jump to navigation

makalah Pengelolaan Air April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
trackback

MAKALAH PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

Diajukan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Pengolahan Air

Oleh

Nursyam Zulkifli                                                1209706026

           Jurusan Agroteknologi

 

 

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala. Selawat dan salam kita kirimkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Sallallahualaihiwasallam, karena atas hidayah-Nyalah makalah ini diselesaikan.

Makalah ini penulis sampaikan kepada pembina mata kuliah Pengolahan Air sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis mengajar Pengolahan Air.

Penulis memohon kepada Bapak dosen khususnya, umumnya para pembaca barang kali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi bahasanya maupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan keritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………………….. .i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………………….. .ii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………………………….. ..1

1.1.Latar belakang………………………………………………………………………………………. .1

BAB II   PEMBAHASAN……………………………………………………………………………….. ..2

  1. Definisi DAS…………………………………………………………………………………….2
  2. Peranan Wetlands dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai…………5
  3. Hutan dan hubungannya dengan pengelolaan DAS……………………………………………..7

BAB III KESIMPULAN………………………………………………………………………………….. .8

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………………… .9

 

BAB I

Pendahuluan

  1. A.     Latar Belakang

Banyaknya lahan-lahan yang berfungsi sebagai areal resapan terutama di kota-kota yang padat penduduk, telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan, yakni banjir. Hal ini terjadi karena kapasitas air yang datang pada saat hujan tidak seimbang dengan kemampuan tanah didalam menyerap atau menampung air, yang disebabkan berkurangnya areal-areal resapan.

Penyebab lain adalah keterbukaan areal baik untuk diambil kayunya, maupun untuk areal pertanian, pertambangan dan lain-lain. Areal yang terbuka mempercepat laju run off (aliran permukaan). Dalam suatu DAS Daerah Aliran Sungai, hidrologi (tata air) yang rusak dapat dilihat dari kejernihan air sungai wilayah DAS tersebut, jika air berwarna keruh, pada saat hujan, maka dapat dipastikan secara fakta lapangan kondisi DAS wilayah tersebut telah rusak, artinya banyak areal yang terbuka. Fakta yang terjadi adalah banjir dan kekeringan yang ekstrim karena tidak adanya keseimbangan alam, sehingga keberadaan sumberdaya hutan yang ada pada kawasan DAS perlu dipertahankan (Sahid, 2007).

Menurut data dari Departemen Kehutanan dalam Buku Indikasi Kawasan Hutan dan Lahan yang perlu dilakukan Rehabilitasi tahun 2003, luas areal (di dalam dan di luar kawasan) yang perlu direhabilitasi adalah 96,6 juta ha. Bisa dipastikan pada tahun 2007 luas wilayah tersebut bertambah, karena tidak seimbangnya antara laju deforestasi dengan luasan rehabilitasi.

 

 

BAB II

Pembahasan

  1. 1.                  Definisi DAS

 

Dari makna kata wetlands (inggris) adalah lahan basah. Wetlands merupakan areal transisi antara lahan kering dan wilayah perairan seperti danau, rawa, paya, sungai dan pantai. Tidak semua lahan basah yang selalu berair atau tergenang sepanjang tahun (CTI, 2007). Menurut Departemen Kehutanan 2003, Daerah Aliran Sungai adalah wilayah tangkapan air mulai dari hulu sampai dengan hilir yang merupakan satu kesatuan tata air sebagai penyangga kehidupan yang utu h.

The Conservation Tecnology Information, memberikan definisi Daerah Aliran Sungai adalah suatu areal dari lahan, yang saluran­salurannya menuju ke danau atau sungai.

Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu daerah yang dibatasi (dikelilingi) oleh garis ketinggian dimana setiap air yang jatuh di permukaan tanah akan dialirkan melalui satu outlet, (Andi 2002).

DAS merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat, yang saling berkaitan dalam suatu hubungan saling tindak (interaction) atau saling tukar (interchange). DAS dapat disebut suatu sistem dan tiap-tiap sumberdaya penyusunnya menjadi anak­sistemnya (subsystem), atau anasirnya (component). Kalau kita menerima DAS sebagai suatu sistem maka ini berarti, bahwa sifat dan kelakuan DAS ditentukan bersama oleh sifat dan kelakuan semua anasirnya secara terpadu.

Sumberdaya darat yang menjadi anasir DAS ialah iklim, atau lebih tepat disebut iklim hayati (bioclimate), timbulan, geologi, atau sumberdaya mineral, tanah, air (air permukaan dan air tanah), tetumbuhan (flora), satwa (fauna), manusia, dan berbagi sumberdaya budaya, seperti sawah, ladang, kebun,hutan budaya dsb. Kehadiran tanah dan wataknya ditimbulkan oleh faktor-faktor iklim, tetumbuhan, timbulan dan geologi (untuk sementara waktu tidak diperhatikan dalam pembicaraan tentang DAS, karena kedudukannya yang universal). Timbulan dapat berdaya atas iklim hayati setempat, berupa penggantian (change) agihan cacak (vertical distribution) suhu udara, agihan tempat (spatial distribution) curah hujan, jumlah lengas mempen (effective moisture) dan lama waktu penerimaan sinar matahari. Sebaliknya, iklim dan geologi menentukan corak timbulan destruksional. Tanah dan timbulan menguasai keadaan hidrologi permukaan, keadaan vegetasi dan keadaan sumberdaya budaya. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya. Iklim ikut mengendalikan keadaan vegetasi dan sumberdaya budaya.

Dalam pengantar telah disebutkan, bahwa DAS mempunyai batas alamiah yang jelas. Lengkaplah sudah ciri-ciri penting bagi penunjukan DAS sebagai suatu sistem. Iklim dapat dibagi lebih jauh menjadi iklim mikro, meso dan mikro atau iklim tanah. Tanah dapat ditinjau dari pertanian, teknik, bahan baku bangunan (bata, genting) atau kerajinan (barang-barang tembikar). Air terpilahkan menjadi air permukaan (sungai, danau), lengas tanah (biasanya tercakup dalam pembicaraan mengenai sumberdaya tanah) dan air tanah. Dalam penggunannya, air dapat ditinjau dari segi pertanian, rumah tangga, industri, sumber energi kinetik yang dapat dialihrupakan menjadi energi mekanik atau listrik, dan prasarana perhubungan serta pengangkutan. Sumberdaya hayati dapat dimanfaatkan untuk sumber nutfah dalam usaha menciptakan bibit tanaman atau ternak unggul, bahan baku obat­obatan, cagar alam, sumber bahan bakar, bahan bangunan atau bahan industriatau bahan kerajinan, atau sebagai pengasri atau pelindung lingkungan hidup. Manusia dapat ditilik dari segi pengadaan tenaga kerja, pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, kerajinan dan kesenian, kewiraswastaan dan sumber peradapan (agama, hukum, adat istiadat, pandangan hidup).

Dari uraian diatas jelaslah, bahwa DAS merupakan suatu sistem sumberdaya darat yang bergatra ganda dan dapat dimanfaatkan ke berbagai jurusan. Tiap-tiap sumberdaya yang menjadi anasir DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda, tergantung pada watak, kelakuan dan kegunaan masing-masing. Sebagai watak dan kelakuan suatu anasir DAS terbawa dari asal usulnya dan sebagian yang lain diperolehnya dari proses saling tindak (interaction) dengan anasir yang lain dari DAS yang bersangkutan. Misalnya, jumlah cadangan hara tumbuhan dalam tanah, yang menentukan kesuburan potensial tanah untuk pertanian, berasal dari bahan induk tanah (anasir geologi).

Pengelolaan DAS tidak lain daripada kegiatan penata-gunaan lahan dalam ruang lingkup DAS. Maka dari itu pengelolaan DAS selalu akan melibatkan manusia dengan manusia dengan kecakapannya mengalihkan teknologi menjadi teknologi tepat-guna dan ketrampilannya menjabarkan teknologi menjadi sejumlah peranti teknik (technical devides) yang mempan. Manusia itu juga menjadi sumber kendala yang acapkali menjadi penghambat yang lebih berat daripada kendala fisik. Kendala yang bersumber pada manusia a.l. keprimitifan, kepicikan motivasi, inersia kejiwaan, kekakuan atau keangkuhan birokrasi, otoritarianisma, dan kemiskinan. Keprimitifan bersambungan dengan kebodohan atau ketidak-tahuan, dan ini merupakan akibat dari taraf pendidikan yang rendah atau nihil sama sekali. Dalam hal para penggarap lahan, kemiskinan dan kelemahan membentuk modal usaha bersumber pada luas lahan garapan yang terlalu sempit. Istilah “sempit” bermakna nisbi, yaitu mempunyai daya dukung (carrying capacity) sebagai habitat yang berharkat bawah-tepian (submarginal). Makin rendah produktivitas lahannya, luas tepian (marginal size) makin besar.

Tatacara (procedure) yang sering dipakai dalam pengelolaan fisik DAS termasuk dalam dua macam metoda, yaitu metoda biologi dan metoda mekanik. Keberhasilan pengelolaan fisik kerapkali ditentukan oleh kesudahan pengelolaan tatalaksana, yang menyangkut organisasi desa, kerjasama penduduk, proses komunikasi, lembaga kepemimpinan setempat, tataguna lahan dsb. kesudahan yang memuaskan biasanya terjadi atas pemaduan yang serasi antara pengelolaan fisik dan tatalaksana. Salah satu tatacara dalam metoda biologi ialah penghijauan. Pembuatan sengketan, undak (terrace), jalan air (water way) beserta bendung kendali (check daun), dan memperbaiki laju infiltrasi dan perkolasi dengan pengolahan tanah termasuk usaha-usaha mekanik. Ada usaha penting, akan tetapi pada waktu ini masih dinilai terlalu mahal untuk diterapkan secara luas, yang termasuk metoda kimiawi Dalam usaha ini tanah dicampur dengan suatu bahan kimia buatan dengan maksud memantapkan agregasi zarah tanah, melonggarkan struktur tanah dan meningkatkan kemampuan tanah menyimpan lengas. Bahan kimia buatan ini diberi sebutan umum “artificial soil conditioners”. Bahan-bahan ini mempunyai struktur polimer tinggi (rantai kondensasi molekul panjang). Dalam percobaan-percobaan berskala kecil, bahan-bahan ini memperlihatkan kemampuan yang baik sekali untuk melawan erosi tanah dan meningkatkan ketersediaan lengas tanah bagi tanaman.

 

  1. 2.            Peranan Wetlands dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Peran yang dimainkan oleh wetlandss dalam pengelolaan DAS sangat penting yakni, melindungi kualitas air dan kuantitasnya dalam jumlah yang cukup. Perannya dilihat dari kuantitas yang cukup dan seimbang yaitu, wetlands dapat diibaratkan sebagai spoon (busa) raksasa, yakni pada musim hujan, dia akan menyerap air dan jika terjadi kelebihan maka air tersebut akan dialirkan menjadi air tanah (Ground water). Pada musim kering air dari wetlands akan dikeluarkan untuk dimanfaatkan.

Sementara itu dari segi kualitas air, peran dari wetlands adalah menahan atau menyaring sampah-sampah baik yang mengadung racun untuk dan pada saat air tersebut keluar maka akan menjadi air murni (Aquatic). Dari segi sedimentasi yang dibawa oleh run off, maka wetlang juga menahan unsure-unsur hara yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman, juga menahan endapan agar tidak terbawa oleh arus sungai yang akan menyebabkan pendangkalan. Perlunya memperhatikan wetlands didalam pengelolaan DAS, karena tanpa wetlands pengelolaan DAS akan semakin kompleks yakni, akan banyak peningkatan genangan air, yang pada akhirnya menyebabkan banjir, jika dalam jumlahnya besar, penurunan kualitas air, dan kerusakan habitat baik tumbuhan dan hewan.

Menurut CTI 2007, ada tujuh manfaat yang diperankan oleh Wetlands, dalam rangka pengelolaan DAS yaitu ;

  • Memperbaiki kualitas air, dengan cara menahan unsur hara, sampah-sampah organik dan kiriman endapan yang terjadi akibat run off.
  • Mengurangi pengaruh buruk banjir, yang langsung ke muara dengan menahan air tersebut dan melepaskannya pada musim kering.
  • Melindungi daerah-daerah pinggiran atau pesisir dari kemungkinan eros i.
  • Memulihkan kembali persediaan air tanah yang berpotensi kekurangan air pada musim kering
  • Penyedia makanan dan produk lain, misalnya ikan untuk manusia baik untuk konsumen sendiri atau diperdagangkan.
  • Cagar alam, termasuk untuk jenis jarang dan terancam punah, tempat mencari makan, berkembang biak, dan tempat istirahat.
  • Menambah peluang untuk rekreasi, melihat burung, berburu burung laut, potografi dan pendidikan luar.

 

Dari manfaat yang dipaparkan diatas jelas terlihat bahwa wetlands sangat penting untuk menjaga stabilitas suatu DAS. dengan menjaga wetland, secara tidak langsung akan menjamin fungsi DAS dan aktifitas biologis lainnya. wetlands berfungsi sebagai buffer (penyangga) dalam suatu DAS. Ekosistim Wetland yang beragam, mampu menyangga semua aktifitas manusia dan alam. Ketidakseimbangan alam yang berdampak kepada bencana alam, sebenarnya mampu direstore (dipulihkan kembali), dengan biaya yang relatif murah antara lain adalah dengan menjaga kelestarian fungsi dari Wetlands, namun jika suatu Wetlands tidak lagi dapat menjalankan fungsinya atau telah tercemar, maka bisa dipastikan DAS menaunginya akan tercemar pula. Hal yang demikian itu dapat dikatakan Wetlands merupakan kunci bagi terjaminnya pengelolaan suatu DAS.

 

Pengelolaan DAS bertujuan untuk:

  • Mengkonservasi tanah pada lahan pertanian.
  • Memanen/menyimpan kelebihan air pada musim hujan dan memanfaatkannya pada musim kemarau.
  • Memacu usahatani berkelanjutan dan menstabilkan hasil panen melalui perbaikan pengelolaan sistem pertanian.
  • Memperbaiki keseimbangan ekologi (hubungan tata air hulu dengan hilir, kualitas air, kualitas dan kemampuan lahan, dan keanekaragaman hayati).

 

  1. 3.                          Hutan dan hubungannya dengan pengelolaan DAS

Hutan mempunyai peranan penting dalam mengkonservasi DAS. Dengan semakin berkurangnya hutan, maka timbul berbagai masalah dalam pengelolaan DAS, karena hutan mempunyai sifat:

  • Meredam tingginya debit sungai pada musim hujan, dan berpotensi memelihara kestabilan aliran air sungai pada musim kemarau
  • Mempunyai serasah yang tebal sehingga memudahkan air meresap ke dalam tanah dan mengalirkannya secara perlahan ke sungai. Selain itu, lapisan serasahnya juga melindungi permukaan tanah dari gerusan aliran permukaan sehingga erosi pada tanah hutan sangat rendah.

 Mempunyai banyak pori makro dan pipa di dalam tanah yang memungkinkan pergerakan air secara cepat ke dalam tanah.

Karena sifat-sifat hutan yang mengutungkan tersebut, maka hutan perlu dipertahankan. Apabila hutan sudah terlanjur dibuka (terutama pada bagian DAS yang peka erosi), penggunaan lahannya perlu diusahakan supaya mendekati bentuk hutan. Sistem agroforestri pada dasarnya ditujukan untuk mengembalikan berbagai fungsi hutan.

 

BAB III

KESIMPULAN

DAS merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat, yang saling berkaitan dalam suatu hubungan saling tindak (interaction) atau saling tukar (interchange). Pengelolaan DAS tidak lain daripada kegiatan penata-gunaan lahan dalam ruang lingkup DAS. Maka dari itu pengelolaan DAS selalu akan melibatkan manusia dengan manusia dengan kecakapannya mengalihkan teknologi menjadi teknologi tepat-guna dan ketrampilannya menjabarkan teknologi menjadi sejumlah peranti teknik (technical devides) yang mempan.

Tatacara (procedure) yang sering dipakai dalam pengelolaan fisik DAS termasuk dalam dua macam metoda, yaitu metoda biologi dan metoda mekanik.

Peran yang dimainkan oleh wetlandss dalam pengelolaan DAS sangat penting yakni, melindungi kualitas air dan kuantitasnya dalam jumlah yang cukup.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Notohadiprawiro. T. Jurnal Pengelolaan Daerrah Aliran Sungai Dan Program Penghijauan. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM
  • Razak. A. Makalah Peranan Lahan Basah (WESTLAND) Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Program Pasca Sarjana / S2 – Program Studi Manjemen Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: