jump to navigation

Makalah Teknologi Benih April 5, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
trackback

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kesabaran, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam kami sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan warna ilahiah dalam peradaban manusia, kepada keluarganya, sahabat sahabatnya, hingga kepada kita selaku umatnya. Adapun isi dari makalah ini berkenaan tentang “Bibit Pada Tanaman Padi”. Makalah ini diajukan dalam rangka melengkapi tugas Teknologi Benih.

 

Kami menyadari betul bahwa makalah ini banyak menemukan kesulitan dan hambatan serta kekurangan tetapi, berkat anugrah dari Allah Yang Maha Pengasih kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kesulitan dan hambatan dapat teratasi dengan baik.  Atas dasar itulah kami mengucapkan terima kasih. Kritik dan saran yang membangun kami tunggu demi perbaikan makalah ini. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

 

Bandung, 19 April 2011

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………..ii

BAB I: PENDAHULUAN

I.1 Perlakuan Benih Padi…………………………………………………..1

 

BAB II: ISI

II.1 Penyerbukan Pada Padi……………………………………………….4

II.2 Pemilihan Varietas dan Asal Benih………………………….………..4

II.3 Persemaian…………………………………………………………….5

II.4 Benih Bersertifikat…………………………………………………….5

II.4 Teknik Produksi Benih Padi…………………………………………..8

II.5 Benih Padi yang Unggul……………………………………………..13

II.6 Padi Hibrida dan Kelemahan dan Kelebihannya…………………….16

II.7 Padi Hasil Penelitian…………………………………………………18

II.8 Cara Memilih Benih dan Penyiapan Bibit Padi yang Baik………….21

II.9 Padi Inpari 13, Tahan Wereng Coklat……………………………….23

II.10 Pengaruh Dosis Pupuk Urea………………………………………..26

II.11 Mikrokontroler Pengukur Kadar Air Benih Padi…………………..27

II.12 Harga Bibit Padi……………………………………………………31

II.13 Benih Padi Tahan Perubahan Iklim (IRRI)…………………………32

II.14 Penakar Benih Padi Bermutu……………………………………….33

 

BAB III: PENUTUP

III.1 Simpulan…………………………………………………………….40

III.2 Saran……………………………………………………………………..41

 

DAFTAR PUSTAKA……..…………………………………………………….42

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1 Perlakuan Benih Padi

Produksi padi yang baik dan maksimal dimulai dari pemilihan dan perlakuan benih padi yang baik. Sesuai dengan anjuran pemerintah dan juga anjuran teknologi budidaya yang baik, benih padi yang digunakan sangat disarankan berasal dari benih padi bersertifikat. Benih padi yang bersertifikat menjamin:

  1. Keaslian / kemurnian varietas
  2. Daya tumbuh yang baik
  3. Masa pakai (expired product) diketahui dengan pasti, sehingga lebih terjamin.

Jaminan kualitas benih padi bersertifikat, sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 23/Permentan/SR.120/2/2007, adalah :

  1. Benih belum kadaluarsa
  2. Daya tumbuh minimal 80%
  3. Kadar air 10% – 13%
  4. Kandungan kotoran maksimal 2%
  5. Kemurnian varietas minimal 98%

Dengan kualitas yang baik, tanaman padi akan tumbuh lebih seragam, sehingga memaksimalkan hasil saat dipanen. Untuk memperoleh produksi yang maksimal, usaha yang baik harus dimulai sejak awal. Selain penggunaan benih bersertifikat, perlakuan benih saat akan disemaikan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan awal bibit padi. Inilah perlakuan benih padi yang baik sebelum disemaikan:

Menyortir benih yang masih memiliki daya tumbuh tinggi dengan menggunakan larutan garam.

  1. a.      Siapkan larutan garam dalam ember dengan volume sesuai dengan benih padi yang akan disortir. Konsentrasi larutan garam (takaran garam) tersebut diukur dengan menggunakan telur ayam/bebek mentah. Masukkan telur ke dalam ember berisi air. Masukkan garam sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk pelan. Pemberian garam dihentikan ketika telur mulai mengapung dalam air, hal ini menunjukkan bahwa kandungan garam telah cukup sebagai penguji benih.
  2. b.      Masukkan benih padi yang akan disortir. Kemudian diaduk sehingga semua benih tercampur dengan larutan garam tersebut. Biarkan beberapa menit, sehingga terlihat benih padi tersebut tenggelam dan sebagian kecil terapung.
  3. c.       Benih yang masih terapung merupakan benih hampa/rusak/tidak sempurna, sehigga tidak layak untuk dijadikan bibit. Walaupun benih tersebut dapat tumbuh, akan tetapi akan tumbuh menjadi bibit yang tidak sempurna.
  4. d.      Benih yang tenggelam dipilih sebagai benih yang akan disemaikan. Benih tersebut kemudian dibilas dengan air bersih sebanyak 2 kali agar larutan garamnya tercuci dengan baik.

Memeram benih sebelum disemai.

  1. a.      Benih yang akan disemai sebaiknya dibantu pertumbuhannya dengan cara diperam.
  2. b.      Benih direndam dalam air bersih selama kurang lebih 1 jam, kemudian ditiriskan dalam ayakan atau saringan sampai tidak ada air yang menetes.
  3. c.       Benih yang lembab tersebut kemudian dimasukkan dalam karung goni atau karung terigu (atau kain katun) dan dibiarkan selama 2 hari dalam ruangan yang terlindung.
  4. d.      Setelah dua hari akan nampak pada pangkal benih berwarna putih yang menandakan bahwa akar benih telah mulai tumbuh dan telah siap disemai dalam persemaian.
  5. e.       Benih yang telah diperam akan memiliki daya tumbuh yang lebih cepat dan lebih baik dibanding dengan benih yang tidak diperam, sehingga dalam persemaian akan tumbuh lebih kuat dan sehat.

Produksi padi yang baik dimulai dari benih yang baik.

 

 

 

BAB II

ISI

II.1 Penyerbukan Pada Padi

Padi tergolong tanaman yang menyerbuk sendiri dan kemungkinan untuk menyerbuk silang sangat kecil (<0.4 %). Namun demikian, lokasi perbenihan tetap harus diisolasi dari pertanaman padi lain minimal 3 meter, atau berbunga tidak bersamaan dengan selisih waktu sekitar 30 hari dari padi konsumsi. Di samping itu, lokasi perbenihan harus memiliki kriteria sebagai berikut :

  • Lahan hendaknya bekas jenis tanaman lain atau lahan yang diberakan.
  • Pada lahan bekas tanaman padi, varietas yang ditanam adalah sama dengan varietas yang ditanam sebelumnya.
  • Ketinggian lahan disesuaikan dengan daya adaptasi varietas tanaman, umumnya padi beradaptasi di dataran rendah.
  • Lahan relatif subur, pH 5.4-6, dan memiliki lapisan olah sedalam 30 cm agar sawah tidak lekas kering.
  • Lahan persemaian terhindar dari cahaya lampu saat malam hari.

II.2 Pemilihan Varietas dan Asal Benih

Varietas yang diperbanyak disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, kesesuaian lahan, umur tanaman, dan ketahanan terhadap hama-penyakit. Benih sumber yang digunakan berasal dari kelas yang lebih tinggi. Untuk menghasilkan benih dasar (FS) digunakan benih penjenis (BS), untuk menghasilkan benih pokok (SS) digunakan benih dasar, sedangkan untuk menghasilkan benih sebar (ES) digunakan benih pokok.

Musim Tanam

Produksi benih dapat dilakukan pada musim hujan, atau musim kemarau asalkan air cukup tersedia. Untuk memudahkan prosesing hasil, lebih menguntungkan bila usaha perbenihan dilaksanakan pada musim kemarau.

II.3 Persemaian

  • Tempat persemaian dibuat seluas 5% dari luas lahan produksi benih. Sebelum diolah, lahan persemaian diairi lebih dahulu, dan keesokan harinya lahan dicangkul dan dibuat bedengan dengan ketinggian 15-20 cm, jarak antar bedengan selebar 30 cm.
  • Sebelum disebar, benih dengan kadar air 11-12 % dimasukkan dalam karung kemudian direndam di dalam kolam atau air yang mengalir selama 24 jam untuk mematahkan dormansi.

II.4 Benih Bersertifikat

Benih padi yang bersertifikat telah melalui berbagai proses dari sejak penyiapan lahan, pengolahan lahan, penyediaan benih yang bermutu, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen serta penyimpanan dilakukan dengan sebaik mungkin, sehingga diperoleh benih yang baik. Oleh karena itu jika benih padi bersertifikat digunakan para petani maka petani akan memperoleh produksi yang tinggi. Penggunaan benih padi bersertifikat oleh petani pada tahun 2008 sebesar 53,20% dan pada tahun 2009 diperkirakan petani yang menggunakan benih padi bersertifikat sebesar 62,8%. Sebagian besar petani telah menggunakan benih padi bersertifikat. Petani yang belum menggunakan benih padi bersertifikat umumnya petani yang menanam padi lahan kering mereka menggunakan varietas lokal atau dari hasil pertanaman sendiri yang telah dipilih dan dianggap memenuhi syarat untuk dijadikan benih padi.

Penggunaan benih padi bersertifikat telah lama dianjurkan diharapkan para petani menggunakan benih padi yang bersertifikat, karena dengan menggunakan benih padi bersertifikat petani akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam penggunaan padi bersertifikat ini hanya anjuran yang dilakukan oleh para penyuluh di lapangan serta instansi lain yang terkait dengan kegiatan pertanian. Petani diberi pemahaman bahwa bila menggunakan benih yang tidak bersertifikat akan merugikan petani itu sendiri karena hasil yang diperoleh rendah. Penggunaan benih padi bersertifikat memberikan produktivitas yang tinggi dikarenakan benih padi bersertifikat itu disiapkan dengan perlakuan khusus antara lain:

  1. Persiapan lahan untuk penanaman benih bersertifikat dilakukan secara baik dari pemilihan lokasi yang tanahnya subur sampai pengolahan tanahnya,
  2. Penyediaan benih (benih pokok) untuk perbanyakan benih bersertifikat benar-benar menyiapkan benih yang unggul,
  3. Pemeliharaan tanaman padi dengan baik dan terkontrol (penyiangan, pemupukan, pengairan dan pemberantasan hama dan penyakit) dengan kontinyu terlaksana dengan baik dan,
  4. Waktu panen dan pelaksanaan panen yang bagus, pelaksanaan panen memenuhi ketentuan-ketentuan untuk dijadikan benih padi sebagai benih yang bersertifikat untuk ditanam petani,
  5. Pengepakan yang bagus, dilakukan pembungkus benih padi dengan plastik atau bahan lain yang memenuhi standar sehingga benih padi terhindar dari serangan hama penyakit dan pengaruh kelembapan,
  6. Penyimpanan dan pendistribusian yang bagus. Sehingga dengan perlakuan-perlakuan itu diperolehlah benih padi yang baik misalnya daya tumbuh di atas 80%, varietas yang homogen, pertumbuhan tanaman yang serentak dan benih padi yang disiapkan terhindar dari gangguan hama penyakit karena diperlukan perlakuan khusus untuk memproduksi benih padi bersertifikat maka sampai saat ini yang memperbanyak atau memproduksi benih padi sebar bersertifikat adalah produsen baik pihak BUMN ataupun swasta serta petani penangkar benih.

Contoh BUMN yang memproduksi benih padi bersertifikat adalah Shang Hyang Sri yang lokasi penanamannya berada di daerah Sukamandi Jawa Barat. Sedangkan petani penangkar benih padi umumnya tersebar di seluruh Indonesia. Umumnya para petani penangkar benih padi melakukan penangkaran benih di lahan usaha taninya sendiri, dimana lahannya memenuhi syarat untuk dijadikan penangkaran benih padi bersertifikat.

 

 

II.4 Teknik Produksi Benih Padi

Sumbangan terbesar dalam peningkatan produksi padi, diperoleh dari pemanfaatan keunggulan genetik dari Varietas Unggul Baru (VUB) Padi.   Dengan menggunakan varietas unggul baru tanaman padi, akan diperoleh  peningkatan produksi, baik dalam jumlahnya maupun mutu serta daya saing produk yang dihasilkannya. Diantara VUB padi yang dianjurkan adalah Sarinah, Mekongga, Cimelati, Ciherang, Setail (pulut), dan Aek Sibandeng (padi daerah).

I. Kegiatan Pra Panen

Kegiatan pra panen khususnya untuk penangkaran benih, adalah :

  • Penggunaan benih sumber : diambil dari kelas benih yang  lebih tinggi dari benih yang akan diproduksi.
  • Pilih areal sawah yang sesuai :   subur, irigasi terjamin, bebas dari  kekeringan dan banjir, serta   mudah dijangkau (tersedia fasilitas transportasi)
  • Dilaksanakan oleh kelompok tani yang sudah menguasai teknik     produksi padi
  • Diawali pembuatan pesemaian : bebas dari kemungkinan tercampur dari    varietas lain yang ada di   sekitarnya
  • Sawah diolah sempurnah,  umumnya dibajak 2 kali dan digaru serta diperlukan waktu jeda agar singgang padi tumbuh      dapat dimusnahkan. Tanah  diratakan sampai tekstur betul-betul berlumpur.
  • Pengelolaan kebenaran varietas dilakukan agar tidak terjadi percampuran, isolasi jarak dengan pertanaman  padi    disekitarnya dengan jarak ± 3 meter atau isolasi waktu (selisih waktu mekarnya malai selama 3 minggu) agar varietas yang ditanam hanya menyerbuk sendiri
  • Menggunakan pendekatan   Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada Padi Sawah, dengan komponen : penggunaan varietas padi unggul baru yang diminati    petani setempat, menggunakan benih bermutu dan menanam bibit umur muda (15 hari setelah       hambur), menanam 1-3 batang per    rumpun tanaman, menggunakan cara tanam jajar legowo, pemupukan N dengan menggunakan BWD dan pemupukan P dan K berdasarkan  analisis tanah, penggunaan pupuk organik, dan pengendalian hama penyakit secara terpadu.

II.Kegiatan Panen dan  Pasca Panen

  1. Menentukan Waktu Panen

Waktu panen yang tepat ditandai   dari kondisi pertanaman 90-95 % bulir sudah memasuki fase masak fisiologis (kuning jerami) dan bulir padi pada pangkal malai sudah mengeras. Untuk pertanaman padi tanam pindah, vigor optimal dicapai pada umur 30-42 hari setelah bunga  merata bagi pertanaman padi musim hujan (MH), dan 28-36 hari setelah berbunga merata bagi pertanaman musim kemarau (MK).

  1. Pemanenan

Proses panen harus memenuhi   standar baku sertifikasi : dimulai  dengan mengeluarkan rumpun yang   tidak seharusnya dipanen, menggunakan sabit bergerigi untuk mengurangi kehilangan hasil, perontokan biji segera dilakukan setelah panen   dengan dibanting atau dengan tresher, hindari pemumpukan      terutama jika sampai terjadi fermentasi / panas tinggi karena akan      mematikan lembaga, lakukan pembersihan pendahuluan, dan ukur  kadar air gabah, beri label dengan identitas sekurang-kurangnya asal blok, nama varietas, berat, kelas  calon benih, dan tanggal panen.

  1. Pengeringan
    Pengeringan dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
  • Pengeringan dengan sinar matahari

Dengan cara ini dianjurkan menggunakan lantai jemur yang terbuat dari semen, dilapisi terpal agar  tidak terlalu panas dan gabah tidak tercecer, serta dibolak-balik setiap 3 jam sekali. Calon benih dikeringkan sampai mencapai kadar air maksimal 13 %, dan sebaiknya 10-12 % agar tahan disimpan lama.

  • Pengeringan buatan dengan dryer

Dryer dibersihkan setiap kali ganti varietas, hembuskan udara sekitar 3 jam tanpa pemanasan, kemudian diberikan hembusan udara panas suhu rendah dimulai dari 320C, selanjutnya ditingkatkan seiring dengan menurunnya kadar air gabah calon benih, sampai suhu mencapai panas 420C pada kadar air 14 %. Atur laju penurunan  kadar air 0,5 % per jam. Suhu  disesuaikan setiap 3 jam, bahan dibolak-balik agar panas merata, dan lanjutkan pengeringan sampai diperoleh kadar air minimal 13 % namun sebaiknya 10-12 %.

  1. Pembersihan

Pembersihan dilakukan untuk memisahkan dan mengeluarkan     kotoran dan biji hampa sehingga diperoleh ukuran dan berat biji yang seragam. Kegiatan ini dilakukan dengan langkah sebagai berikut :

  • Dilakukan secara manual jika  jumlah bahan sedikit
  • Apabila bahan dalam jumlah yang besar dilakukan dengan menggunakan mesin pembersih seperti : blower, separator, dan gravity table separator
  • Peralatan yang digunakan sebaiknya yang berfungsi baik
  • Bersihkan alat tersebut setiap kali akan digunakan
  • Gunakan kemasan/karung baru dan pasang label atau keterangan diluar dan dalam kemasan
  • Petugas pengawas benih tanaman pangan setempat diminta untuk mengambil contoh guna pengujian laboratorium
  1. Pengemasan / Penyimpanan Benih
  • Benih yang layak disimpan adalah benih dengan daya tumbuh awal sekitar 90 % dan KA 10-12 %
  • Gunakan gudang yang memenuhi syarat
  • Bebas dari hama gudang seperti tikus, hama bubuk, dan lainnya
  • Gunakan kantong yang kedap udara
  • Kemasan ditata teratur, tidak bersentuhan langsung dengan  lantai dan dinding gudang

II.5 Benih Padi yang Unggul

Benih padi yang unggul sangat penting sekali bagi kita karena benih merupakan faktor utama dan penentu keberhasilan budidaya kita. Bagaimanapun baikknya perawatan tanaman yang kita lakukan tidak akan ada gunanya jika benih yang kita gunakan sangat jelek.

Kini sangat banyak benih padi yang beredar di pasaran, namun apakah semuanya mempunyai kualitas yang baik? Seringkali kita menemukan kejadian walaupun benih yang kita gunakan tersebut telah bersertifikat dan berlabel namun setelah kita tanam hasilnya kurang memuaskan.

Langkah yang utama untuk membuat benih padi yang unggul adalah kita harus memiliki benih padi  berlabel putih, benih dengan label putih bisa kita dapatkan di balai benih padi setempat.  Seandainya kita kesulitan mendapatkan benih berlabel putih kita bisa juga menggunakan benih yang berlabel ungu. Benih berlabel ungu bisa kita dapatkan di kios-kios pertanian. Kebutuhan benih sekitar 25 Kg untuk lahan 1 ha.

Langkah yang kedua kita siapkan lahan untuk menanam padi tersebut. Lahan harus terisolasi dengan tanaman padi yang lain agar kemurniannya terjaga. Jarak antar lahan dan tanaman padi yang lain minimal 10 m. Atau paling enak kalau kita menanamnya berbeda waktu dengan tanaman padi yang lain. Terserah saja caranya yang penting jangan sampai waktu pembungaannya sama. Sebelum benih label putih/ ungu  kita semai, sebaiknya kita seleksi dulu dengan menggunakan air garam/ air abu. Gunakan benih yang terendam dan jangan gunakan benih yang mengapung. Rendam dengan air bersih selama 24 jam dan tiriskan selama 24 jam pula. Namun jika calon akar belum ada 0,5 cm pemeraman bisa diperlama 24 jam lagi.

Lahan pesemaian kita siapkan seperti biasa dengan luas kurang lebih 20 % dari luas lahan. Cara pembuatan bibit seperti padi bisaa, hanya yang harus diperhatikan adalah saat bibit padi umur 1 minggu sebaiknya kita beri NPK secukupnya. Dan saat bibit satu minggu menjelang  tanam sebaiknya kita aplikasi pestisida, agar saat penanaman nanti tidak ada hama dan penyakit yang terbawa ke pertanaman.

Cara penanaman benih padi unggul yang baik adalah harus memerhatikan jarak tanam, yaitu jangan kurang dari 22 cm. Dan gunakan sistem tanam legowo maksimal 4:1. Tanam harus umur muda, kurang dari 18 hss. Saat pelaksanaan jangan terlalu dalam. Gunakan cara tanam jiwir 1-2 batang per lubang. Inilah kunci untuk meningkatkan produksi benih padi unggul.

Dalam pemeliharaan yang paling penting adalah pengairan yang berselang, yaitu pemberian air dan buang air sampai tanah agak mengering. Tanaman jangan selalu direndam air. Pemupukan gunakan NPK 300 kg/ ha dan tambahkan urea 100 kg/ha atau sesuaikan kebutuhan dengan menggunakan bagan warna daun.  Pemupukan bisa diberikan 2 kali ataupun 3 kali.

Ketika tanaman benih padi unggul telah berbuah maka perlu dilakukan penyortiran, hal ini berguna untuk meningkatkan kemurnian benih. Penyortiran dilakukan dengan cara membuang/ memangkas bulir-bulir padi yang berbeda varietasnya. Pemangkasan juga dilakukan terhadap jenis gulma yang sefamili dengan padi.

Ada trik juga untuk memantapkan pengisian bulir, yaitu dengan cara menambahkan pupuk NPK ketika bulir padi telah masak susu. Hal ini berfungsi untuk memperlama proses pengisian dan memundurkan masa panen.

Pemanenan benih padi unggul dilakukan jangan bersamaan dengan tanaman padi konsumsi. Hal ini bertujuan agar supaya benih tidak tercampur dengan benih lain. Gunakan sabit yang bergerigi dan taruh potongan malai pada terpal atau karung bekas. Pemanenan dilakukan saat padi menguning sekitar 90 %.

Penjemuran calon benih padi unggul sebaiknya  tidak dilakukan dilantai jemur, tapi harus diberi alas terpal atau anyaman bambu. Penjemuran sebaikknya dilakukan saat pagi hari sekitar jam 07.00 sampai jam 10.00 dan sore hari sekitar jam 14.30 sampai jam 17.00. Keringkan sampai kadar air sekitar 14-12 %. Sebelum digunakan untuk benih sebaiknya benih padi unggul dilakukan stagnasi dulu (disimpan dalam karung) sekitar  1-2 minggu. Setelah proses stagnasi bibit padi unggul siap digunakan.

II.6 Padi Hibrida dan Kelemahan dan Kelebihannya

Kalau kita berbicara tentang padi hibrida, tentu dalam fikiran kita akan terlintas tentang kehebatan produk-produk pertanian yang berlabel hibrida yang lain. Seperti jagung hibrida, cabai hibrida, tomat hibrida, melon hibrida dan lain sebagainya. Namun sayang cerita padi hibrida tak seindah komoditi pertanian hibrida yang lain.

Beberapa varietas padi hibrida telah diluncurkan di Indonedia diantaranya Arize dari PT Bayer, Intani 1 dan 2 dari PT Tanindo, PP1, H1 dari PT Pioneer dan Bernas prima dari PT Sumber Alam Sutera. Sudah bertahun-tahun petani kita menguji keberadaan padi hibrida dengan segudang harapan untuk dapat mendongkrak produksinya. Baik petani membeli sendiri dari kios pertanian, petani diberi sample oleh produsen padi hibrida tersebut dan petani mendapatkan bantuan-bantuan dari pemerintah melalui program SLPTT maupun program yang lain. Sebenarnya petani sangat antusias ketika mendengar pertama kali tentang kehebatan padi hibrida yang notabene bisa berproduksi hingga 12 ton per hektar. Petani mana yang tidak tergiur jika produksinya akan mencapai 12 ton per hektar?

Dan kini setelah beribu-ribu petani kita menanam padi hibrida bahkan bukan hanya sekali tetapi berkali-kali mereka seakan jera dan trauma. Dari berbagai macam jenis padi hibrida yang telah mereka coba ternyata belum mendapatkan hadil yang maksimal. Sebenarnya ada apa dengan padi hibrida?

Memang benar padi hibrida mempunyai kelebihan berpotensi produksi sangat tinggi dan mempunyai kualitas beras yang pulen dan wangi. Tetapi apakah akan mampu berproduksi tinggi jika memiliki bermacam-macam kelemahan seperti dibawah ini ?

  1. Walaupun tertulis dikemasannya tahan berbagai macam penyakit ternyata dilapangan tidaklah demikian. Sebagai bukti banyak padi hibrida yang ditanam petani terserang hawar daun bakteri (kresek), hawar pelepah dan blast.
  2. Padi hibrida terbukti sangat rawan terhadap serangan hama wereng, sundep/ beluk dan ulat.
  3. Padi hibrida membutuhkan pemupukan yang lebih banyak jika dibanding dengan varietas unggul lokal sehingga akan menambah biaya produksi bagi petani.
  4. Walaupun mempunyai bulir malai yang banyak (hingga 400) tetapi seringkali bulir tersebut tidak terisi semua. Kadangkala pengisian bulir padinya juga tidak bisa penuh.
  5. Padi hibrida kurang memiliki adaptasi lingkungan yang tinggi, sehingga hanya spot-spot lokasi tertentu yang cocok untuk penanaman padi hibrida.
  6. Walaupun variets tertentu tertulis tahan kering dan cocok untuk gogorancah tetapi kehebatanya tidak pernah lebih dari varietas situbagendit dan IR 64.
  7. Mempunyai bentuk tanaman yang tinggi dan besar sehingga akan mempersulit petani dalam perawatannya.
  8. Benih padi hibrida tidak bisa ditanam kembali oleh petani. Hal tersebut akan menjadikan monopoli pasar bagi produsen benih tersebut.
  9. Harga benih padi hibrida jauh lebih mahal (Sekitar Rp.45.000/ kg) jika dibanding dengan variatas unggul lokal yang hanya sekitar Rp.5000/ kg. Ini akan membengkakkan pengeluaran petani.
  10. Memerlukan perawatan dan perhatian yang lebih hati-hati, sehingga akan menambah pengeluaran tenaga dan biaya bagi petani.

Dari kelemahan-kelemahan padi hibrida tersebut kita dapat mempertimbangkan bagi pemerintah dan dinas pertanian dalam hal pemberian bantuan benih bagi petani dan untuk kebijakan program-program yang lain. Petani kita belum bisa menerima teknologi yang rumit-rumit dan ribet-ribet karena mengingat SDM petani kita belum tergantikan dengan generasi muda.

II.7 Padi Hasil Penelitian

Varietas padi nonhibrida itu bernama IIRI 400 (Indonesia Inovasi Ridho Ilahi). Banyaknya gabah kering sawah yang dihasilkan varietas baru padi tersebut dapat dikatakan fantastis. Mengingat padi hibrida yang selama ini diunggulkan pemerintah hanya mampu menghasilkan 9 ton sampai dengan 12 ton per ha.
(Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) berhasil menemukan varietas lokal padi yang memiliki produktivitas atau potensi hasil panen mencapai 14 ton sampai dengan 20 ton per hektare (ha)).

“Penelitian varietas padi yang kami berinama IIRI 400 ini dilakukan sejak tahun 2000,” tegas Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang, DR Ir Haryadi kepada Media Indonesia, Minggu (7/2).  Saat panen perdana di Desa Tambak Asri, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Haryadi membuktikan dihadapan puluhan petani dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Malang Raya, Bambang DH Suyono, dengan menimbang langsung hasil panen yang akhirnya diketahui mencapai 14,5 ton per ha.

Sejauh ini tahap uji coba sudah dilakukan di Banyuwangi, Malang, Blitar Jawa Timur dan Kerawang Jawa Barat. Hasilnya cukup menggembirakan yakni rata-rata potensi hasil mencapai 14 ton per ha. Sedangkan uji coba di Kerawang mampu menghasilkan 20 ton per ha.  “Banyak petani heran dan mempertanyakan benih padi dan orang yang mengembangkan varietas ini,” tegasnya. Selain memiliki produktivitas tinggi, benih padi IIRI 400 memiliki keunggulan berumur 100 hari. Agak tahan terhadap hama penyakit diantaranya penggerek batang, sundep dan wereng. Bulir padi di tiap tangkai juga lebih banyak ketimbang padi varietas lain. Satu hektare lahan hanya butuh 50 kilogram benih dengan hasil panen maksimal mencapai 20 ton.

Benih padi ini cocok ditanam di daerah dataran rendah dan sedang dengan ketinggian 0-500 meter di atas permukaan laut. Ia menceritakan IIRI 400 berasal dari persilangan benih padi lokal Genjah Rawe dan Cempo.

Sementara itu penelitian ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan bahwa Indonesia memiliki lahan pertanian sangat luas, tanah subur dan petani yang giat bekerja. Namun, pemerintah selalu mengaku kekurangan beras guna memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga terpaksa harus impor beras.

Berawal dari keprihatinan tersebut, kemudian ia termotivasi melakukan penelitian secara mandiri melalui organisasi independen di Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang. Lembaga independen itu bergerak dalam bidang penelitian pertanian, berkantor di Jalan Soekarno Hatta No 21 Kota Malang. Ketika penelitian memasuki tahap pengembangan, pihaknya mendapat kucuran dana sebesar Rp1 miliar dari FAO (Food and Agriculture Organization) yakni organisasi pangan dan pertanian dunia yang berkantor di Australia. Haryadi mengaku menyelesaikan sarjana pertanian S-1 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya, dan menyelesaikan studi S-2 dan S-3 di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Sejauh ini benih padi temuannya belum mendapat sertifikat pelepasan varietas dari pemerintah karena terkendala mahalnya biaya uji multi lokasi yang ditaksir mencapai Rp400 juta.

Itu sebabnya benih padi ini tidak bisa diperoleh secara bebas di pasaran. Petani hanya bisa mendapatkan benih IIRI 400 secara terbatas di lingkungan mereka sendiri.

II.8 Cara Memilih Benih dan Penyiapan Bibit Padi yang Baik

Penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi sangat disarankan, karena (1) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak, (2) benih yang baik akan menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, (3) ketika ditanam pindah, bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi.

Gabah padi dapat dikelompokkan dalam dua grup, yaitu gabah yang memiliki densitas tinggi (DT) dan gabah dengan densitas rendah (DR). Gabah dengan DT memiliki spesifik gravitasi sekurang-kurangnya 1,20. Sedangkan gabah dengan densitas rendah (DR), spesifik gravitasi gabah sebesar 1,05 atau bahkan kurang. Gabah dengan DR tinggi memiliki tingkat abnormalitas bibit rendah. Pada benih dengan gabah densitas tinggi, lebar dan berat daun serta jumlah penggunaan karbohidrat oleh bibit lebih tinggi dibandingkan dengan gabah yang densitasnya rendah. Di lapangan, bibit yang berasal dari gabah dengan densitas tinggi akan lebih baik dari bibit yang berasal dari gabah dengan densitas rendah. Benih dengan kualitas baik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil.

 

Cara memilih benih yang baik

Untuk memilih benih yang baik, benih direndam dalam larutan 20 g ZA/liter air atau larutan 20 g garam/ liter air. Dapat juga digunakan abu dengan menggunakan indikator telur, yang semula berada dalam dasar air setelah diberi abu telur mulai terangkat kepermukaan. Kemudian benih yang mengambang/mengapung dibuang.

Untuk daerah yang sering terserang hama penggerek batang, disarankan benih perlakukan dengan pestisida berbahan aktif fipronil. Perlakuan pestisida ini juga dapat membantu mengendalikan keong mas.

Persiapan lahan pembibitan

Buat bedengan pembibitan dengan lebar 1,0-1,2 m dengan panjang bervariasi menurut keadaan lahan dan dengan luas pembibitan 400 m2. Luas bedengan ini cukup untuk ditebari 20-25 kg benih. Diusahakan agar lokasi pembibitan dekat dengan sumber air dan memiliki drainase yang baik, agar tempat pembibitan bisa cepat diairi dan cepat pula dikeringkan bilamana perlu. Setelah benih dipisahkan dari benih yang setengah terisi, sebelum disebarkan di pembibitan benih dibilas agar tidak mengandung larutan pupuk atau garam untuk kemudian direndam selama 24 jam dan setelah itu ditiriskan selama 48 jam.

Gunakan bahan organik pada lahan pembibitan

Saat menyiapkan pembibitan, campurkan untuk setiap m2 bedengan sekitar 2 kg bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, atau campuran berbagai bahan antara lain kompos, pupuk kandang, serbuk kayu, abu, sekam padi. Penambahan bahan organik memudahkan pencabutan bibit padi sehingga kerusakan akar bisa dikurangi.

Lindungi bibit padi dari serangan hama

Tikus sangat menggemari benih padi yang baru disebar. Oleh karena itu berbagai usaha pengendalian hama tanaman perlu dilakukan di saat pembibitan. Buat pagar plastik mengelilingi tempat pembibitan untuk mencegah serangan tikus. Usaha ini akan lebih efektif apabila tempat pembibitan masing-masing petani berdekatan, atau bahkan bersama dalam satu lokasi pembibitan. Pasang bubu perangkap pada pagar plastik untuk mengendalikan tikus sejak dini.

II.9 Padi Inpari 13, Tahan Wereng Coklat

Anomali iklim dengan frekuensi hujan terus-menerus setiap hari yang terjadi beberapa bulan belakangan ini menyebabkan kelembaban udara tinggi sehingga berpotensi memicu pertumbuhan hama wereng batang coklat (WBC) pada pertanaman padi.

“Jika perkembangannya tidak bisa dikendalikan maka bisa memicu peningkatan populasi yang menyebabkan meledaknya intensitas serangan. Ini bisa menyebabkan puso“, jar Ir. Sudir, Staf Ahli Hama Penyakit dan Proteksi Tanaman, Balai Besar Padi, Sukamandi Subang. Sudir mengatakan populasi tinggi WBC dapat menyebabkan daun berubah kuning oranye sebelum menjadi coklat dan mati. Kondisi ini disebut hopperburn dan membunuh tanaman. Wereng batang coklat juga dapat menularkan penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput yang sampai saat ini tidak bisa diobati. Pada kepadatan 1 wereng coklat per batang atau kurang, masih ada peluang untuk bertindak guna menekan populasi.

Penggunaan benih padi varietas tahan serangan WBC merupakan salah satu cara utama untuk mencegah dan mengatasi puso akibat serangan hama ini. Saat ini BB-Padi telah mengeluarkan varietas padi Inpari 13 yang tahan terhadap serangan WBC biotipe 1, 2 dan 3. Keunggulan lainnya dari varietas ini adalah potensi hasil tanaman yang tinggi, sekitar 8 ton per hektar, umur tanaman genjah sekitar 103 hari, tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan agak tahan terhadap ras 133, 073 dan 173, cocok ditanam di ekosistem sawah tadah hujan dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl dan tekstur beras yang dihasilkan lebih pulen.

Selain menerapkan varietas unggul, pencegahan WBC dapat dilakukan dengan penerapan teknik budidaya yang baik seperti bersihkan gulma dari sawah dan areal sekitarnya, hindari penggunaan pestisida secara tidak tepat yang dapat menyebabkan terbunuhnya musuh alami, amati wereng di persemaian setiap hari atau setiap minggu setelah tanam pindah pada batang dan permukaan air, periksa kedua sisi persemaian.

  1. A.      Sumber Sinar Tani
  • Potensi dan rata-rata hasil

Inpari 13 merupakan varietas berumur sangat genjah dengan umur tanaman 103 hari. Inpari 13 ini memiliki rata-rata hasiI 6,59 t/ha (potensi hasiI 8,0 t/ha). Sedangkan Inpari 1, 2, 3, dan Inpari 6 Jete termasuk dalam klasifikasi varietas yang berumur genjah (105-124 hari).  Keempat varietas tersebut memiliki rata-rata hasiI di atas 5 t/ha. Inpari 1 dengan umur 108 hari memiliki rata-rata hasiI yang tinggi, sekitar  7,3 t/ha dengan potensi hasiI 10 t/ha.   Sedangkan Inpari 2 yang berumur 115 hari memiliki rata-rata hasiI 5,83 t/ha dengan potensi hasiI 7,30 t/ha. Inpari 3 yang dilepas pada tahun 2008 memiliki umur panen sekitar 110 hari, rata-rata hasiI panennya sebesar 6,05 t/ha atau setara dengan potensi hasiI 7,52 t/ha, sedangkan Inpari 6 jete bila ditanam di sawah dataran rendah sampai tinggi (±600 m dpl) memiliki rataratahasiI sebesar 6,82 t/ha (potensi hasiI 12 t/ha) dengan umur panen sekitar 118 hari.  IR66 merupakan varietas yang mempunyai ketahanan biotipe lengkap memiliki  rata-rata hasiI 4,5 t/ha atau setara dengan potensi hasiI 5,5 t/ha.

  • Mutu beras

Selera konsumen di Indonesia sangat beragam, untuk daerah yang banyak  menyukai tekstur nasi pera dengan kadar amiIosa tinggi seperti Sumatera Barat, dapat menanam varietas tahan wereng cokelat IR66. Varietas tersebut memiIiki tekstur nasi pera dan kadar amilosa tinggi (25%). Varietas IR66 memiliki bentuk beras ramping. Masyarakat Indonesia di Pulau Jawa sebagian besar menyukai nasi yang pulen seperti nasi varietas IR64 dan Ciherang. Saat ini banyak pilihan varietas padi pulen yang tahan wereng cokelat di antaranya adalah Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13. Keempat varietas tersebut mempunyai tekstur nasi pulen dan kadar  amiIosa sedang (20,1-25%).  Inpari 1 mempunyai kadar amilosa 22%, Inpari 2  18,55%, Inpari 3 20,57%, dan Inpari 13 22,40%. Varietas yang mempunyai kadar  amilosa lebih rendah adalah Inpari 6 Jete (kadar amiIosa 18%).  Bentuk beras yang banyak disukai konsumen adalah beras panjang dan ramping, seperti beras IR64 dan Ciherang. Lain lagi dengan Inpari 2 yang diIepas pada tahun 2008, varietas tersebut memiliki bentuk beras panjang dan gemuk

II.10 Pengaruh Dosis Pupuk Urea

Pulau Jawa mempunyai peranan penting dalam produksi beras nasional dikarenakan lahan lebih subur, jaringan irigasi lebih tersedia dan teknologi yang lebih maju jika dibanding dengan daerah yang lain. Pemberian dosis pupuk N yang tepat pada tanaman padi yang di pindah tanam pada umur yang tidak tepat, akan memberikan hasil produksi yang kurang optimal. Demikian pula sebaliknya, tanaman padi yang dipindahkan ke lahan pertanian pada umur yang tepat namun tidak diimbangi dengan pemberian dosis pupuk yang tepat akan memberikan hasil yang kurang optimal.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara dosis pupuk urea dan umur bibit padi terhadap pertumbuhan dan hasil, mengetahui pengaruh dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil serta mengetahui pengaruh umur bibit padi sawah terhadap pertumbuhan dan hasil. Penelitian dilakukan di lahan percobaan Politeknik Negeri Jember, pada ketinggian 89 m dpl. Pelaksanaan penelitian dimulai bulan Juni 2009 sampai dengan Oktober 2009. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK) yang terdiri dari dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor I adalah umur bibit (V) yang terdiri dari tiga taraf yaitu V1 (10 hari setelah disemai), V2 (20 hari setelah disemai), V3 (30 hari setelah semai) dan faktor II dosis pupuk (N) yang terdiri dari empat taraf yaitu N0 (Kontrol 0 kg/ha), N1 (50 kg/ha), N2 (100 kg/ha), N3 (150 kg/ha). Pengujian pengaruh perlakuan dengan menggunakan sidik ragam dan apabila terdapat perbedaan diantara perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan 5%.

Dosis pupuk urea yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi yaitu 100 kg/ha karena memiliki pertumbuhan yang paling baik dan hasil yang tinggi. Umur bibit padi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi yaitu 20 hst dan tidak terdapat interaksi antara dosis pupuk urea dengan umur bibit padi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi.

II.11 Mikrokontroler Pengukur Kadar Air Benih Padi

Petani bukan hanya dipusingkan dengan anomali cuaca, gangguan hama, dan harga gabah yang sering terjun bebas. Petani kerap pula menghadapi masalah kualitas benih padi yang kurang baik. Imbas dari penggunaan benih padi kualitas minim menyebabkan hasil panen kurang maksimal. Benih unggul atau varietas unggul dihasilkan dari padi yang memiliki kualitas genetik unggul pula. Selain itu, benih unggul bisa diperoleh dari teknologi rekayasa genetika. Namun demikian, bila benih unggul tidak mendapat perlakuan sesuai standar pertanian, maka hasil panen tanamannya pun tidak akan memuaskan.

Dalam ilmu pertanian, kesalahan dalam mempersiapkan benih akan berpengaruh pada kualitas pertumbuhan tanaman yang berujung pada kuntitas hasil padi. Persiapan dalam pembenihan biasanya untuk mengetahui kadar air, media penyemaian, pemupukan, dan perawatan selama dalam media penyemaian. Kadar air dalam padi yang akan disemai penting untuk diketahui, sebab kadar air yang terlalu tinggi membuat padi cepat busuk selama penyimpanan.

Padahal, benih padi akan mengalami perkecambahan sempurna dengan kadar air yang pas sebelum disemai. Sebagai contoh, untuk dapat dijadikan benih, persentase kadar air harus berada antara 14 persen dan 18 persen, sedangkan kadar air penyimpanan gabah agar awet dan siap giling, kadarnya harus lebih rendah antara 10 persen dan 12 persen saja. Kadar air yang rendah menghindari tumbuhnya jamur dan bakteri pada gabah. Sejauh ini yang menjadi masalah petani adalah mengukur kandungan air selama disimpan.

Jika ada alat, harganya masih terlalu mahal dan kurang terjangkau petani. “Alat Pengukur benih padi di pasaran masih mahal dan akurasinya kurang,” ujar Arum Set ya, mahasiswa teknik elekro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang mengembangkan alat pengukur kadar air padi. Harga pengukur kandungan air benih padi di lapangan sekitar 3.600.000 rupiah.

Bersama dengan Samsul Feri Apriyadi dan Rahmat Hidayat, Arum tergugah untuk mengembangkan alat yang dapat membantu petani menyimpan gabah benih dan gabah siap giling tanpa takut tumbuh jamur dan bekteri pembusuk. Mereka kemudian mengembangkan alat pengukur kadar air dengan basis mikrokontroler dan sensor suhu. Mikrokontroler merupakan komputer mini berupa cip yang memiliki tugas khusus.

Di dalamnya terdapat prosesor, random access memory (RAM), memori program, dan perlengkapan output dan input yang terhubung dengan sensor-sensor serta layar penampil data. Sensor suhu adalah alat yang bisa mengubah besaran panas menjadi besaran lintrik. Elektronelektron pada materi yang memiliki panas akan bergetar dengan naiknya suhu. Naiknya suhu akan menyebabkan nilai hambatan bertambah dan inilah yang menjadi pangkal sensor suhu. Alat hasil inovasi mereka menggunakan mikrokontroler AVR ATmega8. Mikrokontroler ini memiliki bermacam fungsi aplikasi, salah satunya ialah untuk memproses hasil kerja sensor suhu. Jika digabungkan dengan sensor ultrasonik alat ini dapat dipakai untuk mengukur ketinggian. Prinsip Kerja Untuk mengukur suhu, mikrokontroler ini dihubungan dengan sensor suhu. Prinsip kerja sensor suhu mengonversi besaran panas gabah menjadi besaran tegangan. Alat hasil penelitian ketiga mahasiswa semester lima ini menggunakan sensor suhu jenis IC LM35.

Sensor ini dinilai memiliki presisi tinggi dalam mengenali panas. “Suhu 100 derajat celsius akan dikonversi menjadi tegangan sebesar 1 volt,” ujar Arum. Untuk menampilkan data hasil dari sensor suhu digunakan liquid crystal display (LCD) dengan tampilan 16 x 2 baris. Modul ini pas dengan tuntutan fungsi yang hanya butuh informasi berupa angka sehingga tidak perlu layar LCD besar dan berwarna. Selain itu, pilihan ini akan menjadikan alat menjadi murah ketika diproduksi dalam skala masal.

Proses pembuatannya pertama disiapkan perangkat keras berupa rangkaian catu daya (power supply), sistem minimum, ISP, sensor, dan layar LCD. Setelah perangkat keras tersedia, disiapkan perangkat lunak Code Vision AVR dan dibuat dengan menggunakan bahasa pem programan C. Program yang te lah terkodekan lalu dikompilasi ke dalam file jenis dan diisikan dalam ATmega8. Setelah rangkaian perangkat lunak dan keras terintegrasi, kata Arum, langkah yang dilakukan adalah melakukan kalibrasi.

Kalibrasi dengan memakai alat buatan International Rice Research Institute (IRRI) dilakukan untuk mendapatkan kesamaan kadar air padi dengan alat lain, sedangkan pada tahap aplikasi pengujian pada gabah digunakan tiga jenis gabah berbeda. Gabah ini telah diukur dengan alat kalibrasi buatan IRRI yang sekaligus berfungsi sebagai pembanding. Langkah pengujian yang dilakukan oleh Arum dan kawan-kawannya adalah dengan mengukur kondisi beberapa jenis gabah dengan tingkat kekeringan berbeda.

Tingkat kekeringan gabah yang dipakai berupa hasil pengujian dengan alat kalibrasi buatan IRRI. Ketiga gabah tersebut masing-masing memiliki kadar air pertama 10,8 persen, kedua 11,4 persen, dan ketiga 34 persen. Hasil uji alat, ternyata tingkat kadar air tidak jauh berbeda dengan hasil alat dari IRRI sebagai tolok ukur. Gabah pertama memiliki kandungan air 10,15 persen, gabah kedua 11,21 persen, dan ketiga 33,92 persen.

Dari hasil analisis yang ditampilkan layar terdapat perbedaan penyimpangan antara alat hasil ino vasi dengan buatan IRRI. Gabah pertama terdapat penyimpangan sebesar 0,15 persen, kedua 0,19 persen, dan ketiga 0,8 persen. Jika dihitung rata-rata kesalahannya 0,38 persen. Menurut Arum, angka ini tidak terlalu signifi kan. “Alat pengukur kadar air benih padi ini memiliki tingkat toleransi kesalahan yang rendah,” kata Arum.

Oleh karenanya, Arum yakin alat hasil buatannya layak untuk diaplikasikan sebagai pengkur benih padi. Namun, agar alat semakin sempurna, dia masih akan melakukan penelitian lanjutan. Mereka akan mencari sensor yang lebih sensitif terhadap panas. Karena alat masih terpisah dan belum terlihat kompak, diperlukan penyempurnaan dalam segi bentuk sehingga mudah dibawa dan disimpan.

II.12 Harga Bibit Padi

Di Aceh Besar – Hujan yang melanda beberapa  daerah Aceh mengakibatkan lahan sawah tergenang sehingga mempengaruhi masa panen. Harga beras pun menjadi melonjak dan bibit padi begitu langka didapat. Kalaupun bibit ada harganya dipastikan mahal. Hal ini dialami oleh petani padi di daerah Aceh Besar dimana untuk mendapatkan bibit unggul biasanya harga padi 3500/ kg, kini menjadi 5000/ kg setara dengan harga beras.

Susah mendapatkan bibit mengakibatkan petani lambat menaburkan benih yang juga berdampak pada terlambatnya panen. Penaburan bibit harus dilakukan berulang ulangnya dan seharusnya sudah dilakukan pada bulan Agustus 2010 lalu. Namun penaburan terpaksa dilakukan kembali pada bulan September 2010. Hal ini sangat memberatkan sebagian petani Aceh Besar. Keterlambatan panen tersebut meliputi daerah Seulimuem, Indrapuri, Sibreh dan bagian Lambaro Kafe.

Petani asal Sibreh Dewi (23), Jumat (7/1) mengungkapkan kepada The Globe Journal,” Tahun ini kami akan telat panen ,langkanya bibit dan juga harga padi semakin naik, kalaupun ada sulit kami mendapatkan bibit padi yang baik. Yang kurang-kurang dicukupkan aja dari pada gak tanam padi.”

Namun beda halnya dengan daerah Lhoknga dan sekitarnya yang juga termasuk daerah Aceh Besar, padi di daerah tersebut sebagian besar sudah menguning, bahkan daerah Lampuuk besok (Sabtu, 8/1) sudah ada masyarakat yang mulai turun ke sawah untuk memanen padi. Sementara daerah Lamlom kira kira lebih kurang 20 hari lagi padi juga sudah bisa di panen.

II.13 Benih Padi Tahan Perubahan Iklim (IRRI)

“Pengembangan varietas baru tersebut ditekankan untuk memperoleh jenis-jenis padi yang mampu memanfaatkan ketersediaan air yang terbatas, berdaya saing tinggi terhadap gulma dan toleran kekeringan agar dapat dikembangkan di lahan tadah hujan,” katanya.

Selain itu, tambahnya, usai penandatanganan kerjasama penelitian antara Indonesia dengan IRRI, juga untuk memperoleh jenis padi yang lebih efisien menyerap pupuk dan menghasilkan beras bernilai gizi tinggi terutama kandungan mineral dan vitamin.

Salah satu dari kerjasama sama tersebut, lanjut Mentan, saat ini sedang merintis varietas yang memiliki kandungan vitamin A yang tinggi yakni varietas unggul padi Golden Rice.  “Mudah-mudahan dalam dua tahun ke depan, muncul varietas Golden Rice sehingga bisa mendukung ketahanan pangan dan menambah cadangan pangan di negara kita”, katanya.

II.14 Penakar Benih Padi Bermutu

Kegiatan agribisnis meliputi tiga sub system, yaitu subsistem pra produksi, produksi, dan pemasaran. Dalam subsistem pra produksi, ketersediaan benih/ bibit merupakan prioritas yang perlu diperhatikan, karena keberhasilan agribisnis akan bergantung pada penyediaan sarana produksi, di antaranya benih bermutu. Perbanyakan benih tanaman padi umumnya diawali dari penyediaan benih penjenis (BS) oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, yang merupakan sumber untuk perbanyakan jenis dasar (BD), benih pokok (BP), dan benih sebar (BR).

  • Benih Bermutu

Benih bermutu adalah benih yang baik dan bermutu tinggi yang menjamin pertanaman bagus dan hasil panen tinggi. Saat ini, benih bermutu dicerminkan oleh keseragaman biji, daya tumbuh, dan tingkat kemurnian yang tinggi.

  • Syarat Benih Bermutu,

Benih bermutu harus memiliki enam kriteria:

  1. Murni dan diketahui nama varietasnya.
  2. Daya tumbuh tinggi (minimal 80%) dan vigornya baik.
  3. Biji sehat dan dipanen dari tanaman tua.
  4. Dipanen dari tanaman sehat.
  5. Tidak terinfeksi oleh hama dan penyakit.
  6. Bersih, tidak tercampur varietas lain, biji rerumputan, dan kotoran lainnya.
  • Faktor-faktor Penangkaran Benih Bermutu
    • Benih sumber

Benih yang digunakan minimal harus satu kelas di atasnya. Contohnya, untuk produksi benih kelas FS benih sumbernya harus kelas BS, sedangkan untuk produksi benih kelas SS benih sumbernya harus kelas FS atau BS.

Pemilihan lokasi dan jenis tanah

a. Kondisi lokasi

Lahan subur dengan air irigasi dan saluran drainase yang baik.

Bersih dari sisa-sisa tanaman atau varietas lain dan musim tanam.

Jarak minimal antar varietas yang berbeda 3 m.

Isolasi waktu tanam antar dua varietas yang sama adalah sekitar 4 minggu.

Persiapan lahan

Lahan terbaik untuk produksi benih sumber adalah lahan bekas varietas yang sama dengan musim sebelumnya atau lahan bera. Bila bekas varietas lain, maka perlu dilakukan:

  1. Pembajakan I genangi air 2-3 hari, keringkan 7-10 hari.Saat fase
  2. pengeringan (5-7 hari setelah drainase), aplikasikan herbisida pasca tumbuh.
  3. Pembajakan II genangi 2-3 hari, keringkan lalu biarkan 7-10 hari.
  4. Pengolahan tanah III (garu) ratakan dan bersihkan.
  5. Aplikasi herbisida pratumbuh dilakukan 5 hari sebelum tanam.

Persemaian
Luas lahan untuk persemaian sekitar 4% dari luas areal produksi. Buat bedeng persemaian dengan tinggi 5-10 cm, lebar sekitar 110 cm, panjang sesuai kebutuhan. Beri pupuk urea, SP36 dan KCl masingmasing 15g/m2. Tabur benih secara merata pada persemaian (50g/m2).

Cara memilih benih yang baik

v  Benih direndam dalam larutan 3% garam dapur.

v  Benih yang mengapung dibuang.

v  Banyaknya air dua kali volume benih yang direndam.

v  Untuk lokasi yang endemik hama penggerek batang, perlakuan benih dengan pestisida berbahan aktif fipronil. Pestisida ini diberikan pada saat benih ditiriskan dengan takaran 12,5 cc/kg benih padi

Tanam

v  Bibit dipindahkan ke lapangan saat berumur 15 HSS (hari setelah sebar)

v  Penanaman dilakukan dengan 1 bibit/lubang tanam.

v  Jarak tanam 25 x 25 cm atau 20 x 20 cm tergantung varietas.

Pemeliharaan tanaman

A. Pengaturan air irigasi Secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

v  Setelah tanam, ketinggian air sekitar 3 cm dipertahankan sampai 3 hari.

v  Lalu, air dibuang sampai tercapai kondisi macak-macak, dan pertahankan sampai 10 hari.

v  Menjelang fase pembentukan anakan sampai inisiasi pembungaan, lahan diairi setinggi 3 cm.

v  Pada fase primordial sampai bunting, ketinggian air dipertahankan sekitar 5 cm untuk menekan anakan baru.

v  Pada fase bunting sampai fase berbunga, lahan secara periodik diairi dan dikeringkan secara bergantian. Petakan diairi setinggi 5 cm kemudian dibiarkan sampai kondisi sawah kering selama 2 hari dan kemudian diairi
kembali setinggi 5 cm dan seterusnya.

v  Setelah selesai fase berbunga sampai masapengisian biji, ketinggian air dipertahankan sampai setinggi 3 cm.

v  Pada fase pemasakan biji lakukan pengairan intermitten, kemudian 14 hari menjelang panen lahan dikeringkan untuk memudahkan saat panen.

  1. B.            Pemupukan

Pemupukan sebaiknya dilakukan dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dosis yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pupuk N diberikan berdasarkan warna daun, sedangkan pupuk P dan K berdasarkan hasil
analisis tanah atau PUTS. Bila hal tersebut di atas belum memungkinkan
untuk dijalankan, maka:

v  Pada pengolahan tanah I dilakukan aplikasi bahan organik (pupuk kandang atau kompos 2-4 ton/ha).

v  Pada saat tanam atau maksimal 1 MST (minggu setelah tanam), aplikasikan 80 kg urea/ha, 100 kg SP36/ha dan 100 kg KCl/ha.

v  Pada 4 MST dilakukan pemupukan susulan 90 kg urea/ha.

v  Pada 7 MST, berikan 80 kg urea/ha dan 50 kg KCl/ha.

  1. C.           Pengendalian hama/penyakit

v  Hama dan penyakit pada tanaman dapat menurunkan hasil dan mutu benih.

v  Pengendalian hama dan penyakit sebaiknya dilakukan dengan mengacu pada konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu).

Roguing
Roguingin adalah membuang tipe simpang, campuran varietas lain, dan membuang tanaman lain. Tanaman yang terinfeksi oleh stemborer atau penyakit tanaman lainnya seperti tungro juga harus dibuang.

Panen
Gunakan peralatan panen ( thresher) dan pengeringan (lantai jemur, mesin pengering) yang bersih agar tidak menjadi sumber kontaminasi. Bila memakai karung sebaiknya menggunakan karung yang masih baru.

v  Pastikan bahwa areal yang akan dipanen tidak ada sisa malai yang tertinggal di pertanaman yang dibuang saat rouging, terutama rouging terakhir (satu minggu sebelum panen).

v  Panen sebaiknya dilakukan per varietas. Calon benih kemudian dimasukkan ke karung dan diberi label (nama varietas, tanggal panen, dan lokasi produksi).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

III.1 Simpulan

Produksi padi yang baik dan maksimal dimulai dari pemilihan dan perlakuan benih padi yang baik. Sesuai dengan anjuran pemerintah dan juga anjuran teknologi budidaya yang baik, benih padi yang digunakan sangat disarankan berasal dari benih padi bersertifikat.

Padi tergolong tanaman yang menyerbuk sendiri dan kemungkinan untuk menyerbuk silang sangat kecil (<0.4 %). Namun demikian, lokasi perbenihan tetap harus diisolasi dari pertanaman padi lain minimal 3 meter, atau berbunga tidak bersamaan dengan selisih waktu sekitar 30 hari dari padi konsumsi.

Cara pemilihan benih yang baik sebaiknya menggunakan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi sangat disarankan, karena (1) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak, (2) benih yang baik akan menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, (3) ketika ditanam pindah, bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi.

Melindungi padi dari serangan hama. Tikus sangat menggemari benih padi yang baru disebar. Oleh karena itu berbagai usaha pengendalian hama tanaman perlu dilakukan di saat pembibitan. Buat pagar plastik mengelilingi tempat pembibitan untuk mencegah serangan tikus. Usaha ini akan lebih efektif apabila tempat pembibitan masing-masing petani berdekatan, atau bahkan bersama dalam satu lokasi pembibitan. Pasang bubu perangkap pada pagar plastik untuk mengendalikan tikus sejak dini.

 

III.2 Saran

Dengan makalah yang telah kami buat ini semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan yang telah kami buat ini karena kami masih dalam proses pembelajaran. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–            http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/proses-benih-padi-bersertifikat-dan-penggunaannya-para-petani-1265599338.htm

–            http://sulsel.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=142:teknik-produksi-benih-padi&catid=48:panduanpetunjuk-teknis-leaflet&Itemid=53

–            http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/teknologi-produksi-benih-padi-varietas-unggul-1302580433.htm

–            http://www.gerbangpertanian.com/2011/03/membuat-benih-padi-unggul.html

–            http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/02/08/10336/Alumni-Unibraw-Malang-Temukan-Benih-Padi-IIRI-400-/

–            http://benihpadiorganik.blogspot.com/

–            http://www.gerbangpertanian.com/2011/01/2-kelebihan-dan-10-kelemahan padi.html

–            http://katalog.pustakadeptan.go.id/~jambi/getfile2.php?src=2008/pros53r.pdf&format=application/pdf

–            http://sukatani-banguntani.blogspot.com/2009/12/perlakuan-benih-padi.html

–            http://bppcijati.blogspot.com/2011/01/cara-memilih-benih-dan-penyiapan-bibit.html

–            http://wongtaniku.wordpress.com/2011/02/21/padi-inpari-13-tahan-wereng-coklat/

–            http://purcahyopengetahuanpupuk.wordpress.com/2010/04/16/perlakuan-benih-padi/

–            http://www.dempelonline.com/2010/02/penangkar-benih-padi-bermutu/

–            http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=73622

–            http://hileud.com/indonesia-irri-kembangkan-benih-padi-tahan-perubahan-iklim.html

–            http://www.theglobejournal.com/kategori/varia/harga-bibit-padi-di-aceh-besar-melambung.php

–            http://digilib.unej.ac.id/gdl42/gdl.php?mod=browse&op=read&id=gdlhub-gdl-shintakusu-3470

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: