jump to navigation

Seorang Sahabat November 10, 2012

Posted by nursyamzulkifli in Uncategorized.
add a comment

Tak terasa, Sepuluh tahun lebih lamanya kita telah berbagi dalam kegembiraan maupun kesedihan bersama-sama. Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku dan yang lainnya sedang bermain-main bola bersama ,melihat kau sedang asyiknya bermain sepeda dengan adikmu, lalu kami memanggilmu untuk mengajak bermain bola bersama karena di tim kami kekurangan seorang pemain. secara senangnya kau menerima ajakan kami, dan kami pun begitu. semenjak itu pun, kami berkenalan denganmu, Abdul Rahman Hakim. karena terlalu panjangnya namamu, maka kami memutuskan memanggilmu arif. waktu dunia telah berputar, malam pun akan datang, dengan santainya kau pun berpamitan kepada kami. itulah hari dimana kami mengenalmu. hari demi hari kita semakin akrab, mengenal satu sama lain, bermain bersama setiap harinya sehingga kesenangan pun dimulai dari hari itu.

aku yang waktu itu masih kelas 5 SD, disekolahkan di sekolah agama dekat dengan rumahku dan akupun menyetujuinya. satu langkah ketika aku masuk, dan di dekat pintu mataku pun melihat salah seorang murid yang sedang duduk di bangku itu dan ternyata itu adalah kau. betapa senangya, orang yang belum lama menjadi temanku ternyata bersekolah sama denganku. hari demi hari kita telah jalani masa sekolah, saat samen pun tiba, dan ternyata guru kita memberikan perintah untuk melakukan hapalan alqur’an berdua didepan banyak orangtua pada saat itu. betapa hal itu merupakan hal yang paling memalukan karena saat itu kita adalah murid yang paling tua, ada hal yang tak pernah kita duga ternyata penampilan kita adalah penampilan yang paling bagus.ada hal yang harus kau ingat, ketika kita sedang asyiknya bermain layang-layang di kebun dekat rumah, dibelakangmu ada lubang sumur yang tidak terlalu dalam tapi masih banyak airnya. apa yang terjadi, waktu itu kau jatuh dan terjebur di sumur itu, kau minta tolong tapi hanya aku yang ada disana, tapi aku bingung mau menolong kau dengan apa sedangkan aku waktu itu masih anak-anak tidak tinggi, akhirnya aku nekatkan waktu itu menolongmu, aku mencari bambu kemana-mana, mencari sesuatu yang bisa menolongmu tetapi tidak dapat. dan akhirnya tanpa pikir panjang aku pun turun kebawah sumur, dan aku mendorongmu untuk keluar sumur. dan kita selamat, tapi ketika pulang rumah aku dan kau dimarahi oleh orangtua masing-masing, itu hal yang paling membuatku tertawa-tawa.hari demi hari kita lewatkan bersama-sama dengan teman-teman kita di kampung itu. dan waktupun mulai memisahkan kita, waktu itu kau pindah rumah, ke kampung sebelah dan kita masuk ke sekolah menengah pertama yang berbeda. mulai saat itu lah kita tidak bisa secara sering bermain-main lagi bersama.tapi waktu berkata lain, kaupun pindah lagi didekat rumah yang dulu. saat itu kita bersama lagi, tetapi karena aku mengenalkanmu kepada orang lain sehingga pergaulan mulai berubah, merokok, alkohol, dan yang lainnya kau jajaki sedangkan aku tetap pada pendirianku. mualilah hari-hari itu kita bermain bersama-sama lagi sampai kita lulus sekolah menengah pertama dan melanjutkan kuliah. tapi, karena sahabat waktu pun terasa takkan bisa memisahkan sahabat kita. andi, ading, engkus, fasat, akap, ivan, dan aku tentunya adalah sahabat untukmu selamnya. ingatkah kita sewaktu bermain ke pelabuhan ratu, disana kau yang paling ceria. liburan adalah hal yang paling menyenangkan bagi kita, dan waktu liburan kita habiskan bersama-sama di rumahmu, di kampung kita, dan tentunya adalah panatai pelabuhan ratu sambil menikmati bercengkrama dengan segelas kopi dan rokok di jari kita. tapi kebiasaan burukmu mulai terlihat sewaktu kau dan yang lainnya mulai sering meminum minuman haram itu dan perempuan-perempuan yang membuatmu sakit hati. ketika itu kau pernah berbicara empat mata padaku, semua curhatan hatimu selalu kau ceritakan padaku, kau sempat-sempatnya sampai membelakan malam yang dingin untuk bertemu denganku ke bandung hanya untuk bercerita dan ingin ditemani. itulah hal yang paling konyol dalam hidupku, tetapi hal yang paling indah juga. kau pernah bercerita padaku, bahwa kita apabila sudah lulus nanti akan berlomba untuk membeli daerah kita untuk melihatkan kekuatan kita masing-masing. kau kuliah di universitas kristen indonesia dan aku kuliah di universitas islam indonesia, sesuatu hal yang bertolak belakang, tetapi tidak untuk menjadikan pertengkaran bagi kita dalam soal paham. dibelakang, kau ternyata sangat pintar dalam berkomunikasi dengan orang lain, sehingga kau cukup terkenal di kampusmu. tapi itu semua adalah jalan untuk kita menuju kesuksesan masing-masing, kau bercita-cita menjadi seorang hakim sedangkan aku bercita-cita menjadi seorang petani. sungguh hal yang berbeda jauh. tapi ketika tepatnya pada tanggal 2 jam 11 malam, aku yang saat mengantuk karena besok akan pergi untuk kuliah tapi ketika aku pulang, tidak biasanya kau tidak mencegahku. dan saat kutahu ternyata kau bersedih saat aku pulang. pada tanggal 10 september tenagh malam aku melihat status di facebook saudaramu, dan menceritakan bahwa kau telah tiada, aku tak percaya karena mungkin saudaramu bercanda. tapi setelah beberapa menit kemudia, ibumu meneleponku dan ternyata kau telah tiada didunia ini sehingga hatikupun tak tentu dan rasa kesedihanpun mendorongku untuk mengeluarkan tangisan dan air mata. aku tak percaya,aku tak percaya, aku tak percaya, dan akhirnya itupun harus terkalahkan oleh kenyataan bahwa kau sudah pulang ke rahmatulloh. aku langsung saja menelepon teman-teman kita dan memberitahukan kabar tentangmu, tetapi mereka seakan tak percaya dan akhirnya merekapun menangisi seperti apa yang kutangisi. keesokan harinnya aku pergi pagi-pagi untuk memakamkanmu, tetapi ketika aku tiba di sana aku tak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya dan hanya bisa bersedih dan menangis dengan doaku pada saat kau telah dikuburkan. dalam hatikupun berkata, ternyata cita-citamu selama ini tidak tersampaikan dan hanya bisa mendapat gelar abadi sepanjang masa. tanah telah membenamkan cita-citamu, tuhan telah berkata lain, dan angin telah meniupkan kenangan kita dan sahabat adalah tanda sepanjang masa kita. semua sahabatmu telah menangisi kepergianmu, dan temanmu telah memberikan penghormatan terakhir kepadamu, betapa bangganya aku telah mempunyai sahabat terbaik sepanjang masaku.

semoga kita akan selalu menjadi sahabat yang tak pernah terhapus oleh zaman. dan semoga kau tidur di alam sana dengan amal-amal kebaikanmu dan kamu selalu mendoakanmu selama kami bisa. amin.

Iklan