dilakukan oleh hanya satu instansi saja. Kegiatan ini melibatkan beberapa instansi antara lain BPTP Jawa Timur selaku penyedia planlet dan pemulia varietas kentang unggul yang telah diputihkan. Disamping itu juga melibatkan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur (UPT Pengembangan Benih Hortikultura, UPT Pengawasan dan Sertifikasi Benih). Hal ini terkait dengan penyediaan Benih Unggul Bermutu kentang bersertifikat tepat sasaran : mutu, jenis, waktu, jumlah, pelayanan, harga dan berkesinambungan.

 

2.3 TAHAPAN PENYEDIAAN BENIH BERMUTU

  1. Sterilisasi Alat dan Media Kultur.

Semua peralatan yang digunakan seperti timbangan Sartorius, autoclave, Laminar Air Flow, beaker glas, labu ukur, scalpel, pinset dan botol – botol kultur, glassware dan dispecting kit sebelum digunakan dicuci terlebih dahulu, kemudian disterilisasi menggunakan oven dengan suhu 80oC selama 30 menit (Gambar 1).

  1. Pemilihan Pohon Induk sebagai Eksplan

Pohon induk diperoleh dari Varietas Kentang yang telah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai Varietas Unggul Nasional. Salah satu varietas kentang Unggul Nasional dari kultivar lokal Jawa Timur adalah varietas Granola Kembang yang telah dilepas dengan SK Mentan No 81/Kpts/SR.120/3/2005 tanggal 15 Maret 2005. Setelah pemilihan varietas dilanjutkan dengan penumbuhan eksplan. Umbi kentang dicuci bersih dan ditumbuhkan pada suhu ruang sampai bertunas (Gambar 2).

  1. Eliminasi Virus dengan Metode Kultur Meristem

Pemanfaatan teknologi in vitro dengan Kultur meristem untuk menghasilkan plantlet bebas virus (Gambar 3). Untuk memastikan plantlet yang dihasilkan bebas virus dilakukan Uji ELISA dengan melibatkan BPSBTPH Jatim dan BALITSA Lembang.

  1. Perbanyakan secara in vitro menggunakan stek dua (2) ruas) dengan media dasar Murashige and Skoog (Gambar 4).
  2. Aklimatisasi dan penanaman platlet di rumah kasa yang kedap serangga menggunakan seed bed terbuat dari aluminium, kotak bambu atau kotak – kotak plastik (Gambar 5).
  3. Perbanyakan plantlet secara cepat dengan stek dua (2) ruas di rumah kasa setelah dideteksi bebas virus : PLRV, PVY, PVX, dan PVS (Gambar 6).
  4. Tahap pertumbuhan dan pemeliharaan plantlet di rumah kasa (Gambar 7).
  5. Tahap produksi Umbi Penjenis (G0) di Rumah Kasa Pusat Perbenihan Kentang Tosari. Kriteria umur panen adalah 3 – 4  bulan setelah tanam stek atau plantlet dengan cirri daun menguning karena daun menua (Gambar 8).
  6. Tahap penen dan prosesing Benih Penjenis (G0) kentang bebas virus (Gambar 9).

2.4 PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

2.4.1. Pembibitan

- Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
- Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

2.4.2. Pengolahan Media Tanam

Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).

 

 

 

 

2.5. TEKNIK PENANAMAN

2.5.1. Pemupukan Dasar

a. Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).

b. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara :

alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.

c. Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,

2.5.2. Cara Penanaman

Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).

 

 
2.6. PEMELIHARAAN TANAMAN

2.6.1. Penyulaman

Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.

 

2.6.2. Penyiangan

Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.

2.6.3. Pemangkasan Bunga

Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.

2.6.4. Pemupukan Susulan

a. Pupuk Makro

Urea/ZA: 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha. SP-36: 21 hst 250 kg/ha.
KCl: 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha. Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.

b. POC NASA: mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu. Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.
Alternatif II : 5 – 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.

c. HORMONIK : penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).

2.6.5. Pengairan

Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.7. Hama dan Penyakit

2.7.1. Hama

Ulat grayak (Spodoptera litura)

Gejala              : ulat menyerang daun hingga habis daunnya.

Pengendalian   : (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.

Kutu daun (Aphis Sp)

Gejala              : kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus.

Pengendalian   : memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.

Orong-orong (Gryllotalpa Sp)

Gejala              : menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri.

Pengendalian   : Pengocoran Pestona.

 

 

 

Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)

Gejala              : daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan.

Pengendalian   : Pengocoran Pestona.

Hama trip ( Thrips tabaci )

Gejala              : pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda.

Pengendalian   : (1) memangkas bagian daun yang terserang; (2) mengunakan Pestona atau BVR.
2.7.2. Penyakit

Penyakit busuk daun

Penyebab         : jamur Phytopthora infestans.

Gejala              : timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati.

Pengendalian   : sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

 

Penyakit layu bakteri

Penyebab         : bakteri Pseudomonas solanacearum.

Gejala              : beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit busuk umbi

Penyebab         : jamur Colleotrichum coccodes.

Gejala              : daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk.

Pengendalian   : pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam

Penyakit fusarium

Penyebab         : jamur Fusarium sp.

Gejala              : busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis.

Pengendalian   : menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit bercak kering (Early Blight)

Penyebab         : jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering.

Gejala              : daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: pergiliran tanaman.

Pencegahan     : Natural Glio sebelum/awal tanam

Penyakit karena virus

Virus yang menyerang adalah:

(1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung;

(2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun;

(3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal;

(4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak;

(5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung;

(6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas.

Gejala              : akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda.

Pengendalian   : tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

 

2.8. PANEN

Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.

 

 

 

B. TEKNOLOGI TEROBOSAN PERBANYAKAN CEPAT BENIH KENTANG

Masalah perbenihan di Indonesia tidak dapat disepelekan begitu saja. Karena benih merupakan salah satu faktor penting dalam suatu usaha budidaya tanaman. Benih merupakan suatu parameter keberhasilan produksi tanaman. Artinya, dalam suatu kegiatan budidaya tanaman dapat dilihat dari mutu benih yang digunakan. Apabila benih yang digunakan memiliki mutu yang baik maka hal ini dapat menjamin keberhasilan budidaya tanaman itu sendiri.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1995 Tentang Perbenihan Tanaman telah disebutkan bahwa : “Benih merupakan sarana produksi utama dalam budidaya tanaman, dalam arti penggunaan benih bermutu mempunyai peranan yang menentukan dalam usaha meningkatkan produksi dan mutu hasil. Untuk mendapatkan benih bermutu diperlukan penemuan varietas unggul yang dilakukan melalui usaha pemuliaan tanaman yang diselenggarakan antara lain melalui kegiatan pencarian, pengumpulan, dan pemanfaatan plasma nutfah baik di dalam maupun di luar habitatnya dan atau melalui usaha introduksi dari luar negeri. Benih dari varietas unggul, untuk dapat menjadi benih bina, terlebih dahulu varietasnya harus dilepas. Produksi benih bina harus melalui proses sertifikasi dan apabila akan diedarkan harus diberi label.”

Di Indonesia sebenarnya telah banyak lembaga pemerintah yang bergerak dalam bidang perbenihan. Namun, peran serta dari lembaga pemerintah ini masih harus perlu dipertanyakan. Banyak permasalahan timbul dari lembaga-lembaga berplat merah, walaupun beberapa diantaranya telah berperan sesuai dengan fungsinya masing-masing.  Sekali lagi masalah perbenihan di Indonesia tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Karena peran serta bidang perbenihan tanaman banyak mendukung keberhasilan pembangunan pertanian di Indonesia.

Pengetahuan petani akan dunia perbenihan di Indonesia perlu mendapat perhatian serius. Banyak petani yang kurang mengenal bagaimana pentingnya mutu benih tanaman serta mengesampingkan berbagai hal yang terkait dengan mutu tersebut. Bahkan hal tersebut diperparah lagi dengan kurangnya pengetahuan akan kultur teknis di lapangan. Sehingga banyak penghambat yang timbul hanya karena kurangnya masalah perbenihan dan kultur teknis tanaman.

Melalui makalah ini kami ingin berbagi sedikit pengetahuan tentang dunia perbenihan tanaman. Sehingga pengetahuan akan dunia perbenihan tanaman seharusnya menjadi hal tidak terdengar asing  lagi bagi kalangan rakyat Indonesia khususnya para petani. Sehingga hal ini dapat meminimalisir adanya faktor penghambat dalam pembangunan pertanian di Indonesia. Makalah ini juga diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi beberapa kalangan yang bergerak langsung dalam bidang perbenihan tanaman.

 

Salah satu masalah usahatani kentang saat ini adalah ketersedian benih kentang bermutu di tingkat petani dan stabilitas harga pasar. Dari benih bermutu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan petani (Asandhi, 1989). Propinsi Jawa Timur mempunyai potensi penyediaan kentang untuk memenuhi kebutuhan Nasional yang semakin meningkat. Wilayah potensial untuk sentra perbenihan kentang terletak di dataran tinggi dengan iklim lembab dan termasuk Zona agroekologi III by (Saraswati et al., 2000). Berdasarkan penyebaran luas tanam dan luas panen kentang dataran tinggi di Jawa Timur tersebar di 15 Kabupaten, Luas tanam kentang di Jawa Timur seluruhnya berkisar 7.000 ha, kebutuhan benih kentang per ha sebanyak 1,5 ton. Dengan demikian untuk wilayah Jawa Timur kebutuhan benih kentang sebanyak 10.500 ton setiap tahun.

Kebiasaan petani saat ini menggunakan benih kentang secara terus-menerus dari hasil sortasi panennya sendiri yaitu kentang yang berukuran kecil, sehingga kualitas benih tidak diketahui. Benih yang dihasilkan petani tersebut mempunyai kelemahan, antara lain mudah tertular penyakit, mengalami masa dormansi dan terjadi degradasi hasil setelah generasi ke lima.Peningkatan permintaan kentang menyebabkan peningkatan produksi dan luas tanam, namun belum diikuti peningkatan penyediaan benih yang berkualitas.

Teknologi perbenihan kentang dapat diperbaiki dengan menyediakan Go yang merupakan Benih Penjenis melalui teknologi kultur jaringan dan modifikasi dengan penanaman di lapanng (Duriat, dkk., 1990; Karyadi, 1990, Karyadi,1997 dan Prahardini, 2005).

Model pengembangan industri perbenihan kentang di Jawa Timur perlu diupayakan untuk mengatasi kesulitan penyediaan benih kentang bermutu di Jawa Timur, hal ini diarahkan untuk meningkatkan koordinasi antar petani kentang dan menumbuhkan industri perbenihan kentang di Jawa Timur, selain itu perlu pemikiran tentang sentralisasi perbenihan kentang di suatau kawasan atau wilayah zone agroekologi. Pusat Perbenihan kentang di Jawa Timur terletak di Tosari Kabupaten Pasuruan yang menghasilkan benih Go, yang akan diperbanyak dan diproduksi menjadi benih G1, G2 dan G3. Petani penangkar benih akan memperbanyak menjadi benih G4 yang merupakan Benih Sebar.

Teknologi spesifik lokasi perbenihan kentang merupakan salah satu modal berlangsungnya agribisnis perbenihan kentang di petani penangkar benih. Teknologi tersebut harus efisien dan efektif sesuai dengan zona agroekologi (Prahardini, 2004) Petani kentang di kawasan sentra perbenihan perlu dimotifasi untuk membentuk suatu kelompok tani yang mampu mendukung berjalannya simpul-simpul agribisnis yang lain berupa penyediaan saprodi, modal, jalinan pasar dan keterkaitan lintas sektoral yang mendukung berkembangnya sentra perbenihan (Supari, 1999). Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan teknologi perbenihan kentang yang efisien dan menguntungkan di tingkat petani penangkar benih

SEKTOR PERBENIHAN 

Sektor perbenihan merupakan salah satu pendukung utama dalam program pembangunan pertanian yang diarahkan pada peningkatan ketahanan pangan, nilai tambah, daya saing usaha pertanian, dan kesejahteraan petani. Program pembangunan pertanian akan tercapai dengan dukungan di mana salah satunya adalah terpenuhinya benih secara kuantitas dan kualitas. Benih sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas hasil produksi. Salah satu program pemerintah di sektor pertanian adalah perbenihan kentang yang dilakukan di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung pada tahun 1992. Program ini merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Japan International Cooperation Agency (JICA), telah menghasilkan produk benih kebutuhan benih berkualitas di Jawa Barat terus meningkat. Pada tahun 2007 stok benih kentang G  baru mencapai 4.000 t, atau hanya memenuhi 4 kebutuhan untuk 3.000 ha saja (Anonimous 2008). Oleh karena itu, penerapan teknologi inovatif dari semua pihak (pemerintah dan swasta) untuk perbanyakan cepat benih kelas penjenis (G ) 0 kentang sangat diharapkan sehingga kebutuhan benih yang berkualitas secara regional dan nasional senantiasa tersedia sepanjang tahun. Dalam upaya mendukung penyediaan benih Tasa Nusantara (ATN), salah satu produsen benih bermutu yang berlokasi di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sampai saat ini terus berkiprah memproduksi benih kentang bermutu dan benih kentang bermutu dan bersertifikat bagi petani penangkar untuk  mendukung program Balai Pengembangan Benih Kentang (BPBK) di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Produk benih kelas penjenis (G ) kentang yang diproduksi menggunakan media steril (tanah plus pupuk kandang) yang ditempatkan dalam seed bed di rumah-rumah kasa, hanya mampu menghasilkan benih kelas penjenis (G ) rerata sekitar 1,5-3 knol/0 tanaman dan tidak berbeda dengan yang dihasilkan oleh  ATN (Gunawan dan Afrizal 2008).

Sebuah kotak berwarna putih berukuran 4x1x0,7 meter berada di satu stan peserta Agrifest 2009 yang diselenggarakan di Graha Manggala Siliwangi, Jl Aceh Bandung. Di atas kotak tampak tanaman kentang setinggi 10 cm. Namun, kotak tersebut bukanlah kotak berisi tanah yang biasa digunakan sebagai media tanam, melainkan berisi sebatang noozle (pipa) kecil berlubang yang menyemprotkan air, selebihnya ruang dalam kotak tersebut hanya berupa ruang kosong.

Ketika tutup kotak dibuka, semprotan air bertekanan kecil keluar ke atas kotak. Di balik penutup kotak, akar-akar tanaman kentang tampak berjuntai. Sebagian besar masih berupa juntaian akar karena usia tanaman yang masih muda. Namun, beberapa juntai akar sudah mulai menghasilkan umbi-umbi kecil berwarna putih kecokelat-cokelatan. Umbi-umbi kecil tersebut merupakan bakal kentang yang bisa dipanen saat tanaman sudah berusia tiga bulan.

Deretan tanaman kentang tesebut ditanam di bak tanam dengan sistem aeroponik. Aeroponik merupakan satu alternatif menumbuhkan tanaman tanpa tanah. Berbeda dengan sistem hidroponik yang menggunakan air sebagai media tanam, aeroponik menggunakan udara atau lingkungan yang berkabut sebagai media tanam. Sistem yang baru pertama kali dikembangkan sebagai siatem penangkaran bibit kentang unggul di Jawa Barat ini terbukti mampu meningkatkan produksi benih kentang unggul hampir sepuluh kali lipat dari hasil produksi benih kentang sistem konvensional.

“Teknik aeroponik merupakan teknik memperbanyak bibit kentang secara cepat. Sistem ini mampu meningkatkan produksi hingga hampir 10 kali lipat. Sistem ini juga menekan patogen yang dibawa tanah karena tidak menggunakan tanah sebagai media tanam,” ungkap Staf Jasa Penelitian Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Mastur SP, kepada Tribun, Selasa (26/5). Selain menggunakan udara sebagai media tanam, lanjut Mastur, aeroponik juga menggunakan sistem kultur jaringan sebagai metode penumbuhan benih. Pembenihan melalui kultur jaringan dilakukan dengan cara mengambil bagian jaringan dari kentang, kemudian jaringan tersebut ditanam di media yang disebut Potato Dectros Agar (PDA).

Peneliti Balitsa, Dra Hj Oni Setiani Gunawan MS PU, menyatakan teknik ini dilakukan sebagai sarana peningkatan ketersediaan bibit kentang bagi petani kentang. Kentang aeroponik dapat dipanen dalam jangka waktu sekitar 50 hari. Tiap satu tanaman kentang rata-rata mampu menghasilkan 30 umbi kentang. Berbeda dengan hasil penanaman kentang dengan teknik konvensional yang hanya mampu menghasilkan tiga hingga lima umbi kentang per tanaman.

Peningkatan jumlah produksi tersebut telah dirasakan seorang petani penangkar benih kentang, Denny Afrizal SE. Sejak menerapkan teknik aerophonik, produksi benih kentangnya meningkat hampir sepuluh kali lipat dari hasil metode konvensional.

“Total modal sekitar Rp 65 juta per 100 meter persegi, dari  lahan tersebut setiap panen (tiga bulan sekali) saya mampu menghasilkan rata-rata 45.000 umbi. Setiap satu umbi kentang harganya sekitar 2.500 rupiah,” tutur Denny.(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sektor perbenihan merupakan salah satu pendukung utama dalam program pembangunan pertanian yang diarahkan pada peningkatan ketahanan pangan, nilai tambah, daya saing usaha pertanian, dan kesejahteraan petani. Program pembangunan pertanian akan tercapai dengan dukungan dimana salah satunya adalah terpenuhinya benih secara kunatitas dan kualitas. Benih sangat mempengaruhi produktivitas dan kualitas hasil produksi.

Salah satu program pemerintah disektor pertanian adalah perbenihan kentang yang dilakukan di Kecamatan Bandung pada tahun 1992. Program ini merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan japan International Cooperation Agency (JICA), telah menghasilkan produk benih kentang yang bermutu dan bersertifikat.

Dalam upaya mendukung penyediaan benih kentang yang bersertifikat, sejak tahun 1996 Agritek Tasa Nusantara (ATN),salah satu produsen benih bermutu yang berlokasi di kecamatan lembang, Kabupaten Bandung Barat, sampai saatnini terus berkiprah memproduksi benih kentang bermutu dan bersertifikat.

Teknologi aeroponik merupakan terobosan dalam melipatgandakan benih Go. Teknologi aeroponik dapat menghasilkan umbi kentang yang cukup banyak, beberapa kali lipat bila dibandingkan dengan menggunakan media steril (tanah dan pupuk kandang). Oleh karena itu, pada bulan Desember 2008 peneliti Balai Penelitian tanaman sayuran (Balitsa) bekerjasama dengan ATN mengembangkan teknik aeroponik dan hasilnya mencapai 10 kali lipat dibandingkan dengan konvensional. Adapun ukuran benih yang dihasilkan dengan teknik aeroponik bervariasai dari ukuran sebesar biji kacang tanah sampai sebesar telur bebek.

Penerapan tehnik aeroponik sebagai teknologi inovatif merupakan terobosan baru dalam usha perbanyakan cepat benih kentang penjenis (Go) dalam mendukung program pembangunan pertanian di sector perbenihan yang siap dikomersialkan, walaupun investasi awal cukup mahal tetapi bila dibandingkan dengan hasil yang berlipat, maka biaya yang dikeluarkan terhitung cukup murah.

Saat ini Indonesia melangkah dan membuktikan keberhasilan teknologi ini. Penelitian lanjut serta pengembangannya terutama dalam usaha menghasilkan jumlah umbi yang relative banyak dengan ukuran relative sama perlu diteliti lebih lanjut.

Menurut Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa barat, dengan mengoptimalkan peran dan fungsi kelembagaan perbenihan (pemerintah dan swasta) di daerah-daerah akan diperoleh 3 hal yaitu :

1. Kebutuhan benih terpenuhi sesuai kebutuhan varietas, jumlah, mutu, waktu, dan lokasi yang tepat,

2. Kualitas dan kuantitas benih yangb dihasilkan terjamin, dan

3. Terwujudnya usaha perbanihan yang tangguh dan mandiri dengan skala usaha yang layak secara komersial dan berkesinambungan.

Teknologi aeroponik merupakan langkah awal menuju keberhasilan Indonesia memproduksi benih kentang berkualitas tinggi (swasembada benih kentang). Ada 6 kriteria tepat yang harus diperhatikan yaitu tepat varietas, mutu, jumlah, waktu, lokasi dan harga untuk memenuhi benih secara regional dan nasional.

Keuntungan menggunakan aeroponik selain praktis, tidak perlu menggunakan media campuran tanah dan pupuk kandang steril, tidak banyak menggunakan pestisida, menghasilkan benih umbi yang sehat dan bersih,tetapi produksi tinggi (10 x disbanding cara konvensional), mudah dipanen dan diatur sesuai ukuran yang diinginkan, tenaga kerja cukup 1 orang, bebas pathogen (bakteri dan cendawan), nutrisari dapat diatur dan secara optimum diserap oleh tanaman.

Teknik aeroponik merupakan teknologi modern dengan peralatan dan bahan yang cukup mahal dan memerlukan biaya cukup tinggi, tetapi untuk investasi jangka panjang teknik ini dapat diperhitungkan sesuai dengan program perencanaan dalam memproduksi benih.

Tersedianya benih berkualitas dan bersertifikat akan mempengaruhi peningkatan produktivitas lebih dadri rerata produksi secara nasional yaitu 16,94 t/ha (sebagian besar petani masih menggunakan benih tidak berkualirtas atau generasinya tidak jelas), sehingga produktivitasnya rendah ( <10 t/ha).

Dukungan prasarana dan prasarana prosesing benih kentang dari Pemerintah memberikan peluang bagi sektor produsen benih swasta untuk berperan dalam kegiatan produksi benih.

Upaya untuk mengoptimalkan dan mengefiensikan teknologi aeroponik dapat dilakukan dengan berbagai cara :

1. Bak tanam dari fiberglass dapat diganti dengan bak papan, container bamboo, bak dari bata, buleng ikan, atau bak plastic yang memenuhi persyarakat panjang 4m, lebar 1m, dan tinggi 0,70 m.

2. Tutup bak Styrofoam dapat diganti dengan sususnan papan tipis ukuran 1 x 1 m atau menggunakan anyaman bamboo dan anyaman bilik bamboo.

3. Rumah kasa dapat disederhanakan, menggunakan bahan dari bamboo, atap plastic UV dan kedap serangga.

4. Mesin pengalir air dan nutrisi dapat diatur waktunya sehingga tidak boros dalam penggunaan listrik

Tahap-tahap pelaksanaan teknik aeroponik sebagai berikut :

1. Stek tanaman kentang berasal dari planlet hasil kultur jaringan ditanam pada media campuran steril (tanah dan pupuk kandang v/v 1:2) dalam seed bed di rumah kasa

2. Penanaman stek tanaman kentang pada bak tanam di rumah kasa

3. Stek pucuk tanaman kentang siap ditanam

4. Tanam stek tanaman kentang pada Styrofoam yang telah dilubangi

5. Pertumbuhan dan hasil umbi benih kentang penjenis (Go) pada umur umur 33 65 hari setelah tanam (HST)

6. Panen perdana benih kentang penjenis (Go0 menggunakan teknik aeroponik

 

Kendala utama dalam peningkatan produksi kentang adalah pengadaan dan distribusi benih kentang berkualitas yang belum kontinyu dan memadai. Padahal saat ini, penggunaan benih bebas pathogen/berkualitas mutlak diperlukan. Bibit bebas patogen, bisa didapatkan melalui kultur jaringan disertai dengan pengujian patogen secara intensif dan dilanjutkan dengan teknik perbanyakan cepat khususnya dengan menanam stek secara inviltro atau in vivo, untuk mendapatkan bibit kentang generasi nol (G0/benih sumber). Teknik inilah yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) Lembang.

Selanjutnya G0 berupa stek dikirimkan ke BBI Pangalengan untuk diperbanyak di Screen House A dan menghasilkan mini tuber, yang selanjutnya secara berurut ditanam menjadi G1 (pada screen house) dan G2 (di lapangan). Perbanyakan dari G2 ke G3 dilaksanakan di BBU (PD Mamin/PD Agribisnis) Pangalengan yang selanjutnya diperbanyak menjadi G4 oleh para penangkar yang telah terlatih.

Kegiatan memproduksi benih kentang berkualitas baik dalam bentuk tanaman in vitro atau umbi mini dibagi dalam 4 tahap mulai dari eliminasi penyakit sistemik terutama virus, Penggunaan teknik in vitro untuk tujuan perbanyakan vegetatif, Aklimatisasi, dan produksi umbi mini kentang.

Eliminasi Penyakit

            Teknik kultur jaringan sangat membantu dalam usaha mengeliminasi penyakit sistemik terutama penyakit virus. Metode yang umum digunakan untuk produksi plantlet dan umbi mikro kentang adalah teknik kultur meristem atau kultur satu mata tunas (single-node culture). Kultur meristem digunakan untuk produksi bibit kentang bebas virus.

Keberhasilan dalam menggunakan metoda kultur jaringan sangat bergantung perbanyakan ini dimulai dengan penumbuhan jaringan meristem hingga pada penempatan kultur di ruang inkubasi atau incubator dengan suhu 20 – 22 o C dengan photoperiode 16 jam terang 8 jam gelap. Pada umumnya jaringan meristem akan tumbuh menjadi plantlet setelah 3 – 6 bulan setelah tanam.

Perbanyakan Tanaman

Penggunaan teknik in vitro untuk tujuan perbanyakan vegetatif merupakan areal/bidang yang paling maju dalam teknik kultur jaringan. Di Balai Penelitian Tanaman Sayuran setelah kultur meristem tumbuh menjadi plantlet, dilakukan perbanyakan in vitro dengan menanam stek buku tunggal secara in vitro. Pertumbuhan stek in vitro sampai dapat distek kembali/diperbanyak kembali antara 3 – 5 minggu setelah tanam, dari satu jaringan meristem umumnya akan didapatkan 3 – 5 tanaman in vitro.

 

 

C. TEKNOLOGI TINGKATKAN PRODUKSI KENTANG 3-4 KALI LIPAT

Paket teknologi pembenihan kentang Iptekda LIPI yang dikelola peneliti Bioteknologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Baharuddin mampu meningkatkan produktivitas kentang petani di Sulawesi Selatan 3-4 kali lipat dari 8 ton per ha menjadi 20-30 ton per ha dan meningkatkan pendapatan petani 3,5 kali lipat.

“Agribisnis kentang menjanjikan keuntungan yang besar bagi petani dan memiliki `multiplied effect` yang tinggi untuk masyarakat,” kata Baharuddin yang memenangkan Iptekda Award 2009 yang diserahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam Lokakarya “Iptek untuk Pengembangan UKM” di Jakarta, Kamis.

Dengan benih kentang yang unggul dan pengelolaan yang baik tersebut, ujar dia, petani dapat memperoleh omzet Rp100 juta per ha per sekali panen (tiga bulan) jika harga kentang di tingkat petani Rp2.500 per kg.

Sedangkan untuk umbi benih yang bisa mencapai produktivitas 20-25 ton per ha, jika harganya Rp10 ribu per kg, maka petani bisa memperoleh Rp200-250 juta per ha per sekali panen.

“Sebelumnya petani kentang terhambat oleh ketersediaan benih di mana secara nasional Indonesia hanya mampu memasok 4,6 persen dari kebutuhan total 120 ribu ton benih per tahun sehingga sebagiannya diimpor,” katanya.

Selain itu, benih kentang yang ada selama ini merupakan jenis benih kentang dari sebelum kemerdekaan yang tidak terlalu bagus, ditambah lagi ada 23 jenis virus dan penyakit yang dapat menulari benih kentang sehingga menghambat minat petani menanam kentang.

Karena itulah sejak 2004, dengan bantuan dana Iptekda LIPI total sebesar Rp140 juta Baharuddin menawarkan paket teknologi budidaya kentang berupa teknologi produksi benih kentang secara berantai hasil kultur jaringan, teknologi produksi pupuk organik cair dan teknologi produksi biopestisida, juga teknologi pengolahan kentang dan manajemen usaha kentang kepada petani di Malino, Kabupaten Gowa dan petani di Masalle, Kabupaten Enrekang, Sulsel.

“Dari awalnya hanya beberapa petani, pada 2009 telah terbentuk 34 UMKM penangkar benih kentang dan petani kentang yang mandiri dalam memenuhi benih kentang. Kami secara bertahap mengembangkan mulai dari benih penjenis dan benih dasar, kemudian ke benih pokok, benih sebar hingga benih konsumsi,” katanya.

Pihaknya, lanjut dia, melatih para petani termasuk dalam membangun rumah kaca untuk pembenihan dengan dana sangat terbatas Rp2 juta per unit, berhubung dana Iptekda LIPI harus dibagi-bagi untuk berbagai kegiatan pendukung lainnya.

Ia mengatakan, potensi lahan kentang yang membutuhkan ketinggian lahan di atas 700 meter di atas muka laut, di Indonesia sangat luas yakni mencapai 1,1 juta ha, sayangnya hanya dimanfaatkan 80 ribu ha saja.

Kelebihannya selain masa panennya pendek hanya tiga bulan, kentang memiliki daya simpan yang lama yakni 3-4 bulan untuk konsumsi dan 4-6 bulan untuk benih serta dapat dimanfaatkan untuk berbagai jenis pangan olahan seperti kentang sayur, kentang goreng, hingga keripik kentang.

 

Pola Perbanyakan Benih Kentang di Indonesia

Sistem perbanyakan benih kentang bermutu dimulai dari penyediaan benih sumber G0 (Breeder Seed) bebas pathogen oleh Balai Penelitian Sayuran Lembang melalui teknik kultur jaringan. Selanjutnya G0 berupa stek dikirimkan ke BBI Pangalengan untuk diperbanyak di Screen House A dan menghasilkan mini tuber, yang selanjutnya secara berurut ditanam menjadi G1 (pada screen house) dan G2 (di lapangan). Perbanyakan dari G2 ke G3 dilaksanakan di BBU (PD Mamin/PD Agribisnis) Pangalengan yang selanjutnya diperbanyak menjadi G4 oleh para penangkar yang telah terlatih (Anonim, 2000a).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Sistem Perbanyakan Benih Kentang di Indonesia (Anonim, 2000a) Pengawasan dan pemeriksaan oleh BPSBTPH dilaksanakan mulai G2 sebagai benih dasar, sedangkan G1 diberikan akreditasi kepada BBI untuk diperiksa sendiri mengingat teknis perbanyakan masih dalam screen house dan BBI memiliki teknik dan fasilitas yang memadai (Anonim, 2000a).

Pada perbenihan kentang, prinsip menghasilkan jumlah umbi yang banyak lebih diperhatikan daripada menghasilkan bobot. Benih kentang yang telah memenuhi syarat dan standar mutu akan dinyatakan lulus dan diberi sertifikat. Pada setiap kemasan benih yang telah lulus diberi label dan didistribusikan sebagai benih kentang bermutu tinggi (Anonim, 2000b).

 

Pola Perbanyakan Benih Kentang di Belanda (Wattimena, 2000)

Sumber benih kentang di Belanda berasal dari benih penjenis hasil seleksi klonal oleh pemulia tanaman. Benih penjenis selanjutnya diperbanyak secara klonal untuk menghasilkan pra benih dasar (G1, G2), benih dasar (G3, G4, G5, G6) dan benih sertifikat (Gambar 2).

Gambar 2. Sistem Perbanyakan Benih Kentang di Belanda (Wattimena, 2000)

BREEDER SEED

IN VITRO

PRE BASIC SEED

G1

G2

BASIC SEED

G3

G4→ S

G5→ SE

G6→ E

CERTIFIED SEED

G7 → A/B

G8 → B/C

G9 → C

GROWERS

WARE POTATOES

STARCH POTATOES

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Kentang (Solanum tuberosum) adalah salah satu komoditas sayuran hortikultura yang menjadi andalan para petani di Indonesia, karena selain bernilai ekonomi tinggi dan stabil, juga sebagai sumber karbohidrat yang cukup tinggi, dan dapat dikonsumsi  sebagai pengganti makanan pokok beras dan jagung, dalam usaha meningkatkan diversifikasi makanan pokok. Namun dalam usaha meningkatkan produktivitasnya yang menjadi kendala utama bagi para petani kentang adalah ketersediaan benih yang berkualitas masih terbatas dipasaran produsen benih (penangkar benih) sehingga sangat mempengaruhi pengembangan dalam budidayanya. Keadaan tersebut sangat  mempengaruhi pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen rumah tangga, hotel dan pabrik makanan yang menggunakan bahan baku kentang.

Salah satu cara untuk mendukung memperlancar ketersediaan benih adalah dengan adanya input Iptek inovatif untuk mempercepat dan memperbanyak produksi benih penjenis (G0) diindustri hulu.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim.2011.budidaya kentang. Tersedia dalam : http/id.wikipedia.org/budidaya_kentang diakses pada tanggal 27 Februari 2011

Hak Cipta © 2009 Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Indonesian Vegetables Research Institute)

Hak Cipta © 2009 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (East Java Assessment Institute for Agricultural Technology )

 

lahan gambut ” Hitosol” April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji  syukur  penyusun  panjatkan  kehadirat  Allah  Subhanahu  Wa’  Ta’ala  yang telah  melimpahkan  segenap  rahmat  dan  hidayah-Nya  sehingga  penyusun  dapat menyesaikan makalah ini. Shalawat beserta salam tak lupa semoga senantiasa terlimpah curahkan ke junjungan umat kita, Baginda Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam. Adanya makalah berjudul  “Pemanfaatan Tanah Gambut (Histosol)”  ini  semoga dapat dijadikan suatu pengetahuan dan wawasan bagi yang membacanya.

Tiada gading yang tak retak. Penyusun menyadari bahwa penulisan makalah ini masih  jauh dari kesempurnaan. Oleh karena  itu penyusun membutuhkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif dan korektif sebagai bahan evaluasi ke depannya.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi pembaca sekalian.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

Bandung , April 2011

Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………..  i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………..  ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………..  1

BAB II KARAKTERISTIK TANAH GAMBUT …………………………………….  2

  1. Faktor-Faktor Pembentuk Tanah …………………………………………………  2
  2. Proses Pembentukan Tanah Gambut ……………………………………………  3
  3. Sifat Fisik, Kimia dan Morfologi Gambut …………………………………….  5
  4. Kendala-Kendala pada Histosol untuk Usaha Pertanian …………………  8
  5. Pola Penyebaran Gambut di Indonesia …………………………………………  10

BAB III PEMANFAATAN TANAH GAMBUT ……………………………………..  14

  1. Kondisi Saat Ini ………………………………………………………………………..  14
  2. Pengelolaan dan pemanfaatan lahan gambut …………………………………  15

BAB IV KESIMPULAN……………………………………………………………………….. 18

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………  19

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Pengertian Gambut

Tanah gambut disebut juga tanah Histosol (tanah organic) asal bahasa Yunani histories artinya jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah rawa, tanah organik dan gambut.Histosol mempunyai kadar bahan organik sangat tinggi sampai kedalaman 80 cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman yang sedikit banyak terdekomposisi dan menyimpan air.

Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organik keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan (subsidence).

Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut.

Dalam tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist dan Troposaprist. Penyebaran tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat sungai, daerah yang dataran yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa dan dibawah vegetasi Mangrove dan Nipah.

Secara umum definisi tanah gambut adalah: “Tanah yang jenuh air dan tersusun dari bahan tanah organik, yaitu sisasisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Dalam sistem klasifikasi baru (Taksonomi tanah), tanah gambut disebut sebagai Histosols (histos = jaringan ).”

Pada waktu lampau, kata yang umum digunakan untuk menerangkan tanah gambut adalah tanah rawang atau tanah merawang. Di wilayah yang memiliki empat musim, tanah gambut telah dikelompokan dengan lebih rinci. Padanan yang mengacu kepada tanah gambut tersebut adalah bog, fen, peatland atau moor.

 

 

 

 

BAB II

KARAKTERISTIK TANAH GAMBUT

II.1.                      Faktor-faktor Pembentuk Tanah

Kebanyakan tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral  (kuarsa, feldspar, mika, hornblende, kalsit, dan gipsum), meskipun ada yang berasal dari tumbuhan (gambut/peat; Histosol).

Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan  bumi, sebagai media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science Term)

Jenny, H (1941) dalam buku Factors of Soil Formation : tanah terbentuk dari interaksi banyak faktor, dan yang terpenting adalah : bahan induk (parent material); iklim (climate), organisme (organism)’;   topografi (Relief); waktu (time).

s = f (cl, o, r, p, t, ….

      Jika 1 faktor saja yang mempengaruhi sedang yang lain konstan, misal iklim yang mempengaruhi pembentukan tanah maka fungsi tersebut dapat ditulis :

S atau s = f (cl) o,r,p,t,…..

      Climosequence : pembentukan tanah yang hanya dipengaruhi oleh faktor iklim, sedang faktor yang lain konstan. Istilah yang sama untuk Biosequences, toposequences, lithosequences, dan chronosequences.

Tanah dapat terbentuk dari pelapukan batuan padat (in situ) atau merupakan deposit dari material/partikel yang terbawa oleh air, angin, glasier (es), atau gravitasi. Apabila material yang terbawa tersebut masuk ke lahan (land), maka disebut landform.

Penamaan landform berdasar pada cara transport maupun bentuk akhir. Contoh : Alluvial berasal dari aliran air; morain berasal dari gerakan es dan membeku; dunes berasal dari gerakan angin thd pasir; colluvium berasal dari gravitasi.

Batuan akan terlapukkan secara fisik disebut : disintegrasi (disintegration), maupun secara kimia disebut : dekomposisi (decomposition/decayed) dan diubah menjadi material yang lebih halus. Secara fisik misalnya pengaruh suhu, tekanan, akar tanaman. Secara kimia yang sangat berperan adalah keberadaan air, misal hidrolisis, oksidasi, reduksi, dehidrasi, dll.

Laju pelapukan tergantung pada : (1) temperatur; (2) laju air perkolasi; (3) status oksidasi dari zona pelapukan; (4) luas permukaan bahan induk yang terekspose; (5) jenis mineral.

Mineral adalah substansi inorganik yang homogen dengan komposisi tertentu, dan mempunyai ciri fisik berupa ukuran, warna, titik leleh, dan kekerasan. Mineral dapat digolongkan sebagai mineral primer maupun mineral sekunder.

Tipe batuan ada 3 yaitu : (1) batuan beku (igneous rock), (2) batuan sedimen (sedimentary rock), (3) batuan metamorfosis (metamorphic rock)

Batuan beku berasal dari pemadatan magma yang membeku. Dibagi menjadi batuan asam (acidic rock) : relatif tinggi kandungan kuarsa; mineral silikat warna terang Ca atau K/Na dan batuan basa (basic rock) : rendah kandungan kuarsa; kandungan mineral ferromagnesium warna gelap (hornblende, mika, piroksin) tinggi.

 

II.2.                      Proses Pembentukan Tanah Gambut

Gambut terbentuk akibat proses dekomposisi bahan-bahan organik tumbuhan yang terjadi secara anaerob dengan laju akumulasi bahan organik lebih tinggi dibandingkan laju dekomposisinya. Akumulasi gambut umumnya akan membentuk lahan gambut pada lingkungan jenuh atau tergenang air, atau pada kondisi yang menyebabkan aktivitas mikroorganisme terhambat. Vegetasi pembentuk gambut umumnya sangat adaptif pada lingkungan anaerob atau tergenang, seperti bakau (mangrove), rumput-rumput rawa dan hutan air tawar.

Di daerah pantai dan dataran rendah, akumulasi bahan organik akan membentuk gambut ombrogen di atas gambut topogen dengan hamparan yang berbentuk kubah (dome). Gambut ombrogen terbentuk dari vegetasi hutan yang berlangsung selama ribuan tahun dengan ketebalan hingga puluhan meter. Gambut tersebut terbentuk dari vegetasi rawa yang sepenuhnya tergantung pada input unsur hara dari air hujan dan bukan dari tanah mineral di bawah atau dari rembesan air tanah, sehingga tanahnya menjadi miskin hara dan bersifat masam.

Diemont (1986) merangkum pemikiran Polak(1933), Andriesse(1974) dan Driessen(1978) tentang tahapan-tahapan pembentukan gambut di Indonesia :

1)      Permukaan laut stabil (5000 tahun yang lalu)

2)      Deposisi sedimen pantai dengan cepat membentuk dataran pantai yang luas di pantai tilir Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya, yang ditutupi oleh komunitas hutan mangrove

3)      Komunitas mangrove menyebabkan daerah stabil yang mengakibatkan perluasan tanah, yang akhirnya membentuk daerah mangrove dan lagoon yang mampu mengurangi kadar garam serta meningkatkan daerah dengan air segar menyebabkan terjadinya hutan gambut tropika atau danau berair segar

4)      Danau berair segar itu secara bertahap menampung BO yang dihasilkan oleh tumbuhan, berkembang menjadi hutan gambut tropika yang dipengaruhi oleh air gambut(ground water peat)sebagi gambut topogen

5)      Di atas gambut topogen terbentuk hutan gambut ombrotrophic

Prinsip Pembentukan tanah gambut :
Proses akumulasi BO > dekomposisi BO

Daerah iklim sedang dan dingin :
Penyebab utama adalah suhu dingin dan kondisi air jenuh sehingga proses oksidas berjalan lambat

Daerah Tropika :
Kelebihan air, kekurangan oksigen

Tahap-tahap proses pembentukan endapan gambut:

1)      Asosiasi marin (Rhizophora)

2)      Asosiasi payau (Avicennia)

3)      Asosiasi transisi (Conocarpus)

4)      Asosiasi klimaks (Tropical forest)

Kecepatan pembentukan lapisan gambut:

1)      Proses perkembangan tanah gambut adalah Paludiasi,yaitu penebalan lapisan bahan gambut dalam lahan yang berdrainase jelek di bawah kondisi anaerob.

2)      Kecepatan pembentukan gambut tergantung iklim, vegetasi kemasaman, kondisi aerob dan anaerob, aktivitas mikroorganisme.

3)      Di pantai dekat laut pengaruh kegaraman akan mempercepat pertumbuhan tanah gambut karena proses dekomposisi BO terhambat akibat hanya mikroorganisme yang tahan kegaraman saja yang aktif.

 

II.3.                      Sifat Fisik, Kimia dan Morfologi Gambut

Sifat tanah gambut berbeda dengan tanah mineral lainnya dan untuk menanam/membuka lahan seperti ini memerlukan tindakan pengelolaan khusus.

Sifat tanah gambut antara lain :Kandungan bahan organic yang tinggi karena tanah berasal dari sisa tanaman mati dalam keadaan penggenanangan permanent. Berat isi pada (bulk dencity) sangat rendah sehingga dalam keadaan kering kosentrasinya sangat lepas kadar hara makro tidak seimbang dengan kadar hara mikro yang sangat rendah. Daya menahan air sangat besar dan jika mengalami kekeringan, tanah mengalami pengerutan (irreversible shringkage). Jika dilakukan pembuangan air(drainase) permukaan tanah akan mengalami penurunan(soil subsidence).

Sifat khusus Histosol tergantung pada sifat vegetasi yang diendapkan di dalam air dan tingkat pembususkan. Di dalam air yang relative dalam, sisa-sisa ganggang dan tumbuhan air lainnya menimbulkan bahan koloid yang sangat mengerut bila kering.

Sementara danau secara berangsur-angsur penuh, rumput, padi liar, lili air dan tumbuhan-tumbuhan ini yang sebagian membusuk, berlendir dan bersifat koloid.

Sifat Fisika Tanah Gambut

1. Tingkat dekomposisi :

1)      Gambut kasar (Fibrist):gambut dengan BO kasar > 2/3 (sedikit atau belum terkomposisi atau bahan asal masih terlihat asalnya)warna merah lembayung (2,5 YR 3/2)-coklat kemerahan (5 YR 3/2)

2)      Gambut sedang (HemistaktoBO kasar 1/3-2/3 coklat kemerahan (5 YR 3/2)-coklat tua (7,5 YR 3/2)

3)      Gambut halus (Saprist):BO kasar<1/3,>

2. Penurunan muka tanah : faktor penyebabnya:

1)      Drainase

2)      Kegiatan budidaya tanaman

3)      Tingkat kematangan gambut

4)      Umur reklainasi

5)      Ketebalan lapisan gambut

6)      Pembakaran waktu pembukaan lahan

Hasil penelitian kecepatan penurunan muka tanah: fibrik>hemik>saprik

3. Kerapatan lindak (Bulk Density=BD)

  • BD tanah gambut 0,05-0,2 g/cc
  • BD tanah yang rendah akibatnya daya dukung tanah rendah akibatnya tanaman tahunan tumbuh condong atau tumbang
  • Makin dalam BD tanah makin kecil
  • Makin rendah kematangan gambut maka makin rendah nilai BD nya

4. Porositas dan distribusi ukuran pori

  • ditentukan bahan penyusun dan tingkat dekomposisi
  • makin matang gambut maka porositas makin rendah dan distribusi ukuran pori cukup merata
  • gambut tidak matang sangat porous dan tidak merata
  • porositas tanah dan distribusi ukuran pori pada gambut dari rerumputan dan semak jauh baik daripada gambut kayu-kayuan

5. Retesi air (daya menahan air)

  • afinitas tinggi dalam meretensi air karena air bersifat dipolar dan molekul asam-asam organik sangat banyak, maka air dalam jumlah banyak akan berikatan dengan asam-asam organik bebas
  • Makin matang gambut maka retensi air makin tinggi

6. Daya hantar hidrolik (HC)

  • Besarnya HC ditentukan oleh jenis gambut,tingkat kematangan, BD
  • HC gambut serat-seratan lebih lambat dari gambut kayu-kayuan
  • laju yang baik untuk pertanian <0,36>
  • HC secara horisontal sangat cepat dan vertikal sangat lambat
  • makin matang gambut HC makin lambat

 

 

7. Kering tak balik

  • berkaitan dengan kemampuan gambut dalam menyimpan,memegang dan melepas air
  • gambut yang mengalami kekeringan hebat akan berkurang kemampuannya dalam memegang air
  • penyebab kering tak balik adalah akibat terbentuk selimut penahan air
  • Pencegahan dengan mengatur tinggi permukaan air

 

Sifat Kimia Tanah Gambut

1. Kemasaman (pH)

  • pH 3-4,5
  • Kemasaman disebabkan oleh asam-asam organik
  • Kapasitas tanah sanggah tinggi yaitu kemampuan mepertahankan perubahan pH tinggi
  • pH ideal untuk gambut 5-5,5

2. Kapasitas tukar kation (KTK)

  • KTK tinggi 190-270 me/100 g
  • KTK tinggi karena muatan negatif tergantung pH dari gugus karboksil gambut dangkal (4-5,1)>gambut dalam (3,1-3,9)
  • Nilai KTK perlu dikoreksi oleh faktor dalam BD

3. Kejenuhan Basa (KB)

  • Nilai KB gambut rendah
  • KB gambut pedalaman<>
  • KB berhubungan dangan pH dan kesuburan tanah
  • Tingkat kritik KB 30%

4. Asam-asam organik

  • Bahan humat, asam-asam karboksil, asam fenolat
  • makin dalam gambut % bahan humat turun
  • bahan humat memberi nilai KTK tinggi(25-75 me/100g(Maas, 1997)

5. Komplek senyawa organik dengan kation

  • adanya sifat BO yang dapat mengkhelat kation merupakan fenomena yang harus dimanfaatkan untuk mengendalikan sifat meracun dari asam organik meracun
  • BO mampu mengkhelat 98%Cu,75% Zn, 84% Mn

6. Komplek organo-Liat

  • BO dapat berikat dengan liat membentuk komplek organo liat melaui ikatan elektrostatik,hidrogen, dan koordinasi
  • ikatan elektrostatik terjadi melalui proses pertukaran kation
  • ikatan hidrogen terjadi bila atom H berfungsi sebagai sambungan penghubung
  • ikatan koordinasi terjadi pada saat lignin organik menyumbangkan elektron pada ion logam dengan demikian ion logam sebagai jembatan

II.4.                      Kendala-kendala pada Histosol untuk Usaha Pertanian

  • Tingkat kematangan Gambut
  • Tebal lapisan gambut
  • Penurunan permukaan tanah
  • Sifat mengkerut tidak baik
  • Adanya lapisan pirit
  • Kemasaman tanah yang tinggi
  • Salinitas/intrusi air laut
  • Jenuh air
  • Daya hantar hidraulik horisontal besar tapi daya hantar vertikal kecil
  • Daya dukung tanah rendah

 

 

Sifat Morfologi Tanah

Tanah jenis ini mempunyai  ciri dan sifat antara lain ketebalannya tidak lebih dari 0,5m, warnanya coklat kelam sampai hitam, tekstur debu – lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat -  agak lekat, kandungan organik terlalu banyak yaitu lebih dari 30 % untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat asam (pH 4,0), dan kandungan unsur hara rendah. Sebagai bahan koloid kuat yang mampu ikat air, mengandung mineral sesuai dengan kategori termuda, kadar C  58%, H  5,5%, O  34,5% dan N  2%, BJ dan BV rendah

Kebanyakan Histosol mempunyai bulk density  kurang dari 1g/cc, bahkan ditemukan Histosol dengan bulk density 0,06 g/cc. Makin lanjut tingkat dekomposisi bahan organik, bulk density makin meningkat. Jumlah bagian mineral tanah dan jenis vegetasi  juga menentukan bulk density.

Histosol mempunyai kadar air sangat tinggi, baik atas dasar volume maupun berat tanah. Kebanyakan air tertahan dalam pori – pori kasar (air gravitasi) atau dalam pori – pori yang sangat halus sehingga tidak tersedia air untuk tanaman. Karena Histosol mengkerut bila kering, maka sifat kelembabannya lebih baik apabila didasarkan pada volume basah.

Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah Histosol disebabkan oleh gugusan karboksil dan phenolik, dan juga mungkin gugus fungsional yang lain. Gugusan – gugusan fungsional yang lain tersebut bertambah seiring dengan bertambahnya dekomposisi bahan organik sehingga kapasitas tukar kation meningkat hingga 200 cmol (+) /kg atau lebih tinggi. Muatan dalam bahan organik ini adalah muatan tergantung pH, sehingga kapasitas tukar kation tanah Histosol dapat berubah dari 10-20 cmol (+) /kg pada pH 3,7 menjadi lebih dari 100 cmol (+)/kg pada pH 7.

Adanya horison tak berstruktur karena mengandung bahan organik yang sangat banyak sehingga tak alami perkembangan profil. Tetapi berbentuk seperti pasta yang dapat menghambat drainase, sehingga air menggenang di musim hujan dan merusakkan pertumbuhan tanaman.


 

 

II.5.  Pola Penyebaran Histosol di Indonesia

Indonesia memiiiki lahan gambut yang sangat luas, yaitu sekitar 21 juta hektar atau lebih dari 10% luas daratan Indonesia.

Berbagai literatur, baik yang diterbitkan di Indonesia maupun di luar negeri, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang paling luas. Sementara secara keseluruhan, lahan gambut di Kanada dan Rusia masih lebih luas dibandingkan dengan Indonesia.

Lahan gambut di kedua negara tersebut termasuk lahan gambuttemperate yang memiliki kandungan serta kharakteristik yang berbeda dengan lahan gambut tropis. Meskipun semuanya sepakat bahwa Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang terluas, namun mengenai berapa luas yang sebenarnya, para pakar ternyata berbeda pendapat. Hal tersebut nampaknya menjadi kelaziman, karena sebagaimana halnya dengan tipe habitat lainnya, misalnya mangrove, penentuan luas tersebut seringkali berbeda bergantung kepada parameter serta definisi yang dipakai untuk menentukan luasan suatu tipe habitat tertentu.

Untuk memberikan sumbangan pengetahuan mengenai luas lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan, Wetlands International – Indonesia Programme dengan dukungan dari Proyek CCFPI, telah melakukan survey dan perhitungan luas lahan gambut serta kandungan karbonnya di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Perhitungan tersebut didasarkan kepada interpretasi.

Citra Satelit dengan menggunakan teknik penginderaan jarak jauh yang dikombinasikan dengan jajak lapangan (ground truthing) yang dilakukan di beberapa lokasi terpilih.

Berdasarkan survey dan perhitungan terakhir dari Wahyunto et.al. (2005) tersebut, diperkirakan luas lahan gambut di Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Luas tersebut berarti sekitar 50% dari luas seluruh lahan gambut tropika atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Jika dilihat penyebarannya, lahan gambut sebagian besar terdapat di Sumatra (sekitar 35%), Kalimantan (sekitar 30%), Papua (sekitar 30%) dan Sulawesi (sekitar 3%).
Tabel 1. Perkiraan luas lahan gambut di Indonesia menurut beberapa sumber

Penulis/Sumber Penyebaran Gambut (Juta ha) Total

Sumatera Kalimantan Papua Lainnya

Driessen (1978) 9,7 6,3 0,1 – 16,1

Puslittanak (1981) 8,9 6,5 10,9 0,2 26,5

Euroconsult (1984) 6,84 4,93 5,46 – 17,2

Soekardi & Hidayat (1988) 4,5 9,3 4,6 0,4 20,1

Deptrans (1988) 6,4 5,4 3,1 – 14,9

Nugroho et.al. (1992) 6,9 6,4 4,2 0,3 17,8

Radjagukguk (1993) 4,8 6,1 2,5 0,1 13,5*

Dwiyono & Rachman (1996) 7,16 4,34 8,40 0,1 20,0

 

* tidak termasuk gambut yang berasosiasi dengan lahan salin dan lahan lebak (2,46 juta hektar).

Di Pulau Sumatera, luas total lahan gambut pada tahun 1990 adalah 7,2 juta hektar atau sekitar 14,9% dari luas daratan Pulau Sumatera, dengan penyebaran utama di sepanjang dataran rendah pantai timur, terutama di Propinsi Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Sumatera Utara dan Lampung.

Dari luas tersebut, lahan yang tergolong sebagai tanah gambut, dimana ketebalannya > 50 cm., adalah seluas 6.876.372 ha. Sebagian besar diantaranya (3,461 juta – 48,1%) adalah berupa lahan gambut dengan kedalaman sedang (kedalaman antara 101 – 200 cm.) Gambut yang sangat dalam (kedalaman >400 cm.) menempati urutan terluas kedua seluas 2,225 juta ha. (30,9%). Meskipun luas total lahan gambut di Pulau Sumatera tidak berubah pada tahun 2002, namun jika dilihat dari komposisi kedalamannya telah mengalami perubahan, dimana yang tergolong sebagai tanah gambut (> 0,5 meter) telah mengalami penyusutan menjadi 6.521.388 ha. atau berkurang seluas 354.981 ha. (9,5%) dibandingkan dengan tahun 1990.

Selain itu, gambut-sangat dalam juga berkurang luasnya menjadi 1,705 juta ha. (23,7%), sementara gambut-dangkal (ketebalan antara 50 – 100 cm.) luasnya justru bertambah dari 0,3777 juta ha. (5,2%) pada tahun 1990 menjadi 1,241 juta ha. (17,2%) pada tahun 2002.
Tabel 2. Luas sebaran lahan gambut dan kandungan karbon di Sumatra (1990 – 2002)
Sumatra (1990 – 2002)

1990 2002

Provinsi Luas Gambut (Ha) Kandungan Karbon

( juta ton ) Penyusunan Kandungan Karbon tahun 1960-2002

( juta ton ) 1990 2002

Riau 4.043.601 16.851,23 14.605,04 2.246,23

Sumatera Selatan 1.483.662 1.798,72 1.470,28 328,43

 

Jambi 716.839 1.850,97 1.413,19 437.78

Sumatera Utara 325.295 560,65 377,28 183,37

NAD 274.051 561,47 458,86 102,61

Sumatera Barat 210.234 507,76 422,23 85,53

Lampung 87.567 60,33 35,94 24,39

Bengkulu 63.052 92,08 30,53 61,55

Sumber : Wahyunto et.al. 2005

Propinsi Luas Gambut (ha) Kandungan Karbon

(Juta ton)

Kalimantan Barat 1.729.980 3.625,19

Kalimantan Tengah 3.010.640 6.351,52

Kalimantan Timur 696.997 1.211,91

Kaimantan Selatan 331.629 85,94

KALIMANTAN 5.769.246 11.274,55

 


Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa, yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terdapat di cekungan, depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.

Berdasarkan penyebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu:

a)      gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan 0.5 – 16 meter, terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hampir selalu tergenang air, bersifat sangat asam. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua);

b)       gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan rawa, ketebalan 0.5 – 6 meter, bersifat agak asam, kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah), Rawa Lakbok (Ciamis, Jawa Barat), dan Segara Anakan (Cilacap, Jawa Tengah); dan

c)      gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng.

 

 


 

BAB III

PEMANFAATAN GAMBUT

 

III.1. Kondisi Saat Ini

Indonesia memiiiki lahan gambut yang sangat luas, yaitu sekitar 21 juta hektar atau lebih dari 10% luas daratan Indonesia. Lahan gambut adalah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting dan memainkan peranan penting dalam perekonomian negara, diantaranya berupa ketersedian berbagai produk hutan berupa kayu maupun non-kayu. Disamping itu, lahanb ambut juga memberikan berbagai jasa lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, diantaranya berupa pasokan air, pengendalian banjir serta berbagai manfaat lainnya. Hutan rawa gambut juga berperan sangat penting dalam hal penyimpanan karbon maupun sebagai pelabuhan bagi keanekaragaman hayati yang penting dan unik.

Menyusutnya luasan lahan gambut akan memberikan dampak sosial, ekonomi dan kesehatan yang dahsyat bagi penduduk Indonesia. Sebagai contoh, kebakaran hutan yang terjadi di lahan gambut tidak saja menimbulkan kerugian secara ekonomi akan tetapi juga telah menyebabkan ratusan ribu penduduk mengalami gangguan kesehatan pernapasan yang memerlukan penanganan yang seksama. Susutnya luasan lahan gambut atau berbagai kerusakan yang dialami juga akan menyebabkan berkurangnya fungsi penting mereka sebagai pemasok air, pengendali banjir serta pencegah intrusi air laut ke daratan.

Kondisi di lapangan menunjukan bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang sangat bergantung kepada nilai dan fungsi yang dikandungoleh lahan gambut. Produk hutan rawa gambut dijadikan sebagai sandaran utama kehidupan masyarakat, baik berupa kayu ataupun non-kayu, seperti buah-buahan, rotan, tanaman obat, dan ikan. Sebagian lahan gambut yang dangkal atau berdekatan dengan lahan mineral kemudian dijadikan sebagai wilayah pertanian. Sayangnya, kegiatan pembangunan yang tidak terkendali acapkali menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi lahan gambut, dan pada akhirnya berimbas pula pada kehidupan masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada keberadaan lahan gambut.

 

 

 

 

III.2. Pengelolaan Dan Pemanfaatan Lahan Gambut

Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut, maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut; penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut; pengelolaan air; pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut; peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan.

Dari beberapa usaha yang telah dilakukan untuk pemanfaatan lahan gambut dewasa ini dimanfaatkan untuk disversifikasi dari lahan rawa. Pada awalnya pemanfaatan lahan rawa dtujukan untuk menunjang usaha swasembada beras oleh karena ditujukan untuk hal tersebut maka pembukaan lahan rawa selalu diupayakan pada lahan tanah mineral atau pada lahan gambut dangkal (<1 meter). Perkembangan lebih lanjut menunjukan bahwa tanah rawa tak terkendala semakin sedikit. Oleh karena itu pemanfaatan lahan rawa yang tebal (> 1 meter) untuk budidaya non pangan. Salah satu bentuk diversifikasi tersebut adalah pemanfaatan lahan rawa gambut untuk budidaya tanaman kelapa, baik tanaman kelapa hibrida maupun tanaman sawit. Untuk mencapai keberhasilan penanaman kelapa pada gambut, selain faktor pemupukan dan pembasmian serangga, maka faktor pengaturan tata air juga sangat penting.

Sistem pengendalian muka air pada lahan gambut untuk keperluan tanaman kelapa pada hakekatnya adalah menjaga muka air sehingga berada di bawah zona perakaran, namun kelengasan yang tersedia pada tanah harus cukup ideal bagi pertumbuhan kelapa tersebut. Kelapa sawit maupun kelapa hibrida mempunyai pertumbuhan perakaran yang hampir mirip, yakni pada usia 4 tahun mencapai kedalaman 60-80 cm. Oleh karena itu, banyak pakar setuju bahwa “drain spacing” harus direncanakan sehingga muka air tanah berkisar antara 70-120 cm di bawah muka air tanah setempat.

Berdasarkan  ketebalan  lapisan  gambutnya,  lahan gambut  terbagi  dalam  tiga  kategori  lahan,  yaitu  :  a) gambut dangkal dengan ketebalan  lapisan gambut   50-100 cm, b) gambut  tengahan dengan ketebalan lapisan gambut  101  -  200  cm  dan  c)  gambut  dalam  dengan ketebalan  lapisan  gambut >  2 m  (Widjaja Adhi  et al., 1992). Lahan  gambut  dangkal memiliki  potensi  untuk dikembangkan  menjadi  lahan  pertanian,  khususnya untuk  tanaman  sayuran  (Kristijono,  2003).

Berdasarkan  klasifikasi  rawa,  tipologi  lahan,  dan  pola pemanfaatannya,  tanaman  sayuran  dan  hortikultura cocok  diusahakan  pada  klasifikasi  rawa  lebak  dengan tipologi  lahan  tanah aluvial gambut dangkal  (R/A-G1) dan  rawa pasang surut air  tawar dengan tipologi lahan gambut  dangkal  (G1).    Kedua  tipologi  lahan  ini memiliki  karakteristik  kimia  yang  berbeda  sehingga untuk  memudahkan  pengelolaan  dalam  menentukan jumlah  pupuk  yang  diberikan,  perlu  diketahui karakteristik  kimia  tanahnya  (Widjaja  Adhi  et  al., 1993).

Kendala yang dihadapi dalam budidaya sayuran di lahan  gambut  dangkal  adalah  :  kandungan Fe  dan Al tertukar tinggi, pH tanah mencapai 3.1,  kandungan K, Ca,  dan  Mg  sangat  rendah  (Hilman  et  al.,  2003).

Beberapa  hasil  analisis  tanah  pada  lahan  gambut dangkal menunjukkan karakteristik kimia tanah antara lain  :  pH  tanah masam  (3.4  –  3.6),   C-organik  tinggi (45 – 48 %), N-total rendah (0.19 – 0.21 %), P-tersedia rendah  (1.88  –  2.54  ppm), K-dd  sedang  (1.04  –  2.51 me/100 g), Ca-dd sedang (1.15 – 1.45 me/100 g), Al-dd (4.31  –  5.21  me/100  g)  (Supriyo  dan  Alwi,  1997; Anwar  dan  Alwi,  1997).    Keadaan  ini  menunjukkan bahwa  lahan  gambut  dangkal memiliki  pH  tanah  dan tingkat  kesuburan  rendah.    Oleh  karena  itu,  untuk lahan  budidaya  perlu  tambahan  input  berupa  kapur, pupuk  kandang,  dan  pupuk  anorganik  (Kristijono, 2003;  Hilman  et  al.,  2003).    Pemanfaatan  lahan gambut  dangkal  oleh  sebagian  besar  petani  di Kabupaten  Kapuas  dan  Pulang  Pisau,  Kalimantan Tengah  adalah  untuk  pertanaman  palawija  dan hortikultura.    Hasil  penilaian  kesesuaian  lahan  untuk tanaman  palawija  dan  hortikultura,  lahan  gambut termasuk  sesuai marginal  (S3) dengan  faktor pembatas pH tanah masam dan tingkat kesuburan rendah.  Upaya mengatasi  kendala  tersebut  dapat  dilakukan  dengan pemberian  amelioran  dan pupuk  lengkap  (Agus et al., 1997).   Hasil penelitian  terhadap  tanaman pangan dan hortikultura  di  lahan  gambut  dangkal  menunjukkan adanya  respons yang positif terhadap pemberian pupuk N,  P,  K,  S,  dan  Ca,  juga  unsur  mikro  terutama  Cu (Nugroho et al., 1992).

Lahan  gambut,  terutama  gambut  dangkal  telah dikembangkan  untuk  berbagai  tanaman  palawija  dan hortikultura.    Pengembangan  pertanian  sayuran  telah dilakukan  petani  di  Siantan  dan  Rasau  Jaya (Kalimantan  Barat)  dan  Kalampangan  (Kalimantan Tengah).  Perbaikan tingkat kesuburan dan kemasaman tanah  gambut  dilakukan  petani  dengan  memberikan bahan amelioran, seperti abu serbuk gergajian, abu sisa tanaman  dan  gulma,  pupuk  kandang,  tepung  kepala udang,  dan  tepung  ikan.    Namun  bahan-bahan  ini terkendala  dalam  pemanfaatan  yang  luas,  sumber pasokan  terbatas,  dan  tidak  tersedia  di  lokasi penelitian.    Oleh  karena  itu,  pada  penelitian  ini digunakan  bahan  yang mudah  didapat,  seperti:  kapur dolomit, pupuk kandang. Urea, SP36 dan KCl.

Demikian beberapa usaha usaha yang dilakuakan dalam pemanfaatan lahan gambut. Dan beberapa budidaya yang diusahakan di lahan gambut.

 

 

 

 

 


 

BAB IV

KESIMPULAN

 

Tanah gambut (Histosol) sifatnya bermacam macam tergantung dari jenis vegetasi yang menjadi tanah gambut tersebut. Tanah – tanah gambut yang terlalu tebal ( lebih dari 1,5 – 2 m) umumnya tidak subur karena vegetasi yang membusuk menjadi tanah gambut tersebut terdiri dari vegetasi yang miskin unsur hara. Tanah gambut yang subur umumnya yang tebalnya antara 30 – 100 cm. Tanah gambut mempunyai sifat dapat menyusut (subsidence) kalau perbaikan drainase dilakukan sehingga permukaan tanah ini makin lama makin menurun. Tanah gambut jugaa tidak boleh terlalu kering karena dapat menjadi sulit menyerap air dan mudah terbakar. Kekurangan unsur mikro banyak terjadi pada tanah gambut.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Muljana Wangsadipura, 2006. “Analisis Hidraulik Aliran Bawah Permukaan Melalui Media

Gambut  dengan Pendekatan Uji Model Fisik di Laboratorium Studi Kasus: Lahan Perkebunan Kelapa di Guntung-Kateman, Riau”,  jurnal penelitian  Infrastruktur dan Lingkungan Binaan FTSP-ITB.

Muhammad Alwi dan Anna Hairani,2007. “Chemical Characteristic of Shallow Peat and Its Potency  for Red Pepper and Tomato”. Jurnal penelitian.

M. Faujan Romadhoni, Ir. Rosmimi, MU, Gulat M. E. Manurung SP, Mp.2009.”APLIKASI PEMBERIAN AMELIORAN FLY ASH PADA LAHAN GAMBUT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI  JAGUNG (Zea mays. L).jurnal penelitian JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN, UNIVERSITAS RIAU

Anonim.(2010).Histosol.[online].tersediandalam:http://www.depnakertrans.go.id/microsite/KTM/?show=p8 (20maret2011):10.15

Anonim.(2010).TanahHistosol.[online].tersediandalam:http://www.scribd.com/doc/19333723/DEFINISI-TANAH(20Maret2011):16.25

Anonim.(2010).KlasifikasiTanahMenurutUSDA.[online].tersediandalam:http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/12/klasifikasi-tanah-usda-1975.html(20maret2011):17.15

Anonim.(2010).DasarIlmuTanah.[online].tersediandalam:http://ilmu-tanah-unri.blogspot.com/2009/02/tugas-dasar-dasar-ilmu-tanah-judul.html(21maret2011):09.15

Anonim.(2010).SoilTaxonomy.[online].tersediandalam:http://dedenia72.wordpress.com/2009/05/20/12-order-tanah-soil-taxonomy/(21maret2011):09.25

Anonim.(2010).FaktorPembentukTanah.[online].tersediandalam:http://elank37.wordpress.com/2008/04/25/faktor-pembentuk-tanah/(22maret2011):21.15

Anonim.(2010).IlmuTanah.[online].tersediandalam:http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/(22maret2011):21.22

Anonim.(2010).TingkatKesuburanTanahGambut.[online].tersediandalam:http://jokkil.blogspot.com/search/label/Kesuburan%20Tanah%20Gambut(02april2011):13.45

Anonim.(2010).KlasifikasiTanah.[online].tersediandalam:http://cahaya-fajeri.blogspot.com/2009/06/klasifikasi-tanah-menurut-usda-1975.html(02april2011):14.03

Anonim.(2010).TanahdiIndonesia.[online].tersediandalam:http://dionuntuktanah.wordpress.com/2009/06/01/tanah-di-indonesia/(02april2011):15.43

Anonim.(2010).PemanfaatanTanahGambut.[online].tersediandalam:http://elank37.wordpress.com/2008/03/21/pemanfaatan-lahan-gambut/(05april2011):13.21

Anonim.(2010).KonsepOrdoTanah.[online].tersediandalam:http://wahyuaskari.wordpress.com/akademik/konsep-utama-ordo-tanah/(05april2011):13.36

cabe April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

Pendahuluan – Cabai Merah

Latar Belakang

Kebutuhan akan cabai merah, diduga masih dapat ditingkatkan dengan pesat sejalan dengan kenaikan pendapatan dan atau jumlah penduduk sebagaimana terlihat dari trend permintaan yang cenderung meningkat yaitu tahun 1988 sebesar 4,45 kg/kapita, menjadi sebesar 2,88 kg/kapita pada tahun 1990, dan pada tahun 1992 mencapai sebesar 3,16 kg/kapita.

Sekalipun ada kecenderungan peningkatan kebutuhan, tetapi permintaan terhadap cabai merah untuk kebutuhan sehari-hari dapat berfluktuasi, yang disebabkan karena tingkat harga yang terjadi di pasar eceran. Fluktuasi harga yang terjadi di pasar eceran, selain disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi permintaan juga disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi penawaran. Dapat dijelaskan bahwa kadang-kadang keseimbangan harga terjadi pada kondisi jumlah yang ditawarkan relatif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang diminta. Hal inilah yang mengakibatkan harga akan sangat tinggi. Demikian pula terjadi sebaliknya sehingga harga sangat rendah.

Dari sisi penawaran menunjukkan bahwa proses penyediaan (produksi dan distribusinya) cabai merah belum sepenuhnya dikuasai para petani. Faktor utama yang menjadi penyebab adalah bahwa petani cabai merah adalah petani kecil-kecil yang proses pengambilan keputusan produksinya diduga tidak ditangani dan ditunjang dengan suatu peramalan produksi dan harga yang baik.

Beberapa faktor pendukung yang bersifat teknologi (non kelembagaan) yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis budidaya cabai merah berskala usaha kecil, guna mengantisipasi peluang permintaan di atas sebenarnya masih dapat terus dikembangkan dan ditingkatkan. Penataannya mencakup perbaikan serta penyempurnaan dalam penerapan teknologi pada setiap siklus produksi, yang dimulai dari : (i) proses persiapan dan pembuatan pembibitan cabai merah, (ii) penyediaan benih cabai merah yang unggul dan bebas dari penyakit virus, (iii) persiapan lahan budidaya, (iv) penerapan teknologi penanaman cabai merah, (v) pemeliharaan tanaman, (vi) proses panen, (vii) proses penanganan hasil panen dan (viii) distribusi dan pemasaran hasil panen (produksi cabai merah). Perbaikan terhadap faktor pendukung penerapan teknologi tersebut pada prinsipnya bertujuan untuk dapat menekan resiko kegagalan produksi sampai pada tingkat yang sekecil mungkin.

Sedangkan peluang yang menyangkut perlunya faktor pendukung yang bersifat kelembagaan mencakup kegiatan pengorganisasian proyek mulai dari : (i) persiapan pengusulan proyek sampai dengan untuk mendapatkan bantuan pembiayaan (kredit), (ii) penyeidaan prasarana dan sarana produksi, (iii) program pendampingan selama masa produksi, (iv0 penanganan hasil, (v) distribusi dan pemasaran hasil dan (vi) selama proses pemenuhan kewajiban finansial.

Sekalipun cabai merah mempunyai prospek permintaan yang baik, tetapi sektor budidaya cabai merah dalam skala usaha kecil masih menghadapi berbagai masalah atau kendala. Permasalahan/kendala utama yang dapat menyebabkan bisnis usaha kecil budidaya cabai merah sering menghadapi resiko gagal, tidak adanya kepastian jual, harga yang berfluktuasi, kemungkinan rendahnya margin usaha, lemahnya akses pasar, dan ketidakmampuan untuk memenuhi persyaratan teknis bank.

Upaya yang ditempuh untuk membantu Usaha Kecil (UK) dalam bidang agribisnis budidaya cabai merah agar mereka mampu memanfaatkan peluang dan sekaligus untuk memecahkan masalah yang dihadapi (kelemaha dalam sistem, penerapan teknolodi, kelemahan dalam distribusi/pemasaran) dilaksanakan melalui pengembangan kebijakan di sektor-sektor pemerintah, moneter dan di sektor riil. Antara lain dengan : menyediakan kredit yang sesuai dan cocok untuk agribisnis berskala kecil, menciptakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan tanaman hortikultura sayut-sayuran yang tergolong rempah-rempah termasuk di dalamnya untuk mata dagangan cabai merah dan memberikan jaminan keberhasilan proyek melalui penerapan pengembangan budidaya cabai merah yang pelaksanaanya melalui Program Kemitraan Terpadu (PKT).

Melalui bentuk hubungan kemitraan Usaha Kecil dengan Usaha Besar ini, maka bilamana ditinjau dari sisi perbankan, tingkat kelayakan bisnis usaha kecil budidaya tanaman cabai merah dapat ditingkatkan. Dengan demikian keberhasilan untuk mendapatkan bantuan kredit semakin terjamin.
Dengan keunggulan-keunggulan PKT tersebut maka bisnis usaha kecil budidaya tanaman cabai merah yang dilaksanakan dengan Model Kelayakan PKT ini, akan memiliki potensi yang sangat besar untuk direplikasi hampir di seluruh propinsi yang memiliki kesuburan lahan atau kecocokan lahan, serta iklim yang paling cocok untuk pelaksanaan budidaya cabai merah.

Tujuan

Tujuan utama dari penyajian Laporan Model Kelayakan PKT “Budidaya Tanaman Cabai Merah” ini yaitu untuk :

  1. Menyediakan suatu referensi bagi perbankan tentang kelayakan budidaya tanaman cabai meran bilamana ditinjau dari segi-segi : prospek atau kelayakan pasar/pemasarannya, kelayakan budidayanya yang dilaksanakan dengan penerapan teknologi maju, kelayakan dari segi keuangan terutama bilamana sebagian dari biaya yang diperlukan akan dibiayai oleh bank dan format pengorganisasian pelaksanaan proyeknya yang dapat menjamin lancarnya pelaksanaan proyek dan menjamin keuntungan bagi semua unsut yang ikut serta dalam pelaksanaan proyek.
  2. Dengan referensi kelayakan tersebut diharapkan perbankan dapat mereplikasikan pelaksanaan proyek di daerah/lokasi sesuai/cocok dengan kajian kelayakan yang dimaksud. Dengan demikian tujuan dalam pengembangan usaha kecil melalui peningkatan mutu budidaya tanaman cabai merah tercapai sasarannya, yang ditempuh melalui peningkatan realisasi kredit yang cocok untuk usaha kecil, meningkatkan keamanan pelaksanaan kreditnya dan meningkatkan pendapatan petanai cabai merah serta kesejahteraannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemitraan Terpadu – Cabai Merah

Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) adalah suatu program kemitraan terpadu yang melibatkan usaha besar (inti), usaha kecil (plasma) dengan melibatkan bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepakatan. Tujuan PKT antara lain adalah untuk meningkatkan kelayakan plasma, meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma, serta membantu bank dalam meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien.

Dalam melakukan kemitraan hubunga kemitraan, perusahaan inti (Industri Pengolahan atau Eksportir) dan petani plasma/usaha kecil mempunyai kedudukan hukum yang setara. Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan oleh perusahaan inti, dimulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi.

 

ORGANISASI

Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang usaha melibatkan tiga unsur, yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha kecil, (2) Pengusaha Besar atau eksportir, dan (3) Bank pemberi KKPA.

Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan bidang usahanya. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT, dibuat seperti halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. Kerjasama kemitraan ini kemudian menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. Proyek ini kemudian dikenal sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra.

1. Petani Plasma

Sesuai keperluan, petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas (a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain, (b) Petani /usaha kecil yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan dalam untuk itu memerlukan bantuan modal.

Untuk kelompok (a), kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan penanaman atau penyiapan usaha, sedangkan untuk kelompok (b), kegiatan dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan, dalam batas masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek usaha.

Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. Pada setiap kelompok tani/kelompok usaha, ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap Bendahara. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para petani anggotanya, didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi dan instansi lainnya yang perlu, sesuai hasil kesepakatan anggota. Ketua kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok.

2. Koperasi

Para petani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT, sebaiknya menjadi anggota suata koperasi primer di tempatnya. Koperasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. Fasilitas KKPA hanya bisa diperoleh melalui keanggotaan koperasi. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK), kehadiran koperasi primer tidak merupakan keharusan

3. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir

Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini, harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor, serta bersedia membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Disamping ini, perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk keperluan petani plasma/usaha kecil.

Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengadakan pembinaan teknis usaha, PKT tetap akan bisa dikembangkan dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk diekspor, hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi petani atau plasma. Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya, yang kemudian harus dijual kepada Perusahaan Inti.

Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis, kegiatan pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan oleh Koperasi. Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan.

Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Tenaga-tenaga ini bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada petani, dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi. Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil, akan semakin besar pula honor yang diterimanya.

4. Bank

Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti, dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun.

Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih petani yang paling besar.

Dalam pelaksanaanya, Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan, dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Untuk ini, bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti, berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank.

 

POLA KERJASAMA

Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra, dapat dibuat menurut dua pola yaitu :

a. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan perjanjian kerjasama langsung kepada Perusahaan     Perkebunan/Pengolahan Eksportir.

 

Dengan bentuk kerja sama seperti ini, pemberian kredit yang berupa KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi sebagai Channeling Agent, dan pengelolaannya langsung ditangani oleh Kelompok tani. Sedangkan masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh Perusahaan Mitra.

b. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani, melalui koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi     (mewakili anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/pengolahan/eksportir.

 

 

Dalam bentuk kerjasama seperti ini, pemberian KKPA kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Executing Agent. Masalah pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan usaha, apabila tidak dapat dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra, akan menjadi tanggung jawab koperasi.

 

PENYIAPAN PROYEK KEMITRAAN TERPADU

Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan sebaiknya dan dalam proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan keberhasilan, minimal dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. Kalau PKT ini akan mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma, perintisannya dimulai dari :

  1. Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan produktivitasnya. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha. Berdasarkan persetujuan bersama, yang didapatkan melalui pertemuan anggota kelompok, mereka bersedia atau berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha;
  2. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut, untuk memperoleh kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Prakarsa bisa dimulai dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan, atau ada pihak yang akan membantu sebagai mediator, peran konsultan bisa dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil;
  3. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para anggotanya oleh pihak koperasi. Koperasi harus memiliki kemampuan di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang berkaitan dengan PKT ini. Apabila keterampilan koperasi kurang, untuk peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari perusahaan mitra. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. Dalam kaitannya dengan penggunaan KKPA, Koperasi harus mendapatkan persetujuan dari para anggotanya, apakah akan beritndak sebagai badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling agent);
  1. Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir, yang bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil, dan dapat membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses pemasarannya;
  1. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi, Kantor Badan Pertanahan, dan Pemda);
  2. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini, harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. Untuk itu perlu adanya kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

 

MEKANISME PROYEK KEMITRAAN TERPADU

Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini :

 

Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip bank teknis. Jika proyek layak untuk dikembangkan, perlu dibuat suatu nota kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti, Plasma/Koperasi dan Bank). Sesuai dengan nota kesepakatan, atas kuasa koperasi atau plasma, kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana produksi, dana pekerjaan fisik, dan lain-lain. Dengan demikian plasma tidak akan menerima uang tunai dari perbankan, tetapi yang diterima adalah sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau koperasi. Petani plasma melaksanakan proses produksi. Hasil tanaman plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU. Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih.

 

PERJANJIAN KERJASAMA

Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini, perlu dikukuhkan dalam suatu surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. Dalam perjanjian kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu. Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak Mitra Perusahaan (Inti ) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai berikut :

1. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra (inti)

  1. Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan hasil;
  2. Membantu petani di dalam menyiapkan kebun, pengadaan sarana produksi (bibit, pupuk dan obat-obatan), penanaman serta pemeliharaan kebun/usaha;
  3. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu yang tinggi;
  4. Melakukan pembelian produksi petani plasma; dan
  5. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit bank (KKPA) dan bunganya, serta bertindak sebagai avalis dalam rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma.

2. Kewajiban petani peserta sebagai plasma

  1. Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya;;
  2. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami;
  1. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca-panen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan;
  2. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit;
  3. Menyediakan sarana produksi lainnya, sesuai rekomendasi budidaya oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit;
  4. Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen dijual kepada Perusahaan Mitra ; dan
  5. Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong sejumlah kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank dan pembayaran bunganya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aspek Pemasaran – Cabai Merah

Permintaan Dalam Negeri

Konsumsi rata-rata cabai untuk rumah tangga di Jawa adalah 5,937 gram/kapita/hari (2,2 kg/kapita/hari). Pemakaian di perkotaan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pedesaan (5,696 gram/kapita/hari untuk perkotaan dan 5,900 gram/kapita/hari untuk pedesaan). DKI Jakarta (melalui Pasar Induk Keramat Jati) merupakan daerah tujuan pasar tertinggi dibandingkan dengan propinsi lainnya di Jawa. Jenis cabai yang banyak dikonsumsi di perkotaan adalah cabai merah, kemudian cabai rawit dan hijau. Sedangkan pemakaian di pedesaan terbanyak adalah cabai rawit, kemudian cabai merah dan hijau.

Permintaan cabai rata-rata untuk keperluan industri (sedang dan besar) adalah 2.221 ton pada tahun 1990. Permintaan ini meningkat menjadi 3.419 ton pada tahun 1993. Permintaan tersebut diduga terus meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan yang datang dari industri olah lanjut. Sedangkan konsumsi rumah tangga pada tahun 1990 di Jawa mencapai 233.600 ton, pada tahun 1998 konsumsi cabai rumah tangga di Jawa diperkirakan mencapai 258.100 ton dan tahun 2000 diproyeksikan mencapai 264.100 ton.

Industri yang menggunakan cabai merah di antaranya adalah industri pengawetan daging, pelumatan buah dan sayuran, industri tepung dari padi-padian dan kacang-kacangan, mie, roti/kue, kecap, kerupuk dan sejenisnya, bumbu masak dan makanan lainnya.
Tabel 1. Konsumsi Cabai Rata-rata untuk Rumah Tangga di Jawa

No Propinsi Konsumsi  (ton/hari) Total
C. Merah C. Hijau C. Rawit
1 DKI Jakarta 42,20 6,80 16,10 65,30
2 Jawa Barat 81,00 20,50 97,70 199,20
3 Jawa Tengah 55,20 17,10 98,30 170,60
4 Yogyakarta 35,40 2,00 9,70 47,10
5 Jawa Timur 30,50 6,20 157,40 194,10

Sumber : LPM IPB dan Kantor Depnaker Bogor, 1997. Peluang Bisnis Hortikultura. Bahan Pelatihan Pembentukan Pemuda Mandiri Profesional Profesional Melalui Peran serta Perguruan Tinggi Menjadi Pengusaha Pemula 1997.
Ekspor Dan Impor Cabai

Berbagai jenis cabai telah di diekspor ke luar negeri, diantaranya dalam bentuk cabai segar/dingin, cabai kering dan saus cabai. Volume ekspor cabai segar pada tahun 1986 sekitar 2.197 kg dengan nilai US $ 1.098 dan pada tahun 1986 meningkat hingga mencapai 135.368 kg nilai ekspor US $ 117.714/ Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1992, sebesar 623.878 kg. Sedangkan ekspor cabai kering pada tahun 1996 adalah 35.174 kg dengan nilai US $ 12.117 dan meningkat lebih besar dibandingkan dengan cabai segar, yakni mencapai 485.450 kg per Septermber 1996 dengan nilai US $ 2.145.235. Perkembangan volume dan nilai ekspor cabai pada periode 1986 – 1996 di sajikan secara rinci dalam tabel 2.

Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor berbagai jenis cabai dan cabai olahan dari berbagai negara. Volume impor cabai dari berbagai negara tersebut cukup berfluktuasi. Dalam dua tahun terakhir, angka impor cabai mengalami penurunan, dan pada tahun 1996 mencapai 1.788.760 kg. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan cabai/cabai olahan di dalam negeri masih belum dapat di penuhi oleh petani (industri cabai di Indonesia)

Tabel 2. Volume dan Nilai Ekspor/Impor Cabai Indonesia 1986 – 1996

Tahun Volume Ekspor (Kg) Nilai Ekspor Volume
Impor (Kg)
Nilai Impor
(US $)
Cabai Segar Cabai Kering Cabai Segar Cabai Kering
1986

1987

1988

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

2.197

25.778

550

37.330

12.930

349.509

623.878

554.325

565.747

493.499

135.368

35

283

10.500

160.745

97.677

101.357

342.200

220.990

328.406

591.848

485.450

1.098

12.307

164

12.168

2.012

146.248

191.989

129.098

152.028

223.654

117.714

12.117

1.224

6.512

214.610

114.026

117.742

219.909

238.583

543.657

1.518.310

2.145.235

3.558.491

2.952.688

2.521.469

3.132.175

1.999.970

1.266.467

1.014.245

2.761.549

4.843.943

1.566.101

1.788.760

2.096.219

1.944.624

1.626.669

2.201.127

1.373.248

888.066

758.553

2.081.157

3.417.580

1.328.527

1.677.794

Sumber : BPS di olah oleh Dit Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil , April 1998

Potensi Pasar

Pada periode 1992 – 1995 permintaan cabai meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 22,09 % per tahun, sedangkan pada tahun 1995 – 1997 di proyeksikan meningkat sebesar 28, 79 %. Permintaan tersebut di duga akan meningkat terus sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri pengolahan makanan. Kecendrungan permintaan terhadap cabai dapat diikuti dalam Tabel 3.

Tabel 3. Perkiraan Permintaan Cabai Untuk Rumah Tangga DI Jawa 1998-2000 (Ribuan Ton/Tahun)

Jenis Cabe 1998 2000
Cabai Merah

Cabai Hijau

Cabai Rawit

91.80

23.10

143.20

93.90

23.60

146.40

Total Permintaan Cabai 258.10 264.10


Sumber : LPM IPB dan Kantor Depnaker Bogor, 1997. Peluang Bisnis Hortikultura. Bahan Pelatihan Pembentukan Pemuda Mandiri Profesional Profesional Melalui Peran serta Perguruan Tinggi Menjadi Pengusaha Pemula 1997.

Distribusian/Pemasaran Dan Harga Cabai

Dari kegiatan pemasaran cabai di Jawa terutama yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah (Brebes) dapat di jumpai 4 pengendali harga (price leader) yang berperan, yakni :

  1. Pasar Induk Kramat Jati sebagai pasokan pasar cabai untuk wilayah Jabotabek dan sekitarnya. Harga cabai di pasar induk Keramat Jati dapat di gunakan sebagai patokan harga cabai dari titik produksi yang mampu memasarkan cabainya ke Pasar Induk Kramat Jati. Demikian pula pasar induk di kota-kota besar seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta dan kota besar lainnya dapat saja yang sewaktu-waktu disi cabai dari daerah lain.
  2. Pedagang Pengumpul yang terdekat dengan para produsen
  3. Pedagang pengumpul yang mampu memasarkan lebih lanjut ke pasar yang terdekat dengan konsumen.
  4. Industri pengolah yang mendasarkan harga beli bahan baku pada komponen harga pokok penjualan produk olahannya.

Harga cabai ditingkat pasar diatas sangat fluktuatif. Pada bulan Februari 1996 harga cabai di tingkat konsumen mencapai Rp. 18.000/kg. Tetapi 7 bulan kemudian harga cabai di tingkat petani jatuh hingga di bawah biaya produksi. Ketidak mampuan para petani cabai untuk melaksanakan dengan peramalan produksi dan pasar dapat menyebabkan banyak petani yang tidak mampu menjaga kesinambungan produksinya. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pasokan pada musim berikutnya. Dalam kondisi seperti ini harga cabai cenderung akan meningkat kembali.

Harga cabai rata-rata per kg di tingkat konsumen pada akhir tahun 1997 adalah sebagai berikut :
a. Jawa Barat : Rp 2.500
b. Jawa Tengah : Rp. 2.500
c. Jawa Timur : Rp. 2.850
d. Sumatera Utara : Rp. 1.200
e. Sumatera Barat : Rp. 1.200
f. Sulawesi Selatan : Rp. 1.250
g. Bali : Rp. 2.000
h. Maluku : Rp 900 – 1.200

Dengan asumsi bahwa pemasaran mata dagangan cabai merah harus dapat memberikan keuntungan yang wajar bagi produsennya maka dalam analisa finansial akan digunakan harga rata-rata nasional yaitu sebesar Rp. 1.600/kg. Tetapi dalam analisa finansial laporan ini akan digunakan sebesar Rp. 1.150/kg.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aspek Produksi – Cabai Merah

 

 

Gambaran Dari Produk

Cabai merah atau lombok merah (Capsium annum L.) merupakan tanaman hortikultura sayur-sayuran buah semusim untuk rempah-rempah, yang di perlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai penyedap masakan dan penghangat badan. Kebutuhan terhadap mata dagangan ini semakin meningkat sejalan dengan makin bervariasinya jenis dan menu makanan yang memanfaatkan produk ini. Selain itu, cabai merah sebagai rempah-rempah merupakan salah satu mata dagangan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi petani dan pengusaha. Karena selain dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dalam geri juga termasuk mata dagangan yang mempunyai peluang pemasaran ekspor non migas yang sangat baik.

Kecocokan Lokasi

Pada umumnya tanaman cabai merah dapat di tanam di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah, yaitu lebih dari 500 – 1200 m di atas permukaan laut, yang terdapat di seluruh Indonesia terutama di Pulau Jawa. Meskipun luasan lahan yang cocok untuk cabe masih sangat luas, tetapi penanaman cabai di dataran tinggi masih sangan terbatas. Pengembangan tanaman cabai merah, lebih diarahkan ke areal pengembangan dengan ketinggian sedikit di bawah 800 m di atas permukaan laut. Terutama pada lokasi yang air irigasinya sangat terjamin sepanjang tahun.

Di Indonesia menurut catatan terakhir tersedia lahan yang cocok untuk tanaman cabai seluas 7.570.600 ha. Dari jumlah tersebut yang telah di manfaatkan 162.283 ha ( 1991) dan sampai akhir tahun 1995 menjadi 173.161 ha, meningkat sebesar 12,5 % . Peningkatan luas tanaman ini tidak di ikuti oleh peningkatan luas panen, sehingga jika di ukur dari rata-rata luas panen cabai selama kurun 1991 sampai 1995, maka dari total luas lahan yang cocok untuk cabai, baru terolah sebanyai 167.772 ha atau hanya sekitar 0,45 % (Tabel 4 )

Potensi Areal Dan Produksi Cabai

Dalam periode 1990 s/d 1995 produksi nasional cabai rata-rata tercatat 506. 430 ton per tahun dan pada tahun terakhir pertumbuhan sekitar 2,38 %. Pulau Jawa menghasilkan 52,25 % sedangkan kawasan di luar Pulau Jawa menghasilkan 47,75 %. Kemampuan produksinya rata-rata sebesar 7 – 12 ton / ha ( Tabel 5 )

Tabel 4. Luas Panen Cabai Tahun 1990 – 1995 (ha) Untuk Pulau-pulau Besar di Indonesia

No Pulau 1990 1991 1992 1993 1994 1995  
1.

2.

3.

4.

5.

6.

 

Sumatera

Jawa

Bali dan N. Tengg

Kalimantan

Sulawesi

Maluku &Irian Jaya

INDONESIA

1.

2.

3.

4.

5.

6.

 

Sumatera

Jawa

Bali dan N. Tengg

Kalimantan

Sulawesi

Maluku &Irian Jaya

INDONESIA

179.615

303.738

29.085

14.825

38.446

3.895

569.604

188.307

352.276

36.145

11.225

31.700

7.516

627.169

 

186.491

414.970

39.224

13.195

41.990

157.216

501.507

 

157.216

501.507

58.469

17.270

34.104

4.149

772.715

194.303

433.795

46.992

11.760

33.517

4.078

724.445

 

227.301

437.023

36.332

12.225

42.046

2.075

757.032

 

 

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Sumatera

Jawa

Bali dan N. Tengg

Maluku &Irian Jaya

INDONESIA

179.615

303.738

29.085

14.825

38.446

3.895

569.604

188.307

352.276

36.145

11.225

31.700

7.516

627.169

186.491

414.970

39.224

13.195

41.990

157.216

501.507

58.469

17.270

34.104

4.149

772.715

194.303

433.795

46.992

11.760

33.517

4.078

724.445

227.301

437.023

36.332

12.225

42.046

2.075

757.032

     

endrungan peningkatan produksi karena semakin meningkatnya permintaan terhadap cabai, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri atau luar negeri.

Pola Tanam

Budidaya atau usaha tani tanaman cabai merah selama ini di lakukan secara monokultur dan pola rotasi tanaman. Pada pola rotasi tanaman maka pola yanlazim di anut para petani adalah dengan melakukan pergiliran tanaman pola 1 : 2 yaitu satu kali tanaman cabai merah dan 2 – 3 kali tanaman lawija/sayuran lainnya yang tidak sama famili tanamannya dengan cabai merah. Untuk model kelayakan ini di gunakan monukultur cabai merah sepanjang tahun, dengan masa lahan kosong selama 1 bulan di antara kedua siklus tanaman.

Siklus Produksi dan Produktivitas

Cabai merah atau lombok merah (Capsium annum L) di sebut juga cabai hot beauty adalah cabai hibrida yang unggul dengan produktivitas mencapai 25 ton/hektar pada setiap periode tanam. Dalam setahun hanya dua periode tanam.

Tabel 6. Rata -rata Produktivitas Nasional Cabai Tabun 1990-1995 (Ton/ha)

URAIAN 1990 1991 1992 1993 1994 line-height:150%; ‘>Rata2
Produksi (Ton )

as panen (ha)

Produktivitas

(ton/ha)

569.604

162.283

3,509

627.169

168.061

3,731

703.799

162.519

4,330

772.715

157.499

4,905

724.445

177.639

173.161

4,082

692.460

166.852

4,154

Sumber : BPS (1995)
Aspek Teknik Budidaya

Keberhasilan usaha produksi cabai merah sangat di tentukan oleh aspek teknis budidaya di lapangan. Beberapa hal yang harus di perhatikan dengan baik dalam pelaksanaan teknis budidaya tanaman cabai merah, adalah sebagai berikut :

  1. Pemakaian benih cabai merah yang unggul yang tidak terkontaminasi virus
  2. Ketersediaan air yang cukup sepanjang periode tanam/sepanjang tahun.
  3. Pola tanaman yang baik dan sesuai dengan iklim
  4. Pengolahan tanah yang di sesuaikan dengan kemiringan lereng dan arah lereng
  5. Pemberantasan hama dan penyakit tanaman cabai merah di laksanakan secara teratur sesuai dengan kondisi serangan hama dan penyakit
  6. Cara panen serta penanganan pasca panen cabai merah yang baik dan benar.

Keberhasilan produksi cabai merah sangat di pengaruhi oleh dari dan ditentukan oleh kualitas benih yang digunakan. Sifat unggul tersebut dicerminkan dan tingginya produksi, ketahanan terhadap hama dan penyakit serta tingkat adaptasi tinggi terhadap perubahan iklim.

anah selesai di olah selanjutnya di buat bedeng-bedeng yang lebar dan panjangnya di sesuaikan dengan petakan lahan yang ada dengan maksud untuk menjaga tanaman sedimikan rupa sehingga bebas dari genangan air. Bedeng di buat dengan panjang 10 – 12 m, lebar 110 – 120 cm, dan tinggi disesuaikan dengan musim tanam. Pada musim penghujan tinggi bedeng dibuat 40 – 50 cm, sedangkan pada musim kemarau dapat dibuat antara 30 – 40 cm.

Penanaman bibit cabai merah di lahan budidaya di lakukan pada jarak, tanam 70 cm antar barisan dan 60 cm di dalam barisan. Untuk pertanaman produksi cabai merah konsumsi, pembibitan jarak tanam dapat di buat dalam barisan yang lebih rapat lagi. Di antara barisan dibuat garitan sedalam 10 – 15 cm, yaitu untuk menyebarkan pupuk kandang (15 ton/ha) dan pupuk buatan (N, P dan K)

Jenis dan jumlah pupuk anorganik untuk tanah seluas 1 ha yaitu dapat mencapai sebesar 200 – 250 kg urea, ZA 500 – 600 kg, TSP 400 – 450 kg dan KCl 300 – 350 kg. Setelah pupuk anorganik ditebar ,segera permukaan tanah di tutup dengan menggunakan plastik perak, hitam yang berfungsi untuk menghindari hilangnya pupuk akibat sinar matahari dan hujan.

Pemeliharaan Tanaman Cabai Merah

  1. Perempelan, yaitu kegiatan membuang tunas-tunas baru yang tumbuh pada batang utama, pada saat tanaman berumur 45 – 50 hari setelah tanam.
  2. Penyulaman, yaitu mengganti bibit yang rusak/mati karena berbagai sebab di lapangan. Jumlah bibit persediaan untuk cadangan berkisar antara 5 – 10 % dari jumlah kebutuhan total kebutuhan.
  3. Pengajiran, merupakan alat bantu yang terbuat dari belahan bambu yang berfungsi membantu tegaknya tanaman cabai merah. Di buat dengan ukuran panjang 125 – 150 cm, lebar 4 cm dan tebal 2 cm.
  4. Pengaraian, sangat penting terutama setelah bibit di tanam di lapang. Di berikan dengan cara pengairan intensif sehingga tanamit seperti Antraknosa (patek) bercak daun, layu bakteri, layu fusarium, penyakit mosaik daun dan lain-lain. Pengendalian dengan cara penyemprotan obat-obatan insektisida dan fungsida tertentu dapat dilakukan setelah tanaman berumur lebih dari 20 hari setelah tanam.
  5. Prasarana, yaitu berupa fasilitas kebun seperti saluran drainase, selokan dan jalan kebun yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat menghindarkan tanaman dari kekeringan maupun genangan yang berkepanjangan.
  6. Kebersihan lingkungan, pemeliharaan kebersihan sehingga lokasi pertanaman dapat di bebaskan dari segala benda atau bahan-bahan tanaman yang membusuk.

Panen Dan Pasca Panen Cabai Merah

Umumnya buah cabai merah di petik apabila telah masak penuh, ciri-cirinya seluruh bagian buah berwarna merah. Di dataran rendah masa panen pertama adalah pada umur 75 – 80 hari setelah tanam, dengan interval waktu panen 2 – 3 hari. Sedangkan di dataran tinggi agak lambat yaitu pada tanaman berumur 90 – 100 hari setelah tanam dengan interval panen 3 – 5 hari. Secara umum interval panen buah cabai merah berlangsung selama 1,5 – 2 bulan. Produksi puncak panen adalah pada pemanenan hari ke – 30 yang dapat menghasilkan 1 – 1,5 ton untuk sekali panen. Buah cabai merah yang di panen tepat masak dan tidak segera di pasarkan akan terus melakukan proses pemasakan, sehingga perlu adanya penempatan khusus. Oleh karena itu hasil produksi cabai merah sebaiknya di tempatkan pada ruang yang sejuk, terhindar dari sinar matahari, cukup oksigen dan tidak lembab. Dalam MK-PKT ini di gunakan asumsi hasil panen rata-rata sebesar 19.000 Kg per siklus produksi atau 38.000 Kg per tahun produksi (2 siklus)
Luas Model Dan Beban Biaya

Uraian mengenai unit luasan kebun dan biaya-biaya dalam usaha tani cabai merah ini di tentukan berdasarkan asumsi-asumsi kemampuan seorang petani dalam menangani budidaya tanaman cabai merah hibrida (hot beauty)

Unit luasan lahan kebun untuk usaha tanah cabai merah tersebut di tetapkan satu hektar. Bilamana di asumsikan bahwa petani rata-rata saat ini memiliki lahan seluas 0,5 hektar, maka perlu menyewa 0,5 hektar lagi. Beban biaya yang diperlukan pada periode awal untukt color=”#003366″ face=”Arial, Helvetica, sans-serif” size=”2″>No

Catatan : Secara rinci dapat di ikuti dalam Lampiran 1

Modal sendiri yang diasumsikan harus di mirasarana dan sarana yang di butuhkan dalam usaha tani cabai merah mencakup dua hal pokok yaitu :

  1. Investasi yang berupa tanah, pelatan dan administrasi
  2. Alat dan bahan produksi kerja termasuk di dalamnya bibit, mulsa plastik, pupuk, pestisida, tenaga kerja, gaji pengelola, transportasi dan motor

Program Pendampingan

Organisasi dan manajemen usaha tani cabai merah dalam pola kemitraan ini terdiri dari unsur-unsur proyek sebagai berikut :

  1. Petani cabai merah sebagai anggota suatu KUD
    Dalam hal ini kedudukan petani cabai merah sudah jelas sebagai anggota koperasi suatu Koperasi Unit Desa (KUD) dengan hak dan kewajiban yang jelas, serta dapat memanfaatkan berbagai fasilitas termasuk fasilitas permodalan berupa kredit perbankan (dengan dana yang berasal dari KL BI dan yang non KL BI) non perbankan.
  2. Petani cabai merah sebagai anggota Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA).
    Kelompok usaha bersama agribisnis cabai merah memiliki organisasi dan manajemen yang sederhana, tertentunya ada anggota dan ketua kelompoknya , kelompok ini bisa di bawah KUD bisa juga di luar ke anggotaan KUD.
  3. Perusahaan Besar

Baik yang bergerak di hulu dan hilir KUD dan para anggotanya, yang memasok kebutuhan produksi maupun sebagai pengolah/distributor lebih lanjut cabai merah yang dihasilkan para petani produsen cabai merah. Dalam rangka keterkaitan usaha (Model Kelayakan PKT), maka umumnya para pengusaha swasta besar (baik yang di posisikan di hulu maupun yang dihilir atau yang berfungsi ganda) menyediakan program pendampingan. Program tersebut di mulai dari proses seleksi, pemberian informasi dan melaksanakan penyuluhan sehingga pelaksanaan budidaya cabai merah s/d pemasaran yang dilaksanakan para petani produsen dapat terlaksana secara baik dan benar.

Serangan hama dan penyakit

  • Kekeringan dan banjir yang sulit di atasi
  • Pasar tidak mampu menyerap hasil panen sehingga harga jauh lebih rendah dari rencana.
  • Pembayaran yang tidak lancar
    Semua faktor di atas dapat merupakan penyebab rawannya kesinambungan proses produksi tanaman cabai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aspek Keuangan – Cabai Merah

 

 

 
 

Rincian Biaya

Usaha tani cabai merah mencakup, dua biaya pokok yaitu, biaya investasi (tanah, dan peralatan) dan biaya produksi/biaya modal kerja termasuk di dalamnya bibit, mulsa plastik,. Pupuk, pestisida, tenaga kerja , gaji pengelola, trasnportasi dan sewa traktor, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian selanjutnya.

Asumsi Pembiayaan

Uraian biaya dalam usaha tani agribisnis cabai merah ini berdasarkan asumsi-asumsi berikut :

  1. Harga-harga di anggap konstan, namun diperhitungkan pula jika terjadi fluktuasi antara 5 – 10 %
  2. Periode 1 siklus produksi :
    Masa produksi per periode tanam : 90 – 150 hari (3 – 6 bulan)
  3. Periode tanam produksi per tahun : 2 kali
  4. Petani memperoleh pendapatan tetap/gaji sebagai pengelola proyek berkisar Rp. 300.000 per bulan s/d Rp. 500.000 per bulan.
  5. Kegagalan panen 5 % per periode tanam.
  6. Luas lahan 1 ha, yaitu 0,5 ha milik sendiri + 0,5 ha sewa dan peralatan berasal dari kredit investasi
  7. Hasil panen periode tanam pertama di pergunakan untuk biaya produksi pada penanaman periode tanam kedua yaitu sebesar Rp.31.238.000 per tahun 0,5 ha.

Struktur Biaya

a. Kebutuhan Biaya Investasi
1). Sewa lahan 0,5 ha selama 5 tahun = Rp. 3.500.000,00
2). Peralatan = Rp. 2.000.000,00
Jumlah Biaya Investasi = Rp. 5.500.000,00

Penyusutan biaya investasi adalah Rp. 5.500.000,00 : 5 = Rp.1.100.000,00
b. Kebutuhan Biaya Tetap
1). Gaji pengelola = Rp. 700.000,00
2). Administrasi = Rp. 750.000,00
Jumlah Biaya Tetap = Rp. 1.450.000,00

c. Biaya Variabel
Biaya variabel per periode tanam sebagai berikut :

· Bibit 20 pak x Rp 25.000,00 = Rp 500.000,00
· Pupuk kandang 15.000 kgx Rp 250,00 = Rp. 3.750.000,00
· Urea (Nitrogen ) 250 kg x Rp 500,00 = Rp. 125.000,00
· ZA 700 kg x Rp 500 = Rp 350.000,00
· SP 36 400 kg x Rp 500 = Rp. 200.000,00
· KCl 350 kg x Rp 500 = Rp. 175.000,00
· NPK 200 kg x Rp 1.200 = Rp. 240.000,00
· Pupuk cair 4 bungkus @ Rp. 5.000 = Rp. 20.000,00
· Kieserit 100 kg x Rp 600 = Rp. 60.000,00
· Pestisida (Obat-obatan) = Rp. 600.000,00
· Tenaga kerja 150 HOK x Rp 5.000,00 = Rp. 750.000,00
· Transportasi = Rp. 300.000,00
· Plastik mulsa 200 kg x Rp 7.000 = Rp. 1.400.000,00
· Polybag dan plastik semai = Rp. 150.000,00
· Sewa Traktor = Rp. 350.000,00
Jumlah Biaya Variabel = Rp. 9.200.000,00

Sumber Pembiayaan Dan Kebutuhan Kredit

Kebutuhan biaya per paket per hektar adalah sebagai berikut :
Biaya Investasi = Rp. 1.500.000,00
Biaya Modal Kerja = Rp. 10.650.000,00
(Biaya variabel + Biaya Tetap)

Jumlah = Rp 12.150.000,00

Pembiayaan proyek dengan dana sendiri sebesar Rp 4.000.000 ,00
Sedangkan Pinjaman dari Kredit Bank sebanyak 12.150.000,00 terdiri dari Kredit Investasi sebesar Rp. 1.500.000,00 dan Kredit modal kerja Rp. 10.650.000,00

Perkembangan dan Kecendrungan Harga

Dalam analisis keuangan, asumsi yang di pergunakan untuk menentukan biaya produksi maupun harga penjualan cabai hibrida di tingkat petani atas dasar kecendrungan harga-harga mutahir yang berkembang baik di tingkat petani maupun di tingkat pasar. Selanjutnya di gunakan analisis sensitivitas dengan rentang perubahan yang cukup memadai. Agar hasil analisis kelayakan usaha ini dapat di pakai secara luas dan fleksibel maka di gunakan tingkat bunga yang berkembang pada skim kredit program dan non program. Dalam hal ini telah di buat perhitungan/analisis untuk mencapai parameter kelayakan terutama IRR di atas bunga tertentu, dengan menyesuaikan tingkat produksi minimal yang harus di capai per satuan luas (ton/ha).

Hasil panen cabai merah minimum (Kg/ha per periode panen) di bawah ini diperhitungkan masih menguntungkan setelah melunasi kredit pada tingkat bunga tertentu, yaitu sebagai berikut :
1). Tingkat bunga KKPA 16% : Hasil panen cabai merah minimum 18.500 /kg
2). Tingkat KUK 25% : Hasil panen cabai merah minimum 19.250 kg/ha
3). Tingkat bunga KUK 30% : Hasil panen cabai merah minimum 19.500 kg/ha

Hasil panen cabai merah minimum (Kg/ha) per tahun yang masih menguntungkan setelah melunasi kredit pada tingkat bunga tertentu, yaitu sebagai berikut :
1). Tingkat bunga KKPA 16% : 2 x 18.500 kg/ha = 37.000 kg/ha
2). Tingkat bunga KUK 25% : 2 x 19.250 kg/ha = 38.500 kg/ha
3). Tingkat bunga KUK 30% : 2 x 19.500 kg/ha = 39.000 kg/ha

Hasil penjualan minimum per tahun (harga Rp 1000,00/ Kg cabai merah) yang di perhitungkan dapat melunasi kredit pada tingkat bunga tertentu dan dapat memenuhi biaya hidup petani sebagai berikut :
1). Tingkat bunga KKPA 16% : Rp 1000 x 37.000 kg/ha = Rp 37.000.000,-
2). Tingkat bunga KUK 25% : Rp 1000 x 38.500 kg/ha = Rp 38.500.000,-
3). Tingkat bunga KUK 30% : Rp 1000 x 39.000 kg/ha = Rp 39.000.000,-

Penyusutan Investasi

Kebutuhan Biaya Investasi
1). Sewa lahan 0,5 ha selama 5 tahun = Rp. 3.500.000,00
2). Perairan = Rp. 2.000.000,00
Jumlah Biaya Investasi = Rp. 5.500.000,00

Biaya investasi selama lima tahun dapat di hitung biaya penyusutan setiap tahunnya yaitu sebagai berikut : Rp 5.500.000,00 : 5 = Rp. 1.100.000,00 . Dalam rangka kerja sama usaha mengikuti program kemitraan terpadu (PKT), maka usaha Menengah dan atau Usaha Besar (UM/UB) sebagai inti melakukan pembinaan dalam hal penyediaan sarana produksi, pemasaran, pembinaan teknis termasuk pembiayaan dalam hal ini dapat berfungsi sebagai penjamin (avalist) dan memberikan pembinaan dalam pengelolaan keuangan. Dalam hal yang terakhir UB dapat membina agar UK menyisihkan dana penyusutan investasi tersebut di atas sebagai simpanan di bank, yaitu berupa cadangan bagi penyusutan penggantian investasi tetap atau untuk keperluan produktif lainnya.

Penjualan

Dalam program kemitraan terpadu (PKT) dimana pemasaran sebagai salah satu komponen kemitraan di mana UB menampung produksi yang dihasilkan oleh UK, dengan harga yang telah di sepakati bersama dan tertuan dalam nota kesepakatan kerjasama usaha kemitraan dan berdasarkan kepada prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. Seperti telah di jelaskan di atas bahwa gambaran harga pokok produksi telah di jelaskan di atas.

Titik-titik kritis yang kemungkinan terjadi mengenai harga keluaran (output), adalah terutama di sebabkan oleh pola tanam dan pola panen yang tidak teratur sehingga panen bisa terjadi pada saat bersamaan akibatnya produksi cabai cukup berlimpah di pasaran, yang berakibat kepada harga yang rendah. Sementara pada musim/waktu tertentu cabai tidak tersedia cukup di pasaran mengakibatkan fluktuasi harga yang tidak di inginkan, hal ini akan merugikan semua pihak terutama UK.
Aliran Kas (Cash Flow) dan Gambaran Kelayakan Finansial

1). Skim Kredit KKPA Dengan Tingkat Bunga 16 %
Berdasarkan aliran kas hasil analisis finansial usaha tani cabai merah dengan tingkat bunga KKPA 16 %, maka perhitungan kelayakan finansial adalah sebagai berikut :
· IRR : 70,42%
Berarti di atas tingkat bunga KKPA 16 %
· Pay back Period : 2 tahun 1 bulan
· BEP (rata-rata) : Rp 20.415.261 atau 40,83% dari total
Penjualan.
· B/C Ratio : 2,47
· NPV positif pada tingkat bunga KKPA 16 % adalah Rp. 36.112.742

2. Skim Kredit KUK Dengan Tingkat Bunga 25 %
Berdasarkan aliran kas hasil analisis finansial usaha tani cabai merah dengan tingkat bunga KUK 25%, maka hasil perhitungan kelayakan finansial adalah sebagai berikut :
· IRR : 71,08%
Berarti di atas tingkat bunga KKPA 16 %
· Pay back Period : 2 tahun 4 bulan
· BEP (rata-rata) : Rp 22.918.645 atau 45,84% dari total
Penjualan.
· B/C Ratio : 2,49
· NPV positif pada tingkat bunga KKPA 25 % adalah Rp. 36.112.742

3. Skim Kredit KUK Dengan Tingkat Bunga 30%
Berdasarkan aliran kas hasil analisis finansial usaha tani cabai merah dengan tingkat bunga KUK 30%, maka hasil perhitungan kelayakan finansial adalah sebagai berikut :
· IRR : 71,44%
Berarti di atas tingkat bunga KKPA 16 %
· Pay back Period : 2 tahun 5 bulan
· BEP (rata-rata) : Rp 24.309.413 atau 48,62% dari total
Penjualan.
· B/C Ratio : 2,5
· NPV positif pada tingkat bunga KKPA 30% adalah Rp. 36.728.819

Analisa Laba-Rugi

Analisa laba-rugi untuk usaha tani cabai merah dapat dilihat pada lampiran. Dari tabel laba-rugi menunjukkan ternyata hasil perhitungan finansial usaha tani cabai merah dengan hasil panen minimum, untuk tahun pertama dan kedua belum memperoleh laba, sedangkan untuk tahun berikutnya terjadi peningkatan, hal ini di sebabkan bunga bank yang harus di bayar semakin menurun. Keuntungan tersebut belum termasuk gaji/pendapatan bagi pengelola setiap periode tanam yaitu Rp 700.000. Selain itu kredit pinjaman ke bank yang berasal dari KKPA dengan tingkat bunga 16% dan KUK dengan tingkat bunga 25%, 30% dapat dilunasi.

Pada tingkat periode harga Rp 1000/kg cabai merah, maka keuntungan setiap periode tanam di atas Rp 6.500.000,00 dapat dicapai masing-masing pada tingkat hasil sebesar 22,25 : 22,75 dan 23 ton/ha/musim untuk tingkat bunga 16 %, 25 % dan 30 %
Untuk tingkat harga Rp 1500,00/kg cabai merah, maka keuntungan setiap periode tanam di atas Rp. 6.500.000,00 dapat dicapai masing-masing pada tingkat hasil sebesar 14,75 : 15,15 dan 15,35 ton/ha/musim untuk tingkat bunga 16 %, 25 % dan 30 %

Apabila hasil panen cabai dapat melebihi perhitungan di atas maka keuntungan akan lebih besar lagi sehingga hasil lebih dapat di tabungkan di bank setelah kewajiban pembayaran lainnya di penuhi. Perhitungan BEP sepanjang masa pemenuhan kewajiban ke bank dapat di lihat pada uraian di atas.

Proses Angsuran Pokok Dan Pembayaran Bunga

Proses angsuran pokok dan pembayaran bunga yang di sesuaikan dengan perkembangan aliran kas (cash flow) yang di uraikan di atas dapat dilihat pula pada tabel-tabel lampiran

Masalah Penjaminan Kredit

Penjaminan kredit pada umumnya sering menimbulkan masalah dalam proses permohonan kredit, hal ini di sebabkan selain memang di persyaratkan oleh Undang-undang perbankan, juga sangat penting bagi bank untuk mengatasi masalah resiko proyek, lebih-lebih lagi bagi proyek pertanian. Permasalahan ter sebut terutama mengenai keberadaan avalist dan dalam hal melalui lembaga penjamin, besarnya premi dan siapa yang harus menanggung , serta mekanismenya (Askrido, Perum PKK dll). Jaminan yang terbaik di harapkan dari kombinasi avallist dan lembaga penjamin.

Mekanisme Pencairan, Penyaluran dan Penggunaan Kredit.

Mekanisme pencairan, penyaluran dan penggunaan dan penggunaan kredit yang umumnya di laksanakan adalah dengan sistem Executing dan Channeling yang masing-masing tentunya mempunyai kelemahan dan kebaikkan. Hal ini tertanggung pada kesepakatan bersama dan oleh sebab itu bagi sistem yang terpilih harus tertuang pada nota kesepakatan dan transparan bagi semua peserta PKT.

Titik-titik Rawan Dalam Aspek Produksi/Teknologi Produksi

Titik-titik rawan dalam aspek produksi/teknologi produksi di sektor usaha pertanian adalah terutama adanya pengaruh iklim yang kuat, terutama pada masa persiapan dan pembangunan proyek begitu pula selama masa proses produksi/pertanaman sampai panen. Selain itu titik rawan lainnya adalah jatuhnya musim panen yang ditentukan pula oleh pola tanam atau waktu tanam proyek dan kelancaran angsuran kredit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan – Cabai Merah
 

PKT Unggulan

Sebagai produk yang di harapkan dapat membantu perbankan dalam meningkatkan KUK, maka PKT Budidaya Tanaman Cabai Merah ini layak untuk dilaksanakan bank karena memiliki unsur-unsur keunggulan sebagai berikut :

Bisnis Yang ” on line “

Seperti yang telah disajikan dalam Gambar 1 jelas bahwa Model Kelayakan PKT Budidaya Tanaman Cabai Merah merupakan kemitraan usaha antara Petani Cabai Merah dengan Lembaga Pengumpul (Koperasi Primer atau Swasta) yang di sertai jaminan kesinambungan pembelian cabai merah kering dan atau basah dari Usaha Besar pada bisnis yang ” 0n line” . Dalam model ini kebutuhan terhadap faktor produksi dan pemasaran produk cabe merah yang di hasilkan UK di jamin dalam bentuk “sharing” antara Lembaga Penjaminan Kredit, kemitraan antara petani cabai merah dengan lembaga penampung ( koperasi dan atau swasta), serta kepastian pembayaran oleh Usaha Besar

Menghadirikan Kegiatan Pendampingan

Untuk menunjuang keberhasilan Model Kelayakan PKT ini, Lembaga Pengumpul bersama UB menyediakan bantuan teknis yang profesional (bermutu) secara berkesinambungan. Bantuan pendampingan ini di mulai semenjak pelaksanaan pelatihan untuk UK saat rekrutmen calon UK, dalam tahapan pembangunan fisik, tahapan proses produksi dan penjualan , serta dalam tahapan pengelolaan dana hasil penjualan. Bantuan pedampingan tersebut di tujukan oleh kepentingan UK, Lembaga Pengumpul (Koperasi dan atau Swasta ) dan UB sendiri maupun untuk pengamanan kredit Bank.

Adanya Jaminan Kesinambungan Pasar

Kelancaran pemasaran hasil produksi kedua Model Kelayakan PKT Budidaya tanaman cabai merah ini di jamin sepenuhnya dalam bentuk “sharing ” seperti tersebut dalam butir 7.1.2. Jaminan pemasaran cabai merah tersebut di laksanakan oleh Lembaga Pengumpul bersama UB.

Adanya Kemampuan Untuk Memanfaatkan Kredit Berbunga Pasar

“Financial Rate of Return (FRR)” yang relatif lebih besar dari bunga kredit bank menyebabkan Model Kelayakan PKT ini layak di laksanakan dan di kembangkan dengan menggunakan kredit berbunga pasar (KUK).

Adanya Potensi Penjaminan Kredit Yang Relatif Lengkap

Untuk penjaminan pengamanan kredit yang di gunakan dalam pelaksanaan Model Kelayakan PKT Ini dapat di hadirkan berperannya
¨ Lembaga penjaminan kredit
¨ Kegiatan kelompok guna mengembangkan tabungan dan pemupukan modal yang di kaitkan dengan kredit. Pengembangan tabungan sebagai salah satu alat pengamanan kredit dapat di kaitkan dengan besarnya potensi hasil analisa “net cash flow” maupun Laba-Rugi.

Proses Pemanfaatan Dan Penggunaan Kredit Yang Aman

Model Kelayakan PKT ini merumuskan mekanisme pencairan dan penggunaan atas dana kredit yang di sesuaikan dengan jadual dan kebutuhan proyek (Gambar 1).

Cash Flow Sebagai Alat Pengontrol Pengembalian Kredit

Pengembalikan kredit dapat di dasarkan disesuaikan dan mengacu kepada perkembangan dan kekuatan cash flow.

Adanya Potensi Kegiatan Kelompok Yang Berkaitan Dengan Kredit

Dengan mendasarkan kepada model yang telah di uraikan diatas memungkinkan pembentukan kelompok sedini mungkin, yaitu ketika Lembaga Pengumpul bersama dengan para petani cabai merah dan ketika UK sebagai calon debitur sedang mengikuti pelatihan (sebelum mereka menjadi calon nominatif). Pembentukan dan pengaktifkan kegiatan kelompok tersebut di tujukan antara lain untuk kegiatan simpan-pinjam. Dari sebagian dana simpanan tersebut secara potensial dapat di gunakan sebagai dana untuk membantu proses pengembalian angsuran pokok dan bunga (bilamana di perlukan), atau untuk jenis kegiatan produkfif lainnya.

Transparansi Pada Setiap Tahapan Pelaksanaan Proyek

Dengan mengikut sertakan UK sejak sedini mungkin dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek, akan terbentuk dan tercipta pula aspek transparansi yang sangat di perlukan bagi kelancaran penyelenggarakan proyek dan proses perkreditannya.

Daya Replikasi Yang Tinggi

Proyek ini mempunyai potensi untuk di kembangkan hampir di seluruh propinsi, karena sumber daya alam (tanah, air) tenaga kerja, dan modal serta program pedampingan relatif dapat di sediakan.

Nota Kesepakatan

Semua hal yang menggambarkan keunggulan Model Kelayakan PKT Budidaya tanaman cabai merah ini, dapat di tuangkan dalam bentuk Nota Kesepakatan yang operasioanalnya secara diagramatis dapat di ikuti dalam Gambar 1.

Implikasi Terhadap Titik – titik Kritis

Program Pedampingan Yang Jelas

Sehubungan dengan masih ada kemungkinan munculnya permasalahan terutama pada saat proyek dan kredit masuk dalam tahapan pelaksanaan dan tahapan mengangsur, maka perlu di usahakan agar UK yang telah di rekrut dan merupakan calon normatif semaksimal mungkin dapat di ikut sertakan dalam perencanaan (ide dan pengembangannya) sedini mungkin. Maksud dan tujuan mengikut serta mereka sedini mungkin yaitu agar mulai dari proses perencanaan para UK benar-benar dapat memahami perlunya kesungguhan dalam melaksanakan kemitraan. Dengan memahami tentang perlunya kesungguhan dalam melaksanakan proyek sesuai dengan yang di minta oleh persyaratan pasar, teknis dan finansial maka kemitraan akan berjalan secara berkesinambungan.

Pemahaman Titik -titik Rawan dan Transportasi

Proses pemahaman terhadap titik-titik rawan baik yang terdapat dalam pelaksanaan proses pemasaran cabai merah, penerapan teknologi produksi dan penanganan produksi serta aspek keuangan, perlu di dasarkan atas suatu dokumen kesepahaman umum dan atau nota kesepakatan yang rinci dan diuraikan dalam bentuk yang sangat mudah di pahami oleh para UK (anggota plasma)

 

LAMPIRAN 1.  RINCIAN BIAYA PROYEK BUDIDAYA TANAMAN CABAI MERAH DENGAN LUAS TANAM 1 HA
   
NO JENIS KEGIATAN UNIT/     SATUAN HARGA/    UNIT JUMLAH BIAYA  
I BIAYA INVESTASI        
  1. Pra Investasi        
     1.1. Biaya untuk kegiatan pengorganisasian petani dan KUD        
           1.1.1.  Biaya penyuluhanproyek petani/KUD 1       12.000        12.000  
           1.1.2. Biaya untuk pelatihan ditingkat petani/KUD 2        2.000          4.000  
     1.2. Kegiatan penyusunan usulan/persiapan proyek 1       10.000        10.000  
     Sub Jumlah Biaya Pra Investasi            26.000  
           
  2. Biaya Investasi Tetap        
      2.1. Biaya sewa lahan untuk 1 Ha selama 5 tahun 5  1.400.000    7.000.000  
      2.2. Biaya untuk peralatan        
             a. Hand sprayer 2     400.000       800.000  
             b. Pompa air 1     150.000       150.000  
             c. Keranjang untuk panen cabai 100       10.000    1.000.000  
             d. Bangunan untuk temu karya para plasma 1       50.000        50.000  
     Sub Jumlah Biaya Investasi Tetap        9.000.000  
  JUMLAH BIAYA INVESTASI (TOTAL I)        9.026.000  
           
II BIAYA MODAL KERJA        
  1. Benih cabai unggul (pak) 20       25.000       500.000  
  2. Biaya sarana produksi dan bahan-bahan        
      2.1. Pupuk kandang 15000           250    3.750.000  
      2.2. Pupuk Urea 250           500       125.000  
      2.3. Pupuk ZA 700           500       350.000  
      2.4. Pupuk SP 36 400           500       200.000  
      2.5. Pupuk KCl 350        5.000    1.750.000  
      2.6. Pupuk NPK 200        1.200       240.000  
      2.7. Pupuk cair (bungkus) 4        5.000        20.000  
      2.8. Kieserit 100           600        60.000  
      2.9. Pestisida 1     600.000       600.000  
  3. Plastik untuk penutup lahan/mulsa (kg) 200        7.000    1.400.000  
  4. Karung plastik untuk cabai hasil panen 100       15.000    1.500.000  
  5. Tali-tali rafia 50           500        25.000  
  6. Bahan bakar minyak 50           600        30.000  
  7. Biaya untuk Tenaga Kerja        
      7.1. Persiapan dan pembibitan 3        7.000        21.000  
      7.2. Persiapan lahan 40        7.000       280.000  
      7.3. Pemeliharaan bibit 1        7.000          7.000  
      7.4. Pencabutan, pengangkutan bibit cabai merah 3        7.000        21.000  
      7.5. Penanaman 20        7.000       140.000  
      7.6. Merumput 20        7.000       140.000  
      7.7. Pemupukan 10        7.000        70.000  
      7.8. Penyemprotan hama/penyakit 5       10.000        50.000  
      7.9. Mengawasi pertanaman/pengairan 12     210.000    2.520.000  
      7.10. Panen 80       10.000       800.000  
      7.11. Pengangkutan hasil panen 50       10.000       500.000  
  JUMLAH BIAYA INVESTASI MODAL KERJA (TOTAL II)      15.099.000  
           
IV JUMLAH BIAYA INVESTASI DAN MODAL KERJA      24.125.000  
           
VI BIAYA TOTAL        
  1. DANA SENDIRI        4.125.000  
  2. KREDIT      20.000.000  
           
VII PREMI ASURANSI 2% DARI KREDIT           400.000  
VIII TOTAL KREDIT      20.400.000  
IX TOTAL BIAYA PROYEK      24.525.000  
LAMPIRAN 2.  RINCIAN PENYUSUTAN BIAYA INVESTASI PROYEK    
   
No KOMPONEN BIAYA INVESTASI TOTAL BIAYA PERKIRAAN      UMUR EKONOMIS PENYUSUTAN INVESTASI PER TAHUN  
I INVESTASI TETAP           9.026.000                           5                    1.805.200  
II MODAL KERJA         15.099.000                           5                    3.019.800  
III TOTAL BIAYA INVESTASI         24.125.000                      4.825.000  
LAMPIRAN 3.  RINCIAN TOTAL PENJUALAN CABAI MERAH    
   
No Komponen Analisa Jumlah  
1 Rata-rata panen per siklus pertanaman (kg) per Ha             10.000  
2 Harga jual per kg di tingkat petani (Rp)               2.500  
3 Total penjualan per siklus produksi       25.000.000  
4 Total penjualan dalam setahun (2x panen)       50.000.000  
LAMPIRAN 4.  CASH FLOW DAN PERHITUNGAN KELAYAKAN          
   
No KOMPONEN ANALISA TAHUN KE-0 TAHUN KE-1 TAHUN KE-2 TAHUN KE-3 TAHUN KE-4 TAHUN KE-5  
                 
1 CASH INFLOW              
  1. Total Penjualan                 -    50.000.000    50.000.000    50.000.000    50.000.000    50.000.000  
  2. Dana Sendiri      4.125.000            
  3. Kredit (KKPA)    20.400.000            
  Total Cash Inflow    24.525.000    50.000.000    50.000.000    50.000.000    50.000.000    50.000.000  
                 
2 CASH OUTFLOW              
  1. Investasi Tetap      9.426.000            
  2. Investasi Modal Kerja    15.099.000            
  3. Biaya produksi/biaya operasi      30.198.000    30.198.000    30.198.000    30.198.000    30.198.000  
  4. Angsuran pokok        4.080.000      4.080.000      4.080.000      4.080.000      4.080.000  
  5. Pembayaran Bunga        6.120.000      4.896.000      3.672.000      2.448.000      1.224.000  
  6. Pajak           885.700      1.008.100      1.130.500      1.252.900      1.375.300  
  Total Cash Outflow    24.525.000    41.283.700    40.182.100    39.080.500    37.978.900    36.877.300  
                 
  Net Cash Flow                 -      8.716.300      9.817.900    10.919.500    12.021.100    13.122.700  
  Kommulatif Cash Balance   (24.525.000)   (15.808.700)     (5.990.800)      4.928.700    16.949.800    30.072.500  
                 
  Cash Flow for IRR   (24.525.000)    18.916.300    18.793.900    18.671.500    18.549.100    18.426.700  
  DISCOUNT FACTOR              1,00              0,77              0,59              0,46              0,35              0,27  
  IRR CASH FLOW   (24.525.000)    14.551.000    11.120.651      8.498.635      6.494.556      4.962.846  
                 
  NPV (Rp)    21.102.687            

 

LAMPIRAN 5.  ANALISA LABA RUGI DAN BEP        
 
NO TOTAL BIAYA INVESTASI TAHUN KE 1 TAHUN KE 2 TAHUN KE 3 TAHUN KE 4 TAHUN KE 5
1 Total Penjualan        50.000.000        50.000.000       50.000.000       50.000.000       50.000.000
2 Biaya Produksi/Biaya Operasi        30.198.000        30.198.000       30.198.000       30.198.000       30.198.000
  Pendapatan Kotor        19.802.000        19.802.000       19.802.000       19.802.000       19.802.000
             
3 Penyusutan Biaya Investasi (investasi tetap dan modal kerja)          4.825.000          4.825.000        4.825.000        4.825.000        4.825.000
4 Pembayaran Bunga          6.120.000          4.896.000        3.672.000        2.448.000        1.224.000
  Laba Sebelum Pajak          8.857.000        10.081.000       11.305.000       12.529.000       13.753.000
5 Pembayaran Pajak (10%)            885.700          1.008.100        1.130.500        1.252.900        1.375.300
  Pendapatan Bersih          7.971.300          9.072.900       10.174.500       11.276.100       12.377.700
             
  Profit on Sales 15,94% 18,15% 20,35% 22,55% 24,76%
  BEP          
  DALAM RUPIAH        29.872.488        27.090.950       24.309.413       21.527.876       18.746.339
  DALAM KG              11.949              10.836               9.724               8.611               7.499

 

makalah tekben 1 April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

MAKALAH TEKNOLOGI BENIH

‘’DORMANSI DAN PEMECAHANNYA’’

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DI SUSUN OLEH :

1.ACHMAD FAUZAN

2.FEBRIANDI H.C.S

3.KHARISMAWAN

KELOMPOK III

 

 

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI

SUNAN GUNUNG DJATI

2011

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan anugerah kesempatan dan pemikiran kepada kami untuk dapat menyusun makalah ini. Makalah ini berisikan tentang dormansi dan pemecahannya. Tujuan makalah ini tidak lain untuk melengkapi tugas mata kuliah teknologi benih  yang diberikan oleh Bapak Dr.H. Suryaman Binardi,Ir.Mp Manfaat pembuatan makalah ini untuk membantu generasi baru agar lebih mudah untuk memahami materi yang disampaikan dalam makalah ini.

Penyusun dengan penuh rendah hati mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada rekan-rekan dan dosen yang bersedia memberikan semangat sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk penyusunan makalah pada masa yang akan datang.

 

 

 

 

 

Bandung, 19  April 2011

 

 

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

 

KATA PEGANTAR                                                                                                            i

DAFTAR ISI                                                                                                                         ii

BAB I  PENDAHULUAN                                                                                                   1

BAB II PEMBAHASAN                                                                                                      7

BAB III KESIMPULAN                                                                                                     29

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                          32

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pembangunan pertanian bertujuan meningkatkan produksi pertanian tanaman pangan untuk mencapai swasembada pangan, meningkatkan produksi tanaman industri dan tanaman ekspor, mewujudkan agroindustri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta berusaha meningkatkan pendapatan petani. Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani, tidak dapat dihindari dari penggunaan benih unggul yang merupakan mata rantai pertama dalam proses budidaya tanaman. Jika benih yang digunakan tidak memiliki kualitas yang tinggi maka tanaman tidak akan memberikan hasil yang tinggi pula. Dalam kegiatan budidaya tanaman, benih menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan. Peningkatan produksi pertanianpun banyak ditunjang oleh peran benih bermutu. Meski program perbenihan nasional telah berjalan sekitar 30 tahun, tetapi ketersediaan benih bersertifikat belum mencukupi kebutuhan potensialnya.

Salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya tingkat ketersediaan benih bermutu adalah tingkat kesadaran petani untuk menggunakan benih yang berkualitas tinggi masih sangat kurang. Pada umumnya petani hanya menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dijadikan sebagai benih untuk musim tanam berikutnya. Benih tersebut tentu saja tidak terjamin mutunya. Hal ini disebabkan karena petani tidak mampu membeli benih yang dianggap mahal dan terjadinya penurunan kepercayaan petani akan mutu benih yang bersertifikat, dimana tidak ada kesesuaian antara isi label dengan kenyataan di lapangan. Hal ini tentu menimbulkan berbagai masalah, antara lain pemborosan devisa negara dan sulit pula untuk mengawasi mutu benih yang dipakai dalam usahatani.

Benih menjadi salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan dalam budidaya tanaman. Menurut FAO, peningkatan campuran varietas lain dan kemerosotan produksi sekitar 2,6 % tiap generasi pertanaman merupakan akibat dari penggunaan benih yang kurang terkontrol mutunya. Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya karena bebas dari serangan hama dan penyakit, tanaman akan dapat tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan dan berbagai faktor tumbuh lainnya. (Wirawan dan Wahyuni, 2002).

Benih yang bermutu menjanjikan produksi yang baik dan bermutu pula jika diikuti dengan perlakuan agronomi yang baik dan input teknologi yang berimbang. Sebaliknya, bila benih yang digunakan tidak bermutu maka produksinya banyak tidak menjanjikan atau tidak lebih baik dari penggunaan benih bermutu. Penggunaan benih bermutu diharapkan mampu mengurangi berbagai faktor resiko kegagalan panen.

Pentingnya penggunaan benih bermutu merupakan salah satu unsur panca usaha pertanian yang utama dalam upaya peningkatan produksi karena tanpa penggunaan benih unggul yang bermutu, maka penerapan sarana produksi lainnya akan kurang bermanfaat bahkan menimbulkan kerugian petani (Anonim 1999). Penggunaan benih unggul dalam proses budidaya tanaman, di samping dapat meningkatkan kuantitas produksi juga dapat memperbaiki kualitasnya guna memperoleh calon benih yang bermutu tinggi.

 

 

 

 

MUTU BENIH DAN KOMPONENNYA

1. Mutu benih

Input dasar yang paling penting dalam pertanian adalah mutu benih,mutu benih yang baik merupakan dasar bagi produktifitas pertanian yang lebih baik. Benih merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman, karena faktor tersebut ikut menentukan produksi. Kualitas benih itu sendiri akan ditentukan dalam proses perkembangan dan kemasakan benih, panen dan perontokan, pengeringan, penyimpanan benih sampai fase pertumbuhan di persemaian.

Mutu benih adalah hal yang penting dalam usaha produksi benih. Produsen atau pedagang benih yang maju menggunakan mutu sebagai suatu teknik kompetitif sebagaimana harga dan pelayanan. Mutu merangsang ketertarikan konsumen, membantu produsen dan pedagang benih membangun reputasi positif atau kesan yang baik dan menghasilkan konsumen yang puas dan bisnis yang berkelanjutan (Qamara dan Setiawan, 1995).

Qamara dan Setiawan (1995), menyatakan bahwa salah satu kunci budidaya terletak pada kualitas benih yang ditanam. Untuk itu diperlukan benih yang memiliki daya kecambah tinggi, sehat dan murni. Benih yang memiliki persyaratan tersebut diharapkan akan menghasilkan bibit yang benar, seragam dan sehat. Berdasarkan persyaratan kualitas, benih yang ditanam harus bermutu tinggi. Benih yang bermutu tinggi mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : 1) Daya tumbuh minimal 80 %, 2) Mempunyai unsur yang baik yaitu benih tumbuh serentak, cepat dan sehat, 3) Benih murni minimal 99 %, 4) Campuran benih atau varietas lain maksimal 1 %, 5) Sehat, bernas tidak keriput dan umumnya normal serta seragam, 6) Kadar Air 13 % dan 7) Warna benih terang dan tidak kusam. Selanjutnya dikatakan bahwa program perbenihan menitikberatkan pada penggunaan benih tepat mutu yang ditunjukkan pada labelnya. Agar tidak tertipu oleh label benih, para pengguna benih (terutama petani) hendaknya memahami tentang mutu benih dari komponen-komponennya yang dicantumkan di dalam label benih.

Penggunaan benih bermutu akan memberi banyak keuntungan bagi petani diantaranya akan mengurangi resiko kegagalan budidaya karena benih bermutu akan mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan, bebas dari serangan hama penyakit sehingga dengan demikian hasil panen dapat sesuai dengan harapan (Qamara dan Setiawan, 1995). Sedangkan menurut Hill (1979) dalam Kartasapoetra (1992), bahwa pemakaian benih berkualitas tinggi dapat memberi hasil yang diharapkan, yang menyangkut peningkatan kualitas dan kuantitas produksinya.

2. Komponen Mutu Benih

Mutu benih adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh benih, yang menunjukkan kemampuan untuk memenuhi standar yang ditentukan. Mutu benih adalah sejumlah atribut dan kerakter benih yang ditunjukkan secara indifidual atau kelompok. Kualitas atau mutu benih dapat dibagi atas 4 bagian besar, yaitu:

1. Mutu Fisik

2. Mutu Fisiologis

3. Mutu Genetik

4. Mutu Pathologis

a. Mutu fisik benih

Mutu fisik benih ini berkaitan dengan kondisi fisik benih secara visual, seperti warna, ukuran, bentuk, bobot dan tekstur permukaan kulit benih. Tolak ukur yang dijadikan kriteria adalah keseragaman. Sifat-sifat lain yang diamati adalah tingkat keutuhan benih (tolak ukur; tingkat kerusakan benih), tingkat kelembaban benih (tolok ukur; kadar air benih), dan tingkat kontaminasi benda lain (tolok ukur; kemurnian mekanis benih).

b. Mutu fisiologis benih

Mutu fisiologis benih berkaitan dengan aktivitas perkecambahan benih, yang di dalamnya terdapat aktivitas enzim, reaksi-reaksi biokimia serta respirasi benih. Parameter yang biasa digunakan untuk mengetahui mutu fisiologis benih ini adalah viabilitas benih serta vigor benih. Tolak ukur viabilitas benih yaitu Daya Berkecambah (DB) dan Potensi Tumbuh Maksimum (PTM), sedangkan tolak ukur vigor benih yaitu Daya Simpan Benih dan Kekuatan Tumbuh Benih (KecepatanTumbuh Benih).

c. Mutu genetik

Benih Mutu benih secara genetik ini barkaitan dengan susunan kromosom dan DNA benih serta jenis protein yang ada dalam benih, dengan tolak ukur kemurnian genetis benih. Selain itu, tolak ukur lain adalah kemurnian mekanis benih yaitu persentase kontaminasi jenis atau varietas lain.

d. Mutu pathologis benih

Tolak ukur dari mutu pathologis benih yang biasa diginakan adalah status kesehatan benih. Hal-hal yang diamati untuk mengetahui status kesehatan benih ini adalah keberadaan serangan pathogen, jenis pathogen, dan tingkat serangan pathogen. Sehingga dapat dinyatakan bahwa mutu suatu benih dapat dilihat dari faktor-faktor sebagai berikut : kebenaran varietas, kemurnian benih, daya hidup (daya kecambah dan kekuatan tumbuh), serta bebas dari hama dan penyakit.Pada umumnya dipakai standar minimum sebagai dasar dari klasifikasi atau penununtun pengkuran untuk menentukan tinggi rendahnya mutu suatu benih yaitu untuk kriteria benih murni, daya kecambah dan kekuatan tumbuh. Sedangkan standar maksimum digunakan untuk kadar air benih, persentase biji tanaman lain, gulma dan kontaminan-kontaminan lain serta hama dan penyakit pada benih. Kegagalan benih untuk memenuhi satu atau lebih dari kriteria tersebut di atas dapat dianggap menunjukan sebagai benih yang mutunya kurang baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

Dalam pembangunan pertanian, benih memainkan peranan yang sangat penting. Benih yang digunakan untuk pertanaman saat ini akan menentukan mutu tegakan yang akan dihasilkan dimasa mendatang. Dengan menggunakan benih yang mempunyai kualitas fisik fisiologis dan genetic yang baik merupakan cara yang strategis untuk menghasilkan tegakan yang berkualitas pula.

Benih bermutu, benih yang baik dan bermutu tinggi menjamin pertanaman yang bagus dan basil panen yang tinggi, ini dicerminkan oleh keseragaman biji, daya tumbuh dan tingkat kemurnian yang tinggi.

Syarat Benih Bermutu, urnumnya benih bermutu harus memiliki 6 kriteria sebagai berikut:

  1. Murni dan diketahui nama varietasnya.
  2. Daya tumbuhnya tinggi (minimal 80 %) serta vigornya baik,
  3. Biji sehat dan bernas, mengkilat, tidak keriput.
  4. Dipanen dari tanaman sehat.
  5. Tidak ada terinfeksi harra dan penyakit.
  6. Bersill, lidak tercarnpur varietas lain, biji rerumputan dan kotoran lainnya.

 

 

 

Mendapatkan benih bermutu bukanlah pekerjaan yang mudah. Apa yang diuraikan pada tulisan ini hanyalah memberikan panduan umum yang diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna dalam penanganan benih. Ada beberapa hal yang dapat diuraikan disini yaitu untuk memperoleh benih yang bermutu dan bagaimana teknik perkecambahannya.

A.          Pemungutan/Pengumpulan Benih

Kegiatan pemungutan benih tidak kalah pentingnya dengan pemilihan sumber benih, karena bila pemungutan benih dilakukan dengan tidak benar maka akan diperoleh benih dengan mutu yang jelek. Semua usaha yang dilakukan untuk mencari sumber benih yang baik akan percuma bila pengumpulan benih tidak dilakukan dengan cara yang benar. Untuk itu perlu juga adanya suatu regu khusus untuk pengambilan benih karena pekerja kontrak biasanya kurang memperhatikan mutu benih mereka hanya melihat jumlahnya saja. Berikut ini diterangkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan dalam kegiatan pengumpulan benih.

1. Yang perlu dilakukan sebelum benih dikumpulkan

  • Tentukan waktu pengumpulan benih. Setiap jenis pohon memiliki masa berbuah tertentu untuk itu mengetahui masa berbunga atau berbuah perlu dilakukan sehingga waktu panen yang tepat dapat ditentukan dengan tepat pula. Tanda-tanda buah masak perlu diketahui sehingga buah yang dipetik cukup masak (masak fisiologis).

Siapkan alat yang dibutuhkan untuk pengumpulan benih

 

 

 

 

  1. 2.  Cara pengumpulan benih

Benih yang dikumpulkan dipermukaan tanah

Benih yang dikumpulkan dipermukaan tanah seringkali mutunya tidak sebaik yang dikumpulkan langsung dari pohon, benih akan hilang daya kecambahnya jika terkena sinar matahari (benih yang rekalsitran), benih akan terserang hama/penyakit dan benih yang berkecambah.

Benih yang dikumpulkan langsung dari pohon.

Pengambilan dengan cara ini yaitu, benih yang sudah masak dipetik langsung dengan bantuan galah/tangga, cabang yang jauh dapat ditarik dengan tali/kait kayu. Pengambilan juga dapat dilakukan dengan cara diguncang. Pengambilan dengan cara ini dapat menggunakan terpal/ plastik untuk menampung benih yang jatuh. Mutu benih yang dikumpulkan dengan cara ini sangat baik, karena dapat memilih buah yang betul-betul matang. Setelah benih dikumpulkan dimasukkan kedalam wadah untuk dibawah ketempat pengolahan.

  1. 3.  Beri label identitas

Setiap wadah berisi buah / polong harus diberi label agar identitas benih tetap diketahui.

  1. 4.  Pen yimpanan sementara

Bila tidak mungkin untuk untuk langsung mengekstrasi biji, simpanlah wadah yang berisi buah/polong ditempat yang kering dan dingin dengan ventilasi udara yang baik. Jangan meletakkan wadah langsung dilantai, tetapi beri alas kayu sehingga memungkinkan peredaran udara dibawah wadahya, dengan demikian bagian bawahnya tidak lembab.

 

B. Penanganan Benih Setelah Dikumpulkan

Penanganan benih harus dilakukan dengan baik, agar mutu benih dapat dipertahankan. Kegiatan penanganan benih meliputi : Sortasi buah/polong, ekstrasi benih, pembersihan benih, sortasi benih, pengeringan benih.

  1. a.  Sortasi buah/ polong

Sortasi buah/ polong merupakan kegiatan pemisahan buah/polong yang susah masak dari yang belum/kurang masak, kemudian dimasukkan kedalam wadah yang terpisah.

b. Ekstrasi benih

Ekstrasi benih adalah proses pengeluaran benih dari buahnya/polongnya. Cara ekstrasi berbeda-beda tergantung dari jenis pohon, dapat dilakukan dengan bantuan alat dan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan benih.

  • Benih dari buah berdaging

Buah yang berdaging dibuang pericarp buahnya dengan cara merendam buah tersebut dalam air, sehingga daging buahnya mengembang sedang bijinya mengendap.

  • Benih dari buah kering

Benih dijemur dipanas matahari, contohnya : polong-polongan dari Leguminoceae, kerucut dari Coniferae, capsule dari Eucaliptus, dsb. Sehingga terbuka.

c. Pembersihan dan sortasi benih

Benih yang sudah diekstrasi masih mengandung kotoran berupa sekam, sisa polong, ranting, sisa sayap, daging buah, tanah dan benih yang rusak, harus dibuang untuk meningkatkan mutunya. Ada dua cara sederhana untuk membersihkan benih yaitu:

1). Cara sederhana : manual dengan tampi/nyiru atau menggunakan saringan.

2). Cara mekanis : menggunakan alat peniup benih (seed blower)

setelah pembersihan jika dirasa perlu dilakukan sortasi benih untuk memilih benih sesuai dengan ukuran.

d. Pengeringan benih

Benih yang baru diekstrasi biasanya mengandung kadar air yang cukup tinggi, untuk itu perlu dikeringkan sebelum benih-benih itu disimpan (tetapi tidak semua benih biasa dikeringkan).

Kadar air untuk masing-masing benih berbeda-beda, misalnya ada benih-benih yang dikeringkan sampai kadar air rendah sehingga dapat disimpan lama, benih-benih ini disebut benih yang ortodoks, contohnya: akasia, kayu besi, salawaku, gamal, dll. Sebaliknya ada benih yang tidak dapat dikeringkan dan tidak dapat disimpan lama benih-benih ini disebut benih yang bersifat rekalsitran seperti: meranti, damar, mahoni, dll.

  1. C.  Penyimpanan Benih

Perlakuan yang terbaik pada benih ialah menanam benih atau disemaikan segera setelah benih-benih itu dikumpulkan atau dipanen, jadi mengikuti cara-cara alamiah, namun hal ini tidak selalu mungkin kareana musim berbuah tidak selalu sama, untuk itu penyimpanan benih perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan benih saat musim tanam tiba.

Tujuan penyimpanan

-      menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi)

-      melindungi biji dari serangan hama dan jamur.

-     mencukupi persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi

kebutuhan.

Ada dua faktor yang penting selama penyimpanan benih yaitu, suhu dan kelembaban udara. Umumnya benih dapat dipertahankan tetap baik dalam jangka waktu yang cukup lama, bila suhu dan kelembaban udara dapat dijaga maka mutu benih dapat terjaga. Untuk itu perlu runag khusus untuk penyimpanan benih.

Untuk benih ortodoks

Benih ortodoks dapat disimpan lama pada kadar air 6-10% atau dibawahnya. Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan wadah seperti : karung kain, toples kaca/ plastik, plastik, laleng, dll. Setelah itu benih dapat di simpan pada suhu kamar atau pada temperature rendah “cold storage” umumnya pada suhu 2-5oC.

Untuk benih rekalsitran

Benih rekalsitran mempunyai kadar air tinggi, untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih perlu dipertahankan selama penyimpanan. Penyimpanan dapat menggunakan serbuk gergaji atau serbuk arang. Caranya yaitu dengan memasukkan benih kedalam serbuk gergaji atau arang.

  1. D.  Teknik Perkecambahan

Dormansi adalah suatu keadaan berhenti tumbuh yang dialami organisme hidup atau bagiannya sebagai tanggapan atas suatu keadaan yang tidak mendukung pertumbuhan normal. Dengan demikian, dormansi merupakan suatu reaksi atas keadaan fisik atau lingkungan tertentu. Pemicu dormansi dapat bersifat mekanis, keadaan fisik lingkungan, atau kimiawi. Banyak biji tumbuhan budidaya yang menunjukkan perilaku ini. Penanaman benih secara normal tidak menghasilkan perkecambahan atau hanya sedikit perkecambahan. Perlakuan tertentu perlu dilakukan untuk mematahkan dormansi sehingga benih menjadi tanggap terhadap kondisi yang kondusif bagi pertumbuhan. Bagian tumbuhan yang lainnya yang juga diketahui berperilaku dorman adalah kuncup.

Selama penyimpanan benih-benih dalam keadaan dormansi (tidur) dan pelu dilakukan perlakuan sebelum di kecambahkan. Benih dikatakan dormansi apabila benih itu sebenarnya hidup (viable) tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan yang memenuhi syarat bagi perkecambahan dan periode dormansi ini dapat berlangsung semusim atau tahunan tergantung pada tipe dormansinya.

Ada beberapa tipe dari dormansi dan kadang-kadang lebih dari satu tipe terjadi didalam benih yang sama. Di alam, dormansi dipatahkan secara perlahan-lahan atau disuatu kejadian lingkungan yang khas. Tipe dari kejadian lingkungan yang dapat mematahkan dormansi tergantung pada tipe dormansi.

Benih yang dorman dapat menguntungkan atau merugikan dalam penanganan benih. Keuntungannya benih yang dorman adalah dapat mencegah agar tidak berkecambah selama penyimpanan. Sesungguhya benih-benih yang tidak dorman seperti benih rekalsitran sagat sulit untuk ditangani, karena perkecambahan dapat terjadi selama pengangkutan atau penyimpanan sementara. Di suatu sisi, apabila dormansi sangat kompleks dan benih membutuhkan perlakuan awal yang khusus, kegagalan untuk mengatasai masalah ini dapat bersifat kegagalan perkecambahan.

Dalam budidaya tanaman yang pertama kali dilakukan adalah perkecambahan benih. Benih ditempatkan pada kondisi yang sesuai untuk perkecambahan yaitu kondisi kelembaban yang cukup serta di beri air yang cukup untuk pengaktivasian enzim agar dapat melakukan perkecambahan. Perkecambahan sendiri adalah proses perkembangan benih untuk membentuk tunas dan berkembang menjadi tanaman baru. Pada perkecambahan biji terdapat salah satu yang tidak berkecambah walaupun sudah melewati batas waktu yang ditetapkan meskipun benih itu normal dan dalam kondisi yang sesuai hal inilah yang disebut dengan dormansi benih. Dormansi terjadi akibat beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain kulit benih yang keras sehingga tidak dapat berimbibisi, kebutuhan faktor khusus seperti pencahayaan yang lebih, hambatan mekanis dan lain-lain.

Dormansi sendiri sangat merugikan pada saat perkecambahan benih karena dengan tidak berkecambahnya benih maka kan menyebabkan kerugian – kerugian dalam budidaya pertanian seperti kerugian waktu, tenaga, dan biaya yang tidak terlalu sedikit. Kerugian waktu yaitu dengan lamanya proses perkecambahan akan memperpanjang waktu untuk budidaya tanaman, kerugian tenaga yaitu dengan adanya dormansi kita harus memberikan perlakuan khusus sehingga memerlukan tenaga yang lebih, serta biaya yang tidak sedikit yaitu dengan adanya dormansi maka untuk memberikan perlakuan khusus harus membeli peralatan dan bahan-bahan yang di butuhkan sehingga dapat menambah biaya produksi, dormansi juga dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman yang tidak seragam sehingga sangat merugikan untuk perkebunan besar.

Maka dari itu untuk mengatasai adanya dormansi benih sehingga dapat menekan kerugian-kerugiannya yaitu dengan pematahan dormansi. Hal ini bertujuan agar benih tidak mengalami dormansi dan segera berkecambah dengan adanya perlakuan –perrlakuan khusus. Untuk melakukan pematahan dormansi dapat dilakukan dengan secara mekanis sepeti menipiskan kulit biji yang keras, perendaman pada air hangat, dengan pencahayaan, dan penggunaan bahan kimia. Dengan perlakuan-perlakuan tersebut diharapakan benih akan segera berkecambah.

 

 

 

 

PENYEBAB TERJADINYA DORMANSI

Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh :

  • Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air.
  • Proses respirasi tertekan / terhambat.
  • Rendahnya proses mobilisasi cadangan makanan.
  • Rendahnya proses metabolisme cadangan makanan.

Kondisi dormansi mungkin dibawa sejak benih masak secara fisiologis ketika masih berada pada tanaman induknya atau mungkin setelah benih tersebut terlepas dari tanaman induknya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji dan keadaan fisiologis dari embrio atau bahkan kombinasi dari kedua keadaan tersebut.

Secara umum menurut Aldrich (1984) Dormansi dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu :

  • Innate dormansi (dormansi primer)
  • Induced dormansi (dormansi sekunder)
  • Enforced dormansi

Sedangkan menurut Sutopo (1985) Dormansi dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu :

  • Dormansi Fisik, dan
  • Dormansi Fisiologis

Dormansi Fisik disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji, seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam biji.
Beberapa penyebab dormansi fisik adalah :

Impermeabilitas kulit biji terhadap air

Benih-benih yang termasuk dalam type dormansi ini disebut sebagai “Benih keras” karena mempunyai kulit biji yang keras dan strukturnya terdiri dari lapisan sel-sel serupa palisade berdinding tebal terutama di permukaan paling luar. Dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin dan bahan kutikula.

Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio

Disini kulit biji cukup kuat sehingga menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit biji dihilangkan, maka embrio akan tumbuh dengan segera.

Permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas

Pada dormansi ini, perkecambahan akan terjadi jika kulit biji dibuka atau jika tekanan oksigen di sekitar benih ditambah. Pada benih apel misalnya, suplai oksigen sangat dibatasi oleh keadaan kulit bijinya sehingga tidak cukup untuk kegiatan respirasi embrio. Keadaan ini terjadi apabila benih berimbibisi pada daerah dengan temperatur hangat.

Dormansi Fisiologis, dapat disebabkan oleh sejumlah mekanisme, tetapi pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur tumbuh, baik yang berupa penghambat maupun perangsang tumbuh

 

Beberapa penyebab dormansi fisiologis adalah :

Immaturity Embrio

Pada dormansi ini perkembangan embrionya tidak secepat jaringan sekelilingnya sehingga perkecambahan benih-benih yang demikian perlu ditunda. Sebaiknya benih ditempatkan pada tempe-ratur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrionya terbentuk secara sempurna dan mampu berkecambah.

After ripening

Benih yang mengalami dormansi ini memerlukan suatu jangkauan waktu simpan tertentu agar dapat berkecambah, atau dika-takan membutuhkan jangka waktu “After Ripening”. After Ripening diartikan sebagai setiap perubahan pada kondisi fisiologis benih selama penyimpanan yang mengubah benih menjadi mampu berkecambah. Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari beberapa hari sampai dengan beberapa tahun, tergantung dari jenis benihnya.

Dormansi Sekunder

Dormansi sekunder disini adalah benih-benih yang pada keadaan normal maupun berkecambah, tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi kehilangan kemampuannya untuk berkecambah. Kadang-kadang dormansi sekunder ditimbulkan bila benih diberi semua kondisi yang dibutuhkan untuk berkecambah kecuali satu. Misalnya kegagalan memberikan cahaya pada benih yang membutuhkan cahaya.

Diduga dormansi sekunder tersebut disebabkan oleh perubahan fisik yang terjadi pada kulit biji yang diakibatkan oleh pengeringan yang berlebihan sehingga pertukaran gas-gas pada saat imbibisi menjadi lebih terbatas.

Dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis pada embrio.

Dormansi ini dapat disebabkan oleh hadirnya zat penghambat perkecambahan dalam embrio. Zat-zat penghambat perkecambahan yang diketahui terdapat pada tanaman antara lain : Ammonia, Abcisic acid, Benzoic acid, Ethylene, Alkaloid, Alkaloids Lactone (Counamin) dll.

Counamin diketahui menghambat kerja enzim-enzim penting dalam perkecambahan seperti Alfa dan Beta amilase.

Tipe dormansi lain selain dormansi fisik dan fisiologis adalah kombinasi dari beberapa tipe dormansi. Tipe dormansi ini disebabkan oleh lebih dari satu mekanisme. Sebagai contoh adalah dormansi yang disebabkan oleh kombinasi dari immaturity embrio, kulit biji indebiscent yang membatasi masuknya O2 dan keperluan akan perlakuan chilling.

Cara praktis meme-cahkan dormansi pada benih tanaman pangan.

Untuk mengetahui dan membedakan/memisahkan apakah suatu benih yang tidak dapat berkecambah adalah dorman atau mati, maka dormansi perlu dipecahkan. Masalah utama yang dihadapi pada saat pengujian daya tumbuh/kecambah benih yang dormansi adalah bagaimana cara mengetahui dormansi, sehingga diperlukan cara-cara agar dormansi dapat dipersingkat.

 

 

 

Ada beberapa cara yang telah diketahui adalah :

a.Dengan perlakuan mekanis.

Diantaranya yaitu dengan Skarifikasi.

Skarifikasi mencakup cara-cara seperti mengkikir/menggosok kulit biji dengan kertas amplas, melubangi kulit biji dengan pisau, memecah kulit biji maupun dengan perlakuan goncangan untuk benih-benih yang memiliki sumbat gabus.

Tujuan dari perlakuan mekanis ini adalah untuk melemahkan kulit biji yang keras sehingga lebih permeabel terhadap air atau gas.

b.Dengan perlakuan kimia.

Tujuan dari perlakuan kimia adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat, asam nitrat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lebih lunak sehingga dapat dilalui oleh air dengan mudah.

  • Sebagai contoh perendaman benih ubi jalar dalam asam sulfat pekat selama 20 menit sebelum tanam.
  • Perendaman benih padi dalam HNO3 pekat selama 30 menit.
  • Pemberian Gibberelin pada benih terong dengan dosis 100 – 200 PPM.

Bahan kimia lain yang sering digunakan adalah potassium hidroxide, asam hidrochlorit, potassium nitrat dan Thiourea. Selain itu dapat juga digunakan hormon tumbuh antara lain: Cytokinin, Gibberelin dan iuxil (IAA).

 

c.Perlakuan perendaman dengan air.

Perlakuan perendaman di dalam air panas dengan tujuan memudahkan penyerapan air oleh benih.

Caranya yaitu : dengan memasukkan benih ke dalam air panas pada suhu 60 – 70 0C dan dibiarkan sampai air menjadi dingin, selama beberapa waktu. Untuk benih apel, direndam dalam air yang sedang mendidih, dibiarkan selama 2 menit lalu diangkat keluar untuk dikecambahkan.

d.Perlakuan dengan suhu.

Cara yang sering dipakai adalah dengan memberi temperatur rendah pada keadaan lembab (Stratifikasi). Selama stratifikasi terjadi sejumlah perubahan dalam benih yang berakibat menghilangkan bahan-bahan penghambat perkecambahan atau terjadi pembentukan bahan-bahan yang merangsang pertumbuhan.

Kebutuhan stratifikasi berbeda untuk setiap jenis tanaman, bahkan antar varietas dalam satu famili.

e.Perlakuan dengan cahaya.

Cahaya berpengaruh terhadap prosentase perkecambahan benih dan laju perkecambahan. Pengaruh cahaya pada benih bukan saja dalam jumlah cahaya yang diterima tetapi juga intensitas cahaya dan panjang hari.

Klasifikasi Dormansi Biji

Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.

Dormansi diklasifikasikan menjadi bermacam-macam kategori berdasarkan faktor penyebab, mekanisme dan bentuknya.

a. Berdasarkan faktor penyebab dormansi

  • Imposed dormancy (quiscence): terhalangnya pertumbuhan aktif karena keadaan lingkungan yang tidak menguntungkan
  • Imnate dormancy (rest): dormancy yang disebabkan oleh keadaan atau kondisi di dalam organ-organ biji itu sendiri

b. Berdasarkan mekanisme dormansi di dalam biji

Mekanisme fisik

Merupakan dormansi yang mekanisme penghambatannya disebabkan oleh organ biji itu sendiri; terbagi menjadi:

- mekanis : embrio tidak berkembang karena dibatasi secara fisik

- fisik: penyerapan air terganggu karena kulit biji yang impermeabel

- kimia: bagian biji/buah mengandung zat kimia penghambat

Mekanisme fisiologis

Merupakan dormansi yang disebabkan oleh terjadinya hambatan dalam proses fisiologis; terbagi menjadi:

- photodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh keberadaan cahaya

- immature embryo: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh kondisi embrio yang tidak/belum matang

- thermodormancy: proses fisiologis dalam biji terhambat oleh suhu

c. Berdasarkan bentuk dormansi

Kulit biji impermeabel terhadap air/O2

  • Bagian biji yang impermeabel: membran biji, kulit biji, nucellus, pericarp, endocarp
  • Impermeabilitas dapat disebabkan oleh deposisi bermacam-macam substansi (misalnya cutin, suberin, lignin) pada membran.
  • Kulit biji yang keras dapat disebabkan oleh pengaruh genetik maupun lingkungan. Pematahan dormansi kulit biji ini dapat dilakukan dengan skarifikasi mekanik.
  • Bagian biji yang mengatur masuknya air ke dalam biji: mikrofil, kulit biji, raphe/hilum, strophiole; adapun mekanisme higroskopiknya diatur oleh hilum.
  • Keluar masuknya O2 pada biji disebabkan oleh mekanisme dalam kulit biji. Dormansi karena hambatan keluar masuknya O2 melalui kulit biji ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pemberian larutan kuat.

Embrio belum masak (immature embryo)

  • Ketika terjadi abscission (gugurnya buah dari tangkainya), embrio masih belum menyelesaikan tahap perkembangannya. Misal: Gnetum gnemon (melinjo)
  • Embrio belum terdiferensiasi
  • Embrio secara morfologis sudah berkembang, namun masih butuh waktu untuk mencapai bentuk dan ukuran yang sempurna.

Dormansi karena immature embryo ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur rendah dan zat kimia.

Biji membutuhkan pemasakan pascapanen (afterripening) dalam penyimpanan kering

Dormansi karena kebutuhan akan afterripening ini dapat dipatahkan dengan perlakuan temperatur tinggi dan pengupasan kulit.

Biji membutuhkan suhu rendah

Biasa terjadi pada spesies daerah temperate, seperti apel dan Familia Rosaceae. Dormansi ini secara alami terjadi dengan cara: biji dorman selama musim gugur, melampaui satu musim dingin, dan baru berkecambah pada musim semi berikutnya. Dormansi karena kebutuhan biji akan suhu rendah ini dapat dipatahkan dengan perlakuan pemberian suhu rendah, dengan pemberian aerasi dan imbibisi.

Ciri-ciri biji yang mempunyai dormansi ini adalah:

  • jika kulit dikupas, embrio tumbuh
  • embrio mengalami dormansi yang hanya dapat dipatahkan dengan suhu rendah
  • embrio tidak dorman pada suhu rendah, namun proses perkecambahan biji masih membutuhkan suhu yang lebih rendah lagi
  • perkecambahan terjadi tanpa pemberian suhu rendah, namun semai tumbuh kerdil
  • akar keluar pada musim semi, namun epicotyl baru keluar pada musim semi berikutnya (setelah melampaui satu musim dingin)

Biji bersifat light sensitive

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari).

Kuantitas cahaya

Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji yang positively photoblastic (perkecambahannya dipercepat oleh cahaya); jika penyinaran intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya).

Biji positively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk jangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah.

Kualitas cahaya

Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum (red; 650 nm), sedangkan sinar infra merah (far red; 730 nm) menghambat perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama sekali bertentangan): jika diberikan bergantian, maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif):

  • P650 : mengabsorbir di daerah merah
  • P730 : mengabsorbir di daerah infra merah

Jika biji dikenai sinar merah (red; 650 nm), maka pigmen P650 diubah menjadi P730. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah (far-red; 730 nm), maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan.

Photoperiodisitas

Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperatur:

  • Pemberian temperatur 10-200C : biji berkecambah dalam gelap
  • Pemberian temperatur 20-300C : biji menghendaki cahaya untuk berkecambah
  • Pemberian temperatur >350C : perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau terang

Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan dapat diganti oleh temperatur yang diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan oleh zat kimia seperti KNO3, thiourea dan asam giberelin.

Dormansi karena zat penghambat

Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah.

 

Teknik Pematahan Dormansi Biji

Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo.

Skarifikasi merupakan salah satu upaya pretreatment atau perawatan awal pada benih, yang ditujukan untuk mematahkan dormansi, serta mempercepat terjadinya perkecambahan biji yang seragam (Schmidt, 2000). Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan secara fisis, mekanis, maupun chemis. Hartmann (1997) mengklasifikasikan dormansi atas dasar penyebab dan metode yang dibutuhkan untuk mematahkannya.

 

Tipe dormansi Karakteristik Contoh spesies Metode pematahan dormansi
Alami Buatan
Immature embryo Benih secara fisiologis belum mampu berkecambah, karena embryo belum masak walaupun biji sudah masak Fraxinus excelcior, Ginkgo biloba, Gnetum gnemon Pematangan secara alami setelah biji disebarkan Melanjutkan proses fisiologis pemasakan embryo setelah biji mencapai masa lewat-masak (after-ripening)
Dormansi mekanis Perkembangan embryo secara fisis terhambat karena adanya kulit biji/buah yang keras Pterocarpus, Terminalia spp, Melia volkensii Dekomposisi bertahap pada struktur yang keras Peretakan mekanis
Dormansi fisis Imbibisi/penyerapan air terhalang oleh lapisan kulit biji/buah yang impermeabel Beberapa Legum & Myrtaceae Fluktuasi suhu Skarifikasi mekanis, pemberian air panas atau bahan kimia
Dormansi chemis Buah atau biji mengandung zat penghambat (chemical inhibitory compound) yang menghambat perkecambahan Buah fleshy (berdaging) Pencucian (leaching) oleh air, dekomposisi bertahap pada jaringan buah Menghilangkan jaringan buah dan mencuci bijinya dengan air
Foto

dormansi

Biji gagal berkecambah tanpa adanya pencahayaan yang cukup. Dipengaruhi oleh mekanisme biokimia fitokrom Sebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer tropika humida seperti eucalyptus dan Spathodea Pencahayaan Pencahayaan
Thermo

dormansi

Perkecambahan rendah tanpa adanya perlakuan dengan suhu tertentu Sebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer daerah tropis-subtropis kering, tumbuhan pioneer tropika humida Penempatan pada suhu rendah di musim dingin

Pembakaran

Pemberian suhu yang berfluktuasi

Stratifikasi atau pemberian perlakuan suhu rendah

Pemberian suhu tinggi

Pemberian suhu berfluktuasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Benih merupakan salah satu faktor utama dalam kegiatan budidaya tanaman yang menjadi penentu keberhasilan. Peningkatan produksi pertanian banyak ditunjang oleh peran benih bermutu. Benih yang bermutu menjanjikan produksi yang baik dan bermutu pula jika diikuti dengan perlakuan agronomi yang baik dan input teknologi yang berimbang. Sebaliknya, bila benih yang digunakan tidak bermutu maka produksinya banyak tidak menjanjikan atau tidak lebih baik dari penggunaan benih bermutu. Salah satu hal yang harus diperhatikan pada benih adalah tingkat perkecambahan benih,tingkat perkecambahan benih dapat menurun karena masa dormansi benih,Dormansi sendiri sangat merugikan pada saat perkecambahan benih karena dengan tidak berkecambahnya benih maka kan menyebabkan kerugian – kerugian dalam budidaya pertanian seperti kerugian waktu, tenaga, dan biaya yang tidak terlalu sedikit.

Tipe dormansi Karakteristik Contoh spesies Metode pematahan dormansi
Alami Buatan
Immature embryo Benih secara fisiologis belum mampu berkecambah, karena embryo belum masak walaupun biji sudah masak Fraxinus excelcior, Ginkgo biloba, Gnetum gnemon Pematangan secara alami setelah biji disebarkan Melanjutkan proses fisiologis pemasakan embryo setelah biji mencapai masa lewat-masak (after-ripening)
Dormansi mekanis Perkembangan embryo secara fisis terhambat karena adanya kulit biji/buah yang keras Pterocarpus, Terminalia spp, Melia volkensii Dekomposisi bertahap pada struktur yang keras Peretakan mekanis
Dormansi fisis Imbibisi/penyerapan air terhalang oleh lapisan kulit biji/buah yang impermeabel Beberapa Legum & Myrtaceae Fluktuasi suhu Skarifikasi mekanis, pemberian air panas atau bahan kimia
Dormansi chemis Buah atau biji mengandung zat penghambat (chemical inhibitory compound) yang menghambat perkecambahan Buah fleshy (berdaging) Pencucian (leaching) oleh air, dekomposisi bertahap pada jaringan buah Menghilangkan jaringan buah dan mencuci bijinya dengan air
Foto

dormansi

Biji gagal berkecambah tanpa adanya pencahayaan yang cukup. Dipengaruhi oleh mekanisme biokimia fitokrom Sebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer tropika humida seperti eucalyptus dan Spathodea Pencahayaan Pencahayaan
Thermo

dormansi

Perkecambahan rendah tanpa adanya perlakuan dengan suhu tertentu Sebagian besar spesies temperate, tumbuhan pioneer daerah tropis-subtropis kering, tumbuhan pioneer tropika humida Penempatan pada suhu rendah di musim dingin

Pembakaran

Pemberian suhu yang berfluktuasi

Stratifikasi atau pemberian perlakuan suhu rendah

Pemberian suhu tinggi

Pemberian suhu berfluktuasi

 

Penggunaan benih bermutu akan memberi banyak keuntungan bagi petani diantaranya akan mengurangi resiko kegagalan budidaya karena benih bermutu akan mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan, bebas dari serangan hama penyakit sehingga dengan demikian hasil panen dapat sesuai dengan harapan. Pemakaian benih berkualitas tinggi dapat memberi hasil yang diharapkan, yang menyangkut peningkatan kualitas dan kuantitas produksinya. Oleh karena itu penyediaan benih unggul yang bermutu hendaknya memenuhi kriteria enam tepat yaitu tepat varietas, tepat mutu, tepat waktu, tepat jumlah, tepat tempat, dan tepat harga.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

www.wikipedia/dormansi.com

www.agrica/dormansi.blogspot.com

file:///C:/Documents%20and%20Settings/User/Local%20Settings/Application%20Data/Microsoft/CD%20Burning/BENIH/PERMASALAHAN%20BENIH.htm.

Anonim, 1987. Evaluasi Bibit dalam Pengujian Daya Tumbuh Laboratorium Pusat. Sub Direktorat Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih. Direktorat Bina Produksi Tanaman Pangan, Jakarta.

_____,1992. Teknologi Benih. PT. Rinneka Cipta, Jakarta.

_____,1999. Kebijakan Pembangunan Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta.

_____,2000. Pedoman Umum Analisis Mutu Benih. Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Direktorat Bina Perbenihan, Jakarta.

Baihaki, A 1996. Prospek penerapan “Breeder Right” di Indonesia, dalam Sumarno ,Hari Bowo, B. Priyanto, Nova Agustin dan Widi Wiryani (Ed). Prosiding Simposium Pemuliaan Tanaman IV. Vol V. (9):1-16. Univ.Pembangunan Nsional. Surabaya.

Camacho-Bustos, S. 1987. Managing Fruit-tree Nurseries. International Agricultura

Development Service 6p.

Departemen Pertanian, 2001. Undang-undang RI nomer 29 tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.

Hadi S. dan Baran, W. , 1995. Keterkaitan dunia pendidikan tinggi dengan industri perbenihan dalam penyediaan pangan nasional. Prosiding Seminar Sehari Perbenihan menghadapi Tantangan Pertanian Abad XXI. Keluarga benih vol.VI(1):25-34.

Kartasapoetra, A.G. 1992. Teknologi Benih. Rinneka Cipta Saputra, Jakarta.

Kuswanto, H., 1994. Produksi dan distribusi benih. Forum komunikasi dan antar peminat dan ahli benih. Balittas. Malang.

Qamara, W., dan A, Setiawan S. 1995. Produksi Benih. Bumi Aksara, Jakarta.

Sadjad, S. 1981. Peranan benih dalam usaha pengembangan palawija 1. Buletin Agronomi XII (1): 12-15.

Sumarno, D. M. Arsyad, dan I. Manwan. 1990. Teknologi usaha tani kedelai. Risalah Lokakarya Pengembangan Kedelai.Puslitbangtan Bogor, Hal. 23-49.

Sutopo, L. 1993. Teknologi Benih. PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Wahyu, Q., dan Asep S., 1995a. Produksi Benih. Bumi Aksara, Jakarta.

Wirawan, B., dan Sri Wahyuni. 2002. Memproduksi Benih Bersertifikat. Penebar Swadaya, Jak

 

Makalah Teknologi Benih April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kesabaran, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam kami sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan warna ilahiah dalam peradaban manusia, kepada keluarganya, sahabat sahabatnya, hingga kepada kita selaku umatnya. Adapun isi dari makalah ini berkenaan tentang “Bibit Pada Tanaman Padi”. Makalah ini diajukan dalam rangka melengkapi tugas Teknologi Benih.

 

Kami menyadari betul bahwa makalah ini banyak menemukan kesulitan dan hambatan serta kekurangan tetapi, berkat anugrah dari Allah Yang Maha Pengasih kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kesulitan dan hambatan dapat teratasi dengan baik.  Atas dasar itulah kami mengucapkan terima kasih. Kritik dan saran yang membangun kami tunggu demi perbaikan makalah ini. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

 

Bandung, 19 April 2011

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………..ii

BAB I: PENDAHULUAN

I.1 Perlakuan Benih Padi…………………………………………………..1

 

BAB II: ISI

II.1 Penyerbukan Pada Padi……………………………………………….4

II.2 Pemilihan Varietas dan Asal Benih………………………….………..4

II.3 Persemaian…………………………………………………………….5

II.4 Benih Bersertifikat…………………………………………………….5

II.4 Teknik Produksi Benih Padi…………………………………………..8

II.5 Benih Padi yang Unggul……………………………………………..13

II.6 Padi Hibrida dan Kelemahan dan Kelebihannya…………………….16

II.7 Padi Hasil Penelitian…………………………………………………18

II.8 Cara Memilih Benih dan Penyiapan Bibit Padi yang Baik………….21

II.9 Padi Inpari 13, Tahan Wereng Coklat……………………………….23

II.10 Pengaruh Dosis Pupuk Urea………………………………………..26

II.11 Mikrokontroler Pengukur Kadar Air Benih Padi…………………..27

II.12 Harga Bibit Padi……………………………………………………31

II.13 Benih Padi Tahan Perubahan Iklim (IRRI)…………………………32

II.14 Penakar Benih Padi Bermutu……………………………………….33

 

BAB III: PENUTUP

III.1 Simpulan…………………………………………………………….40

III.2 Saran……………………………………………………………………..41

 

DAFTAR PUSTAKA……..…………………………………………………….42

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Perlakuan Benih Padi

Produksi padi yang baik dan maksimal dimulai dari pemilihan dan perlakuan benih padi yang baik. Sesuai dengan anjuran pemerintah dan juga anjuran teknologi budidaya yang baik, benih padi yang digunakan sangat disarankan berasal dari benih padi bersertifikat. Benih padi yang bersertifikat menjamin:

  1. Keaslian / kemurnian varietas
  2. Daya tumbuh yang baik
  3. Masa pakai (expired product) diketahui dengan pasti, sehingga lebih terjamin.

Jaminan kualitas benih padi bersertifikat, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 23/Permentan/SR.120/2/2007, adalah :

  1. Benih belum kadaluarsa
  2. Daya tumbuh minimal 80%
  3. Kadar air 10% – 13%
  4. Kandungan kotoran maksimal 2%
  5. Kemurnian varietas minimal 98%

Dengan kualitas yang baik, tanaman padi akan tumbuh lebih seragam, sehingga memaksimalkan hasil saat dipanen. Untuk memperoleh produksi yang maksimal, usaha yang baik harus dimulai sejak awal. Selain penggunaan benih bersertifikat, perlakuan benih saat akan disemaikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan awal bibit padi. Inilah perlakuan benih padi yang baik sebelum disemaikan:

Menyortir benih yang masih memiliki daya tumbuh tinggi dengan menggunakan larutan garam.

  1. a.      Siapkan larutan garam dalam ember dengan volume sesuai dengan benih padi yang akan disortir. Konsentrasi larutan garam (takaran garam) tersebut diukur dengan menggunakan telur ayam/bebek mentah. Masukkan telur ke dalam ember berisi air. Masukkan garam sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk pelan. Pemberian garam dihentikan ketika telur mulai mengapung dalam air, hal ini menunjukkan bahwa kandungan garam telah cukup sebagai penguji benih.
  2. b.      Masukkan benih padi yang akan disortir. Kemudian diaduk sehingga semua benih tercampur dengan larutan garam tersebut. Biarkan beberapa menit, sehingga terlihat benih padi tersebut tenggelam dan sebagian kecil terapung.
  3. c.       Benih yang masih terapung merupakan benih hampa/rusak/tidak sempurna, sehigga tidak layak untuk dijadikan bibit. Walaupun benih tersebut dapat tumbuh, akan tetapi akan tumbuh menjadi bibit yang tidak sempurna.
  4. d.      Benih yang tenggelam dipilih sebagai benih yang akan disemaikan. Benih tersebut kemudian dibilas dengan air bersih sebanyak 2 kali agar larutan garamnya tercuci dengan baik.

Memeram benih sebelum disemai.

  1. a.      Benih yang akan disemai sebaiknya dibantu pertumbuhannya dengan cara diperam.
  2. b.      Benih direndam dalam air bersih selama kurang lebih 1 jam, kemudian ditiriskan dalam ayakan atau saringan sampai tidak ada air yang menetes.
  3. c.       Benih yang lembab tersebut kemudian dimasukkan dalam karung goni atau karung terigu (atau kain katun) dan dibiarkan selama 2 hari dalam ruangan yang terlindung.
  4. d.      Setelah dua hari akan nampak pada pangkal benih berwarna putih yang menandakan bahwa akar benih telah mulai tumbuh dan telah siap disemai dalam persemaian.
  5. e.       Benih yang telah diperam akan memiliki daya tumbuh yang lebih cepat dan lebih baik dibanding dengan benih yang tidak diperam, sehingga dalam persemaian akan tumbuh lebih kuat dan sehat.

Produksi padi yang baik dimulai dari benih yang baik.

 

 

 

BAB II

ISI

II.1 Penyerbukan Pada Padi

Padi tergolong tanaman yang menyerbuk sendiri dan kemungkinan untuk menyerbuk silang sangat kecil (<0.4 %). Namun demikian, lokasi perbenihan tetap harus diisolasi dari pertanaman padi lain minimal 3 meter, atau berbunga tidak bersamaan dengan selisih waktu sekitar 30 hari dari padi konsumsi. Di samping itu, lokasi perbenihan harus memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Lahan hendaknya bekas jenis tanaman lain atau lahan yang diberakan.
  • Pada lahan bekas tanaman padi, varietas yang ditanam adalah sama dengan varietas yang ditanam sebelumnya.
  • Ketinggian lahan disesuaikan dengan daya adaptasi varietas tanaman, umumnya padi beradaptasi di dataran rendah.
  • Lahan relatif subur, pH 5.4-6, dan memiliki lapisan olah sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas kering.
  • Lahan persemaian terhindar dari cahaya lampu saat malam hari.

II.2 Pemilihan Varietas dan Asal Benih

Varietas yang diperbanyak disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, kesesuaian lahan, umur tanaman, dan ketahanan terhadap hama-penyakit. Benih sumber yang digunakan berasal dari kelas yang lebih tinggi. Untuk menghasilkan benih dasar (FS) digunakan benih penjenis (BS), untuk menghasilkan benih pokok (SS) digunakan benih dasar, sedangkan untuk menghasilkan benih sebar (ES) digunakan benih pokok.

Musim Tanam

Produksi benih dapat dilakukan pada musim hujan, atau musim kemarau asalkan air cukup tersedia. Untuk memudahkan prosesing hasil, lebih menguntungkan bila usaha perbenihan dilaksanakan pada musim kemarau.

II.3 Persemaian

  • Tempat persemaian dibuat seluas 5% dari luas lahan produksi benih. Sebelum diolah, lahan persemaian diairi lebih dahulu, dan keesokan harinya lahan dicangkul dan dibuat bedengan dengan ketinggian 15-20 cm, jarak antar bedengan selebar 30 cm.
  • Sebelum disebar, benih dengan kadar air 11-12 % dimasukkan dalam karung kemudian direndam di dalam kolam atau air yang mengalir selama 24 jam untuk mematahkan dormansi.

II.4 Benih Bersertifikat

Benih padi yang bersertifikat telah melalui berbagai proses dari sejak penyiapan lahan, pengolahan lahan, penyediaan benih yang bermutu, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen serta penyimpanan dilakukan dengan sebaik mungkin, sehingga diperoleh benih yang baik. Oleh karena itu jika benih padi bersertifikat digunakan para petani maka petani akan memperoleh produksi yang tinggi. Penggunaan benih padi bersertifikat oleh petani pada tahun 2008 sebesar 53,20% dan pada tahun 2009 diperkirakan petani yang menggunakan benih padi bersertifikat sebesar 62,8%. Sebagian besar petani telah menggunakan benih padi bersertifikat. Petani yang belum menggunakan benih padi bersertifikat umumnya petani yang menanam padi lahan kering mereka menggunakan varietas lokal atau dari hasil pertanaman sendiri yang telah dipilih dan dianggap memenuhi syarat untuk dijadikan benih padi.

Penggunaan benih padi bersertifikat telah lama dianjurkan diharapkan para petani menggunakan benih padi yang bersertifikat, karena dengan menggunakan benih padi bersertifikat petani akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam penggunaan padi bersertifikat ini hanya anjuran yang dilakukan oleh para penyuluh di lapangan serta instansi lain yang terkait dengan kegiatan pertanian. Petani diberi pemahaman bahwa bila menggunakan benih yang tidak bersertifikat akan merugikan petani itu sendiri karena hasil yang diperoleh rendah. Penggunaan benih padi bersertifikat memberikan produktivitas yang tinggi dikarenakan benih padi bersertifikat itu disiapkan dengan perlakuan khusus antara lain:

  1. Persiapan lahan untuk penanaman benih bersertifikat dilakukan secara baik dari pemilihan lokasi yang tanahnya subur sampai pengolahan tanahnya,
  2. Penyediaan benih (benih pokok) untuk perbanyakan benih bersertifikat benar-benar menyiapkan benih yang unggul,
  3. Pemeliharaan tanaman padi dengan baik dan terkontrol (penyiangan, pemupukan, pengairan dan pemberantasan hama dan penyakit) dengan kontinyu terlaksana dengan baik dan,
  4. Waktu panen dan pelaksanaan panen yang bagus, pelaksanaan panen memenuhi ketentuan-ketentuan untuk dijadikan benih padi sebagai benih yang bersertifikat untuk ditanam petani,
  5. Pengepakan yang bagus, dilakukan pembungkus benih padi dengan plastik atau bahan lain yang memenuhi standar sehingga benih padi terhindar dari serangan hama penyakit dan pengaruh kelembapan,
  6. Penyimpanan dan pendistribusian yang bagus. Sehingga dengan perlakuan-perlakuan itu diperolehlah benih padi yang baik misalnya daya tumbuh di atas 80%, varietas yang homogen, pertumbuhan tanaman yang serentak dan benih padi yang disiapkan terhindar dari gangguan hama penyakit karena diperlukan perlakuan khusus untuk memproduksi benih padi bersertifikat maka sampai saat ini yang memperbanyak atau memproduksi benih padi sebar bersertifikat adalah produsen baik pihak BUMN ataupun swasta serta petani penangkar benih.

Contoh BUMN yang memproduksi benih padi bersertifikat adalah Shang Hyang Sri yang lokasi penanamannya berada di daerah Sukamandi Jawa Barat. Sedangkan petani penangkar benih padi umumnya tersebar di seluruh Indonesia. Umumnya para petani penangkar benih padi melakukan penangkaran benih di lahan usaha taninya sendiri, dimana lahannya memenuhi syarat untuk dijadikan penangkaran benih padi bersertifikat.

 

 

II.4 Teknik Produksi Benih Padi

Sumbangan terbesar dalam peningkatan produksi padi, diperoleh dari pemanfaatan keunggulan genetik dari Varietas Unggul Baru (VUB) Padi.   Dengan menggunakan varietas unggul baru tanaman padi, akan diperoleh  peningkatan produksi, baik dalam jumlahnya maupun mutu serta daya saing produk yang dihasilkannya. Diantara VUB padi yang dianjurkan adalah Sarinah, Mekongga, Cimelati, Ciherang, Setail (pulut), dan Aek Sibandeng (padi daerah).

I. Kegiatan Pra Panen

Kegiatan pra panen khususnya untuk penangkaran benih, adalah :

  • Penggunaan benih sumber : diambil dari kelas benih yang  lebih tinggi dari benih yang akan diproduksi.
  • Pilih areal sawah yang sesuai :   subur, irigasi terjamin, bebas dari  kekeringan dan banjir, serta   mudah dijangkau (tersedia fasilitas transportasi)
  • Dilaksanakan oleh kelompok tani yang sudah menguasai teknik     produksi padi
  • Diawali pembuatan pesemaian : bebas dari kemungkinan tercampur dari    varietas lain yang ada di   sekitarnya
  • Sawah diolah sempurnah,  umumnya dibajak 2 kali dan digaru serta diperlukan waktu jeda agar singgang padi tumbuh      dapat dimusnahkan. Tanah  diratakan sampai tekstur betul-betul berlumpur.
  • Pengelolaan kebenaran varietas dilakukan agar tidak terjadi percampuran, isolasi jarak dengan pertanaman  padi    disekitarnya dengan jarak ± 3 meter atau isolasi waktu (selisih waktu mekarnya malai selama 3 minggu) agar varietas yang ditanam hanya menyerbuk sendiri
  • Menggunakan pendekatan   Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada Padi Sawah, dengan komponen : penggunaan varietas padi unggul baru yang diminati    petani setempat, menggunakan benih bermutu dan menanam bibit umur muda (15 hari setelah       hambur), menanam 1-3 batang per    rumpun tanaman, menggunakan cara tanam jajar legowo, pemupukan N dengan menggunakan BWD dan pemupukan P dan K berdasarkan  analisis tanah, penggunaan pupuk organik, dan pengendalian hama penyakit secara terpadu.

II.Kegiatan Panen dan  Pasca Panen

  1. Menentukan Waktu Panen

Waktu panen yang tepat ditandai   dari kondisi pertanaman 90-95 % bulir sudah memasuki fase masak fisiologis (kuning jerami) dan bulir padi pada pangkal malai sudah mengeras. Untuk pertanaman padi tanam pindah, vigor optimal dicapai pada umur 30-42 hari setelah bunga  merata bagi pertanaman padi musim hujan (MH), dan 28-36 hari setelah berbunga merata bagi pertanaman musim kemarau (MK).

  1. Pemanenan

Proses panen harus memenuhi   standar baku sertifikasi : dimulai  dengan mengeluarkan rumpun yang   tidak seharusnya dipanen, menggunakan sabit bergerigi untuk mengurangi kehilangan hasil, perontokan biji segera dilakukan setelah panen   dengan dibanting atau dengan tresher, hindari pemumpukan      terutama jika sampai terjadi fermentasi / panas tinggi karena akan      mematikan lembaga, lakukan pembersihan pendahuluan, dan ukur  kadar air gabah, beri label dengan identitas sekurang-kurangnya asal blok, nama varietas, berat, kelas  calon benih, dan tanggal panen.

  1. Pengeringan
    Pengeringan dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
  • Pengeringan dengan sinar matahari

Dengan cara ini dianjurkan menggunakan lantai jemur yang terbuat dari semen, dilapisi terpal agar  tidak terlalu panas dan gabah tidak tercecer, serta dibolak-balik setiap 3 jam sekali. Calon benih dikeringkan sampai mencapai kadar air maksimal 13 %, dan sebaiknya 10-12 % agar tahan disimpan lama.

  • Pengeringan buatan dengan dryer

Dryer dibersihkan setiap kali ganti varietas, hembuskan udara sekitar 3 jam tanpa pemanasan, kemudian diberikan hembusan udara panas suhu rendah dimulai dari 320C, selanjutnya ditingkatkan seiring dengan menurunnya kadar air gabah calon benih, sampai suhu mencapai panas 420C pada kadar air 14 %. Atur laju penurunan  kadar air 0,5 % per jam. Suhu  disesuaikan setiap 3 jam, bahan dibolak-balik agar panas merata, dan lanjutkan pengeringan sampai diperoleh kadar air minimal 13 % namun sebaiknya 10-12 %.

  1. Pembersihan

Pembersihan dilakukan untuk memisahkan dan mengeluarkan     kotoran dan biji hampa sehingga diperoleh ukuran dan berat biji yang seragam. Kegiatan ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

  • Dilakukan secara manual jika  jumlah bahan sedikit
  • Apabila bahan dalam jumlah yang besar dilakukan dengan menggunakan mesin pembersih seperti : blower, separator, dan gravity table separator
  • Peralatan yang digunakan sebaiknya yang berfungsi baik
  • Bersihkan alat tersebut setiap kali akan digunakan
  • Gunakan kemasan/karung baru dan pasang label atau keterangan diluar dan dalam kemasan
  • Petugas pengawas benih tanaman pangan setempat diminta untuk mengambil contoh guna pengujian laboratorium
  1. Pengemasan / Penyimpanan Benih
  • Benih yang layak disimpan adalah benih dengan daya tumbuh awal sekitar 90 % dan KA 10-12 %
  • Gunakan gudang yang memenuhi syarat
  • Bebas dari hama gudang seperti tikus, hama bubuk, dan lainnya
  • Gunakan kantong yang kedap udara
  • Kemasan ditata teratur, tidak bersentuhan langsung dengan  lantai dan dinding gudang

II.5 Benih Padi yang Unggul

Benih padi yang unggul sangat penting sekali bagi kita karena benih merupakan faktor utama dan penentu keberhasilan budidaya kita. Bagaimanapun baikknya perawatan tanaman yang kita lakukan tidak akan ada gunanya jika benih yang kita gunakan sangat jelek.

Kini sangat banyak benih padi yang beredar di pasaran, namun apakah semuanya mempunyai kualitas yang baik? Seringkali kita menemukan kejadian walaupun benih yang kita gunakan tersebut telah bersertifikat dan berlabel namun setelah kita tanam hasilnya kurang memuaskan.

Langkah yang utama untuk membuat benih padi yang unggul adalah kita harus memiliki benih padi  berlabel putih, benih dengan label putih bisa kita dapatkan di balai benih padi setempat.  Seandainya kita kesulitan mendapatkan benih berlabel putih kita bisa juga menggunakan benih yang berlabel ungu. Benih berlabel ungu bisa kita dapatkan di kios-kios pertanian. Kebutuhan benih sekitar 25 Kg untuk lahan 1 ha.

Langkah yang kedua kita siapkan lahan untuk menanam padi tersebut. Lahan harus terisolasi dengan tanaman padi yang lain agar kemurniannya terjaga. Jarak antar lahan dan tanaman padi yang lain minimal 10 m. Atau paling enak kalau kita menanamnya berbeda waktu dengan tanaman padi yang lain. Terserah saja caranya yang penting jangan sampai waktu pembungaannya sama. Sebelum benih label putih/ ungu  kita semai, sebaiknya kita seleksi dulu dengan menggunakan air garam/ air abu. Gunakan benih yang terendam dan jangan gunakan benih yang mengapung. Rendam dengan air bersih selama 24 jam dan tiriskan selama 24 jam pula. Namun jika calon akar belum ada 0,5 cm pemeraman bisa diperlama 24 jam lagi.

Lahan pesemaian kita siapkan seperti biasa dengan luas kurang lebih 20 % dari luas lahan. Cara pembuatan bibit seperti padi bisaa, hanya yang harus diperhatikan adalah saat bibit padi umur 1 minggu sebaiknya kita beri NPK secukupnya. Dan saat bibit satu minggu menjelang  tanam sebaiknya kita aplikasi pestisida, agar saat penanaman nanti tidak ada hama dan penyakit yang terbawa ke pertanaman.

Cara penanaman benih padi unggul yang baik adalah harus memerhatikan jarak tanam, yaitu jangan kurang dari 22 cm. Dan gunakan sistem tanam legowo maksimal 4:1. Tanam harus umur muda, kurang dari 18 hss. Saat pelaksanaan jangan terlalu dalam. Gunakan cara tanam jiwir 1-2 batang per lubang. Inilah kunci untuk meningkatkan produksi benih padi unggul.

Dalam pemeliharaan yang paling penting adalah pengairan yang berselang, yaitu pemberian air dan buang air sampai tanah agak mengering. Tanaman jangan selalu direndam air. Pemupukan gunakan NPK 300 kg/ ha dan tambahkan urea 100 kg/ha atau sesuaikan kebutuhan dengan menggunakan bagan warna daun.  Pemupukan bisa diberikan 2 kali ataupun 3 kali.

Ketika tanaman benih padi unggul telah berbuah maka perlu dilakukan penyortiran, hal ini berguna untuk meningkatkan kemurnian benih. Penyortiran dilakukan dengan cara membuang/ memangkas bulir-bulir padi yang berbeda varietasnya. Pemangkasan juga dilakukan terhadap jenis gulma yang sefamili dengan padi.

Ada trik juga untuk memantapkan pengisian bulir, yaitu dengan cara menambahkan pupuk NPK ketika bulir padi telah masak susu. Hal ini berfungsi untuk memperlama proses pengisian dan memundurkan masa panen.

Pemanenan benih padi unggul dilakukan jangan bersamaan dengan tanaman padi konsumsi. Hal ini bertujuan agar supaya benih tidak tercampur dengan benih lain. Gunakan sabit yang bergerigi dan taruh potongan malai pada terpal atau karung bekas. Pemanenan dilakukan saat padi menguning sekitar 90 %.

Penjemuran calon benih padi unggul sebaiknya  tidak dilakukan dilantai jemur, tapi harus diberi alas terpal atau anyaman bambu. Penjemuran sebaikknya dilakukan saat pagi hari sekitar jam 07.00 sampai jam 10.00 dan sore hari sekitar jam 14.30 sampai jam 17.00. Keringkan sampai kadar air sekitar 14-12 %. Sebelum digunakan untuk benih sebaiknya benih padi unggul dilakukan stagnasi dulu (disimpan dalam karung) sekitar  1-2 minggu. Setelah proses stagnasi bibit padi unggul siap digunakan.

II.6 Padi Hibrida dan Kelemahan dan Kelebihannya

Kalau kita berbicara tentang padi hibrida, tentu dalam fikiran kita akan terlintas tentang kehebatan produk-produk pertanian yang berlabel hibrida yang lain. Seperti jagung hibrida, cabai hibrida, tomat hibrida, melon hibrida dan lain sebagainya. Namun sayang cerita padi hibrida tak seindah komoditi pertanian hibrida yang lain.

Beberapa varietas padi hibrida telah diluncurkan di Indonedia diantaranya Arize dari PT Bayer, Intani 1 dan 2 dari PT Tanindo, PP1, H1 dari PT Pioneer dan Bernas prima dari PT Sumber Alam Sutera. Sudah bertahun-tahun petani kita menguji keberadaan padi hibrida dengan segudang harapan untuk dapat mendongkrak produksinya. Baik petani membeli sendiri dari kios pertanian, petani diberi sample oleh produsen padi hibrida tersebut dan petani mendapatkan bantuan-bantuan dari pemerintah melalui program SLPTT maupun program yang lain. Sebenarnya petani sangat antusias ketika mendengar pertama kali tentang kehebatan padi hibrida yang notabene bisa berproduksi hingga 12 ton per hektar. Petani mana yang tidak tergiur jika produksinya akan mencapai 12 ton per hektar?

Dan kini setelah beribu-ribu petani kita menanam padi hibrida bahkan bukan hanya sekali tetapi berkali-kali mereka seakan jera dan trauma. Dari berbagai macam jenis padi hibrida yang telah mereka coba ternyata belum mendapatkan hadil yang maksimal. Sebenarnya ada apa dengan padi hibrida?

Memang benar padi hibrida mempunyai kelebihan berpotensi produksi sangat tinggi dan mempunyai kualitas beras yang pulen dan wangi. Tetapi apakah akan mampu berproduksi tinggi jika memiliki bermacam-macam kelemahan seperti dibawah ini ?

  1. Walaupun tertulis dikemasannya tahan berbagai macam penyakit ternyata dilapangan tidaklah demikian. Sebagai bukti banyak padi hibrida yang ditanam petani terserang hawar daun bakteri (kresek), hawar pelepah dan blast.
  2. Padi hibrida terbukti sangat rawan terhadap serangan hama wereng, sundep/ beluk dan ulat.
  3. Padi hibrida membutuhkan pemupukan yang lebih banyak jika dibanding dengan varietas unggul lokal sehingga akan menambah biaya produksi bagi petani.
  4. Walaupun mempunyai bulir malai yang banyak (hingga 400) tetapi seringkali bulir tersebut tidak terisi semua. Kadangkala pengisian bulir padinya juga tidak bisa penuh.
  5. Padi hibrida kurang memiliki adaptasi lingkungan yang tinggi, sehingga hanya spot-spot lokasi tertentu yang cocok untuk penanaman padi hibrida.
  6. Walaupun variets tertentu tertulis tahan kering dan cocok untuk gogorancah tetapi kehebatanya tidak pernah lebih dari varietas situbagendit dan IR 64.
  7. Mempunyai bentuk tanaman yang tinggi dan besar sehingga akan mempersulit petani dalam perawatannya.
  8. Benih padi hibrida tidak bisa ditanam kembali oleh petani. Hal tersebut akan menjadikan monopoli pasar bagi produsen benih tersebut.
  9. Harga benih padi hibrida jauh lebih mahal (Sekitar Rp.45.000/ kg) jika dibanding dengan variatas unggul lokal yang hanya sekitar Rp.5000/ kg. Ini akan membengkakkan pengeluaran petani.
  10. Memerlukan perawatan dan perhatian yang lebih hati-hati, sehingga akan menambah pengeluaran tenaga dan biaya bagi petani.

Dari kelemahan-kelemahan padi hibrida tersebut kita dapat mempertimbangkan bagi pemerintah dan dinas pertanian dalam hal pemberian bantuan benih bagi petani dan untuk kebijakan program-program yang lain. Petani kita belum bisa menerima teknologi yang rumit-rumit dan ribet-ribet karena mengingat SDM petani kita belum tergantikan dengan generasi muda.

II.7 Padi Hasil Penelitian

Varietas padi nonhibrida itu bernama IIRI 400 (Indonesia Inovasi Ridho Ilahi). Banyaknya gabah kering sawah yang dihasilkan varietas baru padi tersebut dapat dikatakan fantastis. Mengingat padi hibrida yang selama ini diunggulkan pemerintah hanya mampu menghasilkan 9 ton sampai dengan 12 ton per ha.
(Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) berhasil menemukan varietas lokal padi yang memiliki produktivitas atau potensi hasil panen mencapai 14 ton sampai dengan 20 ton per hektare (ha)).

“Penelitian varietas padi yang kami berinama IIRI 400 ini dilakukan sejak tahun 2000,” tegas Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang, DR Ir Haryadi kepada Media Indonesia, Minggu (7/2).  Saat panen perdana di Desa Tambak Asri, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Haryadi membuktikan dihadapan puluhan petani dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Malang Raya, Bambang DH Suyono, dengan menimbang langsung hasil panen yang akhirnya diketahui mencapai 14,5 ton per ha.

Sejauh ini tahap uji coba sudah dilakukan di Banyuwangi, Malang, Blitar Jawa Timur dan Kerawang Jawa Barat. Hasilnya cukup menggembirakan yakni rata-rata potensi hasil mencapai 14 ton per ha. Sedangkan uji coba di Kerawang mampu menghasilkan 20 ton per ha.  “Banyak petani heran dan mempertanyakan benih padi dan orang yang mengembangkan varietas ini,” tegasnya. Selain memiliki produktivitas tinggi, benih padi IIRI 400 memiliki keunggulan berumur 100 hari. Agak tahan terhadap hama penyakit diantaranya penggerek batang, sundep dan wereng. Bulir padi di tiap tangkai juga lebih banyak ketimbang padi varietas lain. Satu hektare lahan hanya butuh 50 kilogram benih dengan hasil panen maksimal mencapai 20 ton.

Benih padi ini cocok ditanam di daerah dataran rendah dan sedang dengan ketinggian 0-500 meter di atas permukaan laut. Ia menceritakan IIRI 400 berasal dari persilangan benih padi lokal Genjah Rawe dan Cempo.

Sementara itu penelitian ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan bahwa Indonesia memiliki lahan pertanian sangat luas, tanah subur dan petani yang giat bekerja. Namun, pemerintah selalu mengaku kekurangan beras guna memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga terpaksa harus impor beras.

Berawal dari keprihatinan tersebut, kemudian ia termotivasi melakukan penelitian secara mandiri melalui organisasi independen di Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang. Lembaga independen itu bergerak dalam bidang penelitian pertanian, berkantor di Jalan Soekarno Hatta No 21 Kota Malang. Ketika penelitian memasuki tahap pengembangan, pihaknya mendapat kucuran dana sebesar Rp1 miliar dari FAO (Food and Agriculture Organization) yakni organisasi pangan dan pertanian dunia yang berkantor di Australia. Haryadi mengaku menyelesaikan sarjana pertanian S-1 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya, dan menyelesaikan studi S-2 dan S-3 di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Sejauh ini benih padi temuannya belum mendapat sertifikat pelepasan varietas dari pemerintah karena terkendala mahalnya biaya uji multi lokasi yang ditaksir mencapai Rp400 juta.

Itu sebabnya benih padi ini tidak bisa diperoleh secara bebas di pasaran. Petani hanya bisa mendapatkan benih IIRI 400 secara terbatas di lingkungan mereka sendiri.

II.8 Cara Memilih Benih dan Penyiapan Bibit Padi yang Baik

Penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi sangat disarankan, karena (1) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak, (2) benih yang baik akan menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, (3) ketika ditanam pindah, bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi.

Gabah padi dapat dikelompokkan dalam dua grup, yaitu gabah yang memiliki densitas tinggi (DT) dan gabah dengan densitas rendah (DR). Gabah dengan DT memiliki spesifik gravitasi sekurang-kurangnya 1,20. Sedangkan gabah dengan densitas rendah (DR), spesifik gravitasi gabah sebesar 1,05 atau bahkan kurang. Gabah dengan DR tinggi memiliki tingkat abnormalitas bibit rendah. Pada benih dengan gabah densitas tinggi, lebar dan berat daun serta jumlah penggunaan karbohidrat oleh bibit lebih tinggi dibandingkan dengan gabah yang densitasnya rendah. Di lapangan, bibit yang berasal dari gabah dengan densitas tinggi akan lebih baik dari bibit yang berasal dari gabah dengan densitas rendah. Benih dengan kualitas baik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil.

 

Cara memilih benih yang baik

Untuk memilih benih yang baik, benih direndam dalam larutan 20 g ZA/liter air atau larutan 20 g garam/ liter air. Dapat juga digunakan abu dengan menggunakan indikator telur, yang semula berada dalam dasar air setelah diberi abu telur mulai terangkat kepermukaan. Kemudian benih yang mengambang/mengapung dibuang.

Untuk daerah yang sering terserang hama penggerek batang, disarankan benih perlakukan dengan pestisida berbahan aktif fipronil. Perlakuan pestisida ini juga dapat membantu mengendalikan keong mas.

Persiapan lahan pembibitan

Buat bedengan pembibitan dengan lebar 1,0-1,2 m dengan panjang bervariasi menurut keadaan lahan dan dengan luas pembibitan 400 m2. Luas bedengan ini cukup untuk ditebari 20-25 kg benih. Diusahakan agar lokasi pembibitan dekat dengan sumber air dan memiliki drainase yang baik, agar tempat pembibitan bisa cepat diairi dan cepat pula dikeringkan bilamana perlu. Setelah benih dipisahkan dari benih yang setengah terisi, sebelum disebarkan di pembibitan benih dibilas agar tidak mengandung larutan pupuk atau garam untuk kemudian direndam selama 24 jam dan setelah itu ditiriskan selama 48 jam.

Gunakan bahan organik pada lahan pembibitan

Saat menyiapkan pembibitan, campurkan untuk setiap m2 bedengan sekitar 2 kg bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, atau campuran berbagai bahan antara lain kompos, pupuk kandang, serbuk kayu, abu, sekam padi. Penambahan bahan organik memudahkan pencabutan bibit padi sehingga kerusakan akar bisa dikurangi.

Lindungi bibit padi dari serangan hama

Tikus sangat menggemari benih padi yang baru disebar. Oleh karena itu berbagai usaha pengendalian hama tanaman perlu dilakukan di saat pembibitan. Buat pagar plastik mengelilingi tempat pembibitan untuk mencegah serangan tikus. Usaha ini akan lebih efektif apabila tempat pembibitan masing-masing petani berdekatan, atau bahkan bersama dalam satu lokasi pembibitan. Pasang bubu perangkap pada pagar plastik untuk mengendalikan tikus sejak dini.

II.9 Padi Inpari 13, Tahan Wereng Coklat

Anomali iklim dengan frekuensi hujan terus-menerus setiap hari yang terjadi beberapa bulan belakangan ini menyebabkan kelembaban udara tinggi sehingga berpotensi memicu pertumbuhan hama wereng batang coklat (WBC) pada pertanaman padi.

“Jika perkembangannya tidak bisa dikendalikan maka bisa memicu peningkatan populasi yang menyebabkan meledaknya intensitas serangan. Ini bisa menyebabkan puso“, jar Ir. Sudir, Staf Ahli Hama Penyakit dan Proteksi Tanaman, Balai Besar Padi, Sukamandi Subang. Sudir mengatakan populasi tinggi WBC dapat menyebabkan daun berubah kuning oranye sebelum menjadi coklat dan mati. Kondisi ini disebut hopperburn dan membunuh tanaman. Wereng batang coklat juga dapat menularkan penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput yang sampai saat ini tidak bisa diobati. Pada kepadatan 1 wereng coklat per batang atau kurang, masih ada peluang untuk bertindak guna menekan populasi.

Penggunaan benih padi varietas tahan serangan WBC merupakan salah satu cara utama untuk mencegah dan mengatasi puso akibat serangan hama ini. Saat ini BB-Padi telah mengeluarkan varietas padi Inpari 13 yang tahan terhadap serangan WBC biotipe 1, 2 dan 3. Keunggulan lainnya dari varietas ini adalah potensi hasil tanaman yang tinggi, sekitar 8 ton per hektar, umur tanaman genjah sekitar 103 hari, tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan agak tahan terhadap ras 133, 073 dan 173, cocok ditanam di ekosistem sawah tadah hujan dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl dan tekstur beras yang dihasilkan lebih pulen.

Selain menerapkan varietas unggul, pencegahan WBC dapat dilakukan dengan penerapan teknik budidaya yang baik seperti bersihkan gulma dari sawah dan areal sekitarnya, hindari penggunaan pestisida secara tidak tepat yang dapat menyebabkan terbunuhnya musuh alami, amati wereng di persemaian setiap hari atau setiap minggu setelah tanam pindah pada batang dan permukaan air, periksa kedua sisi persemaian.

  1. A.      Sumber Sinar Tani
  • Potensi dan rata-rata hasil

Inpari 13 merupakan varietas berumur sangat genjah dengan umur tanaman 103 hari. Inpari 13 ini memiliki rata-rata hasiI 6,59 t/ha (potensi hasiI 8,0 t/ha). Sedangkan Inpari 1, 2, 3, dan Inpari 6 Jete termasuk dalam klasifikasi varietas yang berumur genjah (105-124 hari).  Keempat varietas tersebut memiliki rata-rata hasiI di atas 5 t/ha. Inpari 1 dengan umur 108 hari memiliki rata-rata hasiI yang tinggi, sekitar  7,3 t/ha dengan potensi hasiI 10 t/ha.   Sedangkan Inpari 2 yang berumur 115 hari memiliki rata-rata hasiI 5,83 t/ha dengan potensi hasiI 7,30 t/ha. Inpari 3 yang dilepas pada tahun 2008 memiliki umur panen sekitar 110 hari, rata-rata hasiI panennya sebesar 6,05 t/ha atau setara dengan potensi hasiI 7,52 t/ha, sedangkan Inpari 6 jete bila ditanam di sawah dataran rendah sampai tinggi (±600 m dpl) memiliki rataratahasiI sebesar 6,82 t/ha (potensi hasiI 12 t/ha) dengan umur panen sekitar 118 hari.  IR66 merupakan varietas yang mempunyai ketahanan biotipe lengkap memiliki  rata-rata hasiI 4,5 t/ha atau setara dengan potensi hasiI 5,5 t/ha.

  • Mutu beras

Selera konsumen di Indonesia sangat beragam, untuk daerah yang banyak  menyukai tekstur nasi pera dengan kadar amiIosa tinggi seperti Sumatera Barat, dapat menanam varietas tahan wereng cokelat IR66. Varietas tersebut memiIiki tekstur nasi pera dan kadar amilosa tinggi (25%). Varietas IR66 memiliki bentuk beras ramping. Masyarakat Indonesia di Pulau Jawa sebagian besar menyukai nasi yang pulen seperti nasi varietas IR64 dan Ciherang. Saat ini banyak pilihan varietas padi pulen yang tahan wereng cokelat di antaranya adalah Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13. Keempat varietas tersebut mempunyai tekstur nasi pulen dan kadar  amiIosa sedang (20,1-25%).  Inpari 1 mempunyai kadar amilosa 22%, Inpari 2  18,55%, Inpari 3 20,57%, dan Inpari 13 22,40%. Varietas yang mempunyai kadar  amilosa lebih rendah adalah Inpari 6 Jete (kadar amiIosa 18%).  Bentuk beras yang banyak disukai konsumen adalah beras panjang dan ramping, seperti beras IR64 dan Ciherang. Lain lagi dengan Inpari 2 yang diIepas pada tahun 2008, varietas tersebut memiliki bentuk beras panjang dan gemuk

II.10 Pengaruh Dosis Pupuk Urea

Pulau Jawa mempunyai peranan penting dalam produksi beras nasional dikarenakan lahan lebih subur, jaringan irigasi lebih tersedia dan teknologi yang lebih maju jika dibanding dengan daerah yang lain. Pemberian dosis pupuk N yang tepat pada tanaman padi yang di pindah tanam pada umur yang tidak tepat, akan memberikan hasil produksi yang kurang optimal. Demikian pula sebaliknya, tanaman padi yang dipindahkan ke lahan pertanian pada umur yang tepat namun tidak diimbangi dengan pemberian dosis pupuk yang tepat akan memberikan hasil yang kurang optimal.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara dosis pupuk urea dan umur bibit padi terhadap pertumbuhan dan hasil, mengetahui pengaruh dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil serta mengetahui pengaruh umur bibit padi sawah terhadap pertumbuhan dan hasil. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Politeknik Negeri Jember, pada ketinggian 89 m dpl. Pelaksanaan penelitian dimulai bulan Juni 2009 sampai dengan Oktober 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK) yang terdiri dari dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor I adalah umur bibit (V) yang terdiri dari tiga taraf yaitu V1 (10 hari setelah disemai), V2 (20 hari setelah disemai), V3 (30 hari setelah semai) dan faktor II dosis pupuk (N) yang terdiri dari empat taraf yaitu N0 (Kontrol 0 kg/ha), N1 (50 kg/ha), N2 (100 kg/ha), N3 (150 kg/ha). Pengujian pengaruh perlakuan dengan menggunakan sidik ragam dan apabila terdapat perbedaan diantara perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan 5%.

Dosis pupuk urea yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi yaitu 100 kg/ha karena memiliki pertumbuhan yang paling baik dan hasil yang tinggi. Umur bibit padi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi yaitu 20 hst dan tidak terdapat interaksi antara dosis pupuk urea dengan umur bibit padi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi.

II.11 Mikrokontroler Pengukur Kadar Air Benih Padi

Petani bukan hanya dipusingkan dengan anomali cuaca, gangguan hama, dan harga gabah yang sering terjun bebas. Petani kerap pula menghadapi masalah kualitas benih padi yang kurang baik. Imbas dari penggunaan benih padi kualitas minim menyebabkan hasil panen kurang maksimal. Benih unggul atau varietas unggul dihasilkan dari padi yang memiliki kualitas genetik unggul pula. Selain itu, benih unggul bisa diperoleh dari teknologi rekayasa genetika. Namun demikian, bila benih unggul tidak mendapat perlakuan sesuai standar pertanian, maka hasil panen tanamannya pun tidak akan memuaskan.

Dalam ilmu pertanian, kesalahan dalam mempersiapkan benih akan berpengaruh pada kualitas pertumbuhan tanaman yang berujung pada kuntitas hasil padi. Persiapan dalam pembenihan biasanya untuk mengetahui kadar air, media penyemaian, pemupukan, dan perawatan selama dalam media penyemaian. Kadar air dalam padi yang akan disemai penting untuk diketahui, sebab kadar air yang terlalu tinggi membuat padi cepat busuk selama penyimpanan.

Padahal, benih padi akan mengalami perkecambahan sempurna dengan kadar air yang pas sebelum disemai. Sebagai contoh, untuk dapat dijadikan benih, persentase kadar air harus berada antara 14 persen dan 18 persen, sedangkan kadar air penyimpanan gabah agar awet dan siap giling, kadarnya harus lebih rendah antara 10 persen dan 12 persen saja. Kadar air yang rendah menghindari tumbuhnya jamur dan bakteri pada gabah. Sejauh ini yang menjadi masalah petani adalah mengukur kandungan air selama disimpan.

Jika ada alat, harganya masih terlalu mahal dan kurang terjangkau petani. “Alat Pengukur benih padi di pasaran masih mahal dan akurasinya kurang,” ujar Arum Set ya, mahasiswa teknik elekro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang mengembangkan alat pengukur kadar air padi. Harga pengukur kandungan air benih padi di lapangan sekitar 3.600.000 rupiah.

Bersama dengan Samsul Feri Apriyadi dan Rahmat Hidayat, Arum tergugah untuk mengembangkan alat yang dapat membantu petani menyimpan gabah benih dan gabah siap giling tanpa takut tumbuh jamur dan bekteri pembusuk. Mereka kemudian mengembangkan alat pengukur kadar air dengan basis mikrokontroler dan sensor suhu. Mikrokontroler merupakan komputer mini berupa cip yang memiliki tugas khusus.

Di dalamnya terdapat prosesor, random access memory (RAM), memori program, dan perlengkapan output dan input yang terhubung dengan sensor-sensor serta layar penampil data. Sensor suhu adalah alat yang bisa mengubah besaran panas menjadi besaran lintrik. Elektronelektron pada materi yang memiliki panas akan bergetar dengan naiknya suhu. Naiknya suhu akan menyebabkan nilai hambatan bertambah dan inilah yang menjadi pangkal sensor suhu. Alat hasil inovasi mereka menggunakan mikrokontroler AVR ATmega8. Mikrokontroler ini memiliki bermacam fungsi aplikasi, salah satunya ialah untuk memproses hasil kerja sensor suhu. Jika digabungkan dengan sensor ultrasonik alat ini dapat dipakai untuk mengukur ketinggian. Prinsip Kerja Untuk mengukur suhu, mikrokontroler ini dihubungan dengan sensor suhu. Prinsip kerja sensor suhu mengonversi besaran panas gabah menjadi besaran tegangan. Alat hasil penelitian ketiga mahasiswa semester lima ini menggunakan sensor suhu jenis IC LM35.

Sensor ini dinilai memiliki presisi tinggi dalam mengenali panas. “Suhu 100 derajat celsius akan dikonversi menjadi tegangan sebesar 1 volt,” ujar Arum. Untuk menampilkan data hasil dari sensor suhu digunakan liquid crystal display (LCD) dengan tampilan 16 x 2 baris. Modul ini pas dengan tuntutan fungsi yang hanya butuh informasi berupa angka sehingga tidak perlu layar LCD besar dan berwarna. Selain itu, pilihan ini akan menjadikan alat menjadi murah ketika diproduksi dalam skala masal.

Proses pembuatannya pertama disiapkan perangkat keras berupa rangkaian catu daya (power supply), sistem minimum, ISP, sensor, dan layar LCD. Setelah perangkat keras tersedia, disiapkan perangkat lunak Code Vision AVR dan dibuat dengan menggunakan bahasa pem programan C. Program yang te lah terkodekan lalu dikompilasi ke dalam file jenis dan diisikan dalam ATmega8. Setelah rangkaian perangkat lunak dan keras terintegrasi, kata Arum, langkah yang dilakukan adalah melakukan kalibrasi.

Kalibrasi dengan memakai alat buatan International Rice Research Institute (IRRI) dilakukan untuk mendapatkan kesamaan kadar air padi dengan alat lain, sedangkan pada tahap aplikasi pengujian pada gabah digunakan tiga jenis gabah berbeda. Gabah ini telah diukur dengan alat kalibrasi buatan IRRI yang sekaligus berfungsi sebagai pembanding. Langkah pengujian yang dilakukan oleh Arum dan kawan-kawannya adalah dengan mengukur kondisi beberapa jenis gabah dengan tingkat kekeringan berbeda.

Tingkat kekeringan gabah yang dipakai berupa hasil pengujian dengan alat kalibrasi buatan IRRI. Ketiga gabah tersebut masing-masing memiliki kadar air pertama 10,8 persen, kedua 11,4 persen, dan ketiga 34 persen. Hasil uji alat, ternyata tingkat kadar air tidak jauh berbeda dengan hasil alat dari IRRI sebagai tolok ukur. Gabah pertama memiliki kandungan air 10,15 persen, gabah kedua 11,21 persen, dan ketiga 33,92 persen.

Dari hasil analisis yang ditampilkan layar terdapat perbedaan penyimpangan antara alat hasil ino vasi dengan buatan IRRI. Gabah pertama terdapat penyimpangan sebesar 0,15 persen, kedua 0,19 persen, dan ketiga 0,8 persen. Jika dihitung rata-rata kesalahannya 0,38 persen. Menurut Arum, angka ini tidak terlalu signifi kan. “Alat pengukur kadar air benih padi ini memiliki tingkat toleransi kesalahan yang rendah,” kata Arum.

Oleh karenanya, Arum yakin alat hasil buatannya layak untuk diaplikasikan sebagai pengkur benih padi. Namun, agar alat semakin sempurna, dia masih akan melakukan penelitian lanjutan. Mereka akan mencari sensor yang lebih sensitif terhadap panas. Karena alat masih terpisah dan belum terlihat kompak, diperlukan penyempurnaan dalam segi bentuk sehingga mudah dibawa dan disimpan.

II.12 Harga Bibit Padi

Di Aceh Besar – Hujan yang melanda beberapa  daerah Aceh mengakibatkan lahan sawah tergenang sehingga mempengaruhi masa panen. Harga beras pun menjadi melonjak dan bibit padi begitu langka didapat. Kalaupun bibit ada harganya dipastikan mahal. Hal ini dialami oleh petani padi di daerah Aceh Besar dimana untuk mendapatkan bibit unggul biasanya harga padi 3500/ kg, kini menjadi 5000/ kg setara dengan harga beras.

Susah mendapatkan bibit mengakibatkan petani lambat menaburkan benih yang juga berdampak pada terlambatnya panen. Penaburan bibit harus dilakukan berulang ulangnya dan seharusnya sudah dilakukan pada bulan Agustus 2010 lalu. Namun penaburan terpaksa dilakukan kembali pada bulan September 2010. Hal ini sangat memberatkan sebagian petani Aceh Besar. Keterlambatan panen tersebut meliputi daerah Seulimuem, Indrapuri, Sibreh dan bagian Lambaro Kafe.

Petani asal Sibreh Dewi (23), Jumat (7/1) mengungkapkan kepada The Globe Journal,” Tahun ini kami akan telat panen ,langkanya bibit dan juga harga padi semakin naik, kalaupun ada sulit kami mendapatkan bibit padi yang baik. Yang kurang-kurang dicukupkan aja dari pada gak tanam padi.”

Namun beda halnya dengan daerah Lhoknga dan sekitarnya yang juga termasuk daerah Aceh Besar, padi di daerah tersebut sebagian besar sudah menguning, bahkan daerah Lampuuk besok (Sabtu, 8/1) sudah ada masyarakat yang mulai turun ke sawah untuk memanen padi. Sementara daerah Lamlom kira kira lebih kurang 20 hari lagi padi juga sudah bisa di panen.

II.13 Benih Padi Tahan Perubahan Iklim (IRRI)

“Pengembangan varietas baru tersebut ditekankan untuk memperoleh jenis-jenis padi yang mampu memanfaatkan ketersediaan air yang terbatas, berdaya saing tinggi terhadap gulma dan toleran kekeringan agar dapat dikembangkan di lahan tadah hujan,” katanya.

Selain itu, tambahnya, usai penandatanganan kerjasama penelitian antara Indonesia dengan IRRI, juga untuk memperoleh jenis padi yang lebih efisien menyerap pupuk dan menghasilkan beras bernilai gizi tinggi terutama kandungan mineral dan vitamin.

Salah satu dari kerjasama sama tersebut, lanjut Mentan, saat ini sedang merintis varietas yang memiliki kandungan vitamin A yang tinggi yakni varietas unggul padi Golden Rice.  “Mudah-mudahan dalam dua tahun ke depan, muncul varietas Golden Rice sehingga bisa mendukung ketahanan pangan dan menambah cadangan pangan di negara kita”, katanya.

II.14 Penakar Benih Padi Bermutu

Kegiatan agribisnis meliputi tiga sub system, yaitu subsistem pra produksi, produksi, dan pemasaran. Dalam subsistem pra produksi, ketersediaan benih/ bibit merupakan prioritas yang perlu diperhatikan, karena keberhasilan agribisnis akan bergantung pada penyediaan sarana produksi, di antaranya benih bermutu. Perbanyakan benih tanaman padi umumnya diawali dari penyediaan benih penjenis (BS) oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, yang merupakan sumber untuk perbanyakan jenis dasar (BD), benih pokok (BP), dan benih sebar (BR).

  • Benih Bermutu

Benih bermutu adalah benih yang baik dan bermutu tinggi yang menjamin pertanaman bagus dan hasil panen tinggi. Saat ini, benih bermutu dicerminkan oleh keseragaman biji, daya tumbuh, dan tingkat kemurnian yang tinggi.

  • Syarat Benih Bermutu,

Benih bermutu harus memiliki enam kriteria:

  1. Murni dan diketahui nama varietasnya.
  2. Daya tumbuh tinggi (minimal 80%) dan vigornya baik.
  3. Biji sehat dan dipanen dari tanaman tua.
  4. Dipanen dari tanaman sehat.
  5. Tidak terinfeksi oleh hama dan penyakit.
  6. Bersih, tidak tercampur varietas lain, biji rerumputan, dan kotoran lainnya.
  • Faktor-faktor Penangkaran Benih Bermutu
    • Benih sumber

Benih yang digunakan minimal harus satu kelas di atasnya. Contohnya, untuk produksi benih kelas FS benih sumbernya harus kelas BS, sedangkan untuk produksi benih kelas SS benih sumbernya harus kelas FS atau BS.

Pemilihan lokasi dan jenis tanah

a. Kondisi lokasi

Lahan subur dengan air irigasi dan saluran drainase yang baik.

Bersih dari sisa-sisa tanaman atau varietas lain dan musim tanam.

Jarak minimal antar varietas yang berbeda 3 m.

Isolasi waktu tanam antar dua varietas yang sama adalah sekitar 4 minggu.

Persiapan lahan

Lahan terbaik untuk produksi benih sumber adalah lahan bekas varietas yang sama dengan musim sebelumnya atau lahan bera. Bila bekas varietas lain, maka perlu dilakukan:

  1. Pembajakan I genangi air 2-3 hari, keringkan 7-10 hari.Saat fase
  2. pengeringan (5-7 hari setelah drainase), aplikasikan herbisida pasca tumbuh.
  3. Pembajakan II genangi 2-3 hari, keringkan lalu biarkan 7-10 hari.
  4. Pengolahan tanah III (garu) ratakan dan bersihkan.
  5. Aplikasi herbisida pratumbuh dilakukan 5 hari sebelum tanam.

Persemaian
Luas lahan untuk persemaian sekitar 4% dari luas areal produksi. Buat bedeng persemaian dengan tinggi 5-10 cm, lebar sekitar 110 cm, panjang sesuai kebutuhan. Beri pupuk urea, SP36 dan KCl masingmasing 15g/m2. Tabur benih secara merata pada persemaian (50g/m2).

Cara memilih benih yang baik

v  Benih direndam dalam larutan 3% garam dapur.

v  Benih yang mengapung dibuang.

v  Banyaknya air dua kali volume benih yang direndam.

v  Untuk lokasi yang endemik hama penggerek batang, perlakuan benih dengan pestisida berbahan aktif fipronil. Pestisida ini diberikan pada saat benih ditiriskan dengan takaran 12,5 cc/kg benih padi

Tanam

v  Bibit dipindahkan ke lapangan saat berumur 15 HSS (hari setelah sebar)

v  Penanaman dilakukan dengan 1 bibit/lubang tanam.

v  Jarak tanam 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm tergantung varietas.

Pemeliharaan tanaman

A. Pengaturan air irigasi Secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

v  Setelah tanam, ketinggian air sekitar 3 cm dipertahankan sampai 3 hari.

v  Lalu, air dibuang sampai tercapai kondisi macak-macak, dan pertahankan sampai 10 hari.

v  Menjelang fase pembentukan anakan sampai inisiasi pembungaan, lahan diairi setinggi 3 cm.

v  Pada fase primordial sampai bunting, ketinggian air dipertahankan sekitar 5 cm untuk menekan anakan baru.

v  Pada fase bunting sampai fase berbunga, lahan secara periodik diairi dan dikeringkan secara bergantian. Petakan diairi setinggi 5 cm kemudian dibiarkan sampai kondisi sawah kering selama 2 hari dan kemudian diairi
kembali setinggi 5 cm dan seterusnya.

v  Setelah selesai fase berbunga sampai masapengisian biji, ketinggian air dipertahankan sampai setinggi 3 cm.

v  Pada fase pemasakan biji lakukan pengairan intermitten, kemudian 14 hari menjelang panen lahan dikeringkan untuk memudahkan saat panen.

  1. B.            Pemupukan

Pemupukan sebaiknya dilakukan dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pupuk N diberikan berdasarkan warna daun, sedangkan pupuk P dan K berdasarkan hasil
analisis tanah atau PUTS. Bila hal tersebut di atas belum memungkinkan
untuk dijalankan, maka:

v  Pada pengolahan tanah I dilakukan aplikasi bahan organik (pupuk kandang atau kompos 2-4 ton/ha).

v  Pada saat tanam atau maksimal 1 MST (minggu setelah tanam), aplikasikan 80 kg urea/ha, 100 kg SP36/ha dan 100 kg KCl/ha.

v  Pada 4 MST dilakukan pemupukan susulan 90 kg urea/ha.

v  Pada 7 MST, berikan 80 kg urea/ha dan 50 kg KCl/ha.

  1. C.           Pengendalian hama/penyakit

v  Hama dan penyakit pada tanaman dapat menurunkan hasil dan mutu benih.

v  Pengendalian hama dan penyakit sebaiknya dilakukan dengan mengacu pada konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu).

Roguing
Roguingin adalah membuang tipe simpang, campuran varietas lain, dan membuang tanaman lain. Tanaman yang terinfeksi oleh stemborer atau penyakit tanaman lainnya seperti tungro juga harus dibuang.

Panen
Gunakan peralatan panen ( thresher) dan pengeringan (lantai jemur, mesin pengering) yang bersih agar tidak menjadi sumber kontaminasi. Bila memakai karung sebaiknya menggunakan karung yang masih baru.

v  Pastikan bahwa areal yang akan dipanen tidak ada sisa malai yang tertinggal di pertanaman yang dibuang saat rouging, terutama rouging terakhir (satu minggu sebelum panen).

v  Panen sebaiknya dilakukan per varietas. Calon benih kemudian dimasukkan ke karung dan diberi label (nama varietas, tanggal panen, dan lokasi produksi).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

III.1 Simpulan

Produksi padi yang baik dan maksimal dimulai dari pemilihan dan perlakuan benih padi yang baik. Sesuai dengan anjuran pemerintah dan juga anjuran teknologi budidaya yang baik, benih padi yang digunakan sangat disarankan berasal dari benih padi bersertifikat.

Padi tergolong tanaman yang menyerbuk sendiri dan kemungkinan untuk menyerbuk silang sangat kecil (<0.4 %). Namun demikian, lokasi perbenihan tetap harus diisolasi dari pertanaman padi lain minimal 3 meter, atau berbunga tidak bersamaan dengan selisih waktu sekitar 30 hari dari padi konsumsi.

Cara pemilihan benih yang baik sebaiknya menggunakan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi sangat disarankan, karena (1) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak, (2) benih yang baik akan menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, (3) ketika ditanam pindah, bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi.

Melindungi padi dari serangan hama. Tikus sangat menggemari benih padi yang baru disebar. Oleh karena itu berbagai usaha pengendalian hama tanaman perlu dilakukan di saat pembibitan. Buat pagar plastik mengelilingi tempat pembibitan untuk mencegah serangan tikus. Usaha ini akan lebih efektif apabila tempat pembibitan masing-masing petani berdekatan, atau bahkan bersama dalam satu lokasi pembibitan. Pasang bubu perangkap pada pagar plastik untuk mengendalikan tikus sejak dini.

 

III.2 Saran

Dengan makalah yang telah kami buat ini semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan yang telah kami buat ini karena kami masih dalam proses pembelajaran. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

-            http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/proses-benih-padi-bersertifikat-dan-penggunaannya-para-petani-1265599338.htm

-            http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=142:teknik-produksi-benih-padi&catid=48:panduanpetunjuk-teknis-leaflet&Itemid=53

-            http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/teknologi-produksi-benih-padi-varietas-unggul-1302580433.htm

-            http://www.gerbangpertanian.com/2011/03/membuat-benih-padi-unggul.html

-            http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/02/08/10336/Alumni-Unibraw-Malang-Temukan-Benih-Padi-IIRI-400-/

-            http://benihpadiorganik.blogspot.com/

-            http://www.gerbangpertanian.com/2011/01/2-kelebihan-dan-10-kelemahan padi.html

-            http://katalog.pustakadeptan.go.id/~jambi/getfile2.php?src=2008/pros53r.pdf&format=application/pdf

-            http://sukatani-banguntani.blogspot.com/2009/12/perlakuan-benih-padi.html

-            http://bppcijati.blogspot.com/2011/01/cara-memilih-benih-dan-penyiapan-bibit.html

-            http://wongtaniku.wordpress.com/2011/02/21/padi-inpari-13-tahan-wereng-coklat/

-            http://purcahyopengetahuanpupuk.wordpress.com/2010/04/16/perlakuan-benih-padi/

-            http://www.dempelonline.com/2010/02/penangkar-benih-padi-bermutu/

-            http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=73622

-            http://hileud.com/indonesia-irri-kembangkan-benih-padi-tahan-perubahan-iklim.html

-            http://www.theglobejournal.com/kategori/varia/harga-bibit-padi-di-aceh-besar-melambung.php

-            http://digilib.unej.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=gdlhub-gdl-shintakusu-3470

 

 

 

 

 

 

 

 

makalah Pengelolaan Air April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

MAKALAH PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Pengolahan Air

Oleh

Nursyam Zulkifli                                                1209706026

           Jurusan Agroteknologi

 

 

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala. Selawat dan salam kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahualaihiwasallam, karena atas hidayah-Nyalah makalah ini diselesaikan.

Makalah ini penulis sampaikan kepada pembina mata kuliah Pengolahan Air sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar Pengolahan Air.

Penulis memohon kepada Bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca barang kali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi bahasanya maupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan keritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………….. .i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………….. .ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………….. ..1

1.1.Latar belakang………………………………………………………………………………………. .1

BAB II   PEMBAHASAN……………………………………………………………………………….. ..2

  1. Definisi DAS…………………………………………………………………………………….2
  2. Peranan Wetlands dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai…………5
  3. Hutan dan hubungannya dengan pengelolaan DAS……………………………………………..7

BAB III KESIMPULAN………………………………………………………………………………….. .8

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………… .9

 

BAB I

Pendahuluan

  1. A.     Latar Belakang

Banyaknya lahan-lahan yang berfungsi sebagai areal resapan terutama di kota-kota yang padat penduduk, telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan, yakni banjir. Hal ini terjadi karena kapasitas air yang datang pada saat hujan tidak seimbang dengan kemampuan tanah didalam menyerap atau menampung air, yang disebabkan berkurangnya areal-areal resapan.

Penyebab lain adalah keterbukaan areal baik untuk diambil kayunya, maupun untuk areal pertanian, pertambangan dan lain-lain. Areal yang terbuka mempercepat laju run off (aliran permukaan). Dalam suatu DAS Daerah Aliran Sungai, hidrologi (tata air) yang rusak dapat dilihat dari kejernihan air sungai wilayah DAS tersebut, jika air berwarna keruh, pada saat hujan, maka dapat dipastikan secara fakta lapangan kondisi DAS wilayah tersebut telah rusak, artinya banyak areal yang terbuka. Fakta yang terjadi adalah banjir dan kekeringan yang ekstrim karena tidak adanya keseimbangan alam, sehingga keberadaan sumberdaya hutan yang ada pada kawasan DAS perlu dipertahankan (Sahid, 2007).

Menurut data dari Departemen Kehutanan dalam Buku Indikasi Kawasan Hutan dan Lahan yang perlu dilakukan Rehabilitasi tahun 2003, luas areal (di dalam dan di luar kawasan) yang perlu direhabilitasi adalah 96,6 juta ha. Bisa dipastikan pada tahun 2007 luas wilayah tersebut bertambah, karena tidak seimbangnya antara laju deforestasi dengan luasan rehabilitasi.

 

 

BAB II

Pembahasan

  1. 1.                  Definisi DAS

 

Dari makna kata wetlands (inggris) adalah lahan basah. Wetlands merupakan areal transisi antara lahan kering dan wilayah perairan seperti danau, rawa, paya, sungai dan pantai. Tidak semua lahan basah yang selalu berair atau tergenang sepanjang tahun (CTI, 2007). Menurut Departemen Kehutanan 2003, Daerah Aliran Sungai adalah wilayah tangkapan air mulai dari hulu sampai dengan hilir yang merupakan satu kesatuan tata air sebagai penyangga kehidupan yang utu h.

The Conservation Tecnology Information, memberikan definisi Daerah Aliran Sungai adalah suatu areal dari lahan, yang saluran­salurannya menuju ke danau atau sungai.

Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu daerah yang dibatasi (dikelilingi) oleh garis ketinggian dimana setiap air yang jatuh di permukaan tanah akan dialirkan melalui satu outlet, (Andi 2002).

DAS merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat, yang saling berkaitan dalam suatu hubungan saling tindak (interaction) atau saling tukar (interchange). DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak­sistemnya (subsystem), atau anasirnya (component). Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti, bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu.

Sumberdaya darat yang menjadi anasir DAS ialah iklim, atau lebih tepat disebut iklim hayati (bioclimate), timbulan, geologi, atau sumberdaya mineral, tanah, air (air permukaan dan air tanah), tetumbuhan (flora), satwa (fauna), manusia, dan berbagi sumberdaya budaya, seperti sawah, ladang, kebun,hutan budaya dsb. Kehadiran tanah dan wataknya ditimbulkan oleh faktor-faktor iklim, tetumbuhan, timbulan dan geologi (untuk sementara waktu tidak diperhatikan dalam pembicaraan tentang DAS, karena kedudukannya yang universal). Timbulan dapat berdaya atas iklim hayati setempat, berupa penggantian (change) agihan cacak (vertical distribution) suhu udara, agihan tempat (spatial distribution) curah hujan, jumlah lengas mempen (effective moisture) dan lama waktu penerimaan sinar matahari. Sebaliknya, iklim dan geologi menentukan corak timbulan destruksional. Tanah dan timbulan menguasai keadaan hidrologi permukaan, keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya.

Dalam pengantar telah disebutkan, bahwa DAS mempunyai batas alamiah yang jelas. Lengkaplah sudah ciri-ciri penting bagi penunjukan DAS sebagai suatu sistem. Iklim dapat dibagi lebih jauh menjadi iklim mikro, meso dan mikro atau iklim tanah. Tanah dapat ditinjau dari pertanian, teknik, bahan baku bangunan (bata, genting) atau kerajinan (barang-barang tembikar). Air terpilahkan menjadi air permukaan (sungai, danau), lengas tanah (biasanya tercakup dalam pembicaraan mengenai sumberdaya tanah) dan air tanah. Dalam penggunannya, air dapat ditinjau dari segi pertanian, rumah tangga, industri, sumber energi kinetik yang dapat dialihrupakan menjadi energi mekanik atau listrik, dan prasarana perhubungan serta pengangkutan. Sumberdaya hayati dapat dimanfaatkan untuk sumber nutfah dalam usaha menciptakan bibit tanaman atau ternak unggul, bahan baku obat­obatan, cagar alam, sumber bahan bakar, bahan bangunan atau bahan industriatau bahan kerajinan, atau sebagai pengasri atau pelindung lingkungan hidup. Manusia dapat ditilik dari segi pengadaan tenaga kerja, pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, kerajinan dan kesenian, kewiraswastaan dan sumber peradapan (agama, hukum, adat istiadat, pandangan hidup).

Dari uraian diatas jelaslah, bahwa DAS merupakan suatu sistem sumberdaya darat yang bergatra ganda dan dapat dimanfaatkan ke berbagai jurusan. Tiap-tiap sumberdaya yang menjadi anasir DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda, tergantung pada watak, kelakuan dan kegunaan masing-masing. Sebagai watak dan kelakuan suatu anasir DAS terbawa dari asal usulnya dan sebagian yang lain diperolehnya dari proses saling tindak (interaction) dengan anasir yang lain dari DAS yang bersangkutan. Misalnya, jumlah cadangan hara tumbuhan dalam tanah, yang menentukan kesuburan potensial tanah untuk pertanian, berasal dari bahan induk tanah (anasir geologi).

Pengelolaan DAS tidak lain daripada kegiatan penata-gunaan lahan dalam ruang lingkup DAS. Maka dari itu pengelolaan DAS selalu akan melibatkan manusia dengan manusia dengan kecakapannya mengalihkan teknologi menjadi teknologi tepat-guna dan ketrampilannya menjabarkan teknologi menjadi sejumlah peranti teknik (technical devides) yang mempan. Manusia itu juga menjadi sumber kendala yang acapkali menjadi penghambat yang lebih berat daripada kendala fisik. Kendala yang bersumber pada manusia a.l. keprimitifan, kepicikan motivasi, inersia kejiwaan, kekakuan atau keangkuhan birokrasi, otoritarianisma, dan kemiskinan. Keprimitifan bersambungan dengan kebodohan atau ketidak-tahuan, dan ini merupakan akibat dari taraf pendidikan yang rendah atau nihil sama sekali. Dalam hal para penggarap lahan, kemiskinan dan kelemahan membentuk modal usaha bersumber pada luas lahan garapan yang terlalu sempit. Istilah “sempit” bermakna nisbi, yaitu mempunyai daya dukung (carrying capacity) sebagai habitat yang berharkat bawah-tepian (submarginal). Makin rendah produktivitas lahannya, luas tepian (marginal size) makin besar.

Tatacara (procedure) yang sering dipakai dalam pengelolaan fisik DAS termasuk dalam dua macam metoda, yaitu metoda biologi dan metoda mekanik. Keberhasilan pengelolaan fisik kerapkali ditentukan oleh kesudahan pengelolaan tatalaksana, yang menyangkut organisasi desa, kerjasama penduduk, proses komunikasi, lembaga kepemimpinan setempat, tataguna lahan dsb. kesudahan yang memuaskan biasanya terjadi atas pemaduan yang serasi antara pengelolaan fisik dan tatalaksana. Salah satu tatacara dalam metoda biologi ialah penghijauan. Pembuatan sengketan, undak (terrace), jalan air (water way) beserta bendung kendali (check daun), dan memperbaiki laju infiltrasi dan perkolasi dengan pengolahan tanah termasuk usaha-usaha mekanik. Ada usaha penting, akan tetapi pada waktu ini masih dinilai terlalu mahal untuk diterapkan secara luas, yang termasuk metoda kimiawi Dalam usaha ini tanah dicampur dengan suatu bahan kimia buatan dengan maksud memantapkan agregasi zarah tanah, melonggarkan struktur tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan lengas. Bahan kimia buatan ini diberi sebutan umum “artificial soil conditioners”. Bahan-bahan ini mempunyai struktur polimer tinggi (rantai kondensasi molekul panjang). Dalam percobaan-percobaan berskala kecil, bahan-bahan ini memperlihatkan kemampuan yang baik sekali untuk melawan erosi tanah dan meningkatkan ketersediaan lengas tanah bagi tanaman.

 

  1. 2.            Peranan Wetlands dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Peran yang dimainkan oleh wetlandss dalam pengelolaan DAS sangat penting yakni, melindungi kualitas air dan kuantitasnya dalam jumlah yang cukup. Perannya dilihat dari kuantitas yang cukup dan seimbang yaitu, wetlands dapat diibaratkan sebagai spoon (busa) raksasa, yakni pada musim hujan, dia akan menyerap air dan jika terjadi kelebihan maka air tersebut akan dialirkan menjadi air tanah (Ground water). Pada musim kering air dari wetlands akan dikeluarkan untuk dimanfaatkan.

Sementara itu dari segi kualitas air, peran dari wetlands adalah menahan atau menyaring sampah-sampah baik yang mengadung racun untuk dan pada saat air tersebut keluar maka akan menjadi air murni (Aquatic). Dari segi sedimentasi yang dibawa oleh run off, maka wetlang juga menahan unsure-unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman, juga menahan endapan agar tidak terbawa oleh arus sungai yang akan menyebabkan pendangkalan. Perlunya memperhatikan wetlands didalam pengelolaan DAS, karena tanpa wetlands pengelolaan DAS akan semakin kompleks yakni, akan banyak peningkatan genangan air, yang pada akhirnya menyebabkan banjir, jika dalam jumlahnya besar, penurunan kualitas air, dan kerusakan habitat baik tumbuhan dan hewan.

Menurut CTI 2007, ada tujuh manfaat yang diperankan oleh Wetlands, dalam rangka pengelolaan DAS yaitu ;

  • Memperbaiki kualitas air, dengan cara menahan unsur hara, sampah-sampah organik dan kiriman endapan yang terjadi akibat run off.
  • Mengurangi pengaruh buruk banjir, yang langsung ke muara dengan menahan air tersebut dan melepaskannya pada musim kering.
  • Melindungi daerah-daerah pinggiran atau pesisir dari kemungkinan eros i.
  • Memulihkan kembali persediaan air tanah yang berpotensi kekurangan air pada musim kering
  • Penyedia makanan dan produk lain, misalnya ikan untuk manusia baik untuk konsumen sendiri atau diperdagangkan.
  • Cagar alam, termasuk untuk jenis jarang dan terancam punah, tempat mencari makan, berkembang biak, dan tempat istirahat.
  • Menambah peluang untuk rekreasi, melihat burung, berburu burung laut, potografi dan pendidikan luar.

 

Dari manfaat yang dipaparkan diatas jelas terlihat bahwa wetlands sangat penting untuk menjaga stabilitas suatu DAS. dengan menjaga wetland, secara tidak langsung akan menjamin fungsi DAS dan aktifitas biologis lainnya. wetlands berfungsi sebagai buffer (penyangga) dalam suatu DAS. Ekosistim Wetland yang beragam, mampu menyangga semua aktifitas manusia dan alam. Ketidakseimbangan alam yang berdampak kepada bencana alam, sebenarnya mampu direstore (dipulihkan kembali), dengan biaya yang relatif murah antara lain adalah dengan menjaga kelestarian fungsi dari Wetlands, namun jika suatu Wetlands tidak lagi dapat menjalankan fungsinya atau telah tercemar, maka bisa dipastikan DAS menaunginya akan tercemar pula. Hal yang demikian itu dapat dikatakan Wetlands merupakan kunci bagi terjaminnya pengelolaan suatu DAS.

 

Pengelolaan DAS bertujuan untuk:

  • Mengkonservasi tanah pada lahan pertanian.
  • Memanen/menyimpan kelebihan air pada musim hujan dan memanfaatkannya pada musim kemarau.
  • Memacu usahatani berkelanjutan dan menstabilkan hasil panen melalui perbaikan pengelolaan sistem pertanian.
  • Memperbaiki keseimbangan ekologi (hubungan tata air hulu dengan hilir, kualitas air, kualitas dan kemampuan lahan, dan keanekaragaman hayati).

 

  1. 3.                          Hutan dan hubungannya dengan pengelolaan DAS

Hutan mempunyai peranan penting dalam mengkonservasi DAS. Dengan semakin berkurangnya hutan, maka timbul berbagai masalah dalam pengelolaan DAS, karena hutan mempunyai sifat:

  • Meredam tingginya debit sungai pada musim hujan, dan berpotensi memelihara kestabilan aliran air sungai pada musim kemarau
  • Mempunyai serasah yang tebal sehingga memudahkan air meresap ke dalam tanah dan mengalirkannya secara perlahan ke sungai. Selain itu, lapisan serasahnya juga melindungi permukaan tanah dari gerusan aliran permukaan sehingga erosi pada tanah hutan sangat rendah.

 Mempunyai banyak pori makro dan pipa di dalam tanah yang memungkinkan pergerakan air secara cepat ke dalam tanah.

Karena sifat-sifat hutan yang mengutungkan tersebut, maka hutan perlu dipertahankan. Apabila hutan sudah terlanjur dibuka (terutama pada bagian DAS yang peka erosi), penggunaan lahannya perlu diusahakan supaya mendekati bentuk hutan. Sistem agroforestri pada dasarnya ditujukan untuk mengembalikan berbagai fungsi hutan.

 

BAB III

KESIMPULAN

DAS merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat, yang saling berkaitan dalam suatu hubungan saling tindak (interaction) atau saling tukar (interchange). Pengelolaan DAS tidak lain daripada kegiatan penata-gunaan lahan dalam ruang lingkup DAS. Maka dari itu pengelolaan DAS selalu akan melibatkan manusia dengan manusia dengan kecakapannya mengalihkan teknologi menjadi teknologi tepat-guna dan ketrampilannya menjabarkan teknologi menjadi sejumlah peranti teknik (technical devides) yang mempan.

Tatacara (procedure) yang sering dipakai dalam pengelolaan fisik DAS termasuk dalam dua macam metoda, yaitu metoda biologi dan metoda mekanik.

Peran yang dimainkan oleh wetlandss dalam pengelolaan DAS sangat penting yakni, melindungi kualitas air dan kuantitasnya dalam jumlah yang cukup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Notohadiprawiro. T. Jurnal Pengelolaan Daerrah Aliran Sungai Dan Program Penghijauan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM
  • Razak. A. Makalah Peranan Lahan Basah (WESTLAND) Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Program Pasca Sarjana / S2 – Program Studi Manjemen Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

MAKALAH PENGENDALIAN HAMA WERENG BATANG COKLAT MENGGUNAKAN AGEN HAYATI

Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Pengelolaan Hama Terpadu

Oleh

Nursyam Zulkifli                                                1209706026

           Jurusan Agroteknologi

 

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala. Selawat dan salam kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahualaihiwasallam, karena atas hidayah-Nyalah makalah ini diselesaikan.

Makalah ini penulis sampaikan kepada pembina mata kuliah Pengelolaan Hama Terpadu sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar Pengelolaan Hama Terpadu.

Penulis memohon kepada Bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca barang kali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi bahasanya maupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan keritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………….. .i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………….. .ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………….. .1

1.1.Latar belakang………………………………………………………………………………………. .1

BAB II   PEMBAHASAN……………………………………………………………………………….. ..2

  1. Bioekologi wereng coklat…………………………………………………………………………..2
    1. Pengendalian Hama Wereng Coklat……………………………………………………………3

BAB III KESIMPULAN………………………………………………………………………………….. 10

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………… 11

BAB I

Pendahuluan

  1. 1.      Latar Belakang

Wereng batang coklat memiliki berbagai nama berdasarkan sifatnya, yaitu si kecil yang dahsyat, hama tua, hama laten, dan penyebar penyakit virus. Hama padi ini sejak 1930. Wereng coklat di Indonesia merupakan hama laten yang merusak tanaman padi sejak 1930 sampai sekarang.  Pada dasa warsa1960-1970 luas serangan wereng cokelat diketahui sekitar 52.000 ha.  Kemudian pada 1970-1980 luas serangan wereng cokelat meningkat tajam mencapai 2.510.680 ha.  Periode ini merupakan puncak serangan wereng cokelat di Indonesia.  Kemudian pada dasa warsa 1980-1990 luas serangan wereng cokelat menurun kembali hanya sekitar 200.000 ha.  Begitu pula pada tahun 1990-2000 luas serangan wereng cokelat pada dasa warsa sebelumnya.

Serangan wereng cokelat yang berat, disebut juga ledakan wereng cokelat, tidak terjadi sepanjang tahun, tetapi hanya waktu-waktu tertentu saja, yaitu pada musim hujan dan musim kemarau yang banyak hujannya (La Nina). Serangan hama ini sudah lebih dari 80 tahun, menjadi kendala dalam produksi beras di Indonesia. Wereng batang coklat ter­masuk ordo Homoptera, subordo Auche­norrhyncha, infra-ordo Fulgoromorpha, famili Delphacidae, genus Nilaparvata, dan spesies Nilaparvata lugens Stal.

Wereng batang coklat merupakan hama laten yang sulit dideteksi, tetapi keberadaannya selalu mengancam kesta­ bilan produksi padi nasional. Serangan wereng batang coklat di lapangan ber­fluktuatif, mulai ringan sampai mencapai puncak perkembangannya saat terjadi ledakan yang menimbulkan puso/mati terbakar (hopperburn). Wereng batang coklat menyerang langsung tanaman padi dengan mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman menjadi kering. Se­rangan tidak langsungnya yaitu wereng dapat mentransfer tiga virus yang ber­bahaya bagi tanaman padi, yaitu virus kerdil hampa, virus kerdil rumput tipe 1, dan virus kerdil rumput tipe 2.

BAB II

Pembahasan

Wereng coklat (Nilaparvata lugens Stal.) merupakan hama  dari golongan insekta yang sangat merugikan perpadian di Indonesia.  Hama wereng coklat pada dasawarsa 1961-1970 telah merusak tanaman padi seluas 52.000 ha.  Pada periode tersebut serangan terjadi pada musim hujan 1968-1969 di daerah Jawa Tengah (Brebes, Tegal, Klaten) seluas 2.000 ha dan di Jawa Barat (Subang dan Indramayu) sekitar 50.000 ha. Pada dasawarsa tahun 1971-1980 mencapai 2.500.000 ha.

Serangan wereng coklat yang sangat berarti mengurangi hasil padi secara substansial, mengakibatkan kelumpuhan perekonomian tingkat petani, hal ini terbukti dengan laporan dari beberepa propinsi untuk tahun 2004 dan 2005 telah terjadi serangan wereng coklat terhadap beberapa varietas padi yang diunggulkan. Pada MT 2005 luas serangan wereng coklat di Jawa Timur, Jawa Tengah,  dan Jawa Barat  mencapai 46.000 ha.

  1. A.     Bioekologi wereng coklat

Wereng coklat berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang).  Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah daun dan tulang daun.  Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.  Satu ekor betina  mampu  meletakkan  telur  100-500  butir.

Di Sukamandi Telur menetas setelah 9 hari, sedangkan di daerah subtropika waktu  penetasan telur lebih lama lagi.  Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk  menyelesaikan periode nimfa adalah 12.82 hari. Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal.  Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter.

Faktor alelokemik tanaman merupakan faktor yang agak langsung mempengaruhi bentuk sayap.  Jaringan tanaman hijau kaya bahan kimia mimik hormon juvenil, tetapi pada padi yang mengalami penuaan bahan kimia mimik hormon juvenilnya berkurang.  Oleh karena itu perkembangan wereng coklat pada tanaman tua atau setengah tua banyak muncul makroptera. Perubahan bentuk sayap ini penting sekali ditinjau dari tersedianya makanan pokok di lapangan.

  1. B.      Pengendalian Hama Wereng Coklat

Pengendalian wereng coklat telah dilakukan sejak 1970 dengan berbagai cara. Usaha-usaha pengendalian ini meliputi penggunaan varietas tahan, perubahan cara bercocok tanam, dan penggunaan pestisida.   Inpres No.3, 1986 lebih mempertegas kembali pengendalian hama terpadu (PHT) hama wereng coklat yaitu pola tanam, varietas tahan, sanitasi, dan eradikasi, serta penggunaan pestisida secara bijaksana.

Pada dasarnya pengendalian wereng coklat menyangkut tiga komponen dasar yaitu a) pengetahuan biologi dan ekologi serangga, b) penetapan ambang ekonomi/ambang kendali, dan c) metode pengukuran atau penilaian terhadap serangan hama.  Komponen dasar tersebut sebagian besar sudah diketahui. Maka sistem pengelolaan itu harus dapat dikembangkan dengan baik.

Dalam makalah ini saya akan mengangkat pengendalian hama wereng coklat dengan cara menggunakan musuh alami/parasitoid dan menggunakan jamur.

  1. 1.     Pengendalian menggunakan musuh alami

1.a. Peran dan Jenis Musuh Alami

Salah satu jenis musuh alami hama utama tanaman padi adalah parasitoid. Parasitoid adalah serangga yang ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding serangga inangnya. Parasitoid menyerang inang pada saat stadium larva, sedangkan setelah menjadi imago, parasitoid hidup bebas di alam.

Jenis parasitoid dapat dibedakan me­nurut cara parasitasinya. Parasitoid yang menyerang bagian luar serangga disebut ektoparasitoid, dan jika menyerang bagian dalam serangga disebut endoparasitoid. Parasitoid yang hanya terdapat satu ekor dalam serangga inang disebut parasitoid soliter dan jika ditemui lebih dari seekor pada serangga inang disebut parasitoid gregarius. Jika lebih dari satu jenis para­sitoid yang menyerang satu serangga inang disebut multiple parasitism atau parasitasi ganda. Super parasitisme yaitu terdapat lebih dari satu parasitoid yang dapat tumbuh dan berkembang hingga menjadi dewasa pada lingkungan satu jenis inangnya.

Pada areal pertanaman padi terdapat beberapa jenis parasitoid telur dan larva penggerek batang padi. Di antara jenis parasitoid tersebut terdapat tiga parasitoid telur, yaitu Tetrastichus schoenobii, Telenomus beneficiens, dan Tricho­gramma japonicum. Parasitoid yang lebih berperan adalah T. schoenobii. Ketiga jenis parasitoid tersebut memarasit kelompok telur penggerek batang padi kuning dan penggerek batang padi putih, baik pada pertanaman padi di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Parasitoid ini menyebar di pantai utara Jawa Barat (Karawang, Su- bang, Indramayu), Bogor, Cianjur, Sleman, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan (Agus dan Melina 1999; Kartohardjono et al. 2001).

Parasitoid T. schoenobii bersifat grega­rius, endo- dan ektoparasitoid. Parasitoid Telenomus bersifat superparasitisme ka­rena memarasit telur inang bersama dengan parasitoid Trichogramma. Seekor larva T. schoenobii memangsa 3-4 telur inang (Kartohardjono 1992).

Pada areal pertanaman padi juga dite­mukan beberapa musuh alami wereng batang coklat, antara lain parasitoid Anagrus sp. dan Oligosita sp. Kemampuan parasitasi Anagrus sp. terhadap wereng batang coklat lebih tinggi pada saat ta­naman padi berumur 5 minggu setelah tanam (MST) dibanding 3 dan 7 MST. Anagrus sp. lebih memilih inang wereng batang coklat daripada wereng punggung putih dan wereng hijau (Atmadja dan Kartohardjono 1990). Kerapatan Oligosita dipengaruhi oleh populasi kelompok telur wereng batang coklat, tetapi tidak demikian dengan Anagrus. Namun, penyebaran kedua parasitoid ini bersifat mengelompok (Atmaja dan Kartohardjono 1996).

Predator memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari serangga inangnya. Pre­dator bersifat monofagus atau oligofagus jika hanya memangsa satu atau dua jenis inang, tetapi lebih banyak bersifat poli­fagus, yaitu memangsa berbagai jenis inang. Predator yang bersifat polifag tidak seefektif predator monofag (Santoso dan Baehaki 2005).

Musuh alami wereng batang coklat yang berupa predator yaitu laba-laba (Lycosa sp., Tetragnatha spp., Oxyopes sp., Callitrichia sp.), Paederus fucipes, Cyrtorhinus lividipennis, Coccinella spp., Ophionea sp., dan Microvelia atroli­neata. Penelitian menunjukkan, kemam­puan predator tersebut memangsa serang­ga dewasa wereng batang coklat berkisar antara 1-5 ekor (Kartohardjono 1988; Kartohardjono et al. 1988; Kartohardjono dan Atmaja 1989). Cyrtorhinus akan me­mangsa inang alternatifnya, yaitu wereng Inazuma dorsalis jika inang utama tidak ada di pertanaman padi (Kartohardjono 1990). Cyrtorhinus memangsa lebih banyak nimfa instar pertama daripada instar keempat (Kartohardjono dan Heinrichs 1983). Predator Paederus lebih menyukai inang dengan urutan wereng batang coklat, wereng punggung putih, wereng zigzag, dan wereng hijau (Karto­hardjono 1992). Paederus memangsa ber­bagai stadia wereng, kecuali stadia telur (Kartohardjono dan Soejitno 1987). Bebe­rapa predator juga ditemui pada penggerek batang padi, tetapi perannya kurang nyata.

Patogen serangga adalah jenis jasad renik (jamur, bakteri, dan virus) yang menginfeksi serangga inang sehingga menyebabkan kematian inangnya. Jamur yang menginfeksi serangga disebut jamur entomopatogenik, yaitu menginfeksi inang melalui kulit atau masuk ke dalam alat pencernaan melalui makanan. Inang yang terjangkiti berubah warna menjadi merah muda atau kemerahan. Serangga yang ter­infeksi bakteri menjadi sakit, tidak mau makan, lemah, dan tidak aktif. Larva yang tertular virus juga menjadi lemah, warna­nya pucat dan mengering, kemudian larva menuju pucuk tanaman dan akan mati menggantung. Jamur patogen serangga, Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae dapat menekan populasi wereng batang coklat masing-masing 40% dan 23% (Baehaki et al. 2003; Karto­hardjono dan Baehaki 2005).

Untuk mengembangkan musuh alami dapat dilakukan dengan membiakkannya secara massal kemudian dilepas di daerah endemis serangan hama tersebut. Untuk patogen serangga, pengembangannya di­lakukan dengan mengaplikasikan patogen siap pakai saat populasi inang sedang tinggi. Beberapa cara meningkatkan man­faat musuh alami adalah secara inundasi­augmentasi dan konservasi.

Inundasi adalah memperbanyak agens hayati kemudian melepaskannya dalam jumlah banyak di lapangan untuk mengen­dalikan hama. Cara ini telah diterapkan pada parasitoid Trichogramma yang dibiakkan di laboratorium pada telur Corcyra.

1.b. Pengendalian

Pengendalian secara hayati dapat dibe­dakan menjadi dua, yaitu (1) pemanfaatan musuh alami tanpa campur tangan manusia, dan (2) pemanfaatan musuh alami secara terapan dengan campur tangan manusia (Sosromarsono dan Untung 2001). Jenis agens pengendali hayati juga digolongkan menjadi dua, yaitu (1) musuh alami yang mampu menyebar sendiri dan (2) insek­tisida hayati (Mangoendihardjo 2003).

Dalam pengendalian hayati terapan, musuh alami dari suatu wilayah diper­banyak kemudian disebarkan di wilayah itu sendiri (in-situ). Jenis musuh alami yang telah dicobakan yaitu parasitoid Tricho­gramma sp. untuk mengendalikan peng­gerek batang padi. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Jawa Timur dengan melepas 100 pias atau sekitar 250.000 ekor parasitoid/ha di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Mojokerto. Di Jawa Barat, pelepasan dilakukan di Kabu­paten Subang pada areal 348 ha, di Suma­tera Barat di Pematang dan Kerasaan serta di Sulawesi Selatan. Hasilnya menun­jukkan bahwa pelepasan Trichogramma sp. dapat menekan serangan penggerek batang padi (Agus dan Melina 1999; Susetyohari et al. 2003; Gultom 2006; Nugroho dan Dewayani 2006).

  1. 2.      Pengendalian menggunakan jamur Patogen Serangga Metarhizium anisopliae (Metsch. Sorokin)

Mortalitas serangga wereng coklat antara lain dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti kelembaban, suhu dan dosis minimal konidia jamur yang efektif mematikan serangga. Disebutkan oleh Yusmani dan Marwoto (2005) bahwa dosis minimal konidia jamur patogen yang dapat menyebabkan kematian serangga adalah kira-kira mencapai 10-11 x 1000 konidia/ml. Suhu dan kelembaban pada penelitian ini (berkisar dari 28-37°C dan 78-90 %) cukup mendukung epizootik JPS pada serangga wereng coklat. Tanada et al. (1973) menyatakan bahwa kelembaban yang tinggi pada tanaman alfalfa meningkatkan epizootik jamur patogen serangga.

Pada pengendalian ini dapat dijelaskan mekanisme kematian serangga setelah adanya penetrasi hifa jamur pada bagian dalam tubuh serangga wereng coklat. Proses kematian serangga terjadi beberapa saat setelah proses penetrasi, karena untuk mematikan serangga menurut Dumas et al., (1996), disyaratkan adanya kondisi konidia yang virulen, selain produk toksin yang dihasilkannya. M. anisopliae pada serangga wereng hijau (Nephotettix virescens) bekerja lamban dimana mortalitas hanya mencapai 84% pada enam hari setelah inokulasi (Suryadi dan Hendarsih, 1991). Menurut Rombach et al. (1986) faktor lain yang mempengaruhi infeksi jamur M. anisopliae di lapangan adalah dosis konidia. Dosis minimal yang paling mematikan serangga wereng coklat, adalah sebanyak 5 x 10′2konidia/ha. Dengan demikian semakin banyak jumlah konidia yang digunakan maka semakin banyak propagul jamur yang berfungsi sebagai agensia penularan.

Infeksi JPS umumnya dapat terjadi melalui penetrasi integumen serangga (Perron, 1978). Holdom (1986) menyatakan bahwa kondia JPS M. anisopliae yang virulen akan berkecambah dan memasuki bagian kutikula serangga dibantu oleh proses mekanik dan enzimatik, berlanjut dengan proses kematian serangga karena toksin yang dihasilkan JPS. Mekanisme adanya aktifitas enzim seperti lipase, protease dan kitinase untuk mendegradasi lapisan kutikula, dilaporkan sudah terjadi saat spora jamur patogen berkecambah pada permukaan integumen (StLeger dan Cawley, 1986). Apresoria yang berada pada ujung tabung kecambah (germ tube) dibentuk sewaktu terjadi perkecambahan spora. Melimpahnya konidia M. anisopliae pada beberapa bagian tubuh serangga yang disebabkan oleh kondisi saat inokulasi, sangat membantu pertumbuhan konidia menghasilkan tabung kecambah sehingga dapat menetrasi tubuh serangga. Menurut StLeger dan Cawley (1986) sekresi enzirn pendegradasi kutikula mencapai puncaknya 24 sampai 72 jam setelah inokulasi (jsi). Ukuran konidia jamurM.anisopliae yang diamati dengan SEM relatif kecil (1,6 x 7,8 gm) dan diduga konidia ini termasuk ke dalam spesies M. anisopliae var. anisopliae seperti dikemukakan oleh Soper (1985) bahwa panjang konidia jamur tesebut berkisar dari 3,5 sampai 9,0 gm.

Konidiofor jamur yang tipikal untuk famili Deuteromycetes dengan konidia-konidia yang keluar dari ujung tangkainya banyak ditemukan pada berbagai bagian lain tubuh serangga, sebagai contoh pada bagian mata facet serangga. Namun demikian, frekwensi jamur yang teramati pada bagian-bagian lain tubuh serangga sangat rendah dibandingkan pada bagian kutikula serangga.

Konidia M. anisopliae berkecambah menghasilkan miselia atau kumpulan hifa yang berfungsi untuk membantu penyebaran, dan pada proses infeksi selanjutnya menghasilkan alat infeksi tabung kecambah. Alat infeksi ini akan melakukan penetrasi secara aktif pada bagian kutikula dan bagian lainnya pada tubuh serangga. Propagul miselia akan disebarkan ke seluruh rongga tubuh serangga melalui aliran haemolymph (Soper, 1985). Menunit Samson et at. (1988) setelah struktur perkecambahan terbentuk, penetrasi dilanjutkan pada bagian antar segmen.

Sementara itu, hasil penelitian ini mengindikasikan adanya infeksi penyakit dan penyebaran JPS dapat disebabkan oleh serangga itu sendiri, baik pada serangga yang telah mati maupun serangga yang masih hidup. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya deposit atau kumpulan agregat konidia pada bagian lain tubuh serangga yang tidak secara langsung mematikan seperti pada bagian sayap, membran antar segmen abdomen, serta mata facet serangga.

Pada proses penyebaran penyakit yang mewabah (epizootic) di lapangan, selain faktor lingkungan (suhu dan kelembaban) yang optimal untuk perkembangan .TPS, kontak langsung antara kutikula serangga hidup dengan serangga yang sudah mati yang terinfeksi diduga merupakan sumber penularan yang cukup efektif. Namun demikian frekwensi infeksi jamur M. anisopliae pada tanaman padi di lapangan masih rendah meskipun serangga sakit dapat menjadi agen penular jamur M. anisopliae (Suryadi dan Hendarsih, 1991). Berbeda dengan hasil penelitian di lapangan terhadap jamur Verticilium alboatrum pada tanaman alfalfa, Huang dan Richards (1983) melaporkan banyaknya infeksi konidia jamur patogen pada tubuh serangga kumbang Megachile rotrundata. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa mortalitas wereng hij au stadia dewasa lebih tinggi dibandingkan dengan mortalitas nimfa; hal ini diduga karena terdapat perbedaan kerentanan kutikula serangga (Suryadi dan Hendarsih, 1991).

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa konidia yang terdeposit pada tubuh serangga merupakan agen penting untuk penyebaran patogen. Kondisi ini akan menguntungkan, apabila serangga yang mati kemudian kontak dengan serangga lainnya, sehingga terjadi penularan penyakit dan menyebabkan kematian serangga. Uraian di atas penting sebagai salah satu cara untuk mengendalikan populasi serangga wereng coklat secara alami. Bagaimana tepatnya mekanisme patogenesis antara jamur patogen dengan tubuh serangga lainnya serta keterkaitan sifat fisiologis/enzimatis serangga dengan virulensi jamur patogen masih perlu dipelajari lebih lanjut.

BAB II

Kesimpulan

Wereng coklat berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang).  Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah daun dan tulang daun.  Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.  Satu ekor betina  mampu  meletakkan  telur  100-500  butir.

Pengendalian secara hayati dapat dibe­dakan menjadi dua, yaitu (1) pemanfaatan musuh alami tanpa campur tangan manusia, dan (2) pemanfaatan musuh alami secara terapan dengan campur tangan manusia (Sosromarsono dan Untung 2001). Jenis agens pengendali hayati juga digolongkan menjadi dua, yaitu (1) musuh alami yang mampu menyebar sendiri dan (2) insek­tisida hayati (Mangoendihardjo 2003).

DAFTAR PUSTAKA

http://google.com/Hama Wereng Coklat/BB PADI

kartohardjono. A. 2010. Jurnal Penggunaan Musuh Alami sebagai Komponen Pengendalian Hama Padi Berbasis Ekologi. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.

Baehaki. 2011. Jurnal Strategi Fundamental Pengendalian Hama Wereng Batang Coklat Dalam Pengamanan Produksi Padi Nasional. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.

Suryadi. Y dan Kadir. T. 2007. Jurnal Pengamatan Infeksi Jamur Patogen Setangga Metarhizium anisopliae (Metsch. Sorokin) Pada Wereng Batang Coklat. BB Biogen, Bogor.

April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

Pendahulua1

Ulang Tahun ke-21 April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

alhamdulillah menginjak usiaku yang ke-21 ini saya masih diberikan kesempatan untuk bernafas di bumi tercinta ini. saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Allah SWT. dan tidak lupa pula selawat serta salam pada baginda Rosul Muhammad SAW.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.