jump to navigation

Pengantar Ekonomi Pertanian Mei 23, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pertanian (agriculture) bukan hanya merupakan aktivitas ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani saja. Lebih dari itu, pertanian/agrikultur adalah sebuah cara hidup (way of life atau livehood) bagi sebagian besar petani di Indonesia. Oleh karena itu pembahasan mengenai sektor dan sistem pertanian harus menempatkan subjek petani, sebagai pelaku sektor pertanian secara utuh, tidak saja petani sebagai homo economicus, melainkan juga sebagai homo socius dan homo religius. Konsekuensi pandangan ini adalah dikaitkannya unsur-unsur nilai sosial-budaya lokal, yang memuat aturan dan pola hubungan sosial, politik, ekonomi, dan budaya ke dalam kerangka paradigma pembangunan sistem pertanian. Tulisan ini sekaligus menanggapi tulisan Saudara Pantjar Simatupang (Jakarta Post, April 14 and 15, 2003) tentang Pendekatan Sistem Agribisnis dalam Pembangunan Pertanian, yang juga didasarkan pada kerangka konsep pembangunan pertanian Departemen Pertanian tahun 2001.
Secara ringkas tulisan tersebut menguraikan tentang perlu dikembangkannya paradigma baru pembangunan pertanian yang didasarkan pada pendekatan sistem agribisnis. Pantjar mengacu dengan jelas pada paradigma agribisnis yang dikembangkan oleh Davies dan Goldberg, yang berdasar pada lima premis dasar agribisnis. Pertama, adalah suatu kebenaran umum bahwa semua usaha pertanian berorientasi laba (profit oriented), termasuk di Indonesia. Kedua, pertanian adalah komponen rantai dalam sistem komoditi, sehingga kinerjanya ditentukan oleh kinerja sistem komoditi secara keseluruhan. Ketiga, pendekatan sistem agribisnis adalah formulasi kebijakan sektor pertanian yang logis, dan harus dianggap sebagai alasan ilmiah yang positif, bukan ideologis dan normatif. Keempat, Sistem agribisnis secara intrinsik netral terhadap semua skala usaha, dan kelima, pendekatan sistem agribisnis khususnya ditujukan untuk negara sedang berkembang. Rumusan inilah yang nampaknya digunakan sebagai konsep pembangunan pertanian dari Departemen Pertanian, yang dituangkan dalam visi terwujudnya perekonomian nasional yang sehat melalui pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi.
B. Rumusan Masalah
Mengapa harus ada pembaruan (reformasi), dan mengapa agribisnis? Jika kesejahteraan petani tetap menjadi sasaran pembaruan kebijakan pembangunan pertanian, mengapa kata per¬tanian kini tidak lagi disebut-sebut. Mengapa Departemen Pertanian rupanya kini lebih banyak mengurus agribusiness dan tidak lagi mengurus agriculture. Padahal seperti juga di Amerika departemennya masih tetap Department of Agriculture bukan Department of Agribusiness? Memang Doktor-doktor Ekonomi Pertanian lulusan Ameri¬ka tanpa ragu-ragu sering mengatakan bahwa farming is business. Benarkah farming (bertani) adalah bisnis? Jawab atas pertanyaan ini dapat Ya (di Amerika) tetapi di Indonesia bisa tidak. Di Indonesia farming ada yang sudah menjadi bisnis seperti usaha PT QSAR di Sukabumi yang sudah bangkrut, tetapi bisa tetap merupakan kehidupan (livelihood) atau mata pencaharian yang di Indonesia menghidupi puluhan juta petani tanpa menjadi bisnis.
Agriculture bisa berubah menjadi agribisnis seperti halnya PT QSAR, jika usaha dan kegiatannya “menjanjikan keuntungan sangat besar”, misalnya 50% dalam waktu kurang dari satu tahun, padahal tingkat bunga bank hanya sekitar 10%. Semangat mengejar untung besar dalam waktu pendek inilah semangat dan sifat agribisnis yang dalam agriculture (pertanian) suatu hal yang dianggap mustahil. Demikian tanpa disadari pakar-pakar ekonomi pertanian terutama lulusan Amerika telah memasukkan budaya Amerika ke (pertanian) Indonesia dengan janji atau teori bahwa agribisnis lebih modern, lebih efisien, dan lebih menguntungkan ketimbang agriculture. Itulah yang terjadi dengan PT QSAR yang mampu mengecoh banyak bapak-bapak dan ibu-ibu “investor” untuk menanamkan modal ratusan juta rupiah, meskipun akhirnya terbukti agribisnis PT QSAR adalah ladang penipuan baru untuk menjerat investor-investor “homo-ekonomikus” (manusia serakah) yang berfikir “adalah bodoh menerima keuntungan rendah jika memang ada peluang memperoleh keuntungan jauh lebih besar”. Di Indonesia homo-ekonomikus ini makin banyak ditemukan sehingga seorang ketua ISEI pernah tanpa ragu menyatakan “orang Indonesia dan orang Amerika sama saja”.

BAB II PEMBAHASAN
A. Ideologi Agribisnis
Mula-mula ilmu ekonomi (Neoklasik) dikritik pedas karena telah berubah menjadi ideologi (Burk. dalam Lewis dan Warneryd, 1994: 312-334), bahkan semacam agama (Nelson: 2001). Kemudian pertanian dijadikan bisnis, sehingga utuk mengikuti perkembangan zaman konsep agriculture (budaya bertani) dianggap perlu diubah menjadi agribusiness (bisnis pertanian). Maka di IPB dan UGM tidak dikembangkan program S2 Pertanian, tetapi lebih dikembangkan program Magister atau MM Agribisnis, yang jika diteliti substansi kuliah-kuliahnya hampir semua berorientasi pada buku-buku teks Amerika 2 dekade terakhir yang mengajarkan ideologi atau bahkan mendekati “agama” baru bahwa “farming is business”. Mengapa agribisnis? Ya, agribisnis memang diangggap lebih modern dan lebih efisien karena lebih berorientasi pada pasar, bukan hanya pada “komoditi yang dapat dihasilkan petani”. Perubahan dari agriculture menjadi agribisnis berarti segala usaha produksi pertanian ditujukan untuk mencari keuntungan, bukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan sendiri termasuk pertanian gurem atau subsisten sekalipun. Penggunaan sarana produksi apapun adalah untuk menghasilkan “produksi”, termasuk penggunaan tenaga kerja keluarga, dan semua harus dihitung dan dikombinasikan dengan teliti untuk mencapai efisiensi tertinggi
Sepintas paradigma agribisnis memang menjanjikan perubahan kesejahteraan yang signifikan bagi para petani. Namun jika kita kaji lebih mendalam, maka perlu ada beberapa koreksi mendasar terhadap paradigma yang menjadi arah kebijakan Deptan tersebut. Sebuah paradigma semestinya lahir dari akumulasi pemikiran yang berkembang di suatu wilayah dan kelompok tertentu. Jadi sudah sewajarnya jika kita mempertanyakan, apakah pengembangan paradigma agribisnis adalah hasil dari konsepsi dan persepsi para petani kita?. Lebih lanjut dapat kita kaji kembali apakah sudah ada riset/penelitian mendalam, yang melibatkan partisipasi petani, berkaitan dengan pola/sistem pertanian di wilayah mereka?. Hal ini sangat penting karena jangan-jangan paradigma agrisbisnis hanyalah dikembangkan secara topdown dari pusat, yang tidak sesuai dengan visi desentralisasi sistem lokal, atau lebih berbahaya lagi hanya mengadopsi paradigma dari luar (barat). Lebih tepat apabila pemerintah berupaya untuk membantu menemukenali segala permasalahan yang dihadapi petani dan bersama-sama mereka mengusahakan jalan keluarnya, dengan memposisikan diri sebagai kekuatan pelindung petani. Selama ini masalah yang muncul adalah anjloknya harga komoditi, kenaikan harga pupuk, dan persaingan tidak sehat, yang lebih disebabkan oleh kekeliruan atau tidak bekerjanya kebijakan atau peraturan (hukum) yang dibuat oleh pemerintah.
Jika kita jujur mengamati praktek pertanian sebagian besar petani kita, maka teori dan praktek agribisnis yang kita baca dalam buku-buku teks terbitan Amerika barulah merupakan gambaran “abstrak-ideal”. Memang di Amerika praktek-praktek agribisnis ini sudah ada dan sangat berkembang, tetapi luas pemilikan tanah pertanian per petani adalah rata-rata 100 ha, sedangkan di Indonesia kurang dari 0,5 ha. Usaha tani (farm) di Indonesia sebagian besar bersifat subsisten, tidak komersial, sehingga pengertian dan konsep agribisnis tidak cocok diterapkan.

B. Apakah Bisa Agribisnis Sebagai Penentu Kemajuan Ekonomi iIndonesia?
Beranjak dari permasalahan yang dihadapi Agribisnis, kita jangan dulu melihat dari keburukanya saja akan tetapi kita harus melihat kedepan keuntungan menerapkan sistem Agribisnis pada saat ini. Mungkin pada tahun sebelum-sebelumnya indonesia sempat dikagetkan oleh sistem agribnisnis dari bansa Amerika, para doktor-doktor lulusan Amerika menerapkan begitu saja kepada negara kita. Pada saat ini Agribisnis sangat diperlukan bagi para petani di indonesia, dan sudah merupakan kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan petani kita. Dan peranan Agribisnis dalam pembangunan pertanian dan ekonomi indonesia akan di paparkan selengkapnya.
Pembangunan pertanian tidak terlepas dari pengembangan kawasan pedesaan yang menempatkan pertanian sebagai penggerak utama perekonomian. Lahan, potensi tenaga kerja, dan basis ekonomi lokal pedesaan menjadi faktor utama pengembangan pertanian. Saat ini disadari bahwa pembangunan pertanian tidak saja bertumpu di desa tetapi juga diperlukan integrasi dengan kawasan dan dukungan sarana serta prasarana yang tidak saja berada di pedesaan. Struktur perekonomian wilayah merupakan faktor dasar yang membedakan suatu wilayah dengan wilayah lainnya, perbedaan tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi dan potensi suatu wilayah dari segi fisik lingkungan, sosial ekonomi dan kelembagaan
Berangkat dari kondisi tersebut perlu disusun sebuah kerangka dasar pembangunan pertanian yang kokoh dan tangguh, artinya pembangunan yang dilakukan harus didukung oleh segenap komponen secara dinamis, ulet, dan mampu mengoptimalkan sumberdaya, modal, tenaga, serta teknologi sekaligus mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan pertanian harus berdasarkan asas ‘keberlanjutan’ yakni, mencakup aspek ekologis, sosial dan ekonomi (Wibowo, 2004).
Konsep pertanian yang berkelanjutan dapat diwujudkan dengan perencanaan wilayah yang berbasiskan sumberdaya alam yang ada di suatu wilayah tertentu. Konsep perencanaan mempunyai arti penting dalam pembangunan nasional karena perencanaan merupakan suatu proses persiapan secara sistematis dari rangkaian kegiatan yang akan dilakukan dalam usaha pencapaian suatu tujuan tertentu. Perencanaan pembangunan yang mencakup siapa dan bagaimana cara untuk mencapai tujuan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi dan potensi sumberdaya yang dimiliki agar pelaksanaan pembangunan tersebut dapat berjalan lebih efektif dan efesien.
Perencanaan pembangunan wilayah adalah suatu upaya merumuskan dan mengaplikasikan kerangka teori kedalam kebijakan ekonomi dan program pembangunan yang didalamnya mempertimbangkan aspek wilayah dengan mengintegrasikan aspek sosial lingkungan menuju tercapainya kesejahteraan yang optimal dan berkelanjutan.
Untuk memberhasilkan pembangunan ekonomi nasional melalui pengembangan sektor agribisnis, kita perlu menemu-kenali terlebih dahulu kondisi dan tantangan yang dihadapi sektor agribisnis nasional. Dengan menmu-kenali hal-hal tersebut, kita dapat merumuskan strategi untuk menghadapinya dan mempercepat pembangunan sektor agribisnis dari kondisi saat ini menuju kinerja sektor agribisnis yang diharapkan.
Pengembangan sektor agribisnis di masa depan, khususnya menghadapi era globalisasi, akan menghadapi sejumlah tantangan besar yang bersumber dari tuntutan pembangunan ekonomi domestik, perubahan lingkungan ekonomi Interansional, baik karena pengaruh lieberalisasi ekonomi maupun karena perubahan-perubahan fundamental dalam pasar produk agribisnis internasional.
Struktur agribisnis, untuk hampir semua komoditi, dewasa ini masih tersekat-sekat. Struktur agribisnis yang tersekat-sekat ini dicirkan oleh beberapa hal yaitu :
Pertama, agribisnis merupakan konsep dari suatu sistem yang integratif dan terdiri atas beberapa subsistem, yaitu (a) subsistem pertanian hulu, (b) subsistem budidaya pertanian, (c) subsistem pengolahan hasil pertanian, (d) subsistem pemasaran hasil pertanian, dan (e) subsistem jasa penunjang pertanian. Subsistem kedua, sebagian dari subsistem pertama, dan subsistem ketiga merupakan on-farm agribisnis, sedangkan subsistem lainnya merupakan off-farm agribisnis.
Kedua, agribisnis merupakan suatu konsep yang menempatkan kegiatan pertanian sebagai suatu kegiatan utuh yang komprehensif, sekaligus sebagai suatu konsep untuk dapat menelaah dan menjawab berbagai permasalahan, tantangan, dan kendala yang dihadapi pembangunan pertanian. Agribisnis juga dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai keberhasilan pembangunan pertanian serta pengembangan terhadap pembangunan nasional secara lebih tepat.
Dari berbagai definisi dan batasan konsep agribisnis di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang penting dan harus ada dalam proses pembangunan agribisnis adalah sebagai barikut :
(a) agribisnis merupakan suatu sistem, sehingga semua kegiatan yang terdapat dalam sistem tersebut harus saling terkait dan tidak berdiri sendiri,
(b) agribisnis merupakan alternatif bagi pengembangan strategi pembangunan ekonomi, dan
(c) agribisnis berorientasi pasar dan perolehan nilai tambah dari suatu komoditas.
Setidaknya ada lima alasan mengapa sektor pertanian atau agribisnis menjadi strategis. Pertama, pertanian merupakan sektor yang menyediakan kebutuhan pangan masyarakat. Kedua, merupakan penyedia bahan baku bagi sektor industri (agroindustri). Ketiga, memberikan kontribusi bagi devisa negara melalui komoditas yang diekspor. Keempat, menyediakan kesempatan kerja bagi tenaga kerja pedesaan. Dan kelima, perlu dipertahankan untuk keseimbangan ekosistem (lingkungan).
Ironisnya, meski pertanian dianggap strategis, tapi kondisi petaninya kian termarginalkan. Menurut Sensus Pertanian 2003, jumlah rumah tangga petani gurem (penggarap kurang dari 0,5 ha) adalah 13,7 juta rumah tangga, meningkat 26,85 persen dibanding tahun 1993 yang jumlahnya 10,8 juta rumah tangga. Persentase rumah tangga petani gurem terhadap rumah tangga pertanian pengguna lahan juga meningkat, dari 52,7 persen (1993) menjadi 56,5 persen (2003). Petani gurem ini mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan. Dari 16,6persen rakyat Indonesia yang termasuk kelompok miskin, 60persen-nya adalah kalangan petani gurem. Timbul pertanyaan, jika sektor pertanian sangat penting, mengapa petaninya “dibiarkan” tidak berdaya? Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari kebijakan nasional dalam mengembangkan sektor pertanian (politik pertanian).
Dan pada periode sebelumnya dari tahun 1996 sampai tahun 2009 didapat sensus penduduk miskin sumber dari Badan Pusat Statistik sebagai berikut :
•Periode 1996-1999: penduduk miskin meningkat dari 34,01 juta (1996) menjadi 47,97 juta (1999). Di perdesaan akhir 1999 meningkat dari 19,78% menjadi 26,03%, lebih besar dari perkotaan (19,41%).

•Periode 2000-2005: penduduk miskin menurun dari 38,07 juta (2000) menjadi 35,01 juta (2005). Penurunan terjadi juga pada persentase penduduk miskin perdesaan dari 22,38% pada (2000) menjadi 19,98% (2005). Periode sama, persentase kemiskinan perdesaan masih lebih besar dari perkotaan.

•Periode 2005-2009: penduduk miskin tahun 2006 sempat naik dari 35,1 juta (15,97%) menjadi 39,3 juta (17,75%), karena inflasi 17,95%. Di akhir tahun 2009 jumlah kemiskinan turun menjadi 32,53 juta (14,15%) dengan persetase kemiskinan perdesaan masih lebih besar dari perkotaan (17,35%).

Penduduk miskin di perdesaan umumnya petani (Tabel 1). Menurunkan angka kemiskinan, selain menitikberatkan pertumbuhan ekonomi, juga harus menerapkan pemerataan distribusi pendapatan yang baik melalui sektor pertanian.

Anne Booth dan Firdaus (Effect of Price and Market Reform on the Poverty Situation of Rural Communities and Firm Families, 1996) menyatakan penyebab kemiskinan adalah keterbatasan penduduk mengakses pasar, fasilitas publik dan kredit.

Ket : Jhingan (2002) menyebut faktor demografi berpengaruh pada kemiskinan. Pertumbuhan penduduk pesat memperberat tekanan pada lahan, pengangguran dan memicu kemiskinan. Pertambahan penduduk berkurang, kemiskinan juga berkurang (teori pertumbuhan penduduk berbeda di negara maju dan berkembang, lihat teori modern economy dan neoclasical economy). Modal dan penguasaan teknologi dapat mengentaskan kemiskinan (Solow Growth Theory).

BAB III ISI
A. Peranan Agribisnis
Selama ini, logika pembangunan pertanian di Indonesia merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi nasional, di mana pertumbuhan ekonomi menjadi orientasi utama. Konsekuensinya, variabel kelembagaan masyarakat yang bersifat struktural di pedesaan kurang diperhatikan dalam menentukan kebijakan ekonomi pertanian.
Sektor agribisnis mempunyai peranan penting didalam pembangunan. Ada lima peran penting dari sektor pertanian dalam kontribusi pembangunan ekonomi antara lain meningkatkan produksi pangan untuk konsumsi domestik, penyedia tenaga kerja terbesar, memperbesar pasar untuk industri, meningkatkan supply uang tabungan dan meningkatkan devisa. Sampai saat ini, peranan sektor pertanian di Indonesia begitu besar dalam mendukung pemenuhan pangan dan memberikan lapangan kerja bagi rumah tangga petani. Tahun 2003, sektor pertanian mampu memperkerjakan sebanyak 42 juta orang atau 46,26 persen dari penduduk yang bekerja secara keseluruhan.
Pertanian sangat berperan dalam pembangunan suatu daerah dan perekonomian dengan, pertanian harapannya mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk, sebagai sumber pendapatan, sebagai sarana untuk berusaha, serta sebagai sarana untuk dapat merubah nasib ke arah yang lebih baik lagi. Peranan pertanian/agribisnis tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan ekonomi petani dengan cara pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Peranan tersebut antara lain: meningkatkan penerimaan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku industri dalam negeri serta optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terutama pada masa kirisis ekonomi yang dialami Indonesia, satu-satunya sektor yang menjadi penyelamat perekonomian Indonesia pada tahun 1997-1998 hanyalah sektor agribisnis, dimana agribisnis memiliki pertumbuhan yang positif.
B. Pembangunan Agribisnis/Pertanian bagi perekonomian nasional
Dalam jangka panjang, pengembangan lapangan usaha pertanian difokuskan pada produk-produk olahan hasil pertanian yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, seperti pengembangan agroindustri. Salah satu lapangan usaha pertanian yang berorientasi ekspor dan mampu memberikan nilai tambah adalah sektor perekebunan. Nilai PDB sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang semakin membaik dari tahun ke tahun. Jika diperhatikan dengan baik, peranan sektor pertanian masih dapat ditingkatkan sebagai upaya dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat tani di Indonesia.Secara empirik, keunggulan dan peranan pertanian/agribisnis tersebut cukup jelas, yang pertama dilihat dalam peranan penting agribisnis (dalam bentuk sumbangan atau pangsa realtif terhadap nilai tambah industri non-migas dan ekspor non-migas), yang cukup tinggi. Penting pula diperhatikan bahwa pangsa impor agribisnis relatif rendah, yang mana ini berarti bahwa agribisnis dari sisi ekonomi dan neraca ekonomi kurang membebani neraca perdagangan dan pembayaran luar negeri. Sehingga dengan demikian sektor agribisnis merupakan sumber cadangan devisa bagi negara. Diharapkan sektor pertanian mampu menjadi sumber pertumbuhan perekonomian status bangsa, terutama negara-negara berkembang yang perekonomiannya masih 60persen bertumpu pada sektor pertanian.
Disisi lain, dilihat ternyata pembangunan agribisnis mampu menunjukkan peningkatan produktivitas di sektor pertanian, hal ini menunjukkan dua hal yakni, bahwa terjadi peningkatan produktivitas pada hasil produk pertanian yang diikuti oleh perbaikan koalitas, perbaikan teknologi yang mengikutinya dan peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian, seperti yang ditunjukkan pada awal-awal bab ini.
Pada dasarnya tidak perlu diragukan lagi, bahwa pembangunan ekonomi yang berbasiskan kepada sektor pertanian (agribisnis), karena telah memberikan bukti dan dan peranan yang cukup besar dalam pembangunan perekonomian bangsa, dan tentunya lebih dari itu.
Pembangunan pertanian dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional berarti menjadikan perekonomian daerah sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Sebagai agregasi dari ekonomi daerah, perekonomian nasional yang tangguh hanya mungkin diwujudkan melalui perekonomian yang kokoh. Rapuhnya perekonomian nasional selama ini disatu sisi dan tingginya disparitas ekonomi antar daerah dan golongan disisi lain mencerminkan bahwa perekonomian nasional Indonesia dimasa lalu tidak berakar kuat pada ekonomi daerah.
Pembangunan ekonomi lokal yang berbasis pada pertanian merupakan sebuah proses orientasi, yang meletakkan formasi institusi baru, pengembangan industri alternatif, peningkatan kapasitas pelaku untuk menghasilkan produk yang lebih baik, identifikasi pasar baru, transfer ilmu pengetahuan, dan menstimulasi bangkitnya perusahaan baru serta semangat kewirausahaan.
Diharapkan dalam pembangunan ekonomi lokal, kegiatan pertanian dalam perkembangannya akan berorientasi pada pasar (konsumen) apabila terjadi penyebaran sumberdaya dan faktor produksi yang merata serta adanya biaya transportasi yang relatif murah. Orientasi pasar ini akan menunjukkan bahwa setiap lokasi dapat menghasilkan komoditi pertanian tertentu. Suatu kegiatan pertanian akan lebih dapat berkembang pada lokasi tertentu yang disebabkan oleh adanya kemudahaan bagi konsumen yang berasal dari dalam atau dari luar lokasi untuk datang ke lokasi pemasaran komoditi pertanian tersebut.
Kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian di suatu negara tentunya tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor eksternal, apalagi dalam era globalisasi yang dicirikan adanya keterbukaan ekonomi dan perdagangan yang lebih bebas, akan sulit ditemukan adanya kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian yang steril dari pengaruh-pengaruh factor eksternal. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian di Indonesia antara lain adalah; (i) kesepakatan-kesepakatan internasional, seperti WTO, APEC dan AFTA; (ii) kebijaksanaan perdagangan komoditas pertanian di negara-negara mitra perdagangan indonesia; (iii) lembaga-lembaga internasional yang memberikan bantuan kepada Indonesia terutama dalam masa krisis.
Dimasa lalu, ketika orientasi pembangunan pertanian terletak pada peningkatan produksi, yang menjadi motor penggerak sektor agribisnis adalah usahatni. Artinya komoditi yang dihasilkan usahatanilah yang menentukan perkembangan agribisnis hulu dan hilir. Hal ini sesuai pada masa lalu, karena target kita masih bertujuan untuk mencapai tingkat produksi semaksimal mungkin. Selain itu, konsumen juga belum menuntut pada atribut-atribut produk yang lebih rinci dan lengkap.
Dewasa ini dan dimasa yang akan datang, orientasi sektor telah berubah kepada orientasi pasar. Dengan berangsungnya perubahan preferensi konsumen yang semakin menuntut atribut produk yang lebih rinci dan lengkap, maka motor penggerak sektor agribisnis harus berubah dari usaha tani kepada industri pengolahan (agroindustri). Artinya, untuk mengembangkan sektor agribisnis yang mogern dan berdaya saing, agroindustri menjadi penentu kegiatan pada subsistem usahatani dan selanjutnya akan menetukan subsistem agribisnis hulu.
Pembangunan sektor pertanian/agribisnis yang berorientasi pasar menyebabkan strategi pemasaran menjadi sangat penting bahkan pemasaran ini semakin penting peranannya terutama menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahaan. Serta, untuk memampukan sektor agribisnis menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi, serta pembangunan kemampuan sumberdaya manusia (SDM) agribisnis sebagai aktor pengembangan sektor pertanian.
Disamping konsep pembangunan pertanian diatas, khususnya dinegara-negara berkembang, masih banyak permasalahan yang dihadapi terutama sektor pertanian, terutama masalah kemiskinan, rendahnya produktivitas, rendahnya SDM, masih lemahya posisi tawar petani, ketidakadaannya kelembagaan yang mendukung usaha tani pelaku pertanian, dan masih kurangnya atau lemahnya sistem pasar komoditi produk pertanian, dan kurang diserapnya hasil komodit dengan baik akibat infrastruktur yang masih kurang memadai.
Permasalahan ini tentunya, menjadi kendala sekaligus tantangan yang harus dihadapi oleh pengambil kebijakan. Sehingga dengan demikian diharapkan nantinya sektor pertanian mampu menjadi penggerak perekonomian di pedesaan dan negara.

C. Pertanian/Agribisnis di Negara Maju
Fenomena mengapa suatu negara dapat memenangkan persaingan sedangkan negara lain tidak, merupakan pertanyaan terus yang mengemuka sepanjang sejarah pembangunan dan perdagangan internasional. Banyak pendapat yang diajukan oleh pakar terutama dalam bidang ekonomi dan bisnis internasional, tetapi tidak satupun yang mampu menjelaskan kemampuan daya saing suatu negara secara komprehensif,
Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, bahkan Malaysia dan Thailand yang secara tradisional menguasai agribisnis internasional, dimasa yang akan datang akan menguasai sektor agroindustri, walaupun disatu sisi akan menghadapi permasalahan yakni kesulitan untuk mengembangkan agribisnis, karena kesulitan dalam hal lahan pertanian. Berbeda dengan masa sebelumnya, dewasa ini dan masa yang akan datang, preferensi konsumen produk agribisnis yang kita hadapi sangat berbeda dan sedang mengalami perubahaan secara fundamental.
Negara-negara maju, dari masa yang lalu sudah melihat bagaimana potensi pertanian dalam perekonomian mereka. Keunggulan daya saing ditentukan oleh kemampuan mendayagunakan keunggulan komparatif yang dimiliki mulai dari hulu sampai hilir, dalam menghasilkan suatu produk yang sesuai dengan preferensi konsumen. Artinya, pendayagunaan keunggulan sisi penawaran ditujukan untuk memenuhi keinginan konsumen. Kemampuan untuk menyediakan produk yang berkembang, sangat menentukan keunggulan bersaing di pasar internasional. Negara-negara agribisnis, seperti Australia dan selandia Baru, mampu bersaing di pasar interansional disebabkan kemampuan negara tersebut dalam menjual apa yang diinginkan konsumen bukan menjual apa yang dihasilkan.
Sejarah perekonomian dunia sebenarnya telah memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa tidak ada negara besar di dunia ini yang kuat tanpa di dukung oleh pertanian yang tangguh. Kenyataaan menunjukkan bahwasanya negara-negara di Eropa Timur dan Uni Soviet pada akhirya harus menerima terjadinya disintegrasi karena lemahnya daya dukung sektor pertanian, negara-negara di kawasan afrika juga mengalami kesulitan dalam membangun bangsanya, hanya karena sektor pertanian tidak dapat mendukung ketahanan pangan sebagai landasan pembangunan.
Bagi Indonesia, dimana sumberdaya alam merupakan keunggulan komparatifnya, maka sudah sepantasnya jika pembangunan nasional didasarkan pada pengelolaan sumberdaya alam tersebut. Pertanian merupakan salah satu sumberdaya alam dimana Indonesia mempunyai keunggulan komparatif, disamping itu bagian terbesar penduduk Indonesia juga hidup dan bermata pencaharian di sektor tersebut, fenomena kemiskinan juga banyak terjadi di sektor pertanian. Dengan demikian apabila sektor pertanian dijadikan landasan bagi pembangunan nasional dimana sektor-sektor lain menunjang sepenuhnya, sebagian besar masalah yang dihadapi oleh masyarakat akan dapat terpecahkan.
Disamping itu orientasi pembangunan pertanian juga perlu disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi, apabila pada waktu yang lalu lebih banyak berorientsai pada pengembangan komoditas, maka kini harus lebih berorientasi pada petani. Namun demikian harus sepenuhnyadi sadari bahwa dalam menyusun kebijaksanaan pembangunan pertanian hanya memperhatikan potensi sumberdaya alam dan kepentingan produsen semata-mata, melainkan juga pengaruh dari perdagangan dunia dan kebijaksanaan pembangunan pertanian di negara mitra dagang.
Pandangan dari Partai Politik juga tidak jauh berbeda dengan pandangan dari pemerintah maupun para pengamat ekonomi, Imam Churmen (1999) dari PKB menyatakan bahwa diperlukan komitmen dari semua pihak untuk menempatkan sektor pertanian sebagai sektor prioritas pembangunan yang dicerminkan dalam anggaran pemerintah.
Sebagai contoh kasus bagaimana pembangunan pertanian dan kebijakannya di Negara Maju, dapat kita perhatikan dalam negara Amerika serikat berikut. Sejak tahun 2002, pemerintah AS memberikan subsidi sebesar US $ 19 milliar per tahun kepada petaninya, atau sekitar dua kali dari dana yang dicadangkan untuk bantuan interansionalnya. Dalam hal beras, misalnya AS telah mencadangkan sekitar US$ 100 ribu subsidi per petani yang diberikan kepada siapapun yang mau mengganti tanamannya dengan padi. Negara bagian di pantai barat seperti California dan Washington, dan negara bagian di tenggara seperti Lousiana, South dan North Carolina memang sedang antusias mengembangkan agribisnis padi sawah. Target besar untuk menjadi produsen nomor dua beras dunia, dapat menjadi kenyataan, terutama ketika perundingan dan persaingan tingkat dunia dengan negara-negara Eropa Barat dalam hal gandum sering mengalami kendala besar. Wallahu’alam!.
D. Tantangan yang dihadapi Agribisnis/pertanian

Dalam mencapai tujuan yang mencita-citakan kemajuan yang diharapkan sangat baik, maka dibutuhkan pula pengorbanan yang tidak kecil bagi kemajuan yang akan dicapai oleh indonesia. Dewasa ini pertanian di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penunjang kehidupan untuk berjuta-juta masyarakat Indonesia, sektor pertanian memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kukuh dan pesat. Sektor ini juga perlu menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Di masa lampau, pertanian Indonesia telah mencapai hasil yang baik dan memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan dan pengurangan kemiskinan secara drastis. Hal ini dicapai dengan memusatkan perhatian pada bahan-bahan pokok seperti beras, jagung, gula, dan kacang kedelai. Akan tetapi, dengan adanya penurunan tajam dalam hasil produktifitas panen dari hampir seluruh jenis bahan pokok, ditambah mayoritas petani yang bekerja di sawah kurang dari setengah hektar, aktifitas pertanian kehilangan potensi untuk menciptakan tambahan lapangan pekerjaan dan peningkatan penghasilan.

Walapun telah ada pergeseran menuju bentuk pertanian dengan nilai tambah yang tinggi, pengaruh diversifikasi tetap terbatas hanya pada daerah dan komoditas tertentu di dalam setiap sub-sektor. Pengalaman negara tetangga menekankan pentingnya dukungan dalam proses pergeseran tersebut.

Sebagai contoh, di pertengahan tahun 1980-an sewaktu Indonesia mencapai swasembada beras, 41% dari semua lahan pertanian ditanami padi, sementara saat ini hanya 38%; suatu perubahan yang tidak terlalu besar dalam periode 15 tahun. Sebaliknya, penanaman padi dari total panen di Malaysia berkurang setengahnya dari 25% di tahun 1972 menjadi 13% di 1998. Selain itu seperti tercatat dalam hasil studi baru-baru ini, ranting pemilik usaha kecil/ pertanian industrial, hortikultura, perikanan, dan peternakan, yang sekarang ini berkisar 54% dari semua hasil produksi pertanian, kemungkinan besar akan berkembang menjadi 80% dari pertumbuhan hasil agraris di masa yang akan datang. Panen beras tetap memegang peranan penting dengan nilai sekitar 29% dari nilai panen agraris. Tetapi meskipun disertai dengan tingkat pertumbuhan hasil yang tinggi, panen beras tidak akan dapat mencapai lebih dari 10% nilai peningkatan pertumbuhan hasil. Tantangan bagi pemerintahan Susilo Bmbang Yudhoyono dan Boediono adalah untuk menggalakan peningkatan produktifitas diantara penghasil di daerah rural, dan menyediakan fondasi jangka panjang dalam peningkatan produktifitas secara terus menerus. Dalam menjawab tantangan tersebut, hal berikut ini menjadi sangat penting:

1. Fokus dalam pendapatan para petani; titik berat di padi tidak lagi dapat menjamin segi pendapatan petani maupun program keamanan pangan;
2. Peningkatan produktifitas adalah kunci dalam peningkatan pendapatan petani, oleh karena itu pembangunan ulang riset dan sistem tambahan menjadi sangat menentukan;
3. Dana diperlukan, dan dapat diperoleh dari usaha sementara untuk memenuhi kebutuhan kredit para petani melalui skema kredit yang dibiayai oleh APBN;
4. Pertanian yang telah memiliki sistem irigasi sangat penting, dan harus dipandang sebagai aktifitas antar sektor. Pemerintah perlu memastikan integritas infrastruktur dengan keterlibatan pengguna irigasi secara lebih intensif, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air untuk mencapai panen yang lebih optimal hingga setiap tetes air;
5. Fokus dari peran regulasi dari Departemen Pertanian perlu ditata ulang. Kualitas input yang rendah mempengaruhi produktifitas petani; karantina diperlukan untuk melindungi kepentingan petani dari
penyakit dari luar namun pada saat yang bersamaan juga tidak membatasi masuknya bahan baku impor; dan standar produk secara terus menerus ditingkatkan di dalam rantai pembelian oleh sektor
swasta, bukan oleh pemerintah.
6. Teknologi yang modern diperlukan unutk menghasilkan hasil yang baik dan memuaskan. Serta meminimalisir kerugian dan panen yang buruk.
7. Ilmu pengetahuan yang cukup bagi para petani agar tidak terjerumus permasalahan-permasalahan yang sering dihapai petani sebelum dan sesudah panen dengan memberikan penyuluhan oleh dinas penyuluhan di daerah daerah terpencil.

BAB IV KESIMPULAN
Mula-mula ilmu ekonomi (Neoklasik) dikritik pedas karena telah berubah menjadi ideologi (Burk. dalam Lewis dan Warneryd, 1994: 312-334), bahkan semacam agama (Nelson: 2001). Kemudian pertanian dijadikan bisnis, sehingga utuk mengikuti perkembangan zaman konsep agriculture (budaya bertani) dianggap perlu diubah menjadi agribusiness (bisnis pertanian). Maka di IPB dan UGM tidak dikembangkan program S2 Pertanian, tetapi lebih dikembangkan program Magister atau MM Agribisnis, yang jika diteliti substansi kuliah-kuliahnya hampir semua berorientasi pada buku-buku teks Amerika 2 dekade terakhir yang mengajarkan ideologi atau bahkan mendekati “agama” baru bahwa “farming is business”.
Selama ini, logika pembangunan pertanian di Indonesia merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi nasional, di mana pertumbuhan ekonomi menjadi orientasi utama. Sektor agribisnis mempunyai peranan penting didalam pembangunan. Ada lima peran penting dari sektor pertanian dalam kontribusi pembangunan ekonomi antara lain meningkatkan produksi pangan untuk konsumsi domestik, penyedia tenaga kerja terbesar, memperbesar pasar untuk industri, meningkatkan supply uang tabungan dan meningkatkan devisa. Sampai saat ini, peranan sektor pertanian di Indonesia begitu besar dalam mendukung pemenuhan pangan dan memberikan lapangan kerja bagi rumah tangga petani. Dalam jangka panjang, pengembangan lapangan usaha pertanian difokuskan pada produk-produk olahan hasil pertanian yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, seperti pengembangan agroindustri. Salah satu lapangan usaha pertanian yang berorientasi ekspor dan mampu memberikan nilai tambah adalah sektor perekebunan.
Tantangan bagi pemerintahan Susilo Bmbang Yudhoyono dan Boediono adalah untuk menggalakan peningkatan produktifitas diantara penghasil di daerah rural, dan menyediakan fondasi jangka panjang dalam peningkatan produktifitas secara terus menerus. Dalam menjawab tantangan tersebut, hal berikut ini menjadi sangat penting:

1. Fokus dalam pendapatan para petani
2. Peningkatan produktifitas
3. Dana
4.Sistem irigasi sangat penting, dan harus dipandang sebagai aktifitas antar sektor.
5. Fokus dari peran regulasi dari Departemen Pertanian perlu ditata ulang
6. Teknologi yang modern
7. Penyuluhan kepada para masyarakat tani
Meskipun ilmu ekonomi pertanian telah memberikan “andil” pada pemahaman masalah-masalah produktifitas dan efisiensi produksi pertanian, namun masih belum cukup mampu memecahkan masalah-masalah kemiskinan dan keadilan sosial (Mubyarto, 1987:620)

DAFTAR PUSTAKA
1. Burk, Monroe, 1994. Ideology and Morality in Economic Theory, dalam Lewis, Alan and Kare-Erek Warneryd (ed). Ethics and Economic Affairs, Routledge, London – New York.
2. Elliot, Jenniver A. 1994. An Introduction to Sustainable Development: The Developing World, Routledge London, New York.
3. Mubyarto, 1987. “Masyarakat Pedesaan di Indonesia Dewasa ini dan Tantangan Profesional Ilmu Ekonomi Pertanian” dalam Hendra Esmara (ed). Teori Ekonomi dan Kebijaksanaan Pembangunan, Gramedia, Jakarta.
4. Mubyarto & Daniel W. Bromley. 2000. A Development Alternative for Indonesia, Gadjah Mada UP, Yogyakarta.
5. Shepherd, Andrew. 1998. Sustainable Rural Development, Macmillan, London – St. Martin’s, London New York.
6. Stiglitz, Joseph. E. 2002. Globalization and its Discontents. Norton. New York.
7. Trainer, Ted. 1996. Towards A Sustainable Economy: The Need for Fundamental Change, Envirobook, Sydney
8. Bustanul Arifin, dkk. 2001. Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik. Jakarta : PT Gramedia 9. Widiasarana Indonesia.
10. Deliarnov. 2005. Ekonomi Politik. Jakarta : Erlangga .
11. Hudiyanto. 2004. Ekonomi Politik. Jakarta : Bumi Aksara.
12. http://www.fiskal.depkeu.go.id/webbkf/kajian/Amir-4
13. http://www.ekonomirakyat.org/Jurnal Ekonomi Rakyat
14. Azhar Harry. 2003. Pengangguran dan Kemiskinan [Artikel JER – No. 105/3 – 0000-00-00]. Ketua Badan Anggaran DPR RI Pertanian,
15. Mubyarto & Awan Santosa. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
(Kritik terhadap Paradigma Agribisnis) 2003. [Artikel – Th. II – No. 3 – Mei 2003]

Iklan

Apakah ini? Mei 23, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

PENDAHULUAN
Al Qur’an adalah sebuah kitab suci yang menjadi landasan dasar hukum dan tuntunan hidup bagi orang muslim. Adakalanya orang muslim mendapati suatu masalah, maka mereka akan lari mencari jawabannya didalam Al Qur’an. Perlu kita ketahui, bahwa ayat-ayat yang terkandung dalam Al Qur’an adakalanya berbentuk lafadz, ungkapan, dan uslub yang berbeda tetapi artinya tetap satu, sudah jelas maksudnya sehingga tidak menimbulkan kekeliruan bagi orang yang membacanya. Disamping ayat yang sudah jelas tersebut, ada lagi ayat-ayat Al Qur’an yang bersifat umum dan samar-samar yang menimbulkan keraguan bagi yang membacanya sehingga ayat yang seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk dapat mengembalikan kepada makna yang jelas dan tegas.
Dari kedua pernyataan diatas dapat kita simpulkan, bahwa pada kelompok ayat yang pertama, yang maksudnya sudah jelas itulah yang disebut dengan Muhkam. Sedangkan pada kelompok ayat yang kedua yang masih samar-samar maksudnya inilah yang disebut dengan Mutasyabih. Kedua macam ayat inilah yang akan kami bahas pada makalah kami pada kesempatan kali ini. Mudah-mudahan makalah yang telah kami susun ini, dapat menarik minat baca serta menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi para pembaca yang budiman. Kami sadar selaku menusia, pasti ada kesalahan dan kekeliruan dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu dengan tangan terbuka kami siap menerima kritikan dan saran dari Dosen Pembimbing pada khususnya dan para pembaca pada umumnya.
Demikian makalah ini kami ketengahkan, atas perhatian dan minat bacanya, kami haturkan terima kasih.

PEMBAHASAN
AL MUHKAM DAN AL MUTASYABIH
1. A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ulama’ tafsir mengenai muhkam dan mutasyabih, yaitu :
1. Menurut As Suyuthi, Muhkam adalah sesuatu yang telah jelas artinya. Sedangkan Mutasyabih adalah sebaliknya.
2. Menurut Imam Ar Razi, Muhkam adalah ayat-ayat yang dalalahnya kuat baik maksud maupun lafadznya. Sedangkan Mutasyabih adalah ayat-ayat yang dalalahnya lemah, masih bersifat mujmal, memerlukan takwil, dan sulit dipahami.
3. Menurut Manna’ Al Qaththan, Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain. Sedangkan Mutasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan Muhkam adalah ayat yang sudah jelas baik lafadz maupun maksudnya, sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kekeliruan bagi orang yang memahaminya. Sedangkan Mutasyabih adalah merupakan kumpulan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an yang masih belum jelas maksudnya, hal itu dikarenakan ayat mutasyabih bersifat mujmal (global) dia membutuhkan rincian lebih dalam dan pentakwilan.
Menurut Abdul Mun’im Qoi’I dalam bukunya Al Ashlan fi Ulum Al Qur’an, bahwa isi dari ayat al muhkam adalah tentang kewajiban-kewajiban (fardhu, janji dan ancaman, halal dan haram, dan hukum-hukumnya Allah). Salah satu contoh kami ambil adalah fardhu puasa, firman Allah didalam surat Al Baqoroh ayat 183 yang berbunyi :
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ……..!
“ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian untuk berpuasa …………….”
Pada ayat ini sudah jelas pengertiannya, bahwa yang diwajibkan untuk berpuasa adalah orang-orang yang beriman, selain orang yang beriman maka mereka tidak diwajibkan berpuasa. Jadi, barangsiapa beriman kepada Allah bersegeralah berpuasa, kalau tidak jangan sampai anda dicap sebagai orang yang lemah imannya.
Masih menurut Abdul Mun’im Qoi’i dalam bukunya Al Ashlan fi Ulum Al Qur’an, bahwa isi dari ayat Mutasyabih adalah tentang kisah-kisah dan perempuan. Dan ayat-ayat mutasyabih dapat dikategorikan kepada tiga bagian, yaitu pertama dari segi lafadznya; kedua, dari segi maknanya; dan yang ketiga, merupakan kombinasi antara lafadz dan maknanya. Adapun ketiga hal ini dapat kami uraikan sebagai berikut :
1. Mutasyabih dari Segi Lafadz
Mutasyabih dari segi lafadz ini dapat pula dibagi dua macam, yaitu :
1. yang dikembalikan kepada lafadz yang tunggal (awal) yang sulit diartikan/pemaknaannya, disebabkan oleh :
1. Sifatnya yang asing, seperti وَفَاكِهَةً وَاَبًا , lafadz اَبٌّ disini mutasyabih karena ganjil dan jarangnya digunakan. Lafadz ini diartikan rumput-rumputan berdasarkan pemahaman dari ayat berikutnya :
مَتَعًالَكُمْ وَلاَِنْعَمِكُمْ (عبس : 32)
“ Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu “. (QS. ‘Abasa : 32)
1. Mengandung makna yang ganda, seperti اَلْيَدُ yang berarti hanya telapak tangan saja, atau mencakup satu hasta, kekuasaan, atau juga meliputi sampai ke pangkal bahu.
2. kembali kepada susunan kata dalam bentuk perkataan. Perihal ini terbagi kedalam tiga bagian, yaitu :
1. Untuk meringkaskan perkataan, seperti :
فَمَنْ جَأَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَاسَلَفَ وَأَمْرُهُ اِلَى اللهِ.(البقرة: 275)
“ Maka orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengamalkan riba’), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya terserah kepada Allah “.
Semestinya dilanjutkan dengan ungkapan :
غَفَرْتُ خَطَايَاهُ وَبَدَّلْتُ سَيِّئَاتِهِ حَسَنَاتٍ.
“ Telah Ku-ampuni segala kesalahannya, dan Saya gantikan keburukannya dengan kebaikan “.
Inilah merupakan takwilan para ulama tentang menyikapi masalah makna yang terkandung didalam ayat diatas. Secara sekilas pengertian harfiahnya kita tidak mengerti apa maksud tujuan ayat tersebut. Setelah diadakan pentakwilan secara mendalam, maka bisa diartikan secara ringkas tentang pengertian dan maksudnya.
1. Untuk lebih menyederhanakan perkataaan, seperti :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ (الشورى: 11)
“ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya “
Karena pendapat itu dapat diungkapkan dengan lebih panjang, misalnya tentu akan lebih jelas artinya :
لَيْسَ مِثْلُهُ شَيْئَ
1. Untuk mengikuti keserasian bunyi perkataan, seperti :
اَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. (سورة الكهف: 1)
“ Yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan didalamnya “
Maksud dari tidak ada kebengkokan didalamnya adalah tidak ada didalam Al Qur’an itu makna yang berlawanan dan tidak ada penyimpangan dari kebenaran.
Pada ayat diatas, sebenarnya dapat diperjelas dengan ungkapan :
أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الكِتَابَ قَيِّمًا وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا
“ Yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur’an) sebagai bimbingan yang lurus, dan tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya “
• Mutasyabih dari segi maknanya
Mutasyabih ini adalah menyangkut sifat-sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan terjadinya. Semua sifat yang demikian tidak dapat digambarkan secara konkret karena kejadiannya belum pernah dialami oleh siapapun. Untuk sebagai pemahaman lebih lanjut, ini kami tampilkan beberapa contoh ayat Mutasyabih didalam Al Qur’an yang menerangkan akan perihal diatas :
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَا اِلاَّهُوَ. (الانعام: 59)
“ Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua ghaib; tak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri ………..”
اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَافِى الاَرْحَامِ, وَمَاتَدْرِى نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَاتَدْرِى نَفْسٌ بِاَىِّ اَرْضٍ تَمُوْتُ, اِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ. (لقمان: 34)
“ Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui dibumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
• Mutasyabih dari Segi Lafadz dan Maknanya
Mutasyabih dari segi ini, menurut As-Suyuthi ada lima macam, yaitu :
• Mutasyabih dari segi kadarnya, seperti lafadz yang umum dan khusus :
اِقْتَلُوْا المُشْرِكِيْنَ.
“ Bunuhlah oleh kamu akan orang-orang musyrik “
Pada ayat ini, jika kita salah kaprah dalam memahaminya. Maka akan berdampak negatif dan merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Ayat ini dilaksanakan, jika orang musyrik memerangi dan memusuhi kita, maka kita wajib membela diri. Hal ini sebagaimana firman Allah QS. Al Baqoroh ayat 191, yang berbunyi :
فَاِنْ قَتَلُوْكُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الكَافِرِيْنَ.
“ Maka jika mereka memerangi kamu (ditempat itu Masjidil Haram), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang kafir “
Namun sebaliknya, jika mereka tidak memerangi kita sehingga mereka disebut dengan kafir zhimmi, maka kita wajib tidak boleh memerangi mereka bahkan darah mereka diharamkan oleh agama.
• Mutasyabih dari segi caranya, seperti perintah wajib dan sunnah :
فَانْكِحُوْا مَاطَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَثَ وَرُبَعَ, فَاِنْ خِفْتُمْ اَلاَّ تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً. (النساء: 3)
“ Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi, yaitu dua, tiga, empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja “.
• Mutasyabih dari segi waktu, seperti nasakh dan mansukh :
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ (أل عمران: 102)
“ Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa “
kemudian ayat yang lain :
فَاتَّقُوْا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ
“ Bertaqwalah kepada Allah menurut semampumu “
Namun dengan diketahui waktu turun masing-masing ayat, maka lenyaplah yang menyebabkan mutasyabih tersebut. Umpamanya dengan mengkompromikan keduanya, ayat pertama berkenaan dengan Aqidah dan ayat yang kedua berkenaan kegiatan anggota badan. Atau dengan menggunakan Al Nasakh, ayat pertama dinasakhkan oleh ayat yang kedua.

• Mutasyabih dari segi tempat, misalnya firman Allah Ta’ala:
اِنَّمَاالنَّسِئُ زِيَادَةٌ فِى الكُفْرِ.
“ Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran “
Maka bagi orang yang telah mengetahui adat istiadat orang Arab dizaman jahiliah pastilah tidak akan mengerti tentang makna النَّسِئُ , mereka biasanya menjadikan suatu tempat bagi suatu bulan tertentu dari bulan-bulan haram di tempat bulan yang lain, umpamanya bulan Rajab digantikan di tempat bulan Sya’ban, dan bulan Sya’ban di tempat bulan Rajab dan seterusnya.
• Mutasyabih dari segi syarat-syarat, sehingga suatu amalan itu tergantung dengan ada atau tidaknya syarat yang dibutuhkan, misalnya ibadah sholat dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak cukup syaratnya.
B. Sikap Para Ulama’ terhadap ayat-ayat Mutasyabih
Menyingkapi pandangan dan pendapat para ulama’ mengenai ayat-ayat mutasyabih ini, kami ketengahkan beberapa pendapat dari kalangan ulama’ yaitu Ulama’ Tafsir, Para Imam Ahlulbait, dan Ulama’ Salaf dan Khalaf.
@ Pendapat Ulama’ Tafsir (Mufasirin)
Dikalangan ulama’ tafsir terdapat perbedaan pendapat mengenai ayat-ayat mutasyabih ini. Apakah ayat itu dapat diketahui artinya atau takwilnya atau tidak, kemudian mengenai perbedaan apakah manusia berhak mengetahui maksud yang tersembunyi itu atau hanya Allah yang tahu. Perbedaan pendapat dikalangan para ulama’ ini pada intinya berawal dari pemahaman ayat 7 surat Ali Imron:
هُوَ الَّذِى اَنْزَلَ عَلَيْكَ الكِتَابَ مِنْهُ اَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ اُمُّ الكِتَابِ وَاُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ. فَاَمَّاالَّذِيْنَ فِى قُلُوْبِهِمْ زَيْعٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيْلِهِ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ اِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِى العِلْمِ يَقُوْلُوْنَ أَمَنَّابِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَايَذَّكَّرُ اِلاَّ اُوْلُوْا الاَلْبَابِ.
“ Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Diantara( isi)-nya ada ayat-ayat yang Muhkamat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) Mutasyabihat. Adapun orang-orang yangdalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal “.
Dari ayat di atas, para ulama’ berbeda pendapat yang berawal dari lafadz وَالرَّاسِخُوْنَ فِى العِلْمِ . Permasalahannya apakah lafadz itu di-athof-kan dengan lafadz اِلاَّ اللهُ , atau lafadz وَالرَّاسِخُوْنَ فِى العِلْمِ itu merupakan mubtada’ (مُبْتَدَأْ).
Berangkat dari sinilah muncul silang pendapat dikalangan ulama. Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid (dari kalangan sahabat) berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui arti dan takwil ayat-ayat mutasyabihat. Mereka ini beralasan lafadz وَالرَّاسِخُوْنَ فِى العِلْمِ di-athofkan kepada lafadz اِلاَّ اللهُ . Menurut mereka jika hanya Allah yang mengetahui dan tidak dilimpahkan kepada manusia khususnya ulama yang mendalami ilmunya tentang ayat-ayat mutasyabihat baik tentang pengertian maupun takwil, berarti mereka sama saja dengan orang awam. Pendapat ini didukung pula oleh Hasan Al Asy’ari. Hal ini pemakalah berpendapat, bahwa memang sebagian atau bahkan seluruh ayat Al Qur’an mengandung pengertian ayat mutasyabihat. Akan tetapi tidak tertutup kemungkinan sebagian besar ayat-ayat mutasyabihat bisa ditakwilkan pengertiannya oleh para ulama yang mendalami ilmunya (وَالرَّاسِخُوْنَ) , seperti halnya contoh QS. Al-Isro’ ayat 85, yang berbunyi :
وَيَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ, قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّى وَمَااُوْتِيْتُمْ مِنَ العِلْمِ اِلاَّقَلِيْلاً.
“ Dan mereka bertanya kepadamu (hai Muhammad) tentang ruh. Katakanlah : Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu, melainkan sedikit “ (QS. Al-Isro’ : 85)
Dari ayat ini, sudah dapat kita pahami secara bersama. Didalam ayat tersebut ada ayat Muhkam dan ayat Mutasyabih, letak dari ayat muhkam adalah pengertian mengenai masalah ruh. Sesungguhnya ruh itu adalah urusan Allah, kita tidak diberi suatu ilmu melainkan hanya sedikit. Nah, ilmu yang sedikit inilah adalah termasuk ayat mutasyabih. Maka dengan pengertian ini, kita bisa menarik suatu kesimpulan bahwa para ulama tidak tertutup kemungkinan mereka bisa mengetahui tentang masalah ruh dengan melalui ilmu yang diberikan Allah hanya dengan sedikit ini. Bagi Allah ilmu ini sedikit, tetapi bagi ulama mungkin sangat luas sekali dalam mendalami dan mempelajarinya. Untuk itu, sama seperti halnya dengan ayat mutasyabih, Allah bukannya tidak memberitahukan tentang makna ayat tersebut, melainkan hanya sedikit dan keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh kita manusia sehingga kita tidak bisa mengetahui takwilnya. Pendapat kami ini pula, diperkuat dengan pendapat Drs. Abu Anwar, M.Ag. Ia mengatakan : Bahwa jika Allah yang mengetahui maksud ayat-ayat mutasyabih dalam Al Qur’an, tentu saja Al Qur’an itu akan kering maknanya serta tidak menjadi rahmat bagi alam semesta. Hal ini disebabkan karena banyaknya ayat-ayat mutasyabih yang diungkapkan dalam Al Qur’an.
Disamping pendapat kami dan pendapat ulama lainnya yang mengatakan, bahwa ayat mutasyabih itu bisa ditakwilkan. Ada juga pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih itu tidak dapat diketahui oleh seorang pun kecuali Allah. Menurut ulama ini kita sebagai ciptaan Allah tidak perlu mencari-cari takwil tentang ayat-ayat mutasyabih, tetapi kita harus menyerahkan persoalannya kepada Allah semata.
Dari dua pendapat ini, sudah kelihatan kontradiksinya. Dalam hal ini Ar-Raghib Al-Asfahani, dia mengambil jalan tengah dari dua pendapat diatas. Ar-Raghib membagi ayat-ayat mutasyabih menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Ayat yang sama sekali tidak diketahui hakikatnya oleh manusia, seperti waktu tibanya hari kiamat.
2. Ayat mutasyabih yang dapat diketahui oleh manusia (orang awam) dengan menggunakan berbagai sarana terutama kemampuan akal pikiran.
3. Ayat-ayat mutasyabih yang khusus hanya dapat diketahui maknanya oleh orang-orang yang mendalami ilmunya dan tidak dapat diketahui oleh orang-orang selain mereka.
Demikianlah pokok-pokok yang merupakan pembahasan mufassirin di dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an yang mutasyabih.
@ Pendapat Ulama’ Salaf dan Khalaf
Dalam bagian ini, pembahasan khusus tentang ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat-sifat Tuhan, yang dalam istilah Al-Suyuthi adalah ayat Al-Shifat. Sedangkan dalam menurut istilah Shubi Al-Shalih adalah Mutasyabih Al Shifat. Adapun ayat-ayat Mutasyabih menurut sifat-sifat Tuhan adalah sebagai berikut:
1. Pada QS. Thaha : 5, adalah sebagai berikut :
اَلرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى.
“ Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam diatas ‘Arsy “.
Dari ayat diatas ini, muncul sebuah kisah di mana pada suatu hari Imam Malik ditanya tentang makna Istawa (bersemayam), lalu Imam Malik menjawab :
اَلاِسْتَوَاءُ مَعْلُوْمٌ وَالْكَيْفُ مَجْهُوْلٌ, وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ, وَاَظُنُّكَ رَجُلَ سُوْءٍ, اَجْرِجُوْهَ عَنِّى.
“ Istawa itu maklum, caranya tidak diketahui, mempertanyakannya adalah bid’ah. Saya duga engkau ini orang jahat, keluarkanlah orang ini dari majlis saya “
Dari penjelasan Imam Malik diatas dapat kita ambil suatu kesimpulan, bahwa lafadz Istawa dapat dimengerti, tetapi tentang bagaimananya tidaklah dapat diketahui oleh seorang pun selain Allah. Bahkan Imam Malik mengatakan bahwa pertanyaan seperti itu adalah Bid’ah.
• Pada QS. Al Fajr : 22, adalah sebagai berikut :
وَجَاءَ رَبُّكَ وَالمَلَكُ صَفًّاصَفًّا.
“ Dan datanglah Tuhanmu; sedangkan malaikat berbaris-baris “

• Pada QS. Al-An’am : 61, adalah sebagai berikut :
وَهُوَ القَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ.
“ Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi diatas semua hambanya “
• Pada QS. Al Zumar : 56, adalah sebagai berikut :
يَحَسْرَتَى عَلَى مَافَرَطْتَ فِى جَنْبِ اللهِ.
“ Amat besar penyesalanku atas kelalaianku disisi Allah “
• Pada QS. Ar-Rahman : 27, adalah sebagai berikut :
وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوْالْجَلاَلِ وَالاِكْرَامِ
“ Dan tetap kekallah wajah Tuhanmu “
• Pada QS. Thaha : 39, adalah sebagai berikut :
وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِى
“ ……dan supaya kamu diasuh atas mataku “
• Pada QS. Al-Fath : 10, adalah sebagai berikut :
يَدُ اللهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ
“ Tangan Allah di atas tangan mereka “
Pada ayat ini, kalau kita lihat kembali dalam istilah ilmu fiqih, ayat ini termasuk dalam Manthuq Zihar, yaitu suatu lafadz yang memungkinkan untuk ditakwilkan kepada arti lain, selain arti harfiyahnya. Menurut zahirnya kata يَدٌ berarti tangan, tetapi mustahil Allah mempunyai tangan. Maka tangan ini bisa ditakwilkan dengan arti kekuasaan.
• Pada QS. Ali-Imran : 28, adalah sebagai berikut :
وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ
“ …..Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya “
Dalam ayat-ayat ini terdapat kata-kata bersemayam, datang, di atas, sisi, wajah, mata, tangan dan diri yang dibangsakan atau dijadikan sifat bagi Allah. Kata-kata ini menunjukkan keadaan, tempat, dan anggota yang layak bagi makhluk yang baharu, misalnya manusia. Karena dalam ayat-ayat tersebut kata-kata ini dibangsakan kepada Allah yang qodim (absolut), maka sulit dipahami maksud yang sebenarnya. Karena itu pula, ayat-ayat tersebut dinamakan mutasyabihat shifat. Maka dalam hal ini timbul suatu pertanyaan, apakah maksud ayat-ayat ini dapat diketahui oleh manusia atau tidak ?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Shubhi Sholih mengemukakan pendapat dua kelompok madzhab, yaitu Salaf dan Khalaf.
1. Madzhab Salaf
Kelompok ini mempercayai dan mengimani ayat-ayat (tentang sifat-sifat) mutasyabih itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah. Mereka tetap mensucikan Allah dari makna-makna lahir yang mustahil atau tidak mungkin bagi Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Asy-Syura ayat : 11;
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ
“ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia “
Karena Madzhab Salaf menyerahkan urusan mengetahui hakikat maksud ayat-ayat ini kepada Allah, mereka disebut pula Madzhab Mufawwidhah atau Tafwidh. Inilah sistem penafsiran yang diterapkan oleh Madzhab Salaf pada umumnya terdapat ayat-ayat mutasyabihat. Dalam penerapan sistem ini, mereka mempunyai dua argumen, yaitu argumen Aqli dan Naqli.
Argumen Aqli adalah bahwa menentukan maksud dari ayat-ayat mutasyabihat hanyalah berdasarkan kaidah-kaidah kebahasaan dan penggunaannya di kalangan bangsa Arab. Penentuan seperti ini, hanya dapat menghasilkan ketentuan yang bersifat zanni (tidak pasti). Sedangkan sifat-sifat Allah termasuk masalah aqidah yang dasarnya tidak cukup dengan argumen yang zanni. Lantaran dasar yang qath’i (pasti) tidak diperoleh, maka madzhab Salaf berkesimpulan untuk Tawaqquf (tidak memutuskan) dan menyerahkan ketentuan maksudnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.
Adapun dalam argumen naqli, mereka mengemukakan beberapa hadits dan Atsar shahabat. Akan tetapi disini kami hanya akan mengambil dua hadits saja untuk menerangkan argumen naqli ini. Adapun haditsnya adalah sebagai berikut :
1. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : تَلاَرَسُوْلُ اللهِ ص.م. هَذِهِ الاَيَةَ (هُوَ الَّذِى اَنْزَلَ عَلَيْكَ الكِتَابَ الى قوله- اِلاَّ اُوْلُوْا الاَلْبَابِ) قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. : فَاِذَا رَاَيْتَ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ فَاُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرْهُمْ.(رواه البخارى ومسلم وغيرهما)
“ Dari ‘Aisyah r.a. ia berkata : Rosulullah S.a.w. membaca ayat : هُوَ الَّذِى اَنْزَلَ عَلَيْكَ الكِتَابَ الى قوله- اِلاَّ اُوْلُوْا الاَلْبَابِ (QS. Ali Imron : 7). Rosulullah S.a.w. bersabda : Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, daripadanya maka itulah mereka orang-orang yang disebutkan Allah (yaitu sesat). Maka berhati-hatilah terhadap mereka “. (HR. Imam Al Bukhori, Muslim dan lain keduanya)
1. مِنْ حَدِيْثِ عَمْرِ وَابْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص.م. قَالَ : اِنَّ القُرْأَنَ لَمْ يَنْزِلْ لِيُكَذِّبَ بَعْضُهُ بَعْضًا فَمَاعَرَفْتُمْ مِنْهُ فَاعْمَلُوْابِهِ وَمَاتَشَابَهَ فَأَمِنُوْابِهِ. (رواه مرداويه)
“ Dari ‘Amr Ibnu Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya dari Rosulullah S.a.w. ia bersabda : Sesungguhnya Al Qur’an tidak diturunkan agar sebagiannya mendustakan sebagian yang lainnya; apa yang kamu ketahui daripadanya, maka amalkanlah. Dan apa yang mutasyabihat, maka hendaklah kamu meyakininya “. (HR. Mirdawaih).
2. Madzhab Khalaf
Kelompok ini adalah kelompok ulama’ yang mentakwilkan lafadz yang makna lahirnya itu mustahil kepada makna yang lain yang sesuai dengan zat Allah. Kelompok ini lebih dikenal dengan nama Muawwilah atau Madzhab Takwil. Mereka mentakwilkan semua sifat-sifat yang terdapat pada ayat-ayat mutasyabihat di atas dengan takwilan yang bersifat rasional, seperti contoh : Istiwa mereka takwilkan dengan pengendalian Allah terhadap alam semesta ini tanpa merasa kesulitan. Kedatangan Allah mereka takwilkan dengan kedatangan perintah-perintah Allah. Allah berada di atas hamba-Nya mereka takwilkan dengan Allah Maha Tinggi, bukan berada pada suatu tempat. Kata sisi mereka mereka takwilkan dengan hak Allah. Wajah mereka, mereka takwilkan dengan zat Allah. Mata mereka, mereka takwilkan dengan penglihatan/pandangan. Tangan mereka takwilkan dengan kekuasaan Allah. Dan diri, mereka takwilkan dengan siksaan Allah.
Madzhab Khalaf ini, pada umumnya adalah dari kalangan ulama muta’akhirin. Imam Al-Haramain (w. 478 H) pada mulanya termasuk madzhab ini, tetapi kemudian beliau menarik diri darinya. Dalam sebuah Risalah An-Nizhamiyyah, ia menuturkan bahwa prinsip yang dipegang dalam beragama adalah mengikuti madzhab salaf sebab mereka memperoleh derajat dengan cara tidak menyinggung ayat-ayat mutasyabih.
Menurut kami sebagai pemakalah, kenapa Imam Haramain menarik diri dari madzhab khalaf adalah karena beliau takut dan ada rasa keragu-raguan dalam hati beliau didalam mentakwilkan ayat-ayat mutasyabih. Beliau takut keliru dan terjerumus kedalam kelompok orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat sehingga dicap dalam Al Qur’an sebagai orang-orang yang sesat.
Ibnu Qutaibah (w. 276 H) menentukan dua syarat bagi absahnya sebuah penakwilan, yaitu :
1. makna yang dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas.
2. arti yang dipilih sudah dikenal oleh bahasa Arab Klasik.
Syarat yang dikemukakan ini lebih longgar daripada syarat kelompok Az-Zhahiriyyah yang menyatakan bahwa arti yang dipilih tersebut harus dikenal secara populer oleh masyarakat Arab pada masa awal.
Madzhab Khalaf mengatakan ayat-ayat mutasyabihat itu sebagian bisa ditakwilkan, mereka berpegang kepada kata para sahabat-sahabat, dan para tabi’in. Seperti halnya kami kemukakan pendapat dibawah ini :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِى قَوْلِهِ (وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ اِلاَّ اللهُ وَالرَّاسِخُوْنَ فِى العِلْمِ) قَالَ : اَنَامِمَّنْ يَعْلَمُوْنَ تَأْوِيْلَهُ.
“ Dari Ibnu Abbas r.a. tentang firman Allah : Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalami ilmunya. Berkata Ibnu Abbas r.a. : Saya adalah diantara orang yang mengetahui takwilnya “. (Diriyawatkan oleh Ibnu Al-Munzir)
Menurut kami selaku pemakalah, pada perkataan Ibnu Abbas r.a. diatas sudah jelas sekali, bahwa beliau mengartikan وَالرَّاسِخُوْنَ adalah di-athofkan kepada lafadz اِلاَّ اللهُ . ini berarti yang hanya bisa mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihat adalah Allah dan orang-orang yang mendalami ilmunya, termasuk kedalamnya adalah Ibnu Abbas r.a. sendiri. Pada dasarnya Ibnu Abbas r.a. sendiri pernah meminta dido’akan oleh Rosulullah S.a.w. supaya dia bisa memahami ilmu agama dan serta takwilannya. Adapun bunyi do’a Rosulullah S.a.w. itu adalah sebagai berikut :
اَللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ.
“ Ya Allah, berilah pemahaman kepadanya dalam bidang agama dan ajarkanlah takwil kepadanya “.
Dan selanjutnya ada pendapat dari Al-Dhahhak r.a. ia berkata :
الرَّاسِخُوْنَ فِى العِلْمِ يَعْلَمُوْنَ تَأْوِيْلَهُ لَوْ لَمْ يَعْلَمُوْا تَأْوِيْلَهُ لَمْ يَعْلَمُوْا نَاسِخَهُ مِنْ مَنْسُوْخِهِ وَلاَحَلاَلَهُ مِنْ حَرَامِهِ وَلاَمُحْكَمَهُ مِنْ مُتَشَابِهِهِ.
“ Orang-orang yang mendalami ilmunya mengetahui takwilnya. Sekiranya mereka tidak mengetahuinya, niscaya mereka tidak mengetahui nasakh dan mansukhnya, halalnya dari haramnya, dan ayat muhkam dan ayat mutasyabih “. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim).
@ Pendapat Para Imam Ahlulbait
Yang kami pahami (kata Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i) dari Imam Ahlulbait adalah bahwa tidak ada ayat mutasyabih yang tidak mungkin diketahui maksudnya secara hakiki. Bahkan ayat-ayat yang tidak mandiri makna-makna hakikinya, dapat diketahui dengan perantara ayat-ayat lain. Inilah yang dimaksud dengan mengembalikan ayat muhkam kepada ayat mutasyabih, seperti lahir firman Allah Ta’ala sebagai berikut :
• pada QS. Thaha : 5, adalah sebagai berikut :
اَلرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى.
“ Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam diatas ‘Arsy “.
• pada QS. Al-Fath : 10, adalah sebagai berikut :
يَدُ اللهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ
“ Tangan Allah di atas tangan mereka “
Pada kedua ayat ini menunjukkan arti Jismiyyah (jisim-jisim), yaitu seolah-olah Allah itu benda dan makhluk. Maka kita kembalikan kepada firman Allah dalam Surat Asy-Syura ayat 11, yaitu
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ
“ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia “
Dan juga pendapat Ulama Ahlulbait, diperkuat dengan kata Imam Shadiq as sebagai berikut :
اَلْمُحْكَمُ مَايُعْمَلُ بِهِ وَالْمُتَشَابِهُ مَااشْتَبَهَ عَلَى جَاهِلِهِ.
“ Muhkam adalah ayat yang dapat diamalkan, sedangkan mutasyabih adalah ayat yang dapat menimbulkan kesalahpahaman bagi orang yang tidak mengetahuinya “.
Dan Imam Ridha as berkata :
مَنْ رَدَّ مُتَشَابِهَ القُرْأَنِ اِلَى مُحْكَمِهِ هُدِىَ اِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ.
“ Barangsiapa merujukkan ayat-ayat mutasyabih kepada ayat-ayat muhkam, maka dia telah ditunjukkan kepada jalan yang lurus “.
Dengan adanya dalil-dalil yang telah diutarakan oleh para ulama’ diatas, maka sudah jelaslah bahwa ayat-ayat mutasyabih itu tidak tertutup kemungkinan bisa ditakwilkan. Menurut hemat kami selaku pemakalah, bahwa Ulama’ Ahlulbait ini termasuk mendukung daripada pendapat Ulama’ Khalaf. Akan tetapi perlu kita ketahui secara bersama, bahwa tidak semua ayat-ayat mutasyabih mereka bisa takwilkan, melainkan hanya sebagian saja yang bisa mereka takwilkan. Sesungguhnya mereka sendiri mengakui bahwa ayat-ayat didalam Al Qur’an itu banyak sekali kata-kata yang penuh dengan tanda tanya, yang masih ghoib dan tak jelas. Mereka masih memerlukan petunjuk dari Allah Swt.

C. Hikmahnya ada ayat Al Muhkam dan Al Mutasyabih.
Adapun hikmah yang terkandung didalam ayat-ayat Al Muhkam dan Al Mutasyabih adalah sebagai berikut :
1. Hikmah adanya ayat Al Muhkam adalah tidak adanya perselisihan pendapat mengenai cara pentakwilannya, adanya kesepakatan paham, tidak membuat orang menjadi syubhat, ragu-ragu, dan sesat. Dan serta menjadi suatu alat untuk bisa mentakwilkan ayat-ayat Mutasyabihat.
2. Hikmah pada ayat Al Mutasyabih menurut As Suyuthi didalam kitab Al Itqan-nya beliau berkata :
• Ayat-ayat mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkapkan maksudnya sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya.
• Ayat-ayat mutasyabihat ini, untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya dengan memerlukan berbagai ilmu, seperti ilmu bahasa, grametika, ma’ani, ilmu bayan, ushul fiqh dan lain sebagainya.
• Memperlihatkan kelemahan akal manusia
• Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih
• Dan memberikan pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman inderawi yang biasa disaksikan dan dirasakan.
1. Hikmah pada ayat mutasyabih menurut Drs. Rosihan Anwar, M.Ag dalam bukunya Ulumul Qur’an, beliau katakan sebagai berikut :
D. Kesimpulan
Dari uraian ayat-ayat muhkam dan mutasyabih diatas, dapat dipahami sebagai berikut :
1. Muhkam adalah ayat yang sudah jelas maksudnya ketika kita membacanya. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang perlu ditakwilkan, dan setelah ditakwilkan barulah kita dapat memahami tentang maksud ayat.
2. Ayat mutasyabih adalah merupakan salah satu kajian dalam ilmu Al Qur’an yang para ulama menilainya dengan alasan masing-masing, seperti Ulama Tafsir, Madzhab Salaf, Madzhab Khalaf dan Ulama’ Ahlulbait.
3. Fawatih As Suwar itu adalah kalimat-kalimat yang dipakai untuk pembukaan surat, ia merupakan bagian dari ayat Mutasyabih karena ia bersifat mujmal (global), mu’awwal (memerlukan takwil), dan musykil (sukar dipahami).
4. Pada penafsiran ayat Fawatih As Suwar terjadi perselisihan dua golongan ulama, yaitu golongan pertama mengatakan bahwa ayat Fawatih As Suwar itu tidak bisa ditakwilkan, mereka ini adalah Imam Syu’bi dan Jama’ah, serta tafsir Jalalin. Sedangkan golongan yang kedua ini mengatakan bahwa ayat Fawatih As Suwar itu bisa ditakwilkan, mereka ini adalah Ibnu Abbas r.a., Salim Ibnu Abdillah, Al Saddiy, Al Baidhawi dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Husni, Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki. 1999. Mutiara Ilmu-ilmu Qur’an. Bandung : Pustaka Setia. terj. Rosihan Anwar.
Al Qaththan, Manna. 1975/1393. Mabahits fi Ulum Al Qur’an. Riyadh: Mansyurat Al Ashri Al Hadits.
Al-Zarqani, Muhammad Abd al-‘Azim. 1988. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr.
Anshori M, Kusnadi. 2003. Ulumul Qur’an. Palembang : Pusat Penerbitan dan Percetakan IAIN Raden Fatah.
Anwar, Abu. 2005. Ulumul Qur’an; Sebuah Pengantar. Pekanbaru: Amzah.
As Suyuthi. Al Itqan fi Ulumul Qur’an. juz II, Dar Al Fikr.
Bakr Ismail, Muhammad Al-. 1991. Dirasat fi Ulum Al Qur’an. Dar Al Manar.
Departemen Agama RI. 1989. Al Qur’an dan Terjemahannya. Semarang : Toha Putra.
Shihab, M. Quraish. 1992. Membumikan Al Qur’an. Bandung : Mizan.
Shiddieqy, Hasbi Ash-. 1995. Ilmu-Ilmu Al Qur’an. Jakarta : Bulan Bintang.
Subhi Soleh, Dar Al-. 1993. Mabahits fi Ulumul Qur’an. Jakarta : Pustaka Firdaus. Terjemahan Pustaka Firdaus.
Thabathaba’i, Sayyid Muhammad Husain. 2000. Memahami Esensi Al Qur’an. Jakarta : Lentera.
Wahid, Ramli Abdul. 1993. Ulumul Qur’an. Jakarta : Rajawali.

Budidaya Perikanan Ikan Patin Mei 23, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

BAB I
PENDAHULUAN
Ikan patin (pangasius sp.) yang terdapat di Indonesia terdapat 14 spesies, namum tetap saja pangasianodon hypopthalmus yang berasal dari Thailand merupakan satu-satunya yang dibudidayakan di Indonesia.
Dalam rangka memanfaatkan keanekaragaman hayati ikan air tawar Indonesia, khususnya potensi spesies ikan patin lokal untuk budidaya, sejak tahun 1996 telah dilakukan penelitian kerja sama dengan Uni Eropa. dimana spesies ikan patin ini, pangasius djambal bleker, 1846 telah menjadi calon komoditi budidaya baru karna potensi ukurannya yang besar ( bisa mencapai lebih dari 20 kg/ekor ). Penyebaran geografisnya yang luas serta popularitasnya diantara konsumen jenis ini di Sumatra dan pulau-pulau lain di Indonesia. Evaluasi budidaya secara teknis menunjukan banyak keunggulan yang bernilai lebih bagi aquaculture. Sedangkan sosialisasi pembudidayaan jenis ini telah dilakukan pada tahun 1997.
Ikan patin merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki peluang ekonomi untuk dibudidayakan. Budidaya ikan Patin masih perlu diperluas lagi, karena pemenuhan atas permintaan ikan patin masih sangat kurang. Ikan patin seperti halnya ikan lele tidak memiliki sisik dan memiliki semacam duri yang tajam di bagian siripnya keduanya tergolong dalam kelompok catfish. Ada yang menyebut ikan patin dengan Lele Bangkok. Di beberapa daerah ikan patin memiliki nama yang berbeda-beda antara lain ikan Jambal, ikan Juara, Lancang dan Sodarin. Rasa daging ikan patin yang enak dan gurih konon memiliki rasa yang lebih dibandingkan Ikan Lele. Ikan patin memiliki kandungan minyak dan lemak yang cukup banyak di dalam dagingnya.
Apabila ditinjau dari aspek pembudidayaan, teknik budidaya ikan patin sebenarnya relatif mudah, sehingga tidak perlu ragu jika berminat menekuni budidaya ikan ini. Pada awalnya pemenuhan kebutuhan ikan patin hanya mengandalkan penangkapan dari sungai, rawa dan danau sebagai habitat asli ikan patin. Seiring dengan meningkatnya permintaan dan minat masyarakat, ikan patin mulai dibudidayakan di kolam,keramba maupun bak dari semen.
Beberapa keunggulan komparatif budidaya ikan patin adalah bahwa ikan patin ukuran indifidunya cukup besar, pemakan segalanya dan dapat bertoleransi terhadap kondisi perairan yang kurang menguntungkan karena kondosi oksigen (02) terlarut relatif lebih rendah serta dapat beroleransi PH air lingkungan yang ber pH 3-4. Demikian juga ikan patin mau mengkonsumsi makanan buatan atau pakan yang beredar di pasaran sebagai makanannya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Singkat
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk “membongsorkan“ tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini.
Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba.
Penangkaran ikan patin banyak terdapat di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan. Ikan patin (pengasius Sp.) termasuk family pengasidae, yaitu jenis ikan yang memiliki lubang mulut kecil berpinggiran bola mata yang bebas, sirip punggung tambahan sangat kecil dan bersungut di hidung.
Sesuai dengan klasifikasi, ikan patin adalah sebagai berikut ;
Ordo : Ostarioplaysi.
Subordo : Siluriodea.
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius.
Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch.
Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya:
a) Pangasius polyuranodo (ikan juaro)
b) Pangasius macronema
c) Pangasius micronemus
d) Pangasius nasutus
e) Pangasius nieuwenhuisii
Ikan patin habitatnya di alam, hidup di perairan umum seperti di Kalimantan dan Sumatra Selatan.Jenis ikan ini termasuk ikan dasar dan biasanya banyak melakukan aktifitas di malam hari. Kebiasaan ikan ini suka bergelombol. Nafsu makan ikan akan terangsang (akan bertambah) apabila ikan-ikan tersebut bergelombol. Ikan patin biasanya memijah pada musim penghujan yang biasanya jatuh pada bulan november s/d maret.
Ikan patin berdasarkan kebiasaan makannya termasuk ikan pemakan segala (Omnivora) dan secara alama makannya terdiri dari serangga, biji-bijian, ikan rucah, udang-udangan dan moluska.
Sumber air untuk pemeliharaan ikan patin di kolam dapat di peroleh dari alam misalnya sungai, sumber bor dan air hujan, yang pasti air nya layak untuk kehidupan pembesaran.
Beberapa parameter kualitas air yang di perlukan untuk pembudidayaan ikan patin adalah:
No PARAMETER KANDUNGAN
1 Oksigen (O2) 3-6 ppm
2 Karbondioksida (C02) 9-20 ppm
3 pH 5-9
4 Alkalinitas 80-250
5 Suhu 28-30oc
Sumber : Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1993

B. Persyaratan Lokasi
Budidaya ikan Patin memerlukan beberapa persyaratan dan kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangannya antara lain sebagai berikut :
1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan dan budi daya ikan patin adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3. Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
5. Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara 26–28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
6. PH air berkisar antara: 6,5–7.

C. Pedoman Teknis Budidaya
Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran.
C.1. Pembibitan Ikan Patin
Pembibitan Ikan Patin merupakan upaya untuk mendapatkan bibit dengan kualitas yang baik dan jumlah yang mencukupi permintaan. Cara Tradisional bibit ikan Patin diperoleh dengan menangkap dari habitat aslinya yaitu sungai, rawa, danau dan tempat-tempat lain. Untuk tujuan komersial bibit harus diupayakan semaksimal mungkin dengan pembibitan di kolam. Persiapan dan langkah-langkahnya sebagai berikut :
C.1.1. Memilih calon induk siap pijah.
Induk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus terlebih dahulu dengan pemeliharaan yang intensif. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi makanan khusus yang mengandung protein tinggi. Selain itu, diberikan juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan induk. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad.
Ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan adalah
sebagai berikut :
a. Induk betina
• Umur tiga tahun.
• Ukuran 1,5–2 kg.
• Perut membesar ke arah anus.
• Perut terasa empuk dan halus bila di raba.
• Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
• Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
• kalau di sekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya seragam.
b. Induk jantan
• Umur dua tahun.
• Ukuran 1,5–2 kg.
• Kulit perut lembek dan tipis.
• Bila diurut akankeluar cairan sperma berwarna putih.
• Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

C.1.2. Persiapan hormon perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor,Biasanya ikan mas.
Hormon perangsang dibuat dengan menggunakan kelenjar hipofise ikan mas, kelenjar hipofise dapat ditemukan pada bagian otak ikan mas, berwarna putih dan cukup kecil. Ambil dengan hati-hati dengan pinset. Setelah diambil dimasukkan ke dalam tabung kecil dan ditumbuk sampai benar-benar halus dan lebut, selanjutnya dicampur dengan air murni (aquades) yang dapat dibeli di apotik.
C.1.3. Kawin suntik (induce breeding).
Setelah kelenjar hipofise dicampur dengan air murni sudah siap, ambil dengan jarum suntik dan disuntikkan pada punggung Ikan patin. Ikan patin siap dipijahkan. Metode kawin suntik diterapkan untuk merangsang induk patin betina mengeluarkan telur untuk selanjutnya dibuahi oleh Patin Jantan.
C.1.4. Penetasan telur.
Telur yang sudah dibuahi akan menetas dalam waktu sekitar 4 hari, selama menunggu telur menetas perlu dipantau kondisi air. Ganti air sebagian dengan air bersih dari sumur.
C.1.5. Perawatan larva.
Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium atau bak berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm, bisa dalam ukuran yang lain. Setiap akuarium atau bak diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium agar keperluan oksigen untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu ruangan dan suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk menghemat dana. Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur. Pada hari ketiga, benih ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya berangsur-angsur diganti dengan makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa dikenal dengan kutu air dan jentik nyamuk.

C.1.5.Pendederan.
Benih Ikan patin dibesarkan pada kolam tebar atau bak dari semen, lebih bagus pada kolam lumpur karena mengandung banyak plankton dan fitoplankton sebagai pakan alami.
C.1.6.Pemanenan.
Benih ikan patin bisa dipanen sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
C.2.Pemeliharaan Pembesaran
Pemeliharaan Pembesaran ditujukan untuk pemenuhan Ikan Patin konsumsi. Ikan Patin dikonsumsi dalam berbagai ukuran, antara lain 200 gram sampai 1 kg. Masa panen menyesuaikan dengan permintaan pasar. Ada sebagian yang lebih senang ukuran kecil sekitar 200 gram ada yang lebih dari itu. Pada Usia 6 bulan ikan patin sudah mencapai bobot 600-700 gram.
Ikan Patin akan tumbuh lebih baik di kolam lumpur dengan aliran air yang mengalir cukup baik, meski demikian bisa juga dipeihara pada kolam semen yang tidak mengalir, tetapi perlu diperhatikan kualitas air agar tetap dalam konsisi yang baik. Langkah-langkah pemeliharaan Ikan Patin Sebagai Berikut:
C.2.1.Pemupukan
Pada kolam lumpur idealnya perlu dilakukan pemupukan sebelum ikan patin ditebarkan. Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan makanan alami dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-banyaknya.Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50–700 gram/m2.
C.2.2.Pemberian Pakan
Faktor yang cukup menentukan dalam budi daya ikan patin adalah faktor pemberian makanan. Faktor makanan yang berpengaruh terhadap keberhasilan budi daya ikan patin adalah dari aspek kandungan gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin makanan. Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan alami lainnya seperti kerang, keong emas,bekicot, ikan sisa, sisa dapur dan lain-lain. Makanan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.
C.2.3.Penanganan Hama Dan Penyakit
Salah satu kendala dan masalah Budi daya ikan patin adalah hama dan penyakit. Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung dan kolam hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Cegah akses masuk hama tersebut ke kolam atau dengan memasang lampu penerangan si sekitar kolam. Hama tersebut biasanya enggan masuk jika ada sinar lampu. Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.
C.2.4.Pemanenan Ikan Patin
Pemanenan adalah saat yang ditunggu pada budi daya ikan patin. Meski terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan tidak mengalami kerusakan,kematian, cacat saat dipanen. Sayang jika budi daya ikan patin sudah berhasil dengan baik, harus gagal hanya karena cara panen yang salah. Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga kematian ikan dapat dihindari. Pemasaran Ikan Patin dalam bentuk segar dan hidup lebih diminati oleh konsumen, karena itu diusahakan menjual dalam bentuk ini.

D. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
1) Kolam pemeliharaan induk
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
2) Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.
3) Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
E. Hama dan Penyakit

• Hama
Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan kecil yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.
Untuk menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit) sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau merupakan markas tempat bersarangnya hama, karena itu sebaiknya semak belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin.
Cara untuk menghindari dari serangan burung bangau (Lepto-tilus javanicus), pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis), blekok (Ramphalcyon capensis capensis) adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya dengan lembararan jaring dan memasang kantong jaring tambahan di luar kantong jaring budi daya. Mata jaring dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih besar. Cara ini berfungsi ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin juga tidak akan berlompatan keluar.
• Penyakit
Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non¬infeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.
1) Penyakit akibat infeksi
Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit, jamur, bakteri, dan virus. Produksi benih ikan patin secara masal masih menemui beberapa kendala antara lain karena sering mendapat serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih patin yang mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Dalam usaha pembesaran patin belum ada laporan yang mengungkapkan secara lengkap serangan penyakit pada ikan patin, untuk pencegahan, beberapa penyakit akibat infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.
a. Penyakit parasit
Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa protozoa dari jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Pengendalian: menggunakan metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan dalam larutan selama 24 jam. Lakukan pengobatan berulang-ulang selama tiga kali dengan selang waktu sehari.
b. Penyakit jamur
Penyakit jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyakit ini biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan. Penyebab penyakit jamur adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada kondisi air yang jelek, kemungkinan patin terserang jamur lebih besar. Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan patin. Ikan yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya di pakai adalah malachyt green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30 menit. Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang sampai tiga hari berturut- turut.
c. Penyakit bakteri
Penyakit bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan patin. Bakteri yang sering menyerang adalah Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama di bagian dada, perut, dan pangkal sirip. Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah harus segera dimusnahkan. Sementara yang terinfeks, tetapi belum parah dapat dicoba dengan beberapa cara pengobatan. Antara lain: (1) Dengan merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama 30–60 menit, (2) Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5- 10 ppm selama 12–24 jam, atau (3) merendam ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.
2) Penyakit non-infeksi
Penyakit non-infeksi banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi. Keracunan disebabkan oleh banyak faktor seperti pada pemberian pakan yang berjamur dan berkuman atau karena pencemaran lingkungan perairan. Gajala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan.
• Ikan akan lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus yang berbahaya, ikan berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi, ikan tampak kurus dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan ukuran tubuh, kurang lincah dan berkembang tidak normal.
• Kendala yang sering dihadapi adalah serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) mengakibatkan banyak benih mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan.
• Penyakit ini dapat membunuh ikan dalam waktu singkat.
• Organisme ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombol sampai ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik-bintik putih.
• Tempat yang disukai adalah di bawah selaput lendir sekaligus merusak selaput lendir tersebut.

F. Panen

• Penangkapan
Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga kematian ikan dapat dihindari.
• Pembersihan
Ikan patin yang dipelihara dalam hampang dapat dipanen setelah 6 bulan. Untuk melihat hasil yang diperoleh, dari benih yang ditebarkan pada waktu awal dengan berat 8-12 gram/ekor, setelah 6 bulan dapat mencapai 600-700 gram/ekor. Pemungutan hasil dapat dilakukan dengan menggunakan jala sebanyak 2-3 buah dan tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 2-3 orang. Ikan yang ditangkap dimasukkan kedalam wadah yang telah disiapkan.

DAFTAR PUSTAKA
1) Anonim (1995). Pembesaran Ikan Patin Dalam Hampang (Banjarbaru: Lembar Informasi Pertanian.
2) Aida, Siti Nurul, dkk. (1 992/1 993). Pengaruh Pemberian Kapur Pada Mutu Air dan Pertumbuhan Ikan Patin di Kolam Rawa Non Pasang Surut dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar.
3) Arifin, Zainal. (1987). “Pembenihan Ikan Patin (Pangasius pangasius)
Dengan Rangsangan Hormon” , Buletin Penelitian Perikanan Darat. 6 (1), 1987: 42 – 47.
4) http://ikanmania.wordpress.com/2008/01/22/aspek-produksi-budidaya-pembesaran-ikan-patin/
5) http://galeriukm.web.id/unit-usaha/perikanan/budidaya-ikan-patin
6) http://www.kkp.go.id/index.php/arsip/c/5642/BUDIDAYA-IKAN-PATIN-JAMABAL-Pangasius-djambal-DI-KOLAM-/?category_id=104
7) http://carabudidaya.com/cara-budidaya-ikan-patin/

Selain belajar Pertanian di UIN BDG belajar Sejarah Peradaban Islam Mei 23, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebelum Islam masuk ke Spanyol, sekitar abad ke-5 Masehi, bangsa Jerman mendatangi Semenanjung Liberia. Theodorick, Raja Ostogoth, mendirikan istananya di Toledo sekitar tahun 513 M. Kemudian, pada tahun 569 M., Leovigildo, seorang raja Visigoth, menjadikan Toledo sebagai ibukota kerajaan Visigoth Spanyol. Sejak itulah, Toledo mengalami kejayaanya yang pertama. Pada tahun 689 M., Raja Recaredo menjadikan Katholik sebagai agama resmi di Spanyol.
Pada awal abad ke-8 Masehi, para pendatang baru berdatangan ke Eropa (Spanyol). Pendatang tersebut adalah bangsa Arab yang membawa agama Islam. Sejak enspansi Bani Umayyah Spanyol pada tahun 711 M. Yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad, Spanyol menjadi bagian wilayah kekuasaan Islam (Ira M. Lapidus, 1993: 3790). Umat Islam berkuasa di Spanyol hampir delapan abad, yaitu dari tahun 711-1492 M.
Untuk mengetahui lebih lanjut, penulis berusaha untuk memahami proses penguasaan Islam atas Spanyol, kemajuan peradaban Islam di Spanyol, kemunduran dan kehancuranya, dan faktor-faktor yang mendukung terwujudnya tiga poin tersebut.

BAB II
ISLAM DI SPANYOL DAN PENGARUHNYA TERHADAP RENAISASI DI EROPA
Setelah berakhirnya periode klasik Islam, ketika Islam mulai memasuki masa kemundurannya, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian duni lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan Eropa ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Islam Spanyol di Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.
A. MASUKNYA ISLAM KE SPANYOL
Sebagaimana disebutkan, Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705-715 M), salah satu seorang Khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abd Al-Malik mengangkat Hasan ibn Nu’man Al-Ghassani menjadi Gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah Al-Wahid, Hasan ibn Nu’man sudah di gantikan oleh Musa ibn Nushair. Di zaman Al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Marokko. Selain itu, ia juga menyempurnakan penaklukan di daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka menyatakan setia dan berjanji tidak akan membuat kekacauan-kekacauan seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Penaklukkan atas wilayah Afrika Utara itu pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa Al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar membuat kerusuhan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat di kuasai, umat Islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dengan demikian, Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukkan wilayah Spanyol.
Dalam proses penaklukkan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan kesana. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif dapat dikatakan sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam kerajaan Visighotic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Thariq ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol, karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah Al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran disuatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada, dan Toledo (ibu kota Kerajaan Goth saat itu). Sebelum Thariq menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5.000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyebrangi selat itu dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkan. Setelah Musa berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99 H/717 M. Kali ini, sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Prancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abd Al-Rahman ibn Abdullah Al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordesu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, diantara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Prancis gagal dan tentara yang dipimpinya mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 734 M, dan pulau-pulau yang terdapat di laut Tengah. Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus, dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayyah. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Prancis Tengah dan bagian-bagian penting dari italia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu, penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofissit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama kristen. Yang tidak bersedia disiksa dan dibunuh secara brutal. Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga, keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Didalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu, Ameer Ali, seperti dikutip oleh Imaduddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol berada dalam pemerintahan Romawi, berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri, dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dengan daerah lain sulit dilaui karena jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam.
Awal kehancuran kerajaan Ghot adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak, dan anak Witiza. Keduannya kemudian bangkit dan menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Rocerick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin. Sementara itu, terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang diapakai oleh Tharif, Tariq, dan Musa.
Hal yang menguntungkan tentara Islam lainnya adalah tentara Roderick yang terdiri para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu, orang yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi pejuang kaum muslimin.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokoh-tokoh pejuang, dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum Muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam disana.
B. PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Spanyol hingga jatuhnya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranana yang sangat besar. Masa itu berlangsung lebih dari tujuh setengah abad. Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:
1. Periode Pertama (711-755 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun luar. Gangguan dari dalam antara lain berupa perselisihan di antara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandanagan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa, merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali pergantiaan wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat. Perbedaan poltik itu menyebabkan seringnya terjadi perang saudara. Hal ini ada hubunganya dengan perbedaan etnis, terutama antara Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri, terdapat dua golongan yang terus menerus bersaing, yaitu suku Qaisy (Arab Utara) dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini sering kali menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur yang tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur yang mampu mempertahankan kekuasaanya untuk jangka waktu yang agaak lama.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam. Gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mapu mengusir Islam dari negeri Spanyol.
Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd Al-Rahman Al-Dakhil ke Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
2. Periode Kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk pada pusat pemerintahan Islam yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama kali ialah Abdurrahman I, yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (Yang Masuk Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas ketika yang terakhir ini berhasil menaklukan Bani Umayah di Damaskus. Selanjutnya, ia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayah di Spanyol. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman Al-Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd Al-Rahman Al-Ausath, Muhammad ibd Abd Al-rahman, Munzir ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan, baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Abd Al-Rahman Al-Dakhil mendirikan mesjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam menegakkan hukum Islam dan Hakam dikenal sebaagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd Al-Rahman Al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pikiran filsafat juga mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman Al-Ausath. Ia mengundang para ahli dari dunia Islam lainnya untuk datang ke Spanyol sehingga kegiatan ilmu pengetahuan di Spanyol mulai semarak.
Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi. Pada pertengahan abad ke-9, stabilitas negaraa terganggu dengan munculnya gerakan Kristen fanatik yang mencari kesyahidan (Martyrdom). Namun, Gereja Kristen lainnya di seluruh Spanyol tidak menaruh simpati pada gerakan itu, karena pemerintahan Islam mengembangkan kebebasan beragama. Penduduk Kristen diperbolehkan memiliki pengadilan sendiri berdasarkan hukum Kristen. Peribadatan tidak dihalangi. Lebih dari itu, mereka diijinkan mendirikan gereja baru, biara-biara disamping asrama rahib dan lainnya. Mereka juga tidak dihalangi bekerja sebagai pegawai pemerintahan atau menjadi karyawan pada instansi militer.
Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu, sejumlah orang tidak puas membangkitkan revolusi. Yang penting di antaranya adalah, pemberontakan yang dipimpin oleh Hafsun dan anaknya yang berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi.
3. Periode Ketiga (912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd Al-Rahman III yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “raja=raja kelompok” yang dikenal dengan sebutan Muluk- al-Thawaif. Pada periode ini, Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah, penggunaan gelar khalifah tersebut bermula dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Al-Muktadir, Khalifah daulat Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya sendiri. Menurut penilaiannya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa saat ini merupakan saat yang paling tepat untuk memakai gelar khalifah yang telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena itulah, gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang. Yaitu Abd Al-Rahman Al-Nasir (912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd Al-Rahman Al-Nasir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaanya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan. Pada masa ini, masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran. Pembangunan kota berlangsung cepat.
Awal dari kehancuran khilafah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia sebelas tahun. Oleh karena itu, kekuasaan aktual berada ditangan para pejabat. Pada tahun 981 M, Khalifah menunjuk Ibn Abi’ Amir sebagai pemegang kekuasaan secara mutlak. Di seorang yang ambisius yang berhasil menancapkan kekuasaannya dan melebarkan wilayah kekuasaan Islam dengan menyingkirkan rekan-rekan dan saingan-saingannya. Atas keberhasilan-keberhasilannya, ia mendapat gelar Al-Manshur Billah. Ia wafat pada tahun 1002 M dan digantikan oleh anaknya Al-Muzaffar, yang masih dapat mempertahankan keunggulan kerajaan. Akan tetapi, setelah wafat pada tahun 1008 M, ia digantikan oleh adiknya yang tidak memiliki kualitas untuk jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja, negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Beberapa orang yang dicoba untuk menduduki jabatan itu tidak ada yang sanggup memperbaiki keadaan. Akhirnya, pada tahun1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan khalifah. Ketika itu, Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
4. Periode Keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Yang terbesar di antaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya, orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun, kehidupan politik tidak stabil, namun, kehidupan intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu istana ke istana lain.
5. Periode Kelima (1086-1248 M)
Pada periode ini, Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahiddun (1146-1235 M). Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Ia masuk ke Spanyol atas “undangan” penguasa-penguasa Islam di sana yang telah memikul beban berat perjuangan mempertahankan negeri-negerinya dari serangan-serangan orang-orang Kristen. Ia dan tentaranya memsuki Spanyol pada tahun 1086 M dan berhasil mengalahkan Castilia. Karena perpecahan di kalangan raja-raja Muslim Yusuf melangkah lebih jauh untuk menguasai Spanyol dan ia berhasil untuk itu. Akan tetapi, penguasa-penguasa sesudah ibn Tasyfin adalah raja-raja yang lemah. Pada tahun 1143 M, kekuasaan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun di Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahiddun. Pada masa dinasti Murabithun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun 1118 M. Di Spanyol sendiri, sepeninggal dinasti ini, pada mulanya muncul kembali dinasti-dinasti kecil, tapi hanya berlangsung tiga tahun. Pada tahun 1146 M penguasa dinasti Muwahiddun yang berpusat di Afrika Utara merebut daerah ini. Muwahiddun didirikan oleh Muhammad ibn Tumart (w. 1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd AL-Mun’im. Antara tahun 1114 dan 1154 M, kota-kota Muslim penting, Cordova, Almeria, dan Granada, jatuh ke bawah kekuasaanya. Untuk jangka beberapa dekade, dinasti banyak mengalami kemajuan. Kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi, tidak lama setelah itu, Muwahiddun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahiddun menyebabkan penguasanya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara pada tahun 1235 M. Keadaan Spanyol kembali runyam, berada dibawah penguasa-penguasa kecil. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang makin besar. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke tangan pasukan Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.
6. Periode Keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bwah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir, karena perselisihan orang-orang istana yang memperebutkan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang kepada ayahnya, karena menunjuk anaknya yang lainsebagai penggantinya menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaan. Dalam pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta.
Tentu saja, Ferdinand dan Isabella yang mempersatukan dua kerajaan besar Kristen melalui perkawinan itu tidak cukup merasa puas. Keduannya ingin merebut kekuasaan Islam terakhir di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan pada Ferdenand dab Isabella, kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol tahun 1492 M, umat Islam setelah itu di hadapkan kepada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.
Referensi :
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islamiyah. Hlm.87-100. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Tgl. 23 Februari 2012.
http://www.Blogspot.com/thecommander/ di publish dari Dian Kurnia, Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN SGD Bandung
http://www.gudangmateri.com/2011/02/sejarah-dan-perkembangan-peradaban.html
C. KEMAJUAN PERADABAN ISLAM DI SPANYOL
Pada saat Islam mencapai puncak kemajuannya, peradaban Islam di Spanyol merupakan salah satu pusat peradaban Islam, disamping pusat peradaban Islam lainnya yaitu di Bagdad dan di Mesir29[29]. Kemajuan peradaban Islam di Spanyol tidak hanya memiliki arti penting bagi perkembangan ilmu dan teknologi dalam lingkup peradaban dunia Islam, namun juga tercatat mempunyai arti penting dalam perkembangan peradaban manusia pada umumnya. Perkembangan dan kemajuan peradaban yang melahirkan kemajuan ilmu dan teknologi pada masa kejayaan Islam di Spanyol, terutama malalui sumbangan berpikir rasional, telah mampu membangkitkan dan mengangkat Eropa dari keterbelakangannya, yang semula dibelenggu oleh cara berfikir dogmatis dan statis yang berlaku di lingkungan gereja. Kebebasan berfikir dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dan cendekiawan muslim pada masa kemajuan peradaban Islam di Spanyol, merupakan sumbangan besar bagi kemajuan dan perkembangan Eropa khususnya dan kemajuan dunia Barat pada umumnya.
Pada saat Islam sudah mengalami perkembangan dan kemajuan dalam dunia ilmu pengetahuan, bangsa-bangsa di Eropa masih terbelakang, masih berada pada zaman kegelapan30[30]. Mereka yang dipandang terpelajar (intelektual) adalah orang-orang gereja. Sumber kebenaran ilmu adalah gereja (Paus) yang dogmatis. Setiap informasi yang bertentangan dengan dogma gereja, harus ditolak.
Setelah banyak orang Eropa belajar ke Andalusia (Spanyol), mereka menyerap pemikiran rasional antara lain melalui filsafat Ibn Rusyd (Averroes). Sejak saat itulah muncul bibit-bibit kebangkitan pemikiran rasional di bumi Eropa, sampai berkembangnya dunia sains. Namun pada saat kebenaran ilmu pengetahuan mulai diyakini, ternyata mendapat tantangan dari pihak gereja31[31]. Pertentangan dogma dengan ilmu pengetahuan ini, kelak menjadi bibit penyebab munculnya faham sekuler, karena dogma gereja tidak mau mengakui kebenaran ilmu pengetahuan.
Kemajuan Perkembangan Peradaban Islam:
a. Kemajuan Peradaban
Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual. Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia, kepada kemajuan yang lebih kompleks.
b. Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
Islam di Spanyol telah melahirkan berbagai kemajuan peradaban, berbarengan dengan kemajuan peradaban yang dicapai oleh Islam di belahan timur, yaitu di Bagdad dan di Mesir. Perkembangan dan kemajuan peradaban Islam di Spanyol, telah nampak sejak Abdurrahman al Dakhil menguasai Spanyol, dan berkembang pesat terutama setelah Abdurrahman III memegang tampuk pemerintahan. Kemajuan pera-daban itu, tercatat antara lain:
1. Pembangunan Fisik
Kemajuan pesat pada bidang intelektual tidak melalaikan para penguasa spanyol islam untuk memerhatikan pembangunan fisik. Dalam pembangunan fisik umat islam spanyol telah membuat bangunan-bangunan fasilitas seperti perpustakaan yang jumlahnyasangat banyak, gedung pertanian, jembatan-jembatan air, irigasi, roda air, dan lain-lain di samping itu tempat ibadah seperti masjid besar dan megah semuanya di persatukan dalam tat ataman kota yang teratur
(ABd Rochim, 1983: 113) .Kegiatan pembangunan fisik dalam upaya memajukan kesejahteraan rakyat antara lain:

a. pembangunan istana di beberapa kota seperti istana Al Hamra yang indah di Granada, Al Gazar di Seville, dan beberapa istana di kota-kota lain.
b. Pembangunan kota-kota.Kota Madrid berasal dari kata Majrith, yang berasal dari kata Majri (tempat air/sungai mengalir). Ada dua belas kota besar yang didirikan dan diberi nama dengan menurut istilah bahasa Arab, dan terpakai sampai sekarang32[32].
c. Pembangunan masjid yang megah di beberapa kota, di Cordova terdapat 491 masjid.
d. Pembangunan jalan, taman-taman dan tempat pemandian umum. Di Cordova ada 900 buah tempat pemandian.
e. Pembangunan irigasi, dam dan kanal untuk pertanian.
f. Pembangunan sarana air bersih dan penampungan air (konservasi) untuk umum.
g. Pembangunan gedung-gedung pemerintahan dan pendidikan.
h. Pembangunan rumah sakit dan panti asuhan
2. Bidang Ilmu Pengetahuan
Perhatian dan pembangunan di bidang ilmu pengetahuan yang dilakukan di Spanyol dapat mengimbangi kemajuan dan perkembangan yang juga dilakukan di belahan dunia Islam bagian Timur. Perkembangan ilmu pengetahuan itu nampak dari munculnya pusat- pusat kajian keilmuan dan munculnya beberapa tokoh dalam berbagai bidang ilmu seperti:
a) Pembangunan perguruantinggi dan berbagai pusat penelitian ilmu pengetahuan.
b) Pembangunan perpustakaan. Abdurrahman III membangun perpustakaan besar di Granada dengan dilengkapi 600.000 jilid buku. Sedang khalifah Hakam II membangun perpustakaan di Cordova hingga menjadi perpustakaan besar dan menjadi rujukan perpustakaan di Eropa.
c) Kegiatan menyalin naskah ilmiah dari bahasa Grik dan Latin.
Beberapa nama tokoh dalam berbagai ilmu pengetahuan yang muncul dari Spanyol antara lain:
(1) Ibn Rusyd (Lahir di Cordova, 1126 M).
Ibn Rusyd di Eropa terkenal dengan Averroes33[33] Dia pengikut Aristoteles yang sangat berjasa dalam membuat ringkasan dan tafsiran filsafat Yunani terutama Aristoteles. Buah pemikiran dan cara berfikir rasional Ibn Rusyd sangat besar pengaruhnya kepada perkembangan pemikiran yang membawa kebangkitan dan kemajuan Eropa.
Dengan hati-hati ia mengkaji Keserasian filsafat dan agama. Karya besar Ibn Rusyd antara lain Tahafut al Tahafut, yang berisikan tanggapan balik terhadap serangan al Ghazali terhadap filsafat dalam Tahafut al Falasifah. Dalam karyanya itu ia bertindak sebagai pembela filsafat.
Ibn Rusyd di samping seorang filosof ia juga seorang dokter, karyanya dalam ilmu kedokteran adalah Kitab al Kulliyat al Thibb. Di samping itu iapun seorang ulama ahli fiqh, karyanya yang terkenal di bidang fiqh adalah Bidayat al Mujtahid wa Nihayat al Muqtashid.
(2) Ibn Bajah (Lahir di Saragosa, 1085 M)
Ibn Bajah di Eropa terkenal dengan nama Avempace. Ia seorang filosof dengan karyanya yang terkenal risalah Tadbir al Mutawahhid.
(3) Ibn Thufail (Lahir di Qadis, Granada, 1110 M)
Ibn Thufail di Eropa terkenal dengan nama Aventofail. Ia seorang filosof, di samping itu ia banyak menulis tentang kedokteran dan astronomi. Pandangan filsafatnya tercermin dalam karyanya yang terkenal yaitu Hay ibn Yaqdzan.
(4) Jabar ibn Aflah (lahir di Seville, 1140 M).
Ia menulis kitab al Hay’ah, yang memuat angka-angka tentang goneometri yang masih digunakan oleh dunia ilmu pengetahuan sampai sekarang.
Selanjutnya nama-nama tokoh ilmuwan lain yang pantas dicatat yang muncul dari bumi Islam di Spanyol, antara lain:
a. Abbas ibn Farnas.
Ia terkenal dalam ilmu kimia dan astronomi, ia juga yang menemukan pembuatan kaca dari batu.
b. Ibrahim ibn Yahya al Naqqash.
Ia seorang yang ahli dalam ilmu astronomi. Ia dapat membuat tropong modern yang dapat menentukan jarak antara matahari dan bintang-bintang. Ia juga dapat menentukan kapan dan berapa lama terjadinya gerhana matahari.
c. Abdurrahman Ibn Khaldun.
Ia seorang sejarawan dan sosiolog dengan karyanya yang terkenal yaitu Muqaddimah.
d. Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad al Gharfiqi.
Ia seorang ahli di bidang farmasi. Bukunya yang terkenal dalam bidang ini adalah Al Adawiyah al Mufradah.
e. Ibn abd. Aziz al Bakri.
Ia seorang ahli di bidang geografi karyanya yang terkenal adalah kitab al Masalik wa al Mamalik. nama lain di bidang ini tercatat Muhammad al Mazinni.
f. Ibn Hazm
Seorang ahli fikh dan teolog yang terkenal dengan kitabnya al Muhalla dan Kitab Fishal. Ahli fikir lainnya seperti Abu Bakr ibn al Quthiyah, Mundzir ibn Said al Baluthi, dan Yahya ibn Yahya
g. Ibn al ‘Arabi
Yang terkenal dengan konsep tasawufnya Wahdah al Wujud, dengan karyanya Hikmah al Israq dan Futuhat al Makkiyah.34[34]
3. Bidang Ekonomi
Sejalan dengan perkembangan dunia Islam baik di belahan barat dan belahan timur dan perkembangan di luar dunia Islam, maka kegiatan ekonomi pun mendapat perhatian dan mengalami kemajuan pesat. Hal ini nampak antara lain dalam kegiatan ekonomi sbb.:
a) Meningkatkan kegiatan perdagangan dengan dunia luar.
b) Cordova, Seville, Granada, Almeria dan kota-kota lainnya menjadi penghasil permadani, wol, katun, sutera, kertas, dan kulit.
c) Pada masa pemerintahan Amir Muhamad I (852-886), Spanyol telah dapat menghasilkan belerang, air raksa, tembaga, dan besi.
d) Pembangunan kilang minyak zaitun.
e) Di bidang pertanian, Spanyol telah mengembangkan sistem irigasi, dan telah mampu menghasilkan berbagai hasilpertanian dan perkebunan seperti kapas, tebu, padi , jeruk dan buah- buahan lainnya. Malaga, Cartagena, dan kota-kota lainnya menjadi penghasil buah-buahan yang cukup besar.
Kegiatan pertanian yang telah dilakukan oleh Islam di Spanyol, telah menimbulkan bekas dalam berbagai istilah di dunia Barat. Seperti istilah arable (yang dapat dibajak), arbareal (pohon- pohonan), arbaretum (hutan bikinan), arbariculture (penanaman kayu), semuanya itu berasal dari suku kata arab yang telah mengalami perubahan ke dalam bahasa Barat.Puncak kemakmuran terutama pada masa pemerintahan Abdurrahman III. Penerimaan tahunan negara sebanyak 6.245.000 (enam juta dua ratus empat puluh lima ribu) keping emas. Dari jumlah tersebut sepertiga dipergunakan untuk anggaran rutin, sepertiga untuk anggaran pembangunan dan sepertiga untuk dana cadangan.
4. Bidang bahasa, seni dan sastra.
Bahasa sastra dan ketinggian sastra dan tata bahasanya telah mendorong lahirnya minat yang besar masyarakat spanyol. Hal ini dibuktikan dengan djadikannya bahasa ini menjadi resmi, bahasa pengantar, bahasa ilmu pengetahuan, dan administrasi. Kemajuan peradaban di spanyol islam pada saat ini berimbas pada bangkitnya reinasans dunia barat pada abad pertengahan sehingga dapat dikatakan bahwa arab spanyol adalah guru bagi eropa dan universitas cordova, Toledo, sedangkan sevile berfungsi sebagai sumber asli kebudayaan arab, non-arab, muslim, Kristen, yahudi dan agama lainnya sehingga bermunculan para ahli bidang seni dan sastra seperti:
a) Penggunaan bahasa Arab digalakkan.Bahasa Arab mengalahkan bahasa latin, yang juga digunakan di gereja-gereja. Sampai dengan abad ke-13 orang-orang Kristen dan Yahudi di Spanyol menulis buku-buku ilmiah dengan bahasa Arab.
b) Muncul beberapa ahli bahasa Arab seperti Abu al Hasan ibn Usfur, Abu Hayyan al Garnathi dan Ibn Malik, pengarang kitab Alfiyah.
c) Munculnya berbagai karya sastra seperti Al ‘Iqad al Farid, buah karya Ibn Abi Rabith. Kitab al Qalaid, buah karya Al Fath ibn Khaqam.
d) Pada masa Emir Muhammad I, seni puisi berkembang dan ia sangat menggemarinya, bahkan ia sendiri banyak menghasilkan karya seni ini.
e) Pada masa Abdurrahman II telah berkembang seni tari dan nyanyi. Waktu itu ada seorang penyanyi terkenal Ibrahim al Mosuli yang diberi gelar Amirul Ghina. Dia melahirkan penyanyi keliling dari istana ke istana dengan sebutan Troubadour yang cepat terkenal dan menyebar ke daerah-daerah lain, seperti ke Perancis.
f) Khalif Hakam II amat menyenangi kesusasteraan dan kesenian. Pada masa pemerintahannya kumpulan sajak dan lagu dalam kitab al Aglani yang terdiri dari 20 jilid tebal yang disusun oleh pujangga Abu al Farj al Asfihanidi Bagdad telah disiarkan terlebih dahulu di Spanyol dari pada di daerah lainnya.
g) Sejalan dengan perkembangan kegiatan pembangunan fisik, maka pada saat itu berkembang pula seni arsitektur bangunan yang indah.
5. Bidang Militer.
Pembangunan dan perkembangan militer pada masa kejayaan Islam di Spanyol, nampak pesat seperti juga perkembangan di wilayah Islam lainnya. Hal ini berkaitan dengan upaya pertahanan negara menghadapi dunia luar. Pembangunan dan perkembangan itu antara lain:
a) Pembangunan pangkalan armada dan pabrik senjata di Cartagena dan Cadiz.
b) Membangun benteng-benteng pertahanan di beberapa kota.
c) Pembentukan birokrasi kepolisian sampai ke distrik yang jauh terpencil.
d) Membangun angkatan bersenjata yang kuat, terutama pembangunan armada angkatan laut yang mampu berhadapan dengan daulat Fathimiyah dan merupakan yang terbesar di seluruh dunia waktu itu (masa pemerintahan Abdurrahman III).
Referensi :
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islamiyah. Hlm.87-100. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Tgl. 23 Februari 2012.
Thohir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Hlm.57-83. Jakarta: Rajawali Pers. Eds.1

D. KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN ANDALUSIA
Suatu kebudayaan tentu akan mengalami pasang surut sebagaimana berputarnya sebuah roda, kadang di atas kadang di bawah. Hal ini tentu telah menjadi hukum alam. Demikian juga denga kekuasaan sebuah imperium, satu saat dia muncul, berkembang pesat, lalu jatuh dan hilang.
Kekuasaan islam di spanyol telah banyak memberikan sumbangan yang tak ternilai harganya bagi peradaban dunia saat ini. Tetapi imperium yang begitu besar akhirnya mengalami nasib yang sangat memilukan. Ada beberapa faktor penyebab kemunduran yang akhirnya membawa kehancuran Islam di Spanyol.
1. Munculnya Khalifah-khalifah yang lemah
Masa kejayaan Islam di Spanyol dimulai dari periode Abd. Rahman III yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, yaitu Hakam. Sang penguasa yang cinta ilmu pengetahuan dan kolektor buku serta pendiri perpustakaan (K. Ali, 1981: 311). Pada masa kedua penguasa tersebut, keadaan politik dan ekonomi mengalami puncak kejayaan dan kestabilan.
Keadaan negara yang stabil dan penuh kemajuan ini tidak dapat bertahan lagi setelah Hakam II wafat dan digantikan Hisyam II yang baru berusia 11 tahun (K. Ali, 1981: 311). Dalam usia yang sangat muda ini, ia diharuskan memikul tanggung jawab yang amat besar. Karena tidak mampu mengendalikan roda pemerintahan, jalannya pemerintahan dikendalikan oleh ibunya dengan dibantu oleh Muhammad Ibn Abi Umar yang bergelar Hajib Al-Mansur yang ambisius dan haus kekuasaan. Sejak saat itu, khalifah hanya dijadikan sebagai boneka oleh Al-Mansur dan para penggantinya. Ketika Al-Mansur wafat, ia diganti oleh anaknya, yaitu Abd. Malik Al-Muzaffar adalah Abd. Rahman, penguasa yang tidak punya kecakapan, gemar berfoya-foya, ia tidak disenangi rakyatnya, sehingga negara menjadi tidak stabil dan lambat laun mengalami kemunduran.
2. Konflik antara Islam dan Kristen
Setelah menaklukkan Spanyol, para penguasa muslim tidak menjalankan kebijakan Islamisasi secara sempurna. Penduduk Spanyol dibiarkan memeluk agamanya, mempertahankan hukum dan tradisi mereka. Penguasa islam hanya mewajibkan mereka membayar upeti, dan tidak memberontak. Kebijakan ini ternyata menjadi bumerang. Penduduk spanyol menggalang kekuatan untuk melawan penguasa Islam. Pertentangan Islam dan Kristen tak pernah berhenti sampai jatuhnya kekuasaan Islam. Orang-orang kristen selalu merasa bahwa kehadiran umat Islam merupakan ancaman bagi mereka. Setelah kekuasaan Islam melemah, satu persatu kota yang dikuasai Islam jatuh ke tangan orang Kristen.
3. Munculnya Muluk Ath-Thawaif
Munculnya Muluk Ath-Thawaif (dinasti-dinasti kecil), secarapolitis telah menjadi indikasi akan kemunduran Islam di Spanyol, karena dengan terpecahnya kekuasaan khalifah menjadi dinasti-dinasti kecil, kekuatan pun terpecah-pecah dan lemah. Keadaan ini membuka peluang bagi penguasa provinsi pusat untuk mempertahankan eksistensinya. Masing-masing dinasti menggerakkan segala daya upaya termasuk meminta bantuan orang-orang Kristen (Ahmad Syalabi, jilid IV, 1974: 64).
Melemahnya kekuasaan Islam secara politis telah dibaca oleh orang-orang Kristen dan tak disia-siakan oleh pihak musuh untuk menyerang imperium tersebut. Pada tahun 1080 M., Al-Fonso dengan tiga kerajaan Kristen (Galicia, Leon, Castile) berhasil menguasai Toledo dan Bani Dzu An-Nur (Philip K. Hitti, 1974: 555). Demikian juga, kerajaan Kristen Arogan berhasil merebut Huesea (1096 M.), Saragosa (1118 M.), Tyortosa (1148 M.), dan Kenida (1149 M.) (Ira M, Lapidus, 1993: 384).
Pada tahun 1212 M. Penaklukkan Las Navas De Tolosa oleh koalisi raja-raja Kristen mengakibatkan Dinasti Al-Muwahiddin yang selama beberapa waktu telah memulihkan keamanan negara, stabilitas politik, dan lain-lain harus menarik diri dari Spanyol. Sebagian besar kota penting yang dikuasai Islam satu per satu jatuh ke pihak Kristen. Cordova jatuh taahun 1236 M. Dan Seville pada tahun 1248 M. (Bosworth, Trans, 1993: 53).
Pada pertengahan abad ke-13, satu-satunya kota penting yang masih dikuasai Islam adalah Granada di bwah pemerintahan Gani Ahwar. Awalnya, orang-orang Kristen membiarkan Dinasti Ahwar d Granada tetap eksis dengan persetujuan bahwa orang muslim harus membayar pajak pada penguasa Kristen. Akan tetapi, setelah terjadi perselisihan antara mereka dan telah bersatunya orang-orang Kristen, proyek kekuasaan Dinasti Ahmar menjadi gelap. Dipihak lain terjadi konflik internal di tubuh Ahmar, yakni perebutan kekuasaan yang berakhir perang saudara dan dinasti menjadi terpecah. Sejak saat itu, kekuatan islam semakin melemah dan semakin mempercepat tamatnya riwayat umat Islam Spanyol. Pada tahun 1492, satu-satunya wilayah Islam di Spanyol akhirnya jatuh ke tangan orang Kristen (Ira, M. Lapidus, 1993: 384).
Setelah penaklukan Granada, orang-orang Islam mengalami yang sangat menyedihkan. Pada tahun 1556, penguasa Kristen melarang pakaian Arab dan Islam di seluruh wilayah Spanyol, bahaakan pada tahun 1566, bahasa Arab tidak boleh digunakan di wilayah ini (Ira M. Lapidus, 1993: 389).
4. Kemerosotan Ekonomi
Di paruh kedua masa Islam Spanyol, para penguasa mementingkan pembangunan fisik dengan menddirikan bangunan-bangunan megah dan monumental. Demikian juga, bidang IPTEK. Pemerintah dengan giat mengembangkan bidang ini, sehingga bidang perekonomian kurang mendapat perhatian. Selain itu, banyak anggaran negara yang terserap untuk membiayai tentara bayaran demi keamanan negara.
5. Sistem Peralihan Kekuasaan yang tidak jelas
Salah satu penyebab kemunduran dan kehancuran suatu dinasti adalah perebutan kekuasaan antara elit penguasa maupun antaraputra mahkota. Terjadinya perebutan kekuasaan ini menyebabkan perang antar elit atau keluarga yang pada akhirnya dapat menggerogoti kekuatan dan stabilitas keluarga.
Referensi :
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Hlm.123-126. Tgl. Pustaka media. 24 Februari 2012.

BAB III
KESIMPULAN
• Proses Kehidupan Sosial-Politik di Spanyol
Setelah menjadi bagian dari wilayah Islam, spanyol diperintah oleh wali gubernur yang diangkat langsung oleh pemerintah pusat Bani Umayyah I di Damaskus. Pada periode awal, secara umum pertumbuhan penduduk di wilayah ini rupanya masih diwarnai oleh berbagai gangguan dari luar (raja-raja kristen) serta konflik internal. Konflik ini tampaknya berhubungan erat dengan efek dari kebijakan awal pemerintah bani Umayyah I di Damaskus dalam mengatur kependudukan baru umat Islam dalam menempati wilayah bari di Spanyol.
Secara umum tampak persaingan antara koloni-koloni asal Afrika Utara dan koloni negeri-negeri Timur, dan pihak Damaskus secara tersembunyi sepertinya lebih mengutamakan koloni asal Arab. Secara umum, Dinasti Amawiyah II Spanyol terbagi kedalam lima tahap perkembangan:
1) Masa migrasi penduduk dan konsolidasi politik (711 – 755 M);
2) Masa pertumbuhan dan pembinaan sekitar tahun (756 – 852 M);
3) Masa krisis dan masa pemberontakan (852 – 912 M);
4) Masa kegemilangan (912 – 976 M);
5) Masa kelemahan dan kejatuhan (976 – 1031 M).

• Masa Konsolidasi Politik Dinasti Amawiyah II
Antara tahun 711 – 755 M, berbagai macam gangguan sisa musuh-musuh Islam, raja-raja Kristen dari daerah pedalaman Spanyol masih merupakan gejala umum yang mudah ditemui. Raja-raja Kristen yang sudah ditaklukkan dan terusir ke wilayah utara acap kali dan setiap saat memberikan berbagai macam anacaman politik. Periode konsolidasi penduduk oleh para amir ini kelak berakhir dengan datangnya Abdurahman Al-Dakhili ke Spanyol pada tahun 755 M.
Pada tanggal 15 Mei 756 M, Abdurahman Al-Dakhil akhirnya memproklamasikan berdirinya Imarah Umayyah II di Andalusia. Sebelumnya, ternyata ada juga beberapa gubernur di Andalusia khususnya saat dipegang oleh Yusuf bin Abdurahman Al-Fihry dan suku Mudari, telah melakukan aviliasi di bawah kekuasaan Bani Abbas di Bagdad, walaupun pada akhirnya ia melakukan bai’at terhadap Al-Dakhil.
Sistem pergantian kepemimpinan di Spanyol tidaklah jauh berbeda dengan sistem yang berlaku pada Amawiyah I di Damaskus, yakni dengan jalan para amir yang sedang berkuasa sudah menunjuk dan menentukan untuk penggantinya.
Tradisi seperti ini, tampaknya sudah bukan ciptaan tradisi Arab lagi tapi mungkin berasal dari Romawi yang bisaa disebut monarki absolut.

• Lembaga-lembaga Pemerintahan
Pemerintahan pusat di Andalusia dalam menjalankan roda pemerintahannya dibantu oleh beberapa lembaga pemerintahan dan secara subtantif lembaga tersebut tidak jauh berbeda dengan lembaga yang pernah ada di pemerintahan sebelumnya, ketika masih di bawah kekuasaan Amawiyah I di Damaskus. Tetapi sejak Al-Dakhil berkuasa ia melakukan perubahan fungsi dan status kelembagaan yang ada, sesuai dengan kebutuhan penataan wilayah dan masyarakatnya, yang utama karena untuk diselaraskan dengan kepentingan penataan politiknya.
Pada masa nya, ada pembagian bidang untuk fungsi dari para wazir, yakni:
1) Wazir mengurusi kehartabendaan Negara;
2) Mengurusi Negara/surat menyurat;
3) Mengurusi pengaduan tindakan madzalim/hukum;
4) Mengurusi pelabuhan, sekarang syahbandar pelabuhan dan perhubungan laut.
Untuk menjalankan pemerintahan daerah, amir pusat menunjuk seorang gubernur untuk mengurusi daerah tersebut. Para wali wilayah ini juga dibantu oleh lembaga ketertiban dan keamanan masyarakat yang disebut:
1) Shahib Al-Shurthah, badan untuk menangani keamanan dan ketertiban sosial;
2) Shahib Al-Madzalim, badan yang bertugas menampung pengaduan;
3) Shahib Al-Muhtasib, badan yang bertugas dalam bidang pengawasan kesusilaan, perjudian, perdagangan, dan takaran.

• Perubahan Pemerintahan Imarah ke Khilafah
Sejak masa Al-Dakhil 756 M, istilah “ke-Amiran” sebagai sistem pemerintahan masih digunakan. Kemudian, istilah ini diubah menjadi “kekhalifahan” pada masa Abdurahman Al-Nashir lidinillah pada hari Jum’at, 16 januari 929 M. perubahan ini dalam wacana pemerintahan, memiliki arti yang sangat luas dan fundamental baik dalam kapasitas politis maupun filosofis.
Sejalan dengan perubahan status politik dari Imaroh ke Khalifah secara teknis dan formal seluruh kelembagaan yang selama ini sudah ada, tidaklah mengalami perubahan yang signifikan. Akan tetapi, peran dan fungsi serta statusnya tampaknya telah mendapat prioritas utama. Karena seluruh sistem kelembagaan tersebut sangat terkait dengan peran status ke-khalifahannya.
Secara umum, baik pada masa Imarah maupun kekhalifahan Amawiyah II di Andalus, menjadi seorang qodhi tetap dianggap sebagai jabatan yang cukup tinggi. Kewenangan sangat independen, tidak terikat dengan kepentingan para khalifahnya. Secara moral para khalifah tidak berani mengatur keputusan hukum, kecuali kepada para hijabat dan wijarat-nya, di mana seluruh kewenangannya selama ini berada langsung di bawah kendali khalifah.
Tugas kelembagaan Negara pada masa kekhalifahan di Andalusia adalah sebagai berikut:
1) Qodhi al-Jama’ah bertugas untuk mengurusi hukum di pemerintahan pusat.
2) Shahib al-Syurthah bertugas untuk mengurusi masalah criminal serta maslah sosial lainnya.
3) Muhtasib bertugas untuk melayani berbagai kepentingan umum, terutama yang berkaitan erat denan hal yang menyangkut amar ma’ruf nahi munkar.
4) Hijabat dan Wizarat bertugas menangani permasalahan yang menyangkut masyarakat sipil saja.
5) Militer bertugas untuk menjaga kedaulatan dan kesejaheraan akan keamanan seluruh penghuni daerah yang sedang dikuasai. Strutur militer pada masa itu adalah: lima ribu
tentara yang dipimpin oleh seorang amir. Dari masing-masing lima ribu tentara itu, dibagi kedalam seribu pasukan (kutaibah). Setiap seribu personil dibagi lima, masing-masing dua ratus personil yang bergelar al-qism. Tiap dua ratus personil dibagi lima kelompok lagi dengan jumlah masing-masing empat puluh orang. Dari empat puluh orang itu dipimpin oleh seorang ‘arif, dibagi lagi kedalam lima kelompok dengan masing-masing delapan orang personil.

• Masa Kemunduran Amawiyah II
Penyebab kemunduran Dinasti Amawiyah II adalah sebagai berikut:
1) Adanya keretakan antara kelas atas dan bawah di mana tidak adanya komunikasi politik
yang intensif.
2) Karena secara alamiah wilayah Spanyol bergunung-gunung dan secara demografis sudah
terbentuk berbagai komunitas politik kesukuan.

• Otonomi Raja-raja Kecil di Spanyol
Sebagian besar dari para raja-raja kecil itu adalah dengan menjalankan agresivitasnya dengan cara-cara mengabaikan kesatuan umat Muslim, dan dengan mengorbankan tetangga-tetangga mereka sendiri. Abbadiyah misalnya, dalam rangka mengembangkan sayap kekuasaannya, tidak segan-segan mendukung kembali Hisyam Al-Muayyad II khalifah yang sudah digantikan untuk memimpin kembali.

• Struktur Kehidupan Sosial dan Warisan Peradaban Islam
Keragaman peradaban Islam di Spanyol sangat dipengaruhi oleh adanya struktur kehidupan social yang beragam pula, yakni terdiri dari etnik Barbar, Arab, Muwalladun (pribumi), Yahudi dan Kristen serta para hamba sahaya.
Barbar kebanyakan tinggal di daerah desa-desa dan bertugas sebagai buruh dan tani. Arab jumlahnya tidak sebanyak Barbar. Pengaruh etnik Arab bukan saja dalam bidang politik tapi juga lebih banyak dalam bidang intelektual dan kebudayan, seperti sastra. Sebagain besar pengaruh Arab daalm pemerintahan Amawiyah II dalam menciptakan peradaban Negara dan kemasyarakatan sangat terasa. Kelompok Muwalladun merupakan kaum Muslimin keturunan Spanyol yang jumlahnya jauh lebih banyak dari dua etnik sebelumnya (Barbar dan Arab).
Golongan Kristen Spanyol sering disebut sebagai Muzarrab, yang tinggal di bawah naungan pemerintahan Islam. Mereka umumnya tinggal di kota-kota atau di pinggir-pinggir kota. Sementara itu, golongan Yahudi tidaklah sebanyak Kristen, tetapi mereka memiliki tradisi agama yang sangat kuat. Mereka lebih banyak menyumbangkan bidang intelektualnya, teruama dalam hal filsafat.

DAFTAR PUSTAKA
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islamiyah. Hlm.87-100. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Tgl. 23 Februari 2012.
Thohir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Hlm.57-83. Jakarta: Rajawali Pers. Eds.1
Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Hlm.123-126. Tgl. Pustaka media. 24 Februari 2012.
http://www.Blogspot.com/thecommander/ di publish dari Dian Kurnia, Mahasiswa Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN SGD Bandung

http://www.gudangmateri.com/2011/02/sejarah-dan-perkembangan-peradaban.html

Kewirausahaan Pertanian itu seperti apa? Mei 23, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

BAB III. MEWUJUDKAN WIRAUSAHAWAN PERTANIAN
1. Kondisi SDM pertanian
Dalam upaya menciptakan pertanian yang maju, efisien dan tangguh, pembangunan sector pertanian masih harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pembangunan kelembagaan supaya lebih tangguh, terkait, terpadu dengan sector lain terutama industri dan jasa serta jaringan kegiatan agroindustri dan agrobisnis yang produktif.
2. Peluang wirausaha pertanian
Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut sangat diperlukan mengingat selama ini sector pertanian khusunya yang berkaitan dengan kondisi kewirausahaan pertanian masih belum optimal. Kondisi kewirausahaan pertanian saat ini masih dicirikan sebagaai berikut : (a) menumpuknya tenaga kerja di sector pertanian yang merupakan under employed (semi pengangguran) sehubungan dengan peralihan tenaga kerja ke luar sector pertanian yang relatif lambat; (b) teknologi sectorr pertanian masih didominasi oleh teknologi tradisional; (c) rendahnya kualitas sumber daya manusia dikaitkan dengan latar belakang pendidikan formal. Sebagaai contoh wirausahawan pertanian didominasi oleh tamatan sekolah dasar sekitar 85%, sisanya 10% tamat SLTP dan 5% tamat SLTA; (d) rendahnya curahan tenaga kerja pertanian, 51 % tenaga kerja pertanian yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu; dan (e) beragamnya struktur ketenagakerjaan sector pertanian berdasarkan kualitas (dari kawasan barat Indonesia sampai kawasan timur Indonesia, jenis pekerjaan (dari peramu, peladang berpindah sampai pada petani modern), dan curahan jam kerja (dari under employed hingga pekerja penuh)).
Realitas kualitas sumber daya manusia pertanian seperti dicirikan diatas, tidak lepas dari beberapa kendala yang masih dihadapi dalam pengembangan sumber daya manusia terkait dengan kewirausahaan pertanian. Kendala-kendala tersebut antara lain: (a) daya tarik bagi generasi muda untuk tetap berada atau memulai terjun di sector pertanian semakin melemah. Hal ini disebabkan oleh adanya citra pertanian yang subsistem usaha kecil, kondisi kerja yang kumuh, penuh ressiko, dan keuntungan yang kecil; (b) kemampuan pemilikan/penguasaan lahan pertanian yang semakin terbatas (gurem), dimana dengan rata-rata penguasaan lahan di bawah 0,5 ha, petani tidak akan bertahan hidup kalaau hanya mengandalkan pendapatan dari pertanian; (c) rendahnya penguasaan ilmu teknologi di bidang bisnis pertanian, sehingga menghambat pemanfaatan peluang pasar dan pencapaian efisiensi ekonomi; (d) lambatnya penciptaan kesempatan kerja di sector industri, karena sifatnya yang padat modal dan keterampilan; (e) invesstasi di sectorr pertanian berjalan relatif lambat dengan teknologi yang masih didominasi oleh teknologi rendah dan tradisional; (f) belum optimumnya perkembangan subsistem agroindustri atau pengolahan hasil pertanian.
Bertalian dengan kendala dan kondisi objektif di lapangan sebetulnya masih ada beberapa peluang bagi pengembangaan sector pertanian dan kewirausaan pertanian dimasa yang akan datang. Peluang-peluang tersebut antara lain: (a) penduduk Indonesia yang besar merupakan peluang pasar hasil pertanian dan sumber tenaga kerja yang dapat di manfaatkan untuk pembaangunaan pertanian; (b) masih adanya potensi ekonomi yang belum termanfaatkan, seperti pamanfaatan teknologi biologi, budidaya, lahan tidur, diverssifikasi produk, pengolahan, dan pemasaran; (c) masih besarnya sumber-sumber pertumbuhan baru terutama pada holtikultura, ppeternakan, perkebunan, dan perikanan. Sumber-sumber pertumbuhan baru tersebut tentunya membuka peluag bagi penciptaan, pengembangaan dan perluasan, kesempatan kerja produktif di sector pertanian.
Untuk memafaatkan peluang-peluaang bisnis pertanian, pembinaan sumber daya manusia pertaanian (wirausahawan pertanian) sudah barang tentu tidak hanya diarahkan pada kemampuan dalam berusaha tani tetapi juga dalam kemampuannya dalam bisnis pertanian. Dengan pendekatan ini kompetensi ketenagakerjaan sector pertanian harus memiliki kualifikasi petani sebagai wirausahawan pertanian. Kompetensi wirausahawan pertanian tersebut meliputi: (a) Mental produktif, berarti wirausahawan pertanian harus mempunyai kondisi mental produktif yaitu wawasan, pola pikir, sikap, semangat dan keuletan dalam melaksanakan usaha pertanian yang berpegang pada moral etika bisnis yang tepat; (b) Usaha, wirausaha berarti memiliki kekuatan dan keberanian untuk mengambil resiko karena terpanggil dan mampu menciptakan dan mengembangkan usaha dengan tindakan infestasi, menyusun organisasi, menata manajemen serta menjalin hubungan kemitraan; (c) Kreatif, berarti mempunyai dayaa kreasi untuuk selalu mengembangkan dinamika yang tanggap terhadap setiap tantangan, ancaman, dan hambatan, serta bernaluri tinggi dalam memanfaatkan ppeluang, menciptaakan hal baru untuk di teladani yang lain; (d) Inovatif, berarti wirausahawan pertanian harus mempunyai kemampuan melakukan pembaharuan IPTEK dan manajemen dalam rangka pengembangan usaha; (e) Bina/benah, wirausahawan pertanian harus mempunyai jiwa kepemimpinan dan mampu melakukan pembenahan dan menciptkan kondisi strategis dalam menggerakan usaha; (f) Arsitek, wirausahawan pertanian harus memiliki kemampuan dalam merekayasa dan merancang bangun sistem agrobisnis dan agroindustri; (g) Teknologi tepat guna, wirausahawan pertanian harus memiliki kemampuan memilih teknologi yang tepat sesuai kebutuhan sistem agrobisnis dan agroindustri dan ramaah ligkungan.
Merubah petani naluri menjadi petani yang memiliki managerial skill danjiwa entrepreneurship tidaklah mudah. Managerial skill dan jiwa entrepreneurship merupakan kunci sukses usaha pertanian. Pola pikir dan sikap yag hanya mengandalkan naluri atau norma warisan masa lalu dalam mengelola pertanian sudah tidak relevan lagi. Kualitas managerial dan kewirausahaan berkaitan erat dengan latar belaakang pendidikan dan pergaulan petani. Bagi petani gurem rata-rata pendidikannya sangat rendah. Tambahan pengetahuan dan keterampilan juga terbatas. Dengan demikian aksebilitas adopsi teknologi juga rendah. Lantas bagaimana mewujudkan wirausahawan pertanian?
Kewirausahaan pertanian dapat diwujudkan melalui pendidikan formal, sejak pendidikan dasar dan menengah sampaai pergurruan tinggi. Seyogianya nilai-nilai kewirausahaan pertanian sudah mulai diperkenaalkan sejak usia dini sampai remaja, dewasa sampai usia tua. Bila SMK bisa, mengapa Perguruan Tinggi tidak bisa, yang pasti SPMA sudah bisa, buktinya tidak sedikit wirausahawan pertanian berhasil karena “dicetak” di SPMA. Contohnya SPMA Tanjungsari yang sudah berdiri sejak tahun 1914. Sekolah pertanian ini sudah hampir satu abad “mencetak” wirausahawan pertanian. Kompetensi kurikulum entrepreneurship di sekolah dan di Perguruan Tinggi berikut kelengkapan laboratorium bisnisnya sudah selayaknya mendapat porsi yang memadai sesuai harapan masyarakat petani dan keprilakuan kewirausahawan pertanian guru dan dosen sudah sepatutnya menjadi suri tauladan bagi anak didiknya.
Jenis wirausaha pertanian
Upaya mewujudkan wirausahawan pertanian telah pula dilakukan oleh berbagai pihak baik LSM, kelompok profesi,kelompok hobi, kelompok minat, dan organisasi lainnya melalui pelatihan-pelatihan, walaupun jumlahnya masih relatif terbatas. Hal yang sama senantiasa dilakukan dengan seksama oleh para penyuluh pertanian lapangan (PPL) dalam upaya ambil bagian penciptaan 1 juta lapangan pekerjaan sebagaimana dicanangkan Gubernur Provinsi Jawa Barat.
Hal yang lebih menarik dan patut mendapat perhatian serius adalah sekitar 5 juta orang angkatan kerja pertanian dan 0,5 juta orang dari 2,2 juta orang pengangguran di Jawa Barat berusia 15-24 tahun. Pada usia tersebut sangat potensial untuk dilakukan pembekalan kewirausahawan pertanian baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Hal ini sesuai argumentasi standing (1978) bahwa apabila penganggur muda ini mempunyai pendidikan yang relatif baik, maka mereka akan mempunyai aspirasi dan harapan yang tinggi dan mereka pun tidak mudah menerima sembarang pekerjaan. Apabila kedua aspek ini tidak terpenuhi maka akan membuat mereka frustasi, yang disebut Frustration effect argument.
Berbagai bentuk atau jenis kegiatan kewirausahawan pertanian antara lain: agribisnis yang merupakan sistem yang saling berkaitan antara subsistem agroinput atau penyediaan sarana produksi pertanian dan alat mesin pertanian, proses produksi pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, pengolahan hasil pertanian, dan pemasaran hasil pertanian, kegiatan agroindustri adalah usaha pengolahan hasil-hasil pertanian dalam upaya meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan.

Di salin dari Dosen kewirausahaan pertanian Pak Kundang UIN SGD BDG

“Enkapsulasi” Pernahkah mendengar? Coba untuk di cek kembali! Mei 23, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

Enkapsulasi merupakan pembungkusan bibit tanaman oleh suatu bahan penyalut yang dapat mempertahankan sifat dari bibit tanaman tersebut selama waktu yang diinginkan, sehingga bibit dapat disimpan tetapi tidak rusak dan dapat tumbuh dengan baik. Teknik enkapsulasi ini dapat menjaga viabilitas bibit tanaman yang dibungkus karena ke dalam bahan penyalutnya dapat disertakan nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan bahan anti mikroba. Bahan yang biasanya digunakan pada teknik enkapsulasi adalah sodium alginat.
Dalam metode enkapsulasi untuk penyimpanan plasma nutfah tumbuhan ditambahkan zat penghambat tumbuh atau antigiberelin seperti paclobutrazol. Zat itu merupakan bahan kimia sintetik yang mempunyai pengaruh fisiologi antara lain menghambat perpanjangan sel pada meristem sub apikal, menghasilkan tanaman beruas pendek, menyebabkan tebalnya dinding sel dan menurunkan metabolisme jaringan serta menghambat pertumbuhan vegetatif. Daya kerja antigiberelin itu menghambat aktivitas enzim yang diperlukan dalam sintesis giberelin (Gaba, 2005), sehingga dapat memaksimalkan penyimpanan plasma nutfah tumbuhan.
Penyimpanan dengan teknik enkapsulasi dapat menekan pertumbuhan eksplan semaksimal mungkin tanpa ada resiko perubahan genetik (Lestari et al., 2000). Teknik enkapsulasi ini sudah banyak diterapkan pada beberapa tanaman, seperti embryo tanaman Elaeis guinennsis (Hor and Chok., 1997), tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth) oleh Lestari et al. (2000), embryo somatik tanaman Acca sellowiana (Guerra, Vesco, Ducroquet, Nodari, dan Reis, 2001), enkapsulasi protocorm like bodies (plbs) pada genus anggrek Dendrobium, Onchidium, dan Cattelya (Saiprasad, 2002) dan spesies anggrek Ipsea malabarica (Martin, 2002), dan tanaman Zea mays var. saccharata (Thobunluepop, Pawelzik, dan Vearasilp, 2005)
Teknik enkapsulasi ini juga diharapkan dapat menjadi metode alternatif untuk penyimpanan jangka menengah dan panjang terhadap spesies Phalaeonopsis amboinensis. Dengan demikian species tersebut dapat diselamatkan dari kepunahan dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber genetik yang diperlukan dalam pemuliaan tanaman anggrek.

Enkapsulasi
Enkapsulasi diartikan sebagai suatu teknik pembungkusan bibit in vitro baik dalam bentuk embrio somatik ataupun tunas pucuk dengan suatu bahan penyalut. Penyalutan tersebut dapat mempertahankan sifat dari bibit tanaman selama waktu yang diinginkan, sehingga dapat disimpan tanpa menyebabkan kerusakan pada bibitnya, dan bila diinginkan dapat tumbuh dengan baik. Dengan perlakuan ini bibit tanaman Phalaeonopsis amboinensis akan dilindungi secara fisik oleh kapsul atau penyalutnya. Selain itu, dalam pembuatan kapsulnya dapat ditambahkan bahan, seperti beberapa nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan bahan anti mikroba, sehingga viabilitas bibitnya dapat terjaga (Fathonah, 2000).
Metode enkapsulasi selain digunakan untuk kepentingan penyimpanan plasma nutfah dalam kegiatan konservasi, juga sudah banyak dikembangkan untuk memproduksi benih sintetik (Saiprasad dan Polisetty, 2003). Teknik enkapsulasi diharapkan menjadi salah satu penanganan bibit kultur jaringan agar dapat mempertahankan viabilitas bibit tetap tinggi selama aklimatisasi (Fathonah, 2000).
Keuntungan penyimpanan dengan enkapsulasi adalah bahwa eksplan berupa embrio somatik atau tunas pucuk dapat dihambat pertumbuhannya dan lebih efisien dalam transportasi karena dalam satu wadah dapat memuat banyak eksplan. Ke dalam bahan penyalut disamping dapat disertakan nutrisi, juga dapat ditambahkan senyawa penghambat pertumbuhan (Lestari et al., 2000). Bahan yang biasanya digunakan untuk enkapsulasi adalah sodium alginat. Menurut Lestari et al. (2000) alginat tersebut dapat bereaksi dengan kation-kation logam polivalen, khususnya ion-ion kalium untuk menghasilkan gel atau polimer-polimer yang tidak larut.
Perbanyakan dan enkapsulasi telah diaplikasikan pada plb tanaman anggrek Ipsea malabarica. Media yang digunakan adalah MS Y2 (Murashige dan Skoog dengan komposisi Y2 konsentrasi untuk hara makro dan mikronya) tanpa CaCl2 dengan 3 % (w/v) natrium alginat dan 3 % sukrosa. Media yang ditambahkan 2 mg/l kinetin maupun tidak menjadi media enkapsulasi terbaik yang dapat membuat plb anggrek Ipsea malabarica berkembang menjadi planlet dengan persentase keberhasilan 100 % (Martin, 2003).

Guna menjamin ketersediaan plasma nutfah suatu spesies diperlukan pengelolaan dan pemeliharaan plasma nutfah yang baik. Konservasi merupakan salah satu bentuk pengelolaan dan pemeliharaan plasma nutfah. Menurut Withers (1991) konservasi dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti in situ, ex situ dalam bank gen ataupun secara in vitro. Menurut Mandal, Tyagi, Pandey, Sharma, dan Agrawal (2000) konservasi dilakukan pada tanaman hasil pemuliaan sebelumnya, tanaman yang mempunyai nilai ekonomi penting, tumbuhan yang langka/ spesies dan tumbuhan yang hampir punah.
Llyod and Jackson (1986) melaporkan bahwa konservasi dengan metode penyimpanan secara in vitro dapat menanggulangi masalah pada penyimpanan tanaman yang menghasilkan benih rekalsitran atau tanaman yang diperbanyak secara vegetatif. Menurut Withers (1991) konservasi secara in vitro dapat menggunakan dua cara, yaitu dengan pertumbuhan lambat atau minimum untuk penyimpanan jangka pendek sampai menengah, serta dengan teknik kriopreservasi untuk penyimpanan jangka panjang. Lestari et al. (2000) menggunakan teknik enkapsulasi sebagai teknologi alternatif untuk penyimpanan dengan pertumbuhan lambat.
Penyimpanan plasma nutfah secara in vitro melalui penyimpanan dengan pertumbuhan minimal atau lambat sudah diaplikasikan pada beberapa tanaman, misalnya pada tanaman kentang, tanaman Zingiberaceae dan tanaman buah¬buahan di India dengan cara kriopreservasi (Mandal et al., 2000), tanaman Akasia (Acacia mangium willd) dan pucuk Sengon (Paraserianthes falcataria L) oleh Priadi, Sudarmonowati, Arifari, dan Farisy (2000). Penyimpanan secara in vitro dengan metode enkapsulasi juga sudah dilakukan seperti pada tanaman Nilam (Pogostemon cablin. Benth) oleh Lestari et al. (2000).

Apa itu Transgenik? Mari kita membacanya! Mei 23, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

1.1 Pengertian Transgenik
Transgenik adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan tertentu
Organisme transgenik adalah organisme yang mendapatkan pindahan gen dari organisme lain. Gen yang ditransfer dapat berasal dari jenis (spesies) lain seperti bakteri, virus, hewan, atau tanaman lain.
Secara ontologi tanaman transgenik adalah suatu produk rekayasa genetika melalui transformasi gen dari makhluk hidup lain ke dalam tanaman yang tujuannya untuk menghasilkan tanaman baru yang memiliki sifat unggul yang lebih baik dari tanaman sebelumnya.
Secara epistemologi, proses pembuatan tanaman transgenik sebelum dilepas ke masyarakat telah melalui hasil penelitian yang panjang, studi kelayakan dan uji lapangan dengan pengawasan yang ketat, termasuk melalui analisis dampak lingkungan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Secara aksiologi: berdasarkan pendapat kelompok masyarakat yang pro dan kontra tanaman transgenik memiliki manfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk, tetapi manfaat tersebut belum teruji, apakah lebih besar manfaatnya atau kerugiannya.
Bagaimana tanaman transgenik dibuat?
Gen yang telah diidentikfikasi diisolasi dan kemudian dimasukkan ke dalam sel tanaman. Melalui suatu sistem tertentu, sel tanaman yang membawa gen tersebut dapat dipisahkan dari sel tanaman yang tidak membawa gen. Tanaman pembawa gen ini kemudian ditumbuhkan secara normal. Tanaman inilah yang disebut sebagai tanaman transgenik karena ada gen asing yang telah dipindahkan dari makhluk hidup lain ke tanaman tersebut (Muladno, 2002).
Tanaman transgenik merupakan hasil rekayasa gen dengan cara disisipi satu atau sejumlah gen. Gen yang dimasukkan itu – disebut transgene – bisa diisolasi dari tanaman tidak sekerabat atau spesies yang lain sama sekali.
Transgenik per definisi adalah the use of gene manipulation to permanently modify the cell or germ cells of organism (BPPT,2000). Karena berisi transgene tadi, tanaman itu disebut genetically modified crops (GM crops). Atau, organisme yang mengalami rekayasa genetika (genetically modified organisms, GMOs).
Transgene umumnya diambil dari organisme yang memiliki sifat unggul tertentu. Misal, pada proses membuat jagung Bt tahan hama, pakar bioteknologi memanfaatkan gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis (Bt) penghasil racun yang mematikan bagi hama tertentu. Gen Bt ini disisipkan ke rangkaian gen tanaman jagung. Sehingga tanaman resipien (jagung) juga mewarisi sifat toksis bagi hama. Ulat atau hama penggerek jagung Bt akan mati (Intisari, 2003).
1.2. Proses Transgenik
Cara seleksi sel transforman akan diuraikan lebih rinci pada penjelasan tentang plasmid (lihat Bab XI). Pada dasarnya ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi setelah transformasi dilakukan, yaitu (1) sel inang tidak dimasuki DNA apa pun atau berarti transformasi gagal, (2) sel inang dimasuki vektor religasi atau berarti ligasi gagal, dan (3) sel inang dimasuki vektor rekombinan dengan/tanpa fragmen sisipan atau gen yang diinginkan. Untuk membedakan antara kemungkinan pertama dan kedua dilihat perubahan sifat yang terjadi pada sel inang. Jika sel inang memperlihatkan dua sifat marker vektor, maka dapat dipastikan bahwa kemungkinan kedualah yang terjadi. Selanjutnya, untuk membedakan antara kemungkinan kedua dan ketiga dilihat pula perubahan sifat yang terjadi pada sel inang. Jika sel inang hanya memperlihatkan salah satu sifat di antara kedua marker vektor, maka dapat dipastikan bahwa kemungkinan ketigalah yang terjadi.
Seleksi sel rekombinan yang membawa fragmen yang diinginkan dilakukan dengan mencari fragmen tersebut menggunakan fragmen pelacak (probe), yang pembuatannya dilakukan secara in vitro menggunakan teknik reaksi polimerisasi berantai atau polymerase chain reaction (PCR). Penjelasan lebih rinci tentang teknik PCR dapat dilihat pada Bab XII. Pelacakan fragmen yang diinginkan antara lain dapat dilakukan melalui cara yang dinamakan hibridisasi koloni (lihat Bab X). Koloni-koloni sel rekombinan ditransfer ke membran nilon, dilisis agar isi selnya keluar, dibersihkan protein dan remukan sel lainnya hingga tinggal tersisa DNAnya saja. Selanjutnya, dilakukan fiksasi DNA dan perendaman di dalam larutan pelacak. Posisi-posisi DNA yang terhibridisasi oleh fragmen pelacak dicocokkan dengan posisi koloni pada kultur awal (master plate). Dengan demikian, kita bisa menentukan koloni-koloni sel rekombinan yang membawa fragmen yang diinginkan.
Susunan materil genetic diubah dengan jalan menyisipkan gen baru yang unggul ke dalam kromosomnya.Tanaman transgenik memiliki kualitas lebih dibanding tanaman konvensional, kandungan nutrisi lebih tinggi, tahan hama, tahan cuaca, umur pendek, dll; sehingga penanaman komoditas tersebut dapat memenuhi kebutuhan pangan secara cepat dan menghemat devisa akibat penghematan pemakaian pestisida atau bahan kimia lain serta tanaman transgenik produksi lebih baik
Teknik rekayasa genetika sama dengan pemuliaan tanaman; yaitu memperbaiki sifat-sifat tanaman dengan menambah sifat-sifat ketahanan terhadap cekaman hama maupun lingkungan yang kurang menguntungkan; sehingga tanaman transgenik memiliki kualitas lebih baik dari tanaman konvensional, serta bukan hal baru karena sudah lama dilakukan tetapi tidak disadari oleh masyarakat;
1.3 Tujuan Transgenik
Tujuan memindahkan gen tersebut untuk mendapatkan organisme baru yang memiliki sifat lebih baik. Hasilnya saat ini sudah banyak jenis tanaman transgenik, misalnya jagung, kentang, kacang, kedelai, dan kapas. Keunggulan dari tanaman transgenic tersebut umumnya adalah tahan terhadap serangan hama.
Rekayasa genetika seperti dalam pembuatan transgenik dilakukan untuk kesejahteraan manusia. Akan tetapi, terkadang muncul dampak yang tidak diinginkan, yaitu dampak negatif dan positifnya sebagai berikiut.

Metode pemuliaan dengan kultur jaringan
1. Penyelamatan embrio
Pemuliaan tanaman terjadi melalui hibridisasi dan seleksi. Dengan menyilangkan tanaman, pemulia berusaha untuk menggabungkan karakter terbaik dari 2 tanaman yang berbeda. Melalui seleksi, pemulia mencoba untuk menyeleksi anakan yang memiliki kombinasi kualitas yang optimal dari kedua tanaman induk. Proses ini tentu saja sangat tergantung pada produksi benih viable. Jika benih viabel tidak terbentuk, tidak akan ada keturunan yang akan diseleksi. Tidak ada anakan tidak berarti fertilisasi tidak terjadi setelah polinasi. Kemungkinan terjadi keguguran embryo pada fase dini perkembangan biji, akibat penyebab yang tidak diketahui. Dengan teknik kultur jaringan, embryo yang belum matang ini dapat diselamatkan (SBW International, 2008)
Teknik penyelamatan embrio (embryo rescue) mulai dikembangkan tahun 1900an yang memungkinkan benih yang belum matang atau embrio diselamatkan untuk membentuk tanaman baru. Ini biasanya dilakukan untuk benih – benih yang memiliki masa dormansi yang panjang. Belakangan ini juga berkembang teknik penyelamatan bakal biji yang telah terserbuki tapi tidak pernah menghasilkan benih viable. Penyelamatan embryo banyak dilakukan untuk memperoleh hibrida interspesifik dan intergenerik. Misalnya pada kentang dan berbagai tanaman hias.
2. Kultur Haploid
Pada pemuliaan konvensional, 2 galur tetua disilangkan untuk memperoleh tanaman hibrida F1. Dua set kromosom pada tanaman F1 bersegregasi acak pada generasi – generasi selanjutnya, untuk berbagai sifat agronomis. Pemulia tanaman harus menyeleksi gallur yang diinginkan dan menanamnya untuk sedikitnya 8 – 10 generasi, dengan seleksi yang kontinyu, sampai 2 set kromosom pada galur yang disilangkan menjadi identik (homozygous).
Kultur anther/mikrospora, yaitu mengkulturkan butiran tepung sari (dengan 1 set kromosom; haploid) diinduksi untuk membagi dan menggandakan jumlah kromosomnya sehingga tanaman menjadi memiliki 2 set kromosom yang sama. Semua langkah produksi tanaman double haploid ini dapat dicapai dalam 1 – 2 generasi. Karenanya, jika teknik kultur mikrospora dilakukan pada tanaman hibrida F1, akan menghasilkan tanaman homozygote dalam 1 generasi, sehingga mengurangi waktu yang diperlukan dalam membuat varietas yang uniform (true bred).
3. Variasi somaklonal
Variasi somaklonal merupakan variasi yang muncul dari kultur kalus. Dalam perbanyakan in vitro, biasanya pembentukan kalus dihindari, karena dapat memunculkan variasi, sehingga hasil yang diperoleh akan berbeda dari tanaman asalnya. Di sisi lain, kalus diinduksi dengan sengaja karena dapat berpotensi untuk produksi masa plantlet baru. Di samping itu, peluang terbentuknya variasi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keragaman genetik dan untuk mendapatkan varietas-varieatas baru.
Hal ini karena mutasi dapat terjadi saat sel membelah khususnya dalam kondisi buatan seperti pada kultur jaringan dimana nutrien dan hormon berada dalam konsentrasi yang tinggi. Mutasi genetik selama perbanyakan dengan kultur jaringan disebut variasi somaklonal yang dapat meningkatkan keragaman genetik plasma nutfah tanaman. Somaklonal variasi dalam kultur jaringan mencakup variasi antar tanaman atau sel yang dapat terjadi dari semua jenis kultur jaringan.
Kultur kalus
Kalus adalah suatu kumpulan sel yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah secara terus menerus. Dalam keadaan in vivo, kalus dapat terbentuk pada bekas-bekas luka akibat infeksi Agrobacterium tumefaciens, akibat gigitan atau tusukan serangga. Kalus juga dapat diinduksi secara in vitro. Secara in vitro kalus dapat diperoleh dari potongan organ yang steril dan ditumbuhkan didalam media yang mengandung auxin atau kadang-kadang mengandung sedikit sitokinin.
Kalus dapat diinisiasi dari hamper semua bagian tanaman. Tetapi organ yang berbeda menunjukkan kecepatan pembelahan sel yang berbeda pula. Pada pengamatan pembentukan kalus, sering diamati bahwa pembelahan sel tidak terjadi pada semua sel dalam jaringan asal, tetapi hanya pada sel yang berada pada jaringan periphery yang membelah terus-menerus, sedang sel-sel di tengah tetap. Pembelahan yang hanya terjadi pada lapisan luasr dapat disebbkan karena, ketersediaan hara yang lebih banyak, keluarnya gas CO2, penghambat yang bersifat fenolik, cahaya.
Dalam kultur kalus dapat terbentuk sel-sel yang heterogen. Sel-sel yang heretogen ini selain berasal dari materi asalnya, juga dapat muncul akubat periode kultur yang panjang melalui proses subkultur yang berkali-kali. Perubahan yang terjadi dapat merupakan aberasi kromosom, mutasi gen, duplikasi/poliploidi.
Kecepatan perubahan dalam kromosom dipengaruhi juga oleh macam media yang digunakan serta jenis tanaman. Kromosom yang tidak stabil ini menyulitkan perbanyakan jika tujuannya untuk memperoleh hasil yang sama dengan tanaman asal. Tetapi dapat digunakan dalam pemuliaan tanaman untuk memperoleh sifat-sifat baru.
Pembentukan Tunas dan Akar
Setelah kalus terbentuk, maka dilakukan induksi tunas dan induksi akar sehingga diperoleh plantlet. Plantlet kemudian diaklimatisasi dan ditanam dilapang. Variasi yang terjadi dapat dianalisis secara molekuler dengan menggunakan marker RAPD atau ISSR. Variasi juga diamati melalui pengamatan morfologi.

Kegunaan utama dari kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanamanbaru dalam jumlah banyak dalam waktu yang relatif singkat, yang mempunyai sifatfisiologi dan morfologi sama persis dengan induknya. Dari teknik kultur jaringan tanaman ini diharapkan juga memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul. Secara lebih rinci dan jelas berikut ini akan dibahas secara khusus kegunaan dari kultur jaringan terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Perbanyakan tanaman secara besar-besaran telah dibuktikan keberhasilannya pada perkebunan kelapa sawit dan tebu. Dengan cara kultur jaringan cara mendapat klon suatu komoditas tanaman dalam relatif cepat. Manfaat yang dapat diperoleh dari kloning ini cukup banyak, misalnya: di luar pulau Jawa akan didirikan suatu perkebunan yang membutuhkan bibit tanaman dalam jumlah ribuan, maka sudah dapat dibayangkan betapa mahalnya biayanya hanya untuk trasnportasi saja. Hal ini dapat diatasi denga usaha kloning melalui budaya jaringan, karena hanya perlu membawa beberapa puluh botol planlet yang berisi ribuan bibit. Dengan cara ini dapat menghemat waktu dan biaya yang cukup banyak dalam persiapan pemberangkatan ataupun transportasinya. Pada eksporanggrek, misalnya, orang luar negeri menghendaki bunga anggrek yang seragam baik bentuk maupun warnanya. Dalam hal ini dapat dipenuhi juga dengan usaha kloning.
Bibit-bibit tanaman dari usaha mericlono (tanaman hasil budidaya meristem) akan berharga lebih mahal, karena induknya dipilih dari tanaman yangmempunyai sifat paling bagus (unggul).Kultur jaringan tanaman telah dikenal banyak orang sebagai usaha mendapatkan varietas baru (unggul) dari suatu jenis tanaman dalam waktu yang relatif lebih singkat dari pada dengan cara pemuliaan tanaman yang harusdilakukan penanaman secara berulang-ulang sampai beberapa generasi. Untuk mendapatkan varietas baru melalui kultur jaringan dapat dilakukan dengan cara isolasi protoplas dari 2 macam varietas yang difusikan. Atau dengan cara isolasi khloroplas suatu jenis tanaman yang dimasukkan kedalam protoplas jenis tanaman yang lain, sehingga terjadi penggabungan sifat-sifat yang baik dari kedua jenis tanaman tersebut hingga terjadi hibrid somatik. Cara yang lain adalah dengan menyuntikkan protoplas dari suatu tanaman ketanaman lain. Contohnya transfer khloroplas dari tanaman tembakau berwarna hijau ke dalam protoplas tanaman tembakau yang albino, hasilnya sangat memuaskan karena tanaman tembakau menjadi hijau pula. Contoh lain adalah keberhasilan mentrasnfer khloroplas daritanaman jagung ke dalam protoplas tanaman tebu hasilnya memuaskan. Khloroplas yang ditransfer harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Sewaktu dilakukan isolasi, khloroplas harus sempurna.
2. Setelah diisolasi harus mempuyai sifat yang sama dengan khloroplas yang tumbuh secara in vivo (budidaya biasa).
3. Setelah diisolasi masih mempunyai sifat atau aktivitas fotosintesa yang cukup tinggi.Contoh isolasi protoplas dalam budidaya jaringan yang sangat berguna adalah ditemukannya sun-chlorella (jenis ganggang). Ganggang ini secara enzimatis dijadikan protoplas (sel-selnya ditelanjangi dengan cara diinkubasikan dalam enzimmedium sehingga dinding selnya larut), kemudian dikeringkan dibawah sinarmatahari. Protoplas tersebut selanjutnya dipecah hingga didapatkan khloroplas dan akhirnya dibuat pil-pil untuk pengobatan.
Menciptakan varietas baru dapat pula dilakukan dengan menggunakan bantuan jenis bakteri seperti bakteri penyebab tumor yang disebut Agrobacteriumtumifaciens. Bakteri ini disuntikkan pada tanaman sehat mempunyai buah ukuran besar, agar tanaman sehat tersebut menjadi sakit tumor. Bakteri yang berada dalam jaringan yang menonjol karena terkena tumor tersebut kemudian diambil dan disuntikkan kedalam tanaman lain yang ukuran buahnya kecil-kecil. Dengan cara ini terbukti bahwa tidak lam kemudian tanaman tersebut menghasilkan buah yang ukurannya besar. Hal ini membuktikan bahwa bakteri yang dipindahkan tersebut membawa sifat keturunan yang ada pada tanaman semula. Sedangkan untuk mendapatkan yang baru yang tahan terhadap stress garam, pestisidatertentu, logam berat, suhu rendah atau tinggi dan sebagainya dapat dilakukandengan cara-cara khusus.
Menciptakan tanaman baru yang toleran terhadap stress garam pernah dilakukan oleh Handa dkk. (Suryowinoto, 1985) yaitu terhadap tanaman tomat dan tembakau.Pada penelitian ini menggunakan penambahan PEG (Poly Ethilen-Glycol) atau NaCL, yang biasa dipergunakan untuk mendapatkan kultivar yang toleransi terhadap garam. Beberapa jenis tanaman ada yang teramcam punah (endangered species), misalnya berbagai jenis tanaman pisang, tanaman melati, kenanga, kayu jati, dan kayu putih. Usaha yang paling tepat untuk melestarikan tanaman yang terancam punah adalah dengan jalan kloning. Dengan usaha kloning ini, populasi dari tanaman tersebut akan terselamatkan, bahkan dapat bertambah, sekaligus sifat-sifat yang dimilikioleh tanaman tersebut tetap terjamin.
Kultur jaringan juga mempunyai manfaat yang besar dibidang farmasi, karena dari usaha ini dapat dihasilkan metabolit skunder upaya untuk pembuatan obat-obatan,yaitu dengan memisahkan unsur-unsur yang terdapat di dalam kalus ataupun protokormus, misalnya alkoloid, steroid, dan terponoid. Dengan ditemukannya cara mendapatkan metabolit skunder dari kalus suatu eksplan yang di tumbuhkan dalam medium kultur jaringan, berarti dapat menghemat waktu dan tenaga. Dengan cara biasa, untuk mendapatkannya harus menunggu lama sampai tanaman cukup umur bahkan sampai berproduksi hingga bertahun-tahun. Sedangkan dengan teknik kultur jaringan hanya membuthkan waktu antara tiga minggu sampai satu bulan saja. Metabolit yang dihasilkan dari kalus ternyata juga memiliki kadar yang lebih tinggi daripada dengan cara biasa (langsung dari tanaman). Dengan cara pengambilan metabolit skunder dari kalus, biasanya selalu diperoleh kandungan lain yang lebih banyak jenisnya, karena seringkali timbul zat-zat alkaloid atau persenyawaan-persenyawaan lainnya yang sangat berguna untuk pengobatan. Persenyawaan yang bermanfaat yang diambil dari kalus dapat ditingkatkan kadarnya dengan cara memanipulasinya, antara lain:
1. Memakai medium lain yang sesuai.
2. Mengubah salah satu kadar komponen dalam medium.
3. Memberi zat tambahan tertentu ke dalam medium, misalnya penambahan zatpengatur tumbuh auksin ataupun sitokinin.
4. Kultur jaringan juga memberikan masukkan atau informasi pengetahuan yang sangat bermanfaat dibidang fisiologi tanaman. Pada tanaman anggrek misalnya,telah berhasil diketahui bahwa jika ujung akarnya diiris melintang akan memperlihatkan warna tertentu. Warna tersebut nantinya akan sama dengan warnabunganya. Hal ini sangat berguna dalam bidang perdangan bunga hias, sebab walaupun tanamannya belum berbunga orang sudah dapat mengetahui warna bunga yang akan muncul.
Melalui perbanyakan vegetatif dengan kultur jaringan ternyata juga berpengaruh terhadap devisa negara. Misalnya, dengan terlaksananya ekspor tanaman anggrek ke negara lain, maka akan menaikkan devisan negara dibidang pertanian. Teknik kultur jaringan sampai saat ini memang belum biasa dilaksanakan oleh para petani, baru beberapa kalangan pengusaha swasta saja yang sudah mencoba melaksanakannya, karena pelaksanaan teknik kultur jaringan tanaman memerlukan keterampilan khusus dan harus diltar belakangi dengan ilmu pengetahuan dasar tentang fisiologi tumbuhan, anatomi tumbuhan, biologi, kimia dan pertanian.Dengan demikian jelas akan amat sulit untuk diterima oleh kalangan petani biasa.Di samping itu, pelaksanaan teknik kultur jaringan mutlak memerlukan laboratorium khusus, walaupun dapat di usahakan secara sederhana (dalam ruang yang terbatas), namun tetap memerlukan peralatan yang memadai. Kemungkinan lain petani akan merasa enggan bekerja secara aseptik . Karena semua pekerjaan harus dilaksanakan secara hati-hati dan cermat serta memerlukan kesabaran yang tinggi. Biaya untuk mewujudkan perbanyakan tanaman cecara in vitro ini juga sangat mahal, kecuali kita meramu medium sendiri. Bila kia terpaksa harus membeli medium yang sudah jadi (dalam kemasan) jelas akan sangat mahal, sebab medium yang sudah jadi masih harus di impor dari luar negeri. Apalagi kita harus membeli saran untuk perlakuan isolasi dan fusi protoplas, tentu biayanya akan bertambah besar. Enzim-enzim yang digunakan dalam kultur jaringan juga masih dibeli dari luar negeri seperti Jepang.Lepas semua dari kendala-kendala tersebut diatas, kita harus mengakui bahwateknik kultur jaringan sangat bermanfaat bagi dunia ilmu pengetahuan, terutama untuk pengembangan bioteknologi.

Kultur Kalus Mei 7, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Pelajaran Kuliah.
Tags:
add a comment

Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan yang membelah diri secara terus menerus. Penelitian pembentukan kalus pada jaringan terluka pertama kali dilakukan oleh Sinnott pada tahun 1960. Pembentukan kalus pada jaringan luka dipacu oleh zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin endogen (Dodds & Roberts, 1983). Secara in vivo, kalus pada umumnya terbentuk pada bekas-bekas luka akibat serangan infeksi mikro organisme seperti Agrobacterium tumefaciens, gigitan atau tusukan serangga dan nematoda. Kalus juga dapat terbentuk sebagai akibat stress (George & Sherrington, 1984). Kalus yang diakibatkan oleh hasil dari infeksi bakteri Agrobacterium tumefaciens disebut tumor.

Tujuan kultur kalus adalah untuk memperoleh kalus dari eksplan yang diisolasi dan ditumbuhkan dalam lingkungan terkendali. Kalus diharapkan dapat memperbanyak dirinya (massa selnya) secara terus menerus. Sel-sel penyusun kalus berupa sel parenkim yang mempunyai ikatan yang renggang dengan sel-sel lain. Dalam kultur jaringan, kalus dapat dihasilkan dari potongan organ yang telah steril, di dalam media yang mengandung auksin dan kadang-kadang juga sitokinin. Organ tersebut dapat berupa kambium vaskular, parenkhim cadangan makanan, perisikle, kotiledon, mesofil daun dan jaringan provaskular. Kalus mempunyai pertumbuhan yang abnormal dan berpotensi untuk berkembang menjadi akar, tunas dan embrioid yang nantinya akan dapat membentuk plantlet.

Beberapa kalus ada yang mengalami pembentukan lignifikasi sehingga kalus tersebut mempunyai tekstur yang keras dan kompak. Namun ada kalus yang tumbuh terpisah-pisah menjadi fragmen-fragmen yang kecil, kalus yang demikian dikenal dengan kalus remah (friable). Warna kalus dapat bermacam-macam tergantung dari jenis sumber eksplan itu diambil, seperti warna kekuning-kuningan, putih, hijau, atau kuning kejingga-jingaan. (karena adanya pigmen antosianin ini terdapat pada kalus kortek umbi wortel).
Dalam kultur kalus, kalus homogen yang tersusun atas sel-sel parenkim jarang dijumpai kecuali pada kultur sel Agave dan Rosa (Narayanaswany (1977 dalam Dodds & Roberts, 1983). Untuk memperoleh kalus yang homogen maka harus menggunakan eksplan jaringan yang mempunyai sel-sel yang seragam. Dalam pertumbuhan kalus, citodiferensiasi terjadi untuk membentuk elemen trachea, buluh tapis, sel gabus, sel sekresi dan trikoma. Kambium dan periderm sebagai contoh dari proses hitogenesis dari kultur kalus. Anyaman kecil dari pembelahan sel-sel membentuk meristemoid atau nodul vaskular yang nantinya menjadi pusat dari pembentukan tunas apikal, primordial akar atau embrioid.

Pada umumnya untuk eksplan yang mempunyai kambium tidak perlu penambahan ZPT untuk menginduksi terbentuknya kalus karena secara alamiah pada jaringan berkambium yang mengalami luka akan tumbuh kalus untuk menutupi luka yang terbuka. Namun pada kasus lain, menurut Kordan (1959 dalam Dodds & Robert, 1983) keberadaan kambium di dalam eksplan tertentu dapat menghambat pertumbuhan kalus bila tanpa penambahan zat pengatur tumbuh eksogen. Penambahan ZPT tersebut dapat satu macam atau lebih tergantung dari jenis eksplan yang digunakan. Pembelahan sel di dalam eksplan dapat terjadi tergantung dari ZPT yang digunakan, seperti auksin, sitokinin, auksin dan sitokinin, dan ekstrak senyawa organik komplek alamiah.
Berdasarkan kebutuhan akan zat pengatur tumbuh untuk membentuk kalus, jaringan tanaman digolongkan dalam 4 kelompok:
1) Jaringan tanaman yang membutuhkan hanya auksin selain gula dan garam-garam mineral untuk dapat membentuk kalus seperti umbi artichoke
2) Jaringan yang memerlukan auksin dan sitokinin selain gula dan garam-garam mineral
3) Jaringan yang tidak perlu auksin dan sitokinin, hanya gula dan garam-garam mineral seperti jaringan kambium
4) Jaringan yang membentuk hanya sitokinin, gula dan garam-garam mineral seperti parenkim dan xylem akar turnip.
Pada umumnya kemampuan pembentukkan kalus dari jaringan tergantung juga dari:
1) Umur fisiologi dari jaringan waktu diisolasi
2) Musim pada waktu bahan tanaman diisolasi
3) Bagian tanaman yang dipakai
4) Jenis tanaman.
Kalus dapat diinisiasi dari hampir semua bagian tanaman, tetapi organ yang berbeda menunjukkan kecepatan pembelahan sel yang berbeda pula. Jenis tanaman yang menghasilkan kalus, meliputi dikotil berdaun lebar, monokotil, gymnospermae, pakis dan moss. Bagian tanaman seperti embrio muda, hipokotil, kotiledon dan batang muda merupakan bagian yang mudah untuk dediferensiasi dan menghasilkan kalus.
Suatu sifat yang diamati dalam jaringan yang membentuk kalus adalah bahwa pembelahan sel tidak terjadi pada semua sel dalam jaringan asal, tetapi hanya sel di lapisan perisfer yang membelah terus menerus sedangkan sel-sel di tengah tetap quiscent. Faktor-faktor yang menyebabkan inisiasi pembelahan sel hanya terbatas di lapisan luar dari jaringan kalus, adalah:
1) Ketersediaan oksigen yang lebih tinggi
2) Keluarnya gas CO2
3) Kesediaan hara yang lebih banyak
4) Penghambat yang bersifat folatik lebih cepat menguap
5) Cahaya

Dalam mempelajari proses pembentukan kalus sebagai akibat perlakuan, empat lapisan sel yang berbeda dalam wortel yang dikultur pada berbagai media. Lapisan-lapisan sel yang berbeda terlihat jelas tiga hari setelah kultur terdiri:
1) Lapisan luar dengan sel-sel yang pecah
2) Lapisan kedua terdiri dari dua lapisan sel dorman
3) Lapisan dengan sel yang aktif membelah, terdiri dari 1-6 lapis
4) Lapisan tengah (core) yang sel-selnya tidak membelah.

Induksi kalus dalam jaringan wortel ini, disertai dengan aktifitas enzim-enzim NAD-diaphorase succinic dehydrogenase dan cytochrome oxidase yang meningkat. Kenaikan aktifitas enzim terutama dalam lapisan sel yang sedang membelah. Dalam jaringan ini juga ditemukan aktifitas asam fosfatase. Pada kultur artichoke, enzim fosfatase diditeksi pada permukaan sel-sel yang tidak membelah. Menurut hipotesa Yeoman pada tahun 1970, asam fosfatase berhubungan dengan sel rusak dan enzim ini adalah index autolysis sel. Pada sel yang rusak tapi tidak pecah di lapisan perisfer, terjadi autolisis dan sel-sel yang rusak tersebut mengeluarkan persenyawaan yang dapat memacu pembelahan sel di lapisan berikutnya.
Eksplan batang, akar dan daun menghasilkan kalus yang heterogen dengan berbagai macam sel. Kadang-kadang jaringan yang kelihatannya seragam histologinya, ternyata menghasilkan kalus dengan sel yang mempunyai DNA yang berbeda yang mencerminkan level ploidi yang berbeda. Begitupun pada kultur akar kalus yang dihasilkan dapat berupa campuran sel dengan tingkat ploidi yang berbeda.

Sel-sel yang heterogen dari jaringan yang komplek menunjukkan pertumbuhan yang berbeda. Dengan mengubah komposisi media, terjadi seleksi sel-sel yang mempunyai sifat khusus. Hal ini berarti bahwa media tumbuh menentukan komposisi kalus. Sel yang jumlahnya paling banyak merupakan sel-sel yang paling cepat membelah dan sel yang paling sedikit adalah sel yang paling lambat pertumbuhannya. Media seleksi dapat berdasarkan unsur-unsur hara atau zat pengatur tumbuh yang ditambahkan ke dalam media.

Sel heterogen berasal dari materi asal yang heterogen pula, atau dapat terjadi karena massa kultur yang panjang melalui sub kultur yang berkali-kali. Perubahan yang terjadi dapat merupakan:
1) Aberasi kromosom
2) endo-reduplikasi yang menghasilkan poloploidi
3) Amplifikasi gen, jumlah gen untuk suatu sifat tertentu per genome haploid bertambah
4) Hilangnya suatu gen (deletion)
5) Mutasi gen
6) Transposisi urutan DNA (DNA sequences transposition).

Kecepatan perubahan-perubahan dalam kromosom ini, tergantung juga dari macam media yang digunakan, serta jenis tanamannya. Ketidakstabilan kromosom ini menyulitkan aplikasi kultur kalus untuk perbanyakan maupun untuk produksi bahan-bahan/persenyawaan sekunder. Sebaliknya ketidak-stabilan tersebut dapat dipergunakan dalam seleksi dan pemuliaan invitro, untuk memperoleh sifat-sifat baru yang menguntungkan seperti resistensi terhadap penyakit, hilangnya morfologi yang memang tidak diinginkan seperti duri atau warna pada bunga.
Kalus yang tumbuh secara invivo pada batang tanaman biasanya disebut dengan tumor, ciri-ciri tumor adalah sebagai berikut:
1) Terjadi penyakit yang infeksinya melalui luka (Crown gall disease)
2) Jaringan tumor yang terjadi dapat tumbuh terus, walaupun penyebabnya yang berupa bakteri Agrobacterium tumefacien telah dihilangkan
3) Tumor ini bila ditumbuhkan pada media buatan tidak memerlukan auksin maupun sitokinin. Ketidaktergantungan jaringan tanaman untuk tumbuh dan terus membelah disebut habituation.

Massa kultur yang ditumbuhkan terlalu lama dalam media yang tetap, akan menyebabkan terjadinya kehabisan hara dan air. Kehabisan hara dan air dapat terjadi karena selain terhisap untuk pertumbuhan juga karena media menguapkan air dari masa ke masa. Kalus tersebut kecuali kehabisan unsur hara, kalus juga mengeluarkan persenyawaan-persenyawaan hasil metabolisme yang menghambat pertumbuhan kalus itu sendiri. Untuk menjaga kehidupan dan perbanyakan yang berkesinambungan, kalus yang dihasilkan perlu disubkulturkan.

Street (1969 dalam Dodds & Robert 1983) menyarankan massa sel yang dipindahkan pada subkultur harus cukup banyak antara 5-10 mm atau seberat 20-100 mg, supaya ada pertumbuhan yang cepat dalam media baru. Subkultur sebaiknya dilakukan 28 hari sekali (4-6 minggu sekali). Namun waktu yang tepat untuk memindahkan kultur, tergantung dari kecepatan pertumbuhan kalus. Massa kalus ada 2 macam yaitu massa yang remah (friable) dan kompak. Bila massa kalus remah maka pemindahan kalus cukup dilakukan dengan menyendok kalus dengan spatula atau skapel langsung disubkultur ke media baru. Namun bila kalus kompak mesti dipindah ke petridish steril untuk dipotong-potong dengan skapel baru disubkultur ke media baru. Kalus yang sudah mengalami nekrosis (pencoklatan) sebaiknya tidak ikut disubkultur karena tidak akan tumbuh dengan baik.

d’cinnamons Mei 7, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

PANDUAN KULTUR JARINGAN Mei 1, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

BUKU PANDUAN KULJAR